Altair tidak habis pikir, bisa-bisanya ada hewan yang berasal dari atas mampu untuk bertahan setelah jatuh dari tempat ini. Hanya saja, dia tidak memiliki waktu yang lama untuk memikirkan hal-hal yang tidak-tidak karena kalajengking itu kembali bangkit.
“Bawa nenek pergi!” Ucap Altair sambil melirik ke arah Yasmine.
Melihat Yasmine tergeletak tak berdaya, jelas membuat Altair benar-benar sakit hati. Bagaimanapun, soso Yasmine adalah seseorang yang menjaganya selama tiga bulan lamanya. Sehingga itu membuat Altair marah besar sehingga membuat wajahnya cukup tajam karena marah.
Hanzel mengangguk, dia merespon untuk segera membawa pergi Yasmine. Meski dia tua, dan dia kehabisan energi, tapi dia memaksa dirinya untuk membawa Yasmine pergi sambil menutup lukanya yang ada pada lengan istrinya.
“Hati-hati!” Hanzel berkata dengan serius sebelum dia benar-benar pergi. Namun, dia sendiri juga merasa tidak tega bila harus membiarkan Altair melawan kalajengking raksasa itu sendirian.
Akan tetapi, setelah Altair memberikan sebuah kepercayaan, Hanzel tidak memiliki pilihan lain. Selain itu, dia juga harus segera mencari obat-obatan untuk menyembuhkan luka istrinya yaitu Yasmine.
Usai Hanzel pergi, kini menyisakan Altair yang akan bertarung dengan kalajengking itu. Bisa dibilang ini merupakan pertarungan pertamanya di dunia nyata serta menggunakan elemen yang dia miliki. Sehingga hal ini membuat emosi di sisi lain Alta benar-benar bersemangat.
Kalajengking itu langsung membanting kedua capitnya. Sehingga mengakibatkan tanah di sekitar bergetar hebat. Bahkan tanah terbelah lurus ke arah Altair yang ikut bergoyang karena keadaan sekitar.
Dan itu bisa dipastikan bahwa kalajengking di depannya memiliki elemen tanah sebagai kekuatan utamanya.
Altair yang hendak menerima serangan itu, dia bergegas melompat mundur. Kemudian dia mengulurkan tangannya untuk memberikan sebuah serangan.
Sayangnya kalajengking itu bergerak dengan sangat cepat. Yang mana tiba-tiba sudah ada di depannya sambil mengulurkan capitnya untuk memberikan serangan kepada Altair.
Untungnya Altair bisa menghindar dengan cukup baik. Dia kemudian membalas sebuah pukulan yang mana dia masih menggunakan teknik pukulan inferno sehingga terdapat api yang melapisi tangannya hingga membentuk sebuah tinju.
Tapi kalajengking itu juga tidak mau kalah. Dia membentuk sebuah perisai dari tanah yang terbentuk di tangannya. Kemudian, kalajengking itu mengulurkan capitnya untuk menahan pukulan dari Altair.
Hal tersebut memicu sebuah ledakan kecil, dimana pukulan Altair hanya bagaikan membentur benda keras dan tidak mengenai kalajengking tersebut.
Kemudian kalajengking itu mengayunkan capit miliknya yang lain ke arah Altair.
Dengan cepat, Altair menghindar dari serangan cepat kalajengking tersebut. Dia melompat ke samping, menghindari capit yang hampir menyentuhnya. Dalam sekejap, kalajengking itu sudah berada di depannya lagi, siap untuk serangan berikutnya.
Altair mengerutkan kening, dia menyadari bahwa kalajengking ini bukanlah musuh yang bisa dianggap enteng. "Binatang ini benar-benar tangkas," gumamnya sambil bersiap menghadapi serangan berikutnya.
“Tapi dia juga benar-benar pintar untuk menganalisis sebuah serangan.” Batin Altair sambil terus-menerus mundur ke belakang. Barulah, ketika sudah berada dalam area yang cukup jauh, Altair langsung menyentuh permukaan tanah meski tangannya juga masih terbakar.
“Es: Ledakan beku!”
Sejumlah ledakan es tepat pada tanah yang dipijak kalajengking itu muncul. Hal tersebut memunculkan sebuah es yang memancar membentuk kristal es dengan ukuran yang cukup tebal dan juga tajam.
Apabila tidak berhati-hati, serangan itu pasti akan memberikan sebuah serangan yang kuat bahkan bisa berakibat fatal yaitu kematian. Karena tusukan dari bawah dan bahkan juga tidak menutup kemungkin bisa membeku.
Sayangnya kalajengking itu bisa menghindar dengan cukup lihai. Akan tetapi serangan ledakan es itu terus muncul di permukaan tanah kemanapun kalajengking itu bergerak. Sehingga mengakibatkan binatang itu memiliki pergerakan yang cukup terbatas.
Bahkan dia juga menggunakan elemen tanah untuk menghancurkan kristal-kristal berukuran besar itu.
“Oh, binatang ini sungguh kuat. Sial, aku tidak memiliki banyak waktu lagi dan harus melihat kondisi nenek!”
“Es: Amarah pekat beku!”
Proyektil es muncul di sekitar Altair dan meluncur ke arah kalajengking tersebut. Awalnya kalajengking itu mengira mungkin serangan Altair hanyala sekedar serangan biasa yang tidak berbahaya. Sehingga dengan cerobohnya dia menangkis beberapa kristal atau proyektil es yang Altair keluarkan.
Dia juga berpikir, mungkin karena kulitnya yang agak keras maka menangkis peluru es bukanlah masalah. Tapi nyatanya? Tiba-tiba capitnya membeku yang membuat dia mengeluarkan erangan yang cukup keras.
Beberapa peluru es juga mengenai langkahnya. Sehingga tidak hanya terluka, melainkan juga membeku sehingga kalajengking itu sama sekali tidak bisa bergerak sedikitpun.
“Bagus, sekarang kau sama sekali tidak bisa bergerak.” Altair berkata sambil menggertakkan giginya.
Barulah dia mengalirkan chakra yang berbeda pada tubuhnya, dimana dia mengubah elemen yang akan muncul secara tiba-tiba. Walaupun ini sedikit menyakitkan karena tangannya yang cukup dingin akan dipaksa lagi untuk mengeluarkan elemen api.
“Api: Basilisk Inferno!”
Dan dengan kekuatan yang menggebu-nggebu, Altair bergerak dengan cepat ke arah kalajengking itu. Dan bersama dengan itu juga, seekor ular api muncul dengan bentuk api yang cukup besar bergerak ke arah kalajengking itu dari jarak yang cukup dekat.
Kali ini kalajengking tersebut tidak bisa untuk menghindar. Serangan dari jarak yang cukup dekat, ditambah dengan dirinya yang membeku membuat akurasi serangan itu 90 persen tepat sasaran.
Bummm!
Ledakan benar-benar terjadi dengan suara yang cukup keras. Bahkan Hanzel dari kejauhan benar-benar cukup cemas akan hal itu. Apalagi ditambah dengan kondisi istrinya yang buruk dengan luka yang membiru sehingga membuatnya dipukul oleh dilema besar.
Sedangkan Altair, dia terlempar ke belakang akibat gelombang kejut yang tercipta akibat serangannya sendiri. Dia berguling-guling di atas tanah dan langsung berdiri sambil menutup wajahnya menggunakan lengan karena kepulan asap yang cukup besar.
Bahkan dia sendiri terbatuk-batuk sambil menatap ke depan, berharap serangannya tadi mampu membunuh binatang kotor itu dalam beberapa kali serang.
Barulah, ketika asap itu menghilang, dia bisa melihat sebuah kobaran api yang membakar keadaan sekitar. Hanya saja, yang membuat dia bernapas lega adalah, kalajengking itu sudah menjadi bangkai gosong dengan beberapa bagian tubuhnya yang terbakar oleh api.
Itu membuat Altair tersenyum sambil menata napasnya yang terengah-engah.
“Nenek!?” Altair kembali teringat nenek Yasmine. Sehingga dia bergegas untuk menuju gubuk karena Hanzel membawanya ke tempat itu.
Dalam hatinya dia benar-benar sangat khawatir jika nenek Yasmine terjadi apa-apa. Jika ada sesuatu, jelas itu membuat Altair benar-benar sangat terpukul yang membuat dia emosi marah.
“Nenek! Bagaimana keadaan nenek?” Altair yang langsung masuk ke dalam gubuk rumah itu langsung bertanya dengan cukup serius. Tampak jelas dari raut wajahnya dia menunjukkan kekhawatiran yang Hanzel bisa tebak dengan cukup mudah.
“Dia keracunan racun kalajengking karena sengat nya yang menusuk dada bagian atas Yasmine.” Hanzel berkata dengan tatapan berkaca-kaca. Bahkan raut wajahnya benar-benar sedih yang membuat Altair sendiri hampir menangis dan menghampiri Yasmine yang terkapar.
Hanzel jelas mengeluarkan air mata. Bagaimanapun Yasmine adalah istrinya yang mampu bertahan hingga usia senja. Jadi, bagaimana mungkin Hanzel tidak terpukul atas kejadian hal itu?
“Tunggu dan jaga nenek sambil bubuhi obat ini ke lukanya. Aku akan mencari tanaman lain.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 191 Episodes
Comments
Jimmy Avolution
terus
2024-06-20
1
Roni Sakroni
cepatlah pulang orang tua sudah menunggunya
2024-02-29
0
Anonymous
pertempuran pertama kali telah dilakukan dan hasilnya sangat luar biasa, cuma kapan belajarnya altair tentang pengobatan ?
2024-02-11
1