BAB 9 Tanggung Jawab Suami

Satu jam sebelumnya

“Ck membosankan. Bastian dan Steve sibuk. Keluar mansion? Ke klub? Cafe? Atau ke peternakan? Tidak ada yang menarik.” Edgardo menghela napas, menjatuhkan diri ke sofa, melipat kedua tangan sebagai sandaran kepala.

Sore tadi setelah mengantar Amora pulang, Ed dijemput oleh anak buah Daddy Leon agar menemani kedua adiknya di mansion. Sebab Daddy Leon dan kakak pertamanya harus berangkat ke Jepang, mengikuti pertemuan bisnis.

Sebagai lelaki remaja yang menginjak dewasa, Ed mendapat perintah mengayomi ibu serta adik-adik. Ia pun tidak masalah, menghabiskan waktu di mansion bukan hal buruk. Tetapi tidak ada kegiatan berarti, jenuh hanya menemani kedua adik belajar, membuat Ed masuk kamar bermain game online.

Bahkan game pun tidak mampu meredakan rasa bosan, Ed meraih iPad dan buku tebal, membaca sepintas materi pembelajaran hari ini. Otaknya seakan tertutup, menolak semuanya.

Menggapai remote menekan ikon not balok, suara musik rock menggema di dalam kamar. Tanpa sengaja matanya menatap buku berserakan di atas meja belajar, “Ck nasib seorang pelajar menjelang lulus.”

Namun sorot mata tajam Ed tertuju pada satu buku tebal yang tersimpan rapi, jarang sekali disentuhnya, karena bukan mata pelajaran kesukaan. Buku 1000 halaman berjudul Kimia. Edgardo tersenyum tipis, tangannya lebih tertarik meraih smartphone daripada mempelajari materi yang berhubungan dengan zat-zat dan senyawa.

“Ok kita lihat.” Ucapnya bersemangat, seperti ponsel yang baru saja mendapat daya penuh. Ed menggulir layar datar smartphone, memperlihatkan seorang wanita cantik sedang merenung di dapur penthouse.

“Mau apa dia? Membuka kulkas dan lemari?” Ed semakin serius mengamati gerak gerik istrinya.

Padahal Edgardo jarang sekali membuka CCTV, satu bulan sekali pun tidak, sebab tak ada hal menarik perhatiannya.

“Mungkin dia lupa belanja.” Komentar Edgardo ditemani alunan music. Emilia terlihat menyentuh dan mengusap perutnya, kemudian meneguk satu gelas air yang diambil dari kran.

Remaja ini tersentak mendengar suara lirih Emilia yang menyandar di pintu lemari pendingin.

“Lapar. Jangan rewel ya sayang. Aku janji besok bangun lebih awal. Lebih baik sekarang kita tidur.”

“Oh God, dia kelaparan. Bagaimana bisa wanita itu lupa, bukankah aku memberinya ATM supaya dia memenuhi penthouse dengan makanan. Ck merepotkan. Beginilah rasanya menjadi seorang suami?”

Ed mengganti celana pendeknya dengan blue jins dan meraih jaket yang tergantung di sudut kamar. Akhirnya memutuskan mengunjungi Emilia di penthouse. Menyambar kunci motor sport yang tersimpan di laci khusus, menggunakan sepatu kets sobek kebanggaannya.

Keluar kamar menuju lift supaya tidak memakan waktu sekaligus mempermudah jangkauan ke garasi. Tetapi, belum sempat pintu besi terbuka, Nyonya Torres memergoki putranya berpenampilan rapi disertai raut wajah cemas.

“Ed, sayang. Kamu mau ke mana? Ini sudah malam.” Nyonya Pamela berusaha mencegah putra keduanya keluar mansion. Peringatan keras Dad Leon cukup menyeramkan bagi seorang ibu.

“Oh Mom. Aku harus pergi sebentar. Umm … ponselku tertinggal di kelas.” Ed terpaksa berdusta, tidak mungkin mengatakan alasan sesungguhnya.

“Kamu bisa minta tolong penjaga sekolah mengantarnya ke sini atau salah satu pengawal kita mengambilnya. Jangan pergi, nak.” Mom Pamela mencekal tangan Edgardo.

Ed menggeleng cepat, melepas cekalan tangan Mom Pamela. “Aku … mau ke rumah Bastian, ada satu materi yang tidak dimengerti, besok ada kuis, ya kuis kimia. Boleh ya mom.” Tatapan memohon Ed, bola mata polos sedikit berkaca-kaca.

“Baiklah, Mom harus menutupi masalah ini dari Daddy. Hati-hati di jalan, kabari Mom kalau ponselnya sudah ketemu.” Mommy Pamela yang tidak kuasa menolak pun mengizinkan putranya, melanggar peraturan suami tercinta.

“Terima kasih Mom, I Love You First.” Mencium pipi kanan dan kiri ibunya.

**

Motor sport berkapasitas 1000 cc melaju cepat membelah jalanan Kota Madrid yang tampak lenggang. Edgardo tidak tega istrinya yang hamil menahan lapar, sungguh memalukan sekali, sebagai suami Ed harus bertanggung jawab.

Remaja ini berkeliling mencari restoran yang menerima pesanan take away, tetapi malam semakin larut hanya rumah makan cepat saji di pusat kota masih ramai oleh pengunjung.

“Pasti lama.” Melihat antrean panjang mengular, rasanya tidak mungkin menghabiskan waktu lebih lama membeli makanan.

Ed kembali melajukan motor, menyusuri Kota Madrid, berusaha menemukan makanan sesuai selera Emilia. Kebetulan ia berhenti tepat di depan bangunan sederhana, banyak mobil terparkir, serta harum masakan berbumbu rempah-rempah. Seketika ia teringat Emilia berasal dari Asia.

“Yeah, Emilia Anette Putli, nama belakangnya sudah jelas hanya dimiliki perempuan Asia.” Ed memiliki ide cemerlang. Kemudian menepi dan berlari kecil memasuki bangunan unik itu. Dari senyum ramah dan wajah para waiters saja terlihat dari mana makanan ini berasal.

“Menu apa yang paling terkenal? Cocok untuk ibu hamil kelaparan malam hari?” tanya Ed tidak ingin salah memilih.

‘Nasi Padang, Tuan. Paling terkenal di restoran kami.’

“Oke, satu porsi. Tolong menunya yang lengkap.” Pinta Edgardo.

**

Di apartemen

Sekarang Ed tersenyum puas melihat kotak berisi nasi putih, sayuran rebus, sayur berkuah, sambal, rendang serta perkedel tandas tak bersisa. Pilihannya memang tepat sasaran.

“Enak kan? Ternyata benar ibu hamil makannya banyak. Ah ya jangan lupa semua pakaian dalam dibereskan!” ucap Ed menyinggung hal pribadi paling krusial bagi Emilia.

“Terima kasih. Maaf merepotkan.” Jawab Emilia tak tahu harus mengatakan apa lagi. Menurutnya kebaikan Ed sangat banyak.

“Apa kamu tidak memiliki perbendaharaan kata yang banyak? Sejak kemarin hanya ‘terima kasih’ dan ‘maaf’.” Ed mencibir istrinya.

Emilia melebarkan kedua mata, tidak suka mendengar kata-kata mencemooh itu apalagi Ed adalah muridnya. “Tidak sopan.” Gumamnya mengalihkan pandangan.

Edgardo tersenyum melihat tingkah lucu Emilia, layaknya anak kecil tertangkap tangan melakukan sesuatu. “Tidak perlu melotot, tidak seram sama sekali.”

“Kapan jadwal pemeriksaan kandungan? Aku bisa mencari rekomendasi dokter terbaik, rumah sakit kami memiliki dokter berkompeten.” Memberanikan diri bertanya serta memerhatikan kehamilan Emilia.

“Aku akan bertanggung jawab sampai anak itu lahir. A-aku … menerima anakmu. Kita sudah menikah, artinya bayi itu juga milikku, secara hukum aku ayahnya sekarang.” Ungkap Edgardo begitu percaya diri pada bibir tetapi keraguan dalam hati.

Mendengar penuturan suami kecilnya, Emilia tersentuh, terharu, menitikkan air mata. “Maaf.” Cicitnya menundukkan sedikit kepala.

Pengaruh hormon kehamilan memang sangat besar, mendapat perhatian seperti ini membuat Emilia tidak karuan. Moodnya yang naik turun semakin mengganggu. Dia khawatir terjatuh ke dalam perasaan yang tidak seharusnya tumbuh.

“Terima kasih.” Imbuhnya.

“Kamu beruntung karena dia menyayangimu, tapi kita harus tahu diri. Kehadiran kita di sisinya bisa mengakibatkan bahaya. Ayah kandungmu pasti tidak akan tinggal diam. Kita tidak boleh melibatkannya terlalu dalam.” Emilia membelai perut, batinnya pun tertekan.

Dirinya yakin, cepat atau lambat Mirano Jose pasti menemukannya dan menyingkirkan siapapun yang menghalangi.

TBC

****

kasih semangat ya kakak buat authornya likenya ditunggu

🙏

komentar

vote

gift

😉

 

Terpopuler

Comments

Day

Day

up

2023-06-21

1

Istri Bei Ming Ye

Istri Bei Ming Ye

saya yakin ni author penggemar nasi padang

2023-06-20

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!