Zahra menertawakan dirinya sendiri karena masih mau bertahan di rumah neraka itu. Padahal sudah jelas kalau Wahyu akan menceraikannya, dan lebih parahnya lagi pria bajingan itu membawa selingkuhannya ke dalam rumah.
“Aku seperti orang yang bodoh!” Zahra berjalan menuju lemari. Ia sudah membuat keputusan yang bulat, ia akan pergi dari rumah tersebut malam ini juga.
Zahra mengemasi pakaiannya ke dalam tas jinjing yang ukurannya tidak terlalu besar. Pakaian dan barang-barangnya tidak banyak, jadi muat di satu tas tersebut. Setelah selesai, ia segera keluar dari rumah tersebut, akan tetapi saat sampai di ruang tamu langkahnya di cegat oleh Wahyu.
“Ra, mau ke mana kamu?!” Wahyu bertanya dengan nada tidak suka ketika Zahra ingin pergi lagi sambil menenteng tas.
Di ruang tamu itu hanya ada Wahyu, si Vania sepertinya sudah pulang setelah berdebat dengan Wahyu. Sedangkan sang mertua sudah tidur di dalam kamar.
“Bukan urusanmu!” sahut Zahra dengan nada dingin.
“Kamu sudah sepakat akan pergi dari rumah ini jika kita sudah resmi bercerai!” bentak Wahyu dengan penuh emosi, seraya merebut tas yang di bawa oleh istrinya, akan tetapi Zahra menepis tangannya dengan kasar, lalu melayangkan tamparan ke pipi kirinya.
PLAK!
“Seharusnya aku melakukan hal ini sejak kemarin!” Zahra menatap menatap Wahyu dengan tatapan benci.
Tangan kanannya masih terasa bergetar dan kebas, karena ia menampar Wahyu sangat kencang hingga wajah pria itu sampai memaling.
Wahyu mengusap pipinya yang terasa panas, tamparan dari Zahra sangat kuat, ia yakin saat ini ada cap lima jari bertengger di pipinya.
“Sudah berani kamu! Kamu akan menyesalinya!” sentak Wahyu penuh amarah.
“Ya, aku telah menyesalinya, menyesali semua yang sudah terjadi! Menyesali semua waktu yang sudah aku habiskan bersamamu selama 2 tahun ini! Tapi dengan kata menyesal itu membuatku tersadar kalau aku terlalu baik untuk pria bajingan sepertimu!” ucap Zahra dengan nada dingin dan penuh penekanan, nafasnya memburu, kedua matanya memerah dan memicing tajam, bertanda jika wanita saat ini sangat emosi pada pria yang berdiri di hadapannya itu.
Mendengar kata-kata Zahra, Wahyu langsung terdiam, tatapan matanya yang tadinya tajam kini berubah sendu, entah drama apalagi yang akan dilakukan oleh pria bajingan itu.
“Zahra, aku tahu kamu pasti sangat membeciku, tapi aku mohon tetap berada di sini, karena aku ...”
“Ingin menjadikanku babu? Mikir pakai otak!” sentak Zahra seraya melanjutkan langkahnya keluar dari pintu rumah tersebut, tapi langkahnya terhenti saat dia sampai di ambang pintu, ia menoleh ke belakang, menatap Wahyu yang juga tengah menatapnya.
“Berbahagilah dengan wanita pilihanmu! Tapi, ingat satu hal, aku akan membalas semua perbuatanmu! Camkan itu!” geram Zahra. Setelah memberikan ultimatun kepada Wahyu, ia segera melanjutkan langkahnya lagi.
Wahyu mengumpat berulang kali, karena ia tidak bisa menahan Zahra pergi. Tapi, sedetik kemudian ia tertawa seperti orang gila.
“Ha ha ha, dia memberikan ultimatum seperti itu? Memangnya apa yang ingin dia lakukan?! Dasar wanita miskin!” Wahyu tergelak lalu mendudukkan diri di sofa, sambil menggoyangkan salah satu kakinya yang bertumpu di kaki satunya lagi.
Zahra berjalan dengan tergesa, langkahnya terhenti saat Mbak Kokom memanggilnya.
“Mbah Zahra!” seru Mbak Kokom berjalan mendekati Zahra yang berhenti dan menatapnya.
“Mau ke mana?” tanya Mbak Kokom, yang kebetulan saat itu sedang berada di halaman cari angin, maklun udara di Jakarta sangat panas dan banyak polusi meski sudah malam hari, apalagi di rumahnya hanya ada kipas angin.
“Aku mau pulang ke rumah orang tuaku, Mbak,” jawab Zahra dengan nada sedih.
“Sabar, ya, Mbak. Mau aku antar?” Mbak Kokom dengan baik hati menawarkan bantuan. “Rumah orang tuanya di mana? Tunggu di sini, aku ambil motor.” Mbak Kokom segera berlari masuk ke dalam rumah, mengambil motor dan dua helm.
Zahra meneteskan air mata, ketika melihat kepedulian Mbak Kokom kepadanya. Dia sangat terharu, dan senang mempunyai tetangga seperti Mbak Kokom.
“Ini pakai helm-nya. Jangan sungkan,” ucap Mbak Kokom saat melihat Zahra ragu-ragu menerima helm darinya.
“Kenapa Mbak baik banget?” tanya Zahra menangis.
“Aku pernah berada di posisi, Mbak Zahra. Jadi aku bisa merasakan rasa sakit yang kamu rasakan,” jawab Mbak Kokom tersenyum, lalu memberikan semangat kepada Zahra agar tidak sedih atau menangis lagi.
“Makasih, Mbak.” Zahra tersenyum sambil mengenakan helm-nya.
“Jangan sungkan begitu ah!” Mbak Kokom tersenyum lalu mempersilahkan Zahra segera membonceng ke belakang. “Alamat rumah orang tuanya di mana, Mbak?” Mbak Kokom bertanya sambil memutar gas motornya perlahan.
“Di Jakarta Selatan. Perumahan Andora,” jawab Zahra.
Mendengar jawaban Zahra, seketika itu Mbak Kokom mengerem motornya secara mendadak saking terkejutnya.
SKITTTT!!
“Aw!!!” pekik Zahra ketika helm yang ia pakai terbentur dengan helm yang di kenakan Mbak Kokom.
“Pe-perumahan Andora?! Itukan perumahan Sultan ... jadi Mbak Zahra ini ...” Mbak Kokom turun dari motor sambil menatap Zahra dan berbicara terbata.
“Hais!!! Orang tuaku bekerja di sana, di rumah orang kaya,” bohong Zahra sambil tertawa pelan.
Huh! Hampir saja ketahuan, kalau dirinya ini orang kaya.
“Oh! Aku hampir syok loh! Tapi, kalau misalkan Mbak Zahra anaknya orang kaya, bisa gila tujuh turunan itu si Wahyu! Membuang batu berlian demi memungut batu ginjal!” sahut Mbak Kokom yang sudah duduk di jok motornya, mulai melajukan kendaraannya menuju jalan raya, mengantarkan Zahra sampai alamat tujuan.
“Itu sudah pilihannya, Mbak, karena dia sudah tidak mau hidup dengan wanita miskin seperti aku,” sahut Zahra sambil memperhatikan jalanan pada malam hari yang terlihat lengang.
“Heleh! Matanya picek itu si Wahyu!” geram Mbak Kokom.
Obrolan mereka terhenti karena Mbak Kokom fokus mengemudikan motor, maklum jarak Jakarta Utara ke Jakarta Selatan sangat jauh, minimal 2 jam perjalanan.
*
*
Setelah menempuh perjalanan 2 jam lebih, akhirnya motor yang di kendarai Mbak Kokom sampai di depan rumah yang sangat megah seperti istana.
“Ini benar rumah majikan orang tuamu?” tanya Mbak Kokom pada Zahra yang sedang berjalan menuju pintu gerbang, berbicara kepada satpam.
“Iya, Mbak,” jawab Zahra tanpa menoleh, akan tetapi kedua matanya menatap dua satpam yang berdiri di balik pintu gerbang itu, seolah memberikan ultimatum kepada mereka berdua.
“Gede banget ya, kayak istana.” Mbak Kokom terkagum-kagum, meksi sudah malam hari rumah tersebut terlihat jelas karena di setiap sisi dinding bagian luar terdapat banyak lampu yang menyinari.
“Mau masuk nggak?” tanya Zahra menawarkan.
“Nggak, ah, nggak enak sama yang punya.” Mbak Kokom melirik dua satpam yang membukkan pintu.
“Nggak apa-apa, Mbak. Masuk saja, sekalian nginep, lagi pula ini sudah malam.” Sahut satpam seraya membuka pintu gerbang dengan lebar.
“Takut, nanti yang punya rumah marah.” Mbak Kokom masih tidak mau.
“Kebetulan yang punya rumah sangat baik, jadi nggak usah takut. Apalagi Mbak sudah mengantarkan Nona ... eh, maksudku Mbak Zahra sampai rumah dengan selamat.” Salah satu satpam menjelaskan.
“Ayo!” Zahra tersenyum sambil menarik tangan Mbak Kokom dengan paksa.
“Aduh, aku takut entar di sangka maling lagi.” Mbak Kokom masih takut, tapi dia tetap mengikuti langkah kaki Zahra yang terus membawanya masuk ke dalam rumah istana itu.
“Santai saja, yang punya rumah baik kayak malaikat,” jawab Zahra.
“Malaikat apa dulu ini? Jangan-jangan kayak malaikat pencabut nyawa!” celetuk Mbak Kokom.
***
Ngakak sama si Kokom 🙈🙈😆
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
LENY
MBAK KOKOM BAIK BENER PANTES DIKASIH HADIAH TUH
2025-01-24
0
Dyah Oktina
😂😂😂😂😂😂😂😂kokom baskom ada....ada aja
2024-12-11
0
Raufaya Raisa Putri
judulnya bikin.....ngeri " sedap
2024-12-22
0