Ansel menghubungi keponakannya, dia meminta data salah satu karyawannya di perusahaan. Setelah berusaha mengingat wajah Wahyu, ia merasa geram sendiri, ternyata pria bajingan itu selama ini bekerja di kantornya.
“Sial!” umpat Ansel seraya meninju udara dengan perasaan kesal luar biasa. Ia segera memeriksa data karyawan yang baru saja di kirim keponakannya melalui email. Setelah selesai memeriksa, ia menghubungi keponakannya lagi.
“Jadi yang bernama Wahyu ini yang akan naik jabatan menjadi Kepala Devisi pemasaran?” tanya Ansel pada keponakannya melalui sambungan telepon.
“Siapa yang merekomendasikannya?!” Ansel terdengar sangat jengkel.
“Vania?! Oke, adakan rapat besok pagi. Ah, sekaligus aku ingin mengenalkan Zahra kepada publik!” tegas Ansel lalu segera mematikan ponselnya. Ini tidak bisa di biarkan. Dia tidak akan membiarkan pria yang sudah membuat putrinya menderita, hidup bebas dan bahagia di luar sana.
*
*
Di sisi lain, saat ini Zahra sedang berada di salah satu Mall bersama Mbak Kokom. Dua wanita itu seolah tiada lelah mengelilingi Mall dan memasuki setiap toko pakiaan yang ada di sana.
“Aduh, jangan dong Mbak ... aku ‘kan jadi nggak enak kalau mau nolak ... he he he.” Mbak Kokom malu-malu embek ketika menerima dua stel baju yang harganya sangat mahal dari Zahra.
Hari ini dia merasa menjadi orang yang spesial untuk Zahra, karena wanita cantik itu memperlakukannya dengan sangat baik, traktir ini dan itu sampai-sampai kedua tangannya penuh dengan paperbag, dan perutnya pun kenyang.
Zahra tertawa melihat tingkah Mbak Kokom.
“Semua ini aku berikan sebagai ungkapan terima kasih karena Mbak Kokom sudah membantuku,” jawab Zahra tersenyum manis menatap Mbak Kokom yang terlihat happy.
“Apa ini nggak berlebihan Mbak? Ini banyak banget belanjaanku.” Mbak Kokom menatap 7 paper bag yang ada di tangannya, sedangkan di Zahra sendiri hanya belanja sedikit.
“Jelas nggak dong. Ayo, sudah waktunya kita pulang,” ajak Zahra sembari menarik lengan Mbak Kokom keluar dari Mall tersebut menuju basmant di mana mobilnya terparkir di sana.
Mbak Kokom menjadi terharu diperlakukan sebaik ini. Di saat semua orang menghindarinya karena dia gemuk, tapi tidak dengan Zahra, wanita itu sungguh berhati mulia dan tidak malu menggandeng tangannya.
“Aku harap Mbak Kokom tetap menjaga identitasku,” ucap Zahra ketika sudah berada di dalam mobil.
“Siap, Mbak, rahasia aman terjaga,” jawab Mbak Kokom sambil menyatukan jari telunjuk dan ibu jarinya membentuk huruf ‘O’.
“Sip!” Zahra mengacungkan dua jempolnya, lalu ia segera menyalakan mesin mobilnya.
“Mbak, boleh ambil video nggak?” tanya Mbak Kokom, sejak tadi tanganya sudah sangat gatel nggak tahan mau bikin FYI untuk akun tok-toknya.
“Nggak!” jawab Zahra dengan tegas, sambil melirik tajam Mbak Kokom.
“Duh, lirikan matanta sudah kayak bom nuklir ... BOOM! Meledakkan jantungku,” celetuk Mbak Kokom sembari memegangi dadanya saat melihat lirikan mata Zahra yang begitu tajam.
Zahra yang sudah akan marah pun langsung tertawa terbahak karena tingkah Mbak Kokom yang selalu menghiburnya.
“Ah, nggak jadi marah ‘kan, ha ha ha.” Mbak Kokom ikut terbahak.
Zahra geleng-geleng kepala sambil melajukan mobilnya dengan perlahan.
*
*
“Senang banget kalau kamu akan naik jabatan. Ini semua berkat Vania.” Ismi memuja Vania karena wanita itu akan menyelamatkan hidup mereka dari kemiskinan. “Kenapa kamu baru ngasih tahu kabar baik ini ke ibu?” Kesenangan Ismi berakhir protes.
“Aku lupa Bu, kan seharian kemarin ngurus perceraian aku sama Zahra,” jawab Wahyu.
Ismi mengangguk paham. “Jadi kapan sidang perceraiannya?” tanya Ismi lagi.
“Lusa, ibu harus ikut temenin aku.” Wahyu menatap ibunya yang duduk di sampingnya.
“Woiya jelas! Ibu akan selalu menemin kamu sampai ketuk palu!” jawab Ismi penuh semangat 45.
Wahyu tersenyum, ia sebentar lagi akan memiliki segalanya. Pria itu sudah membayangkan hidup bergelimang harta.
Dasar gila harta!
*
*
Zahra kembali ke rumahnya setelah selesai mengantarkan Mbak Kokom. Sampai di rumah ia sangat terkejut saat mendengar keputusan ayahnya yang akan mengenalkan dirinya ke publik.
“Aku belum siap, Pi,” jawab Zahra menatap ayahnya yang duduk bersebrangan dengannya.
“Lalu mau sampai kapan kamu siap? Papi nggak mau tahu, besok kamu harus ikut ke kantor!” tegas Ansel tidak mau di bantah, lalu segera berlalu dari ruang tengah tersebut.
Zahra menghela nafas panjang seraya menghenyakkan punggungnya ke sandaran sofa dengan lemas dan lesu.
Bagaimana ini? Dia belum siap sama sekali untuk dikenalkan ke publik, apalagi harus menduduki kursinya, akan tetapi tiba-tiba dia terkesiap saat mengingat balas dendamnya yang akan diberikan kepada calon mantan suaminya.
*
*
Waktu berjalan sangat cepat, pagi harinya Zahra sudah siap dengan penampilannya yang sangat menawan.
Wanita cantik itu bagaikan bidadari yang baru turun dari khayangan. Ia memakai dress berwarna putih yang terlihat sangat elegant dan pas di tubuh rampingnya. Rambut indahnya di biarkan terurai, dan wajah cantiknya di poles dengan make-up natural.
“Ciee ... yang mau jadi wakil CEO!” ledek Mattew dari ambang pintu sambil bersadar ke kusen dan melipat kedua tangannya didada, melihat Kakaknya yang sedang mematut diri di depan cermin meja rias.
“Berisik! Seharusnya kamu yang ada di posisi itu!” Zahra menatap adiknya yang datang tak diundang seperti jaelangkung.
“Males! Lebih baik jadi guru, nggak mumet!” jawab Mattew memasuki kamar kakaknya. “Udah tahu belum kalau si Wahyu bangkai itu ternyata bekerja di Holitron Grup?” tanya Mattew seraya mendudukkan diri di tepian tempat tidur.
Zahra yang sedang memakai maskara menghentikan gerakannya, menoleh ke belakang menatap adiknya dengan serius. “Tahu dari mana?” tanyanya.
“Nggak sengaja dengar pembicaraan Mami dan Papi di ruang makan,” jawab Mattew.
Zahra terdiam, tidak berselang lama dia tersenyum miring dan tatapannya semakin menajam.
*
*
“Kenapa mendadak? Kenapa Pak Ansel ingin mengadakan rapat?” Vania kepada sekretarisnya.
“Katanya sih mau mengenalkan putrinya yang akan menggantikan kedudukannya,” jawab sekretarisnya, seraya menoleh ke arah pintu yang terbuka dari luar, dan ternyata Wahyu yang masuk ke dalam ruangan tersebut.
“Aku permisi!” Sekretarisnya langsung beranjak, menatap Wahyu sekilas dengan tatapan tidak suka.
Wahyu menatap wanita yang baru saja keluar dari ruangan tersebut, lalu beralih menatap Vania yang terlihat gelisah.
“Ada apa? Kok kamu kayak gelisah begitu?” tanya Wahyu pada Vania.
“Nggak apa-apa, cuma kaget karena Pak Ansel mengadakan meeting dadakan pagi ini,” jawab Vania.
“Oh ya? Aku boleh ikut nggak? Lagi pula aku ‘kan sebentar lagi akan naik jabatan.” Wahyu menatap Vania penuh percaya diri.
“Jangan dulu!” jawab Vania, ia takut kalau Wahyu melihat putrinya Pak Ansel akan berpaling darinya, apalagi ia pernah mendengar kalau wanita itu sangat cantik bagaikan bidadari.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Raufaya Raisa Putri
dah posesif aj van
2024-12-22
0
guntur 1609
meradanglah kalian betdua. vania wahyu. tgu saja
2024-07-22
0
fitriani
siap2lah kalian para manusia gak taw diri.... siapkan jantung y... pastikan jantung aman
2024-06-13
0