Melodi fur elise terdengar nyaring di gedung sekolah, pertanda proses belajar dan mengajar telah usai. Murid-murid bergegas pulang atau menikmati fasiltas sekolah.
Ya sekolah yang berdiri di bawah naungan Yayasan Torres Inc ini memiliki sarana dan prasarana sangat lengkap, tentu dengan biaya kesiswaan yang tidak murah.
Emilia menyelesaikan tugas mengajar akhir di gedung B, wanita ini menuruni gedung menggunakan tangga, karena lift terlihat antre oleh murid yang terburu-buru ingin pulang. Manik coklatnya memandangi gedung A, mencari keberadaan suami kecilnya, tapi nihil.
Berpapasan dengan Bastian dan Steve di lorong, wajah Emilia mendadak cerah sekaligus menegang karena yakin Edgardo bersama dua sahabatnya itu.
Namun, hingga persimpangan tidak ada tanda-tanda apapun. “Di mana dia? Tidak biasanya menghilang.” Gumam Emilia.
Penasaran, Emilia bertanya kepada Bastian dan Steve, “Bas, Steve tunggu!”
“Yes Miss, ada yang bisa dibantu?” tanya Steve tampak santai.
“Mau pulang bareng kita, Bu? Ayo, kebetulan Ed pulang duluan.” Steve menggoda gurunya, karena mengagumi kecantikan Emilia.
“Ke mana Edgardo Torres? Biasanya kalian selalu bersama sampai keluar sekolah.” Emilia menyembunyikan kegugupannya.
“Oh Ed, dia pulang mengantar Amora. Memangnya Bu Emilia tidak tahu kalau Amora pingsan?” Bastian menghela napas lalu menceritakan kejadian selepas istirahat.
“Gadis itu pingsan, Bu. Ditolak, ya biasa ini perempuan ke … ke berapa ya? Amora bilang mau jadi pacar Ed, tapi sayang di tolak, padahal Amora cantik dan calon model terkenal.” Jawab Bastian polos.
“Memangnya ada apa Bu?” kali ini Steve yang ingin tahu, biasanya Emilia selalu menghindar berurusan dengan siswa berpengaruh, tapi kali ini tidak.
“Oh bukan masalah besar … jangan lupa pelajari materi hari ini!” Emilia tersenyum lalu meninggalkan persimpangan.
“Duh senyumnya, seandainya kita seumur Bu, aku pasti menjadikanmu istriku.” Seloroh Steve terpesona kepada Emilia yang menjadi idola siswa dan guru pria.
**
Sore hari Emilia pulang jalan kaki menuju halte di ujung jalan, karena dirinya dan Ed tidak tinggal satu atap, memutuskan pulang menggunakan bus, seperti biasanya.
Memandangi lalu lintas yang lancar dan gedung-gedung kokoh, Emilia tidak fokus bahwa seseorang telah duduk di sampingnya. Memerhatikan Emilia dari kepala hingga kaki.
“Ke mana kau, hah? Beraninya menghilang, tidak tahu balas budi.” Geram Alvarez mendadak muncul.
Emilia tersentak mendengar suara serak yang akrab di telinga. “Papa?”
“Iya ini aku. Kau pikir siapa? Mirano? Hah mana mungkin dia mau naik bus jelek. Katakan ke mana kamu? Tinggal di mana? Awas saja kalau berani membunuh cucuku!” Ancam Alvarez, meraih dan mencengkeram pergelangan tangan putrinya.
“Diam kau, aku bisa menghancurkan dirimu sekarang juga, paham?” menarik putrinya keluar dari bus, berjalan mencari tempat sepi dan gelap.
“Papa lepas, aku tidak membunuh bayi ini. Papa ku mohon lepas, atau aku …” Emilia memberontak, mendesak balik. Ucapannya pun terhenti ketika Alvarez mengatakan sesuatu.
“Atau anak buah Mirano membawamu ke mansionnya? Begitu kah? Kita ini diawasi Tuan Mirano Jose.” Alvarez mengamati jalanan yang mulai jarang dilalui orang, lalu membawa Emilia masuk ke sebuah gang sempit.
“Dengarkan aku, Emilia!” Alvarez merangkum kedua bahu putrinya, bermaksud menyampaikan sesuatu yang menggembirakan.
Alvarez berhasil menemui Tuan Mirano Jose dengan susah payah, berkali-kali mendapat bogem mentah dari pengawal bukan masalah. Demi masa depan penuh uang, Alvarez mengorbankan diri. Akhirnya ia mecapai kesepakatan besar.
Pemilik bisnis ilegal itu bersedia mengakui darah dagingnya, karena Mirano tidak memiliki keturunan dari para istrinya.
Selain itu, dia memang menyukai wajah manis Emilia. Dari sekian banyak gadis perawan ditidurinya, hanya Emilia yang berhasil mengandung.
Alvarez menggenggam erat tangan putrinya, lalu memeluk Emilia. “Kau harus melahirkannya Emilia, pastikan dia selamat dan tidak kekurangan apapun, cucuku harus sempurna. Tuan Mirano menginginkan anak lelaki untuk pewaris bisnisnya.”
“Kita bisa kaya raya Emilia. Kau tidak perlu menjadi guru lagi, cukup tinggal di mansion itu, hidup layak bergelimang harta, membesarkan anak kalian.” Alvarez melepas pelukannya, seketika wajah bergaris halus ini berubah serius dan menyeramkan.
“Demi menjaga kandunganmu tetap aman, kau harus mengikuti peraturan. Tuan Mirano menunggumu di mansion. Kau akan tinggal bersamanya, sekarang juga.” Alvarez menyeringai jahat.
Pria itu mendapat uang muka sebesar €200 ribu. Mirano Jose menjanjikan bayaran senilai €500 ribu, jika Alvarez membawa Emilia dalam keadaan utuh ke mansionnya.
Belum lagi ketika bayi itu lahir sesuai harapan, maka Alvarez bisa menjadi salah satu orang kepercayaan Mirano, mengawasi bisnis perjudian.
“APA? Papa jangan gila, aku tidak mau.” Emilia menolak mentah-mentah.
“Aku ini bukan barang yang diperjualbelikan, aku manusia, memiliki hak kebebasan dalam hidup.” Imbuhnya berapi-api.
PLAK
Tamparan keras mendarat di pipi mulus Emilia, bakan sedikit memerah. Meski ini bukan pertama kali, tetapi begitu menyakitkan hatinya.
“Aku tidak mungkin meninggalkan Ed, dia terlalu baik, aku berhutang budi kepadanya.” Lirih Emilia dalam hati.
“Papa? Aku menjaga kandungan ini, aku akan melahirkannya, baik dia sempurna atau memiliki kekurangan. Satu hal yang pasti, aku tidak akan pernah menyerahkan anakku kepada Tuan Mirano.” Bibir Emilia bergetar, perjuangan hidupnya tiada akhir bahkan masalah semakin banyak.
“Diam kau Emilia!” hardik Alvarez tidak tahan menerima penolakan.
“Aku tidak mau anakku hidup dalam kubangan kejahatan. Tidak. Meskipun dalam tubuhnya mengalir darah Tuan Mirano, tapi aku yakin bisa merubah jalan hidupnya menjadi lebih baik.” Emilia memegangi perut, seolah melindungi bayinya dari jangkauan tangan-tangan jahat.
“Dasar anak tidak tahu diri. Dengan bayi itu, kau bisa menyingkirkan para istri mandul Tuan Mirano. Gunakan otakmu Emilia.” Menempelkan jari telunjuk pada kening Emilia dan mendorongnya hingga mundur menyentuh dinding.
Tidak terima jalan hidup diatur Alvarez, Emilia menepis tangan ayah sambungnya. “Sebaiknya Papa jalani hidup normal, tidak perlu melakukan hal buruk hanya untuk mendapatkan uang.”
“Semoga Papa selalu sehat. Permisi.” Emilia melangkah cepat, kakinya berusaha kuat meninggalkan gang sempit. Dadanya turun naik, menahan marah, sedih sekaligus ketakutan.
Sementara Alvarez masih membuntuti Emilia, setengah berlari. Tapi terhenti, sebab wanita itu berhasil menerobos keramaian, berbaur bersama pejalan kaki. Karena waktu menunjukkan jam pulang kantor, jalan dipenuhi orang berlalu lalang.
Emilia memutar badan, memastikan ayahnya tidak mengikuti lagi. Dia tidak ingin Alvarez mengetahui tempat tinggalnya sekarang. “Jangan sampai Papa tahu hubunganku dengan Ed, aku tidak mau anak itu terlibat.”
Emilia terus berjalan hingga halte, tetapi teringat kemunculan ayahnya secara mendadak.
Menggunakan jasa taksi online memerlukan biaya yang mahal. Uangnya tidak cukup, tersisa beberapa Euro saja.
“Maafkan aku Ed.” Gumam Emilia menuju pusat mesin Anjungan Tunai Mandiri. Mengambil sedikit uang tersebut untuk membayar taksi online.
Dia tercekat melihat jumlah fantastis pada layar, “Anak ini bilang hasil jerih payahnya, tapi bagiku lebih mirip pemberian orangtuanya.
TBC
**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments