Emilia hanya diam saja ketika sang suami menarik tangannya, keluar dari area dapur. Bahkan sengaja menunjukkan secara tersirat kepada Camilia, posisi Emilia yang sebenarnya.
Guru cantik ini menoleh, merasa tak enak hati terhadap Camilia yang menatap penuh tanya ke arahnya.
Dapat dilihat jelas, kalau Camilia tersenyum kecut, melihat interaksi yang tidak biasa. Tatapan penuh sayang yang dulu Ed berikan untuk Camilia, kini sirna.
“Ed? Mau ke mana?” tanya Camilia.
“Ikut aku!” Ed menggenggam erat tangan Emilia tanpa ragu. Tidak memedulikan Camilia yang memanggil namanya.
“Ed, Camilia. Dia … dia pasti curiga.” Ucap Emilia menahan langkah menuju kamar utama.
Namun remaja itu tak ingin ambil pusing. Edgardo membawa Emilia masuk ke kamarnya, di lantai dua. Ruangan dengan dominasi warna biru langit dan abu-abu, serta furniture serba putih.
Edgardo menunjuk ranjang, lalu berujar, “Duduk di sana, aku ambil sesuatu dulu di lemari.”
Sebuah kotak kecil, berisi obat-obatan lengkap pertolongan pertama mulai terbuka. Lelaki itu memilah cairan antiseptik, salep dan kasa kering. Ed mengobati punggung tangan Emilia.
Jiwa teriris perih sebab istrinya terluka, lelaki ini pun melarang Emilia memasak, karena kondisinya sedang hamil. Ed tidak ingin perut Emilia kembali kram.
“Kamu duduk saja, biarkan dia yang menyelesaikannya. Ingat pesan dokter, ibu hamil jangan kelelahan!” ucap Ed masih menaruh atensi pada luka di punggung tangan.
“Tapi … Ed bagaimana dengan Camilia, dia pasti mengetahui kalau kita bukan saudara sepupu.” Emilia menarik tangannya.
“Memangnya kenapa kalau dia tahu? Kamu itu istri aku. Kamu tidak hilang ingatan kan, wanita yang aku nikahi dua bulan lalu itu kamu bukan dia.” Tegas Ed sedikit membentak.
Emilia tak kuasa melanjutkan kata-kata, ia mengigit bibir bawahnya.“Ta-tapi Ed … bukankah kamu masih … umm …”
Tingkahnya itu mengundang Edgardo mendekat, menghapus jarak antara mereka. Menyambar bibir ranum yang selalu membantah perintahnya.
Memperdalam tautan, membungkam Emilia. Menghentikan bibirnya terus menyebut nama Camilia. Tangan remaja itu memberanikan diri, merebahkan istrinya di atas kasur, mengunci pergerakan Emilia.
Gelora jiwa muda pun memuncak, mendesak serta penasaran akan suatu rasa yang tak pernah didapatkan sebelumnya. Resleting bagian depan dress rumahan Emilia turun sempurna, terantuk ke ujung.
Bagian roknya pun tersingkap seperti diterpa angin yang cukup kuat, semua ulah Edgardo Torres. Namun tautan itu terhenti, manakala Ed membuka mata, melihat istrinya menahan diri.
Lelaki itu juga menyadari bahwa Emilia sedang hamil tak mungkin menuntaskan rasa penasarannya. Ed tidak mau terjadi sesuatu dengan kandungan Emilia, sekalipun itu bukan anaknya.
“Kamu mau bilang apa? Katakan!” Ed merapikan dress serta surai indah Emilia yang berantakan.
“Umm … aku … bukankah kamu masih mencintainya Ed?” akhirnya mulut Emilia mengungkap pertanyaan yang selalu tertahan. Semula tidak ingin mengusik ranah pribadi sang suami.
“Ck, itu sama saja kamu tanya, aku pilih kamu atau dia, iya kan? Perempuan semuanya sama.” Edgardo tertawa, membuat istrinya kesal.
“Dengar ya Emilia Anette Putli, hubunganku dan Camilia sudah berakhir. Apapun alasannya, dia mendua secara sadar.” Ungkap Ed menjelaskan hal yang tak pernah diketahui Emilia.
“Aku …”
“Ed, namaku Emilia Anette Putri, bukan Putli.” Sanggah Emilia.
“Iya Emilia Anette Putli nama yang bagus.” Ucap Ed kemudian.
Wanita cantik yang sebelumnya bersedih, kini terbahak-bahak karena suami kecilnya tidak bisa mengucap ejaan dengan benar.
“Kamu jangan tertawa, lidahku berbeda tidak bisa menyebut nama-nama aneh seperti itu.” Edgardo mencoba berkelit. Lalu mengalihkan perhatian sang istri.
“Sekarang, kita makan! Jangan sampai istri dan anakku kelaparan.” Ujar lelaki tampan ini.
Mendengar penyataan menyejukkan, Emilia tersipu malu, dadanya berbunga-bunga, layaknya remaja yang dihujani sejuta cinta oleh kekasihnya.
“Kamu sangat baik Ed. Mau menerimaku dan anak ini.” Kata hati Emilia.
Makan malam yang diimpikan Camilia lenyap, sebab pandangan penuh cinta Ed bukan lagi miliknya, melainkan sosok lain yang duduk di depan mereka.
“Dia, wanita ini yang menggantikan aku, Ed? Aku senang kalau kamu bahagia dengannya, tapi … tapi izinkan aku merasakan kebahagiaan sekali lagi.” Batin Camilia menjerit.
“Ed? Kamu mau lagi salad atau kentang gorengnya?” Camilia menepis kegundahan, lagi pula kabar yang beredar bahwa Edgardo Torres masih singel. Belum memiliki tambatan hati, maka kesempatan tebuka lebar.
“Nasinya nambah?” suara Emilia, menawarkan suaminya. Sebab melihat piring berisi domba panggang saus tomat dan sedikit nasi telah ludes.
“Boleh, nasinya sedikit saja ya, aku tidak biasa makan nasi malam hari.” Tukas Edgardo melayangkan senyum pada Emilia.
“Ed? Kamu sangat menyukai kentang goreng buatan ku. Memangnya kamu lupa?” Camilia tak menyerah.
Namun Edgardo sama sekali tidak tertarik menanggapi percakapan Camilia. Terlanjur sakit hati, hingga alam bawah sadarnya ingin melupakan seorang Camilia.
Usai makan malam, Camilia memutuskan pulang, tentunya meminta mantan kekasih mengantarnya pulang. Susah payah ia membujuk Edgardo, lelaki yang dahulu hangat berubah sedingin es.
Akhirnya, berkat bantuan Emilia. Edgardo bersedia mengantar Camilia pulang, mengingat hari sudah malam. Bus terakhir dari halte dekat penthouse pun berhenti beroperasi.
**
Di mobil
Camilia menitikkan air mata, mengungkapkan isi hati terbesarnya, “Apa dia kekasihmu? Sudah berapa lama kalian saling mengenal? Dia merebut posisiku dengan mudah”
“Dia lebih dari seorang kekasih. Dia, istriku.” Ucap Edgardo sangat tegas, tidak ada keraguan pada intonasinya.
“Apa? Istri? Seharusnya wanita yang menjadi istrimu, itu aku bukan perempuan lain.” Terisak, perih mengetahui kenyataan menyesakkan dada.
“Apa kamu mencintainya? Katakan Ed!” Camilia menyakiti diri sendiri, memberikan pertanyaan yang melukai.
“Itu privasi, bukan urusan kamu. Emilia istriku, aku ingin memberi yang terbaik untuknya. Aku harap kita menjaga jarak.” Edgardo menghentikan kendaraan tepat di depan gedung apartemen Camilia.
Tetapi, Camilia memutuskan bersikap egois malam ini, menahan Ed tidak pulang.
Pergi ke beberapa tempat kenangan, tingkahnya ceria tanpa beban apapun. “Aku tidak tinggal di sini lagi. Kita pergi ke tempat lain!”
Sepasang mantan kekasih, memasuki cafe kecil di pinggir Kota Madrid, Camilia memesan makanan kesukaan Edgardo. Berharap lelaki itu bersedia menerimanya sedikit saja.
Tapi yang terjadi di luar dugaan, Camilia melihat sikap Edgardo selalu tidak tenang, bermain ponsel dan menghubungi seseorang berulang kali. Mengirim pesan pun diabaikan.
“Apa Emilia tidak menjawab pesan dan telepon kamu? Kamu menyayanginya ya? Sampai khawatir berlebihan seperti itu.” Camilia tersenyum kecut, pertanyaannya dianggap angin lalu.
Sementara Ed gelisah, yakin Emilia salah paham, “Hu’um aku mengkhawatirkannya. Dia sedang hamil, aku tidak mau terjadi sesuatu dengan kandungannya.” Telak Edgardo.
DEG
Jawaban mengiris hati diterima Camilia, “Ha-hamil? Jadi dia hamil? Aku tidak menyangka kalau kamu …”
“Cukup, aku mau pulang. Kalau kamu bisa bersama pria lain, kenapa aku tidak bisa menghabiskan waktu dengan wanita lain?” sentak lelaki itu, berdiri dan mengeram marah.
“Ok, pulanglah. Sampaikan permohonan maafku pada Emilia.” Berat hati Camilia melepaskan Ed.
“Aku harap kita bisa berteman baik Ed, tolong jangan musuhi aku.” Memohon hubungannya tetap terjaga sebagai teman.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
memei
antara laki2 n perempuan gak ada istilah teman ya..ingat itu ed
camelia calon pelakor
2023-07-05
1
Day
kenapa kasih izin?
2023-06-28
1
Istri Bei Ming Ye
ular keket datang
2023-06-26
1