Alta mengangguk, dia lantas duduk di dekat Yasmine selama Hanzel mencari sebuah obat. Dia berharap penuh bahwa Hanzel akan kembali dengan cepat dan membawa tanaman obat agar racun yang ada pada tubuh Yasmine tidak membuat sesuatu hal yang tidak diinginkan.
Saat itu juga Alta menjadi cukup gentir saat menatap wajah tua Yasmine yang pucat bagaikan kertas kosong. Terbaring tidak berdaya dengan salah satu luka pada bagian tubuhnya. Alta benar-benar terpukul, dia menyesal dan berpikir seharusnya dirinya menyadari hal ini lebih awal.
“Nenek Yasmine, bertahanlah. Kakek Hanzel akan kembali secepatnya!” Kata Alta dengan nada penuh harapan.
Beberapa menit kemudian, Hanzel kembali sambil membawa segenggam daun. Dia kemudian mengambil sebuah penumbuk dan menghaluskan daun-daun itu dengan cukup cepat. Selain itu, wajah Hanzel terlihat sangat menyedihkan seperti penuh harap agar tidak kehilangan sosok istrinya.
Sebuah obat terbentuk dari daun yang ditumbuk halus. Hanzel yang mendapatkannya segera bergegas menuju istrinya yang masih terbaring. Dia jelas cukup terpukul, Theo tahu akan hal itu.
“Bantu aku membukakan mulutnya.” Kata Hanzel.
“Baiklah.” Theo mengangguk.
Dia lantas mencoba untuk membuka mulut Yasmine dengan cukup lembut tanpa bertindak kasar sedikitpun. Sedangkan Hanzel langsung menyuapkan obat tersebut dengan perlahan. Tapi dalam hati yang sebenarnya, dia benar-benar merasa sakit karena ada suatu hal yang dia sadari.
Hal itu membuat Hanzel menarik napas dengan sesak sambil mengusap air matanya. Dia bahkan juga menggelengkan kepalanya sambil memberikan sebuah ekspresi sedih yang membuat Alta yang melihatnya benar-benar terpukul.
“A-ada apa?” Alta berwajah kecut saat menatap Hanzel. Selain itu dia juga merasa ada hal buruk yang sebenarnya ingin sekali tidak dia dengar. Namun dia tidak akan tahu apa yang terjadi sebenarnya jika tidak penasaran.
“Obat ini hanya bisa bertahan selama dua minggu saja. Kita membutuhkan sebuah tabib dari luar untuk menyembuhkan Yasmine.” Hanzel mencoba untuk bersikap tegar.
“Aku akan mencarinya! Aku akan naik ke atas dan mencari tabib tersebut!” Alta berkata dengan penuh tekad.
Lagipula selama ini mereka yang menolong Alta selama ini. Sehingga hatinya tergerak untuk balas budi. Bahkan itu merupakan sebuah keharusan yang memang Alta lakukan untuk menolong mereka untuk membalas jasa mereka.
“Tapi ....” Hanzel berkata dengan ragu.
Alta sempat berpikir bahwa Hanzel ingin berkata bahwa tidak ada jalan keluar dari tempat ini. Ini adalah sebuah tempat dimana apabila jatuh ke tempat ini tidak akan pernah bisa untuk naik lagi. Sayangnya Alta sudah bertekad. Bahkan jika itu dia harus mendaki tebing yang curam, dia tidak akan pernah takut atau ragu melakukannya.
“Aku tidak akan ragu! Bahkan jika aku harus naik ke atas dengan mendaki itu bukanlah sebuah masalah!”
“Tidak, bukan itu. Sebenarnya ada jalan keluarnya. Ikuti aku!” Hanzel berbicara demikian sambil mengusap air matanya.
Dia langsung berdiri di tempat yang membuat Alta sendiri antusias. Siapa yang berpikir ternyata ada jalan keluar dari tempat ini? hanya saja dia sempat bertanya-tanya tentang mengapa pasutri sepuh itu selalu menyembunyikan sesuatu setiap Alta bertanya apakah ada jalan keluar dari tempat ini?
Hanzel berjalan cukup lama, dan Altair mengekornya tanpa peduli apapun. Selain itu Hanzel juga terlihat bergegas yang membuat Altair juga bersemangat.
Hingga sejauh mereka berjalan, mereka sampai di sebuah dinding tebing yang jauh dari gubuk mereka. Di antara tebing itu terdapat sebuah batu besar yang ukurannya berkali-kali lipat dibandingkan tubuh manusia.
Batu tersebut juga menempel di dinding tebing seolah menutupi sesuatu. Goa mungkin? Dan itu cukup membuat Alta sedikit penasaran.
“Dibaliknya terdapat sebuah Gua yang menghubungkan dengan permukaan dengan jarak yang cukup jauh.” Hanzel menghela napas sebelum melanjutkan ucapannya.
“25 Tahun yang lalu, kami tidak sengaja masuk ke dalam gua tersebut. Namun di tengah-tengah gua, terdapat elemental beast penjaga yang berupa ular dengan kekuatan yang dahsyat. Untungnya kami bisa lari namun sampai ke tempat ini.”
“Aku tidak berani untuk kembali masuk dan keluar karena adanya sosok ular penjaga tersebut. Sehingga selama bertahun-tahun kami terjebak di tempat ini. Untuk mengantisipasi, agar ular itu tidak keluar aku menutup gua tersebut menggunakan sebuah batu yang cukup kuat.”
“Anda mengangkatnya?” Tanya Alta penasaran.
“Itu 25 tahun yang lalu, di masa primaku aku bisa mendorongnya. Tapi sekarang mungkin aku tidak akan bisa lagi.”Kata Hanzel menundukkan kepalanya.
“Selama 25 tahun, apakah hanya kali ini saja ada elemental beast yang jatuh dan selamat?”
“Sebenarnya jarang. Selama beberapa tahun kali ini ada yang selamat. Lupakan hal itu, sekarang kita fokus, apakah kau yakin ingin naik ke permukaan? Kau mungkin harus berhadapan dengan ular penjaga tersebut.”
Altair berpikir. Mungkinkah selama ini Hanzel tidak memberitahunya karena takut Altair akan nekat untuk masuk ke dalam goa dan keluar? Hanzel tidak ingin sosok dirinya atau Altair mati konyol karena ceroboh.
Hanya saja sekarang Hanzel tidak memiliki pilihan lain selain mengatakannya. Namun dia masih memberikan sebuah pernyataan apakah Altair bersedia dengan konsekuensi yang dia hadapi.
“A-aku tidak memaksamu.”
“Tidak! akan ku lakukan tidak peduli apapun resiko dan konsekuensi yang mungkin akan ku hadapi. Aku akan kembali secepatnya!”
“Kita kembali terlebih dahulu, aku akan menyiapkan perbekalan untukmu.”
Altair mengangguk, lagipula tidak ada salahnya membawa perbekalan untuk masuk ke dalam gua tersebut untuk keluar dari tempat ini.
Mereka akhirnya kembali ke gubuk, dimana Hanzel mengumpulkan beberapa makanan dan juga sebotol minuman yang berasal dari tanah liat. Altair juga membantu, agar prosesnya jauh lebih cepat sehingga dia bisa keluar lebih cepat dan bisa mencari tabib untuk nenek Yasmine pula.
Hingga sore hari, semuanya telah disiapkan.
Altair sebenarnya ingin berangkat sekarang juga. Tapi Hanzel mencegahnya karena ini sudah petang. Akan tambah berbahaya karena binatang tersebut akan semakin agresif pada malam hari.
Terpaksa, Altair pun setuju dan menundanya hingga esok.
Barulah esok hari pagi-pagi buta, Altair terbangun. Dan dia bisa melihat Yasmine terbaring sambil tak sadarkan diri. Wajahnya terlihat pucat, namun napasnya masih normal. Itu membuat Alta menangis.
“Apa kau sudah siap? Kau jadi kan?” Hanzel berkata dengan lirih.
Entah bagaimana sekarang pak tua Hanzel sama sekali tidak memiliki sebuah semangat yang cukup besar. Itu membuat Altair tambah sedih dan hampir mengeluarkan air matanya. Untungnya dia bisa menahannya dan tersenyum.
“Aku siap.” Kata Alta.
Dia juga menggendong sebuah tas anyaman yang kemungkinan itu adalah milik Yasmine sebelumnya. Namun sebelum Altair pergi, dia memeluk Yasmine yang terbaring terlebih dahulu dan sesekali dia mencium pipinya.
“Bertahanlah nenek, aku akan kembali secepat mungkin.”
Setelah itu, Alta pergi sambil mengekor Hanzel.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 191 Episodes
Comments
Ikram Dicky
lanjut
2024-10-20
0
Jimmy Avolution
lanjut
2024-06-20
1
herry bjb
theo...siapa lagi theo
2024-06-09
0