Yap, itu adalah Shiba yang seolah melayang karena dia habis meloncat. Lantas dia juga mengarah ke arah kera jelek itu. Namun, yang lebih fenomenal itu ketika api dengan ukuran sebesar dua kali kepala manusia muncul di depan mulut Shibai.
Dan, bummm!
Sebuah semburan api panjang bagaikan sebuah pilar, melesat seolah meledakkan kera itu dengan sangat kuat. Untungnya Alta lebih menyadari tentang hal itu sehingga dia langsung melompat mundur ke belakang.
Dan api yang cukup besar dan terus keluar dari mulut Shiba terus menimpa kera tersebut. Sehingga kera itu berteriak dengan sangat kasar dan memekikkan telinga. Memang, elemen dasar dari kera itu adalah api, dan kera itu melindungi dirinya dari api pula.
Namun apabila dia menerima sebuah serangan, maka merasakan rasa sakit dan panas itu adalah hal yang wajar. Bagaikan seorang manusia dengan kulitnya, namun apabila ada manusia lain yang memukulnya, maka wajar apabila orang itu kesakitan. Padahal yang memukul sama-sama memiliki kulit dan juga daging.
Kembali kepada kera itu, dia sekarang bagaikan terjebak dalam kobaran api. Tidak ada kesempatan untuk membuat dirinya bisa keluar.
Barulah, ketika Shiba hampir jatuh ke tanah, dia menggelinding ke depan. Sehingga dia tidak terjun ke arah kera itu yang akan menjadi sangat berbahaya.
Sementara itu, Alta benar-benar ternganga. Maksudnya, mungkinkah rubah di hadapannya memang seekor rubah anak-anak? Tidak mungkin dengan kekuatan seperti itu dia tidak bisa menghancurkan sebuah penjara yang mengurungnya.
Dengan kekuatan chakra yang cukup besar, seharusnya baginya adalah hal yang mudah. Tapi kenapa dia seolah terpenjara dan tersiksa sehingga tidak bisa kabur?
“Shiba!” Alta segera melupakan pemikirannya. Dia kemudian meloncat ke arah Shiba dan menggapainya.
Kera itu merintih kesakitan, bulu-bulunya rontok karena serangan dari Shiba yang luar biasa. Meski begitu, dia masih tidak begitu menyangka bahwa dia dikalahkan oleh seorang elemental beast rendahan.
“Sialan kau dasar bajingan!” Kera itu tampak meronta. Seolah menatap Alta dan juga Shiba dengan cukup tajam. Emosinya memuncak berharap bahwa orang di hadapannya tidak akan dia beri kata maaf.
Meski tubuhnya tampak gosong, kera itu masih sanggup untuk berdiri. Lantas dia pun mengeluarkan sebuah kobaran api yang cukup besar ke arah Alta.
Sama seperti kera itu, Alta juga mengeluarkan kobaran api. Dua kobaran api akhirnya beradu sehingga menimbulkan sebuah panas yang luar biasa. Tak dapat ditahan sehingga mengakibatkan keadaan di sekitar mengering.
Hanya saja itu sama sekali kurang berdampak kepada Alta. Kekuatan chakra yang dia keluarkan tampak lebih besar sehingga memberikan sebuah tekanan api yang kuat pula. Sehingga dia sanggup mendorong kekuatan dari kera tersebut dengan cukup mudah.
“Aghhh!”
“Sekali kera tetaplah kera. Derajatmu bahkan lebih rendah dari manusia! Es: Ledakan beku!”
Sesaat kera itu terlempar ke belakang, sebuah tanah meledak. Sebelum kera itu kembali berteriak, sebuah ledakan memancar dari tanah, mengeluarkan kristal yang meledak-ledak sehingga sanggup untuk menusuk kera itu. Bahkan tidak hanya menusuk, kera itu tiba-tiba dilapisi oleh es yang sangat padat sehingga dia sama sekali tidak mampu untuk bergerak.
“Sekarang, serangan terakhir. Api: Basilisk Inferno!”
Seekor ular naga bergerak keluar, menghasilkan sebuah aura yang kasar dan melampau dengan kekuatan yang elegan. Ular naga itu menjadi sebuah serangan terakhir, sesaat setelah menabrak bongkahan es yang memenjarakan kera tersebut.
Duarr!
Ledakan terdengar cukup nyaring. Kekuatan besar terjadi. Entah apa yang terjadi pada kera itu hanya menjadi sebuah ekspektasi karena masih banyak sebuah kepulan asap yang cukup besar.
Barulah, ketika asap itu menghilang setelah hulu ledakan. Kera itu sudah terbilang tak terwujud. Tampak dagingnya berceceran dengan bau hangus yang menyengat. Baik itu Altair maupun Shiba dapat melihat dengan jelas.
Namun itu sudah cukup menunjukkan bahwa kera itu kalah. Pertarungan malam ini menjadi pertarungan kekompakan mereka untuk pertama kalinya. Dan Alta sungguh senang meski dia sedikit khawatir tentang rubah ini yang sebenarnya.
Maksudnya dia benar-benar kuat, tidak seperti yang ia bayangkan.
Alta menghampiri sebuah kepala yang sudah tidak utuh. Lebih tepatnya kepala yang mirip daging bakar dan terlihat sangat menjijikkan. Namun Alta harus mencari inti elemennnya untuk menjadi sebuah makanan penting bagi Shiba itu sendiri.
Mungkin dia bingung harus bagaimana. Awalnya begitu karena dia harus membelah dan mencarinya sendiri. Cukup sulit karena hewan sebesar itu, elemental intinya pasti hanya sebesar dua jari telunjuk.
Barulah dia menciptakan sebuah es tajam bagaikan sebuah mata pisau yang terlihat memukau. Sehingga dia bisa mencari letak inti elemen itu.
Walaupun suasana benar-benar gelap, tampaknya Alta benar-benar kesulitan. Namun untungnya Shiba dengan cekatan menyalakan sebuah api dari ekornya. Jelas itu membuat Alta hampir tertawa.
Selang beberapa lama, Alta menemukan sebuah kristal di dalam kepala hewan itu. ukurannya lebih besar dari ibu jari. Berwarna merah pekat dengan cahaya api yang sedikit menyala. Auranya sedikit hangat.
Dan Alta langsung memberikannya kepada Shiba.
Shiba membuka mulutnya lebar. Dia lantas menelan inti itu. Esensi dari inti itu dia rasakan dalam tubuhnya, seolah ada chakra besar yang mengalir yang membuat Shiba duduk sejenak sambil merasakan energi yang kuat itu.
“Bagaimana?” Tanya Alta.
Shiba mengangguk-angguk. Dia kemudian mengelus-elus punggung lengan Alta dengan sangat senang. Lagipula, sudah berapa lama dia tidak menyerap esensi dari inti binatang buas.
Walau secara fisik tidak ada perubahan yang begitu signifikan, tapi Alta melihat bahwa aura Shiba benar-benar meningkat. Inti elemental beast benar-benar sangat ampuh untuk meningkatkan kekuatan binatang buas hingga beranjak dewasa dari segi kekuatan.
“Kau mau lagi? Aku akan mencarikannya, agar kau bisa tumbuh lebih dewasa nantinya?”
Shiba mengerti apa yang Alta ucapkan. Dia mengangguk-angguk senang. Walaupun, ini sudah malam dan tuannya benar-benar sangat loyal. Juga Alta bisa menggunakan situasi yang cukup baik, dimana dia berada di hutan elemental beast dan akan berburu selagi di dalamnya.
Apalagi notabene dia memiliki seekor hewan peliharaan berjenis api.
Hingga hari sudah mulai tengah malam, sudah ada belasan bahkan puluhan elemental beast berjenis api dibantai habis di tangan Alta maupun Shiba. Namun mereka juga sempat bertemu beberapa elemental beast berelemen lainnya dan cukup rugi untuk melawannya.
Meski begitu juga, mereka sedikit untung untuk mendapatkan inti elemental. Itu sudah membuat perkembangan Shiba yang cepat dan juga signifikan. Walau perubahannya hanya sekadar ukurannya yang menyamai seekor serigala dewasa.
Dan itu benar-benar tidak normal.
Shiba bahkan sudah mampu menjilati wajah Alta di saat Alta berdiri. Hanya saja, yang membuat Alta sedikit merasa kurang puas, Shiba sama sekali belum berbicara layaknya manusia. Yang menandakan butuh banyak inti elemental lagi untuk bisa membuat Shiba dewasa dengan tepat.
“Ukuranmu benar-benar setinggi dadaku. Rubah normal tidak ada yang setinggi ini.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 191 Episodes
Comments
Mamat Stone
up
2024-08-09
0
Jimmy Avolution
terus
2024-06-20
1
Anonymous
mantab thor dan lanjut kan
2024-02-11
1