Nungguin update-nya ya?
Sama aku juga nunggu subscribe, vote, like dan hadiah dari kalian, he he he.
*
*
Ismi memakan makan malamnya sambil mendengarkan perdebatan anak dan menantunya. Ia berharap kalau Wahyu secepatnya menceraikan Zahra si miskin itu.
"Bercerai! Ceraikan aku!" teriak Zahra dari dalam kamar.
Ismi tersenyum puas mendengar teriakan menantunya, sepertinya rencananya memberitahukan tentang perselingkuhan Wahyu berjalan dengan lancar dan sangat menguntungkan baginya, karena sebentar lagi ia akan mempunyai menantu baru yang kaya raya.
"Aduh, jadi nggak sabar jadi orang kaya." Ismi sangat senang seperti emak-emak yang baru saja dapat togel.
BRAK!
Suara pintu di banting dengan keras, tidak berselang lama Wahyu keluar dari kamar dengan penuh emosi, sambil berkacak pinggang.
"Oke, aku akan menceraikanmu! Tapi, jangan harap pergi dari rumah ini sebelum kita resmi bercerai! Ingat itu!!" teriak Wahyu sambil menunjuk-nunjuk ke arah kamar.
"Kenapa aku tidak boleh pergi dari sini? Apa hakmu melarangku!" balas Zahra berteriak pada suaminya yang berlagak sok jagoan.
Cih! Gaji 6 juta dan rumah masih mengontrak saja banyak tingkah! batin Zahra yang menyesal karena salah pilih pasangan hidup.
"Karena sebelum kita resmi bercerai, kau masih istriku!" Wahyu menunding istrinya yang berada di ambang pintu kamar sambil bersedekap di dada, menatap tajam ke arahnya.
"Oke! Tapi, aku tidak sudi satu kamar dengan pria yang sudah menjamah wanita lain!"
BRAK!
Zahra menutup pintu dengan keras, seraya menguncinya. Dia bersender di pintu tersebut dengan nafas yang naik turun, tidak berselang lama tangisnya pecah, dan tubuhnya luruh ke atas lantai.
Rasa sedih, kekecewaan, dan sakit hati bercampur menjadi di dalam dadanya. Ia menangis lirih terdengar sangat memilukan bagi siapa pun yang mendengarnya. Sekuat apa pun dia berusaha tegar, tetap saja rasa sakit hati itu tidak bisa di hilangkan begitu saja, dan akan selalu membekas di dalam hatinya.
*
*
"Kamu bagaimana sih?! Kalau dia mau keluar dari rumah ini kenapa kamu melarangnya?! Ibu sudah malas lihat mukanya!" Ismi memarahi putranya yang terlihat masih menginginkan Zahra berada di sampingnya.
"Bu, selama kami belum resmi bercerai, dia masih tanggung jawabku! Lagi pula, aku harus mencari dana untuk mengurus perceraian," jawab Wahyu menatap ibunya malas, sambil menyugar rambutnya dengan kasar, pusing kepalanya karena nggak punya duit.
"Memangnya biaya perceraian itu mahal? Ibu punya tabungan tidak banyak, hanya 2 juta, apa cukup?" tanya Ismi pada putranya yang terlihat pusing.
"2 juta mana cukup," sahut Wahyu menghela nafas dengan kasar.
Ismi terdiam, kedua matanya bergerak ke kiri dan ke kanan, seolah sedang memikirkan jalan keluar untuk masalah putranya.
"Bagaimana kalau kamu minta uang kepada pacar kamu itu? Dia 'kan kaya dan pasti ngasih kamu uang secara cuma-cuma." Ismi memberikan ide gila kepada putranya, akan tetapi Wahyu menolaknya.
"Dasar bodoh! Kamu harus memanfaatkan keadaan!" omel Ismi gregetan kepada putranya.
"Bu, hubunganku sama dia baru berjalan 2 bulan! Nggak mungkin aku pinjam uang sebanyak itu kepadanya, yang ada nanti dia curiga kalau kita hanya akan memanfaatkannya saja!" Wahyu beranjak dari duduknya, malas berbicara dengan ibunya.
"Aku akan pinjam ke kantor saja." Wahyu berbicara sambil berjalan menuju teras rumah.
*
*
"Ih, ya ampun! Nggak nyangka loh kalau Mas Wahyu terkenal baik dan sayang sama istri ternyata berselingkuh. Mungkin kali ya mata Mas Wahyu itu sudah buta, kalau kata orang jawa matane wes picek!" Mbak Kokom alis Baskom sambil memegang ponselnya, dan mengarahkan kemera belakang ke arah tembok, karena ia sedang membuat FYI di akun tok-toknya.
"Tapi, eh tapi ... ibu mertuanya itu juga galak banget loh, mulutnya suka mrepet-mrepet sama menantunya. Ih ngeri pokoknya. Semoga saja cepat kena azab!" lanjut Mbak Kokom terdengar geram.
"Heemmm, kalian semua dengar 'kan suara ribut-ribut tetangga sebelah itu, Nah, itu mereka sedang bertengkar. Ish, jadi gemas aku sama Mas Wahyu! Sampai di sini dulu yah. Nanti part duanya menyusul." Lalu Mbah Kokom lalu membaca komentar-kometar dari nitizen.
Mbak Kokom tersenyum puas saat melihat ratusan komentar membajiri postingannya. Maklum Mbak Kokom ini adalah tok-tokers yang mempunyai pengikut puluhan ribu akun tok-tok. Jadi, tak khayal kalau postingannya langsung ramai oleh nitizen.
Siapa yang punya tetangga kayak Mbak Kokom? Jangan di contoh ya, nggak baik soalnya, Wk wk wk wk.
*
*
Pagi hari telah tiba.
Zahra belum keluar dari kamar, padahal waktu sudah menunjukkan jam 7 pagi.
"Ra! Dasar menantu edan!!! Sudah siang belum bangun dan nggak bikin sarapan!" teriak Ismi makin nggak tahu diri dari arah dapur.
Wahyu yang bangun kesiangan pun terkejut mendengar teriakan ibunya, tadi malam ia tidur di depan televisi di temani oleh nyamuk-nyamuk nakal yang menghisap darahnya.
"Ada apa sih, Bu?" tanya Wahyu sambil menggaruk lehernya yang terasa gatal, kedua matanya pun masih setengah terpejam.
"Istri kamu itu nggak tahu diri, sudah siang bukannya bangun malah masih molor di kamar!" jawab Ismi kesal.
Wahyu menghela nafas kasar, lalu berjalan menuju kamar dan mengetuk pintu kamar itu berulang kali sambil memanggil nama Zahra dengan sangat keras.
Ceklek
Pintu kamar terbuka dari dalam.
Wahyu terkejut sampai mulutnya menganga saat melihat istrinya sangat cantik pada pagi hari itu. Biasanya Zahra tidak pernah dandan, akan tetapi pagi itu istrinya berdandan meski hanya memakai bedak dan lipstik berwarna merah ceri. Dan pakaian istrinya juga tidak mahal, dress yang di beli dari pasar modern yang tidak jauh dari rumah kontrakannya.
Anggap aja begini, 😆😆
"Apa lihat-lihat! Minggir!" Zahra menatap tajam suaminya yang menghalangi jalannya.
"Mau ke mana kamu?!" tanya Wahyu tidak suka, tapi terkesan posesif.
"Bukan urusan kamu!" balas Zahra sengit.
"Tentu saja urusan aku! Aku masih suami kamu!"
"Sebentar lagi akan menjadi mantan, jadi jangan mencampuri urusanku! Urus saja selingkuhan kamu!" Zahra mendorong dada bidang Wahyu dengan jari telunjuknya, terkesan jijik, lalu mengusap jarinya itu ke permukaan bajunya.
Wahyu geram melihat tingkah Zahra yang seperti itu.
"Zahra!" sentak Wahyu pada istrinya yang berjalan meninggalkannya.
Zahra memutar kedua matanya dengan malas ketika ibu mertuanya ikut menghadangnya.
"Ada apa, Bu?" ketus Zahra seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Mau ke mana kamu? Kami lapar, jadi kamu harus masak sekarang juga!" Ismi melotot pada menantunya.
Zahra menghela nafas kasar, seraya membuka tasnya, ia mengambil uang 10 lembar berwarna merah dari dompetnya dan menyerahkannya kepada Ismi.
"Pegang ini, Bu. Ibu saja yang masak dan urus keperluan dapur!" Zahra langsung pergi dari rumah tersebut setelah ibu mertuanya menerima uang darinya.
"Ra! Zahra!" Wahyu mengejar istrinya, akan tetapi Zahra tidak memedulikannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Dwisur
aku like
2024-09-02
0
Taty Hartaty
rasain tuh belum tau aja ,klu istrinya ternyata orang kaya
2024-09-01
0
Ko
🤣🤣🤣Rasain lo ismi.. Ini sdh kedua kalinya ku baca novelmu thor.. Bikin nagih bet ceritanya terutama watak mbak kokom🤣🤣
2024-09-01
0