Tak disangka seorang remaja laki-laki berhasil menyelamatkan Emilia, secara kebetulan sedang membuang rasa sedih akibat patah hati.
Dia adalah Edgardo Rafael Torres putra kedua dari keluarga Torres. Sekaligus murid Emilia di sekolah.
Edgardo terpukul berat. Kekasih yang dijaga dan dicintai, mendua serta mengulang kesalahan yang sama, bahkan terang-terangan memilih pria itu dibanding Edgardo.
Bukan sekedar mendua, tetapi menyaksikan dengan kedua mata, bahwa kekasihnya tidur dengan pria lain.
Jiwanya terlampau kecewa, tersayat sembilu, teringat bagaimana memperjuangkan cintanya di hadapan kedua orangtua agar memperoleh restu.
Namun, sekarang Edgardo menyesal. Ya dia menyesali telah berusaha mati-matian mempertahankan kekasihnya. Hingga namanya terancam dikeluarkan dari daftar anggota keluarga Torres.
“Bu Emilia? Bunuh diri?” entah pertanyaan atau reaksi mencemooh yang keluar dari bibir Edgardo. Remaja ini bicara tanpa ekspresi, ya seperti biasanya selalu datar, dingin tak tersentuh, tapi seluruh siswi di sekolah memujanya.
“Lepas! Anggap saja kamu tidak melihat saya. Biarkan saya mati.” Lirih Emilia diambang keputusasaan.
Namun yang terjadi sebaliknya, Edgardo tidak mendengar instruksi Emilia. Lelaki itu menggapai tubuh gurunya. Membawa Emilia ke sisi jembatan yang sangat aman.
“Duduklah!” perintah Edgardo, membuka botol minum, menyerahkannya tepat di depan bibir tipis Emilia yang gemetaran.
Kini Emilia menunduk malu, lantaran menjadi perhatian banyak orang yang melintas. Mereka mencibir, menghina dan melayangkan kata-kata menyakitkan hati.
Mereka mendengar isi hati yang disampaikan Emilia sesaat sebelum melompat. Tatapan jijik pun tertuju kepada Emilia dan Edgardo.
Kejadian ini terekam, melalui salah satu kamera ponsel penduduk sekitar yang memang berniat menyebarluaskan demi keuntungan semata. Jelas saja dia tahu, siapa lelaki yang menyelamatkan wanita dewasa itu.
Sudah jelas videonya akan bernilai puluhan ribu hingga ratusan ribu euro, karena keluarga Torres tak akan membiarkan keturunan mereka dipandang buruk oleh dunia.
Seluruh orang yang hadir di jembatan menuduh Edgardo menghamili Emilia. Banyak yang tidak menyangka jika salah satu pewaris Torres Inc memiliki perangai yang buruk.
‘Ternyata kedua orangtua kamu hanya pencitraan di depan publik. Terbukti sekarang, anak mereka menghamili wanita tua dan tidak mau tanggung jawab’
‘Bersikap lah dewasa wahai anak muda. Jangan melenyapkan nyawa tak bersalah’
‘Pasti hubungan kalian tidak direstui Tuan dan Nyonya Torres, menjijikkan sekali.’
Kedua tangan Edgardo mengepal kuat, dia mengutuk dirinya. Seharusnya tidak ikut campur ke dalam masalah Emilia. Sekarang dia menjadi pelaku kejahatan karena berniat membunuh Emilia dan bayinya.
“Ini semua tidak seperti yang kalian lihat. Aku tidak mengenal wanita ini.” Tegas Edgardo sama sekali tidak menatap Emilia yang syok mendengarnya. Dia segera melangkah mendekati motornya, hendak meninggalkan kerumunan warga.
“Menyingkir! Sebaiknya kalian awasi perempuan tidak waras itu, bukan aku.” Edgardo yang memang tak memiliki rasa empati, menyalakan mesin motor.
Dirinya tidak mau ikut campur, sudah cukup pusing dan lelah mengawali pagi dengan masalah.
Tapi tidak semudah itu, beberapa orang mencegahnya, bahkan mengunci pergerakan Edgardo. Membawanya secara paksa memasuki mobil pick up.
“Apa-apaan kalian? Tidak tahu siapa aku, hah?” tubuh kekarnya pun tidak kuasa melawan banyaknya pria dan wanita yang menghadang.
“Ini semua karena kamu, dasar wanita tidak tahu diri.” Teriak Edgardo mengarah kepada Emilia yang meringkuk di pinggir.
“Dasar guru tidak kompeten, hamil tanpa suami. Sekarang aku dituduh sebagai ayah dari bayinya. Ku pastikan minggu ini terakhir dia bekerja sebagai guru di sekolah.” Desis Edgardo dalam hati.
“Namanya juga menjadi daftar hitam sebagai staf pengajar. Lihat saja kau Emilia.” Lanjutnya, masih memikirkan membalas perbuatan Emilia.
Tentu saja hal mudah baginya mengeluarkan siapapun sesuka hati, karena sekolah itu milik Yayasan Torres Inc, dikelola secara langsung oleh Nyonya Torres.
‘Bawa saja mereka berdua ke badan kependudukan, nikahkan saja mereka!’
‘Kamu jangan diam saja perempuan bodoh, cepat ikut! Kalian harus bertanggung jawab apa yang sudah dilakukan, jadilah manusia bijak. Berani menanggung resiko.’
Emilia yang masih terkejut, terpaksa mengikuti perintah warga. Dia ketakutan, karena aksi gilanya, kini menyeret orang lain dalam pusara masalah.
**
Tiba di badan kependudukan, Edgardo harus menanggung malu karena terpaksa mengeluarkan kartu identitas. Petugas pendaftaran saling berbisik satu sama lain, menatap hina kepada Edgardo, apalagi Emilia.
Semua menilai bahwa Emilia perempuan murahan yang menjebak Tuan Muda Torres agar bersedia menikahinya.
Edgardo dan Emilia masih dalam pengawasan ketat warga. Keduanya digiring masuk ke ruangan khusus pernikahan. Di bawah tekanan, Edgardo menandatangani surat dan janji nikah. Tatapan Edgardo selalu tajam kepada Emilia.
Sekarang pasangan guru dan murid ini resmi menjadi suami istri, sah tercatat secara hukum. Para warga pun mulai meninggalkan gedung.
Tidak hanya itu, Edgardo merogoh sakunya membayar mahal untuk menutup mulut petugas badan kependudukan tentang status barunya. Uang jajan yang bernilai ratusan ribu euro raib dalam hitungan jam.
Edgardo tidak peduli, dia masih bisa mendapatkannya lagi. Tapi menyangkut nama baik hanya ada satu seumur hidup, jika hancur maka berakhir pula kehidupannya di dunia.
“Kau harus bertanggung jawab Bu Emilia.” Tatapan bengis Edgardo mengintimidasi Emilia.
“Tanggung jawab apa?” cicit Emilia menatap muridnya tidak mengerti. Di sekolah dia berhak berurusan dengan Edgardo, namun di luar area sekolah Emilia berharap tidak pernah bertemu murid menyebalkan ini.
Edgardo mendekat dan mengunci Emilia pada dinding menggunakan kedua tangan, menghembuskan napas tepat di pipi istri dadakannya. “Uang jajanku hilang karena tingkah gila Anda. Sebaiknya siapkan bayarannya dalam waktu 48 jam.”
“B-berapa?” tanya Emilia memberanikan diri.
Edgardo tertawa mengejek, memindai penampilan Emilia dari atas ke bawah. “Guru miskin sepertimu rasanya tidak akan sanggup. € 150 Ribu.”
Mendengar nominal fantastis, Emilia menggelengkan kepala lalu berkata, “Lebih baik kau bunuh saja aku, aku memang guru miskin. Percuma kau menagih, karena aku tidak akan membayarnya.”
Geram atas sikap Emilia yang begitu angkuh dan tidak tahu diri, Edgardo keluar dari gedung, melangkah sendiri. Namun, istrinya mengikuti dari belakang.
“Urusan kita sudah selesai, tunggulah surat cerai di rumahmu. Jangan ikuti aku, mengerti Bu Emilia?” Edgardo jengah harus menjadi suami dadakan di usianya yang masih sangat muda.
Lebih tidak menyangka lagi menikahi guru yang terkenal cantik, cerdas di sekolah tapi bagi Edgardo sangat menyebalkan dan menguras emosi.
Edgardo tidak mungkin membawa pulang gurunya, lalu memperkenalkan sebagai istri. Apalagi saat ini, Emilia dalam keadaan mengandung anak dari pria yang tidak jelas.
Entah hukuman apa yang akan diberikan Tuan Torres, jika mengetahui putranya menikahi wanita murahan seperti Emilia.
Akhirnya Edgardo pergi meninggalkan Emilia sendirian di luar gedung. Melepas tanggung jawabnya sebagai suami. Dengan alasan, menjaga nama baik dari skandal yang sangat dekat mengincarnya.
Emilia pun hanya tersenyum perih, menatap nanar punggung suami kecilnya. Memang sebaiknya mengakhiri sebelum semua terlambat.
TBC
***
Tekan tanda jempol dan hati
Like dan subscribe ditunggu kakak, boleh banget tinggalkan jejak komentar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
Pa Muhsid
jadi salpok ama uang🤑💸💵💴💶💰💳 baru singgah thor lamkenal
2024-07-11
1
ɳσҽɾ
betapa tuh kalau di rupiahkan, aku itung bentar ya 🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️
2023-06-17
1
ɳσҽɾ
siapa²?
2023-06-17
1