Emilia merasa tidurnya sejak tadi malam begitu nyaman dan aman, sebelumnya tidak pernah nyenyak. Selalu waspada, harus peka terhadap kondisi yang tidak memungkinkan. Pagi ini, terbangun lebih awal, bahkan mentari di luar masih malu-malu.
Kedua bola matanya mengedarkan pandangan ke setiap sudut kamar yang didominasi warna putih dan merah muda, berbanding terbalik dengan keadaan di balik pintu. Kesan maskulin sangat kental tak terpisahkan dari pemiliknya.
Emilia mengikat rambut lalu ke kamar mandi, sebab rasa mual kembali menyerang. Cairan bening keluar cukup banyak, ditambah kerongkongannya seperti terbakar, panas. Ia mengusap perutnya, menghela napas bahwa kemarin melewatkan waktu makan.
“Kamu lapar ya?” tanya Emilia dengan kepala masih menunduk memperhatikan kemeja putih milik suami kecilnya. Ya, semalam Edgardo memberikan Emilia pakaian ganti, kemeja putih yang sudah tidak terpakai.
“Kita harus ke grocery store , membeli sesuatu.” Ucap Emilia sembari menghadap cermin. Ia berencana masak untuknya dan Edgardo, anggap saja sebagai bentuk terima kasih karena sikap baiknya kemarin.
Emilia membasuh wajah, kemudian keluar dari kamar, menyusuri lorong pendek yang langsung terhubung dengan dapur. Indera penciumannya menangkap wangi sesuatu, sangat harum dan membuat perutnya meronta-ronta.
Semakin mendekati dapur, manik coklat Emilia terbelalak, mulutnya sedikit terbuka. Edgardo Torres, suami kecilnya tengah berperang dengan peralatan masak dan bahan-bahan makanan. Piawai menguasai pisau, dan panci serta penggorengan.
Emilia menggelengkan kepala, sudah berapa fakta mengejutkan terkuak dari seorang murid yang memiliki fans para gadis di sekolahnya ini. Siapapun tidak akan menyangka bahwa Ed sosok menyenangkan.
“Selamat pagi Bu Emilia.” Ed menyapa istrinya secara formal lalu tersenyum simpul. Seraya tangan terus mengaduk sesuatu di dalam panci kecil. Kemudian mencicipi dan menghirup aromanya. “Perfect.” Ucap Edgardo.
Jujur saja sikapnya berubah 180° dari dingin ke hangat, membuat Emilia sedikit kikuk. “Tidak. Tidak Emilia, dia muridmu. Ingat Emilia, jangan merusak masa depan Tuan Muda Torres.”
Satu tangan Ed terulur, jemarinya bergerak pelan, mengundang Emilia untuk mendekat dan mencoba masakannya. “Duduklah di sini. Semoga kamu suka, ini menu favoritnya Mommy.”
Edgardo mengipas satu sendok teh bubur, menyuapi Emilia. Lagi-lagi senyuman maut terukir di bibirnya.
“Enak?” tanyanya antusias, berambisi menunjukkan keahlian yang telah lama tidak digunakan.
“Iya, ternyata kamu pandai mengolah makanan.” Puji Emilia apa adanya. Bakat terpendam yang dimiliki murid berparas tampan rupawan.
“Ya, aku belajar ini ketika Mommy hamil Ar dan Es. Bukankah ibu hamil memerlukan makanan yang bergizi? Karena nutrisi bukan hanya miliknya tetapi bayi dalam kandungan juga sangat membutuhkannya. Benar kan?” tanpa ragu Ed meraih tangan Emilia, menggiringnya duduk dan menikmati sarapan.
Sebagai wanita, makhluk yang mengutamakan perasaan di atas segala-galanya, hati Emilia tersentuh. Tidak menyangka murid nakalnya memiliki sikap yang baik, penyayang kedua orangtua, lebih tepatnya ibu.
“Nyonya Torres beruntung memiliki putra yang baik.” Ucap Emilia sembari mengelus perut. Berharap kelak anak dalam rahimnya bisa mempunyai sifat seperti Edgardo.
Emilia berencana meninggalkan Spanyol sejauh mungkin, menjauhkan darah dagingnya dari sentuhan Tuan Mirano. Bila perlu tinggal di pedesaan.
“Tentu, Mommy wanita yang paling aku sayangi. Perjuangannya membesarkan kami berempat tidaklah mudah.” Tanggapan Edgardo, mulai mengunyah makanan hingga memenuhi mulutnya. Tampak menikmati momen sarapan berdua untuk pertama kali.
Padahal di rumah jarang sarapan bersama keluarga, Ed lebih suka brunch. Itulah alasannya sering keluar kelas sebelum waktu istirahat, karena rasa lapar melanda perut yang melewatkan santapan pagi hari.
“Kamu terbiasa bangun sepagi ini Ed? Kamu bilang di sini tidak ada bahan makanan apapun. Artinya pagi-pagi sekali kamu belanja? Apa tidak malu?” tanya Emilia beruntun, sebab mustahil seorang Tuan Muda Torres berkeliaran pagi hari di supermarket.
“Hahaha. Pikiran kamu memang sempit ya.” Edgardo bukannya menjawab malah terbahak puas menertawakan Emilia. Membuat wanita dewasa itu membuka mata lebar, tidak menyukai tanggapan yang diberikan Edgardo.
“Tentu saja ini semua yang belanja Paman Alonso. Beliau asisten pribadi Daddy, kamu tenang saja. Paman sangat bisa dipercaya.” Tukas Edgardo masih tertawa pelan.
“Oh, syukurlah.” Tidak bisa dibayangkan jika Tuan Besar Torres mengetahui putranya menikahi guru yang mengajar di sekolah, pasti menjadi masalah rumit.
Emilia pun menatap semangkuk bubur kentang lezat, lengkap dengan potongan salmon panggang di piring kecil.
Mengalihkan pandangan dari hidangan di atas meja, Emilia hendak mengucapkan terima kasih. Kepalanya mendongak, lantaran suami kecilnya menyelesaikan sarapan lebih cepat.
Namun Emilia mengulum senyum, menahan tawa, wajah tampan Edgardo coreng moreng dengan noda bubur yang mengering.
Seketika Emilia berdiri, membawa sesuatu di tangan. Tapi Ed mencegah istrinya berpindah tempat, mencekal pergelangan Emilia.
“Kamu mau ke mana? Katanya enak tapi kenapa tidak dihabiskan?” wajah Ed berubah mendung, pertanda kecewa.
“Sebentar Ed.” Emilia masih tersenyum halus. Kemudian membasahi serbet berwarna putih di tangan.
“Terima kasih Ed, sudah membuatkan sarapan untuk kami.” Ucap Emilia mengulas senyum manis seperti biasa. Lalu menangkup pipi suami kecilnya, membersihkan bubur kentang yang berubah menjadi kerak di pipi dan kening.
“Kamu seperti anak kecil, masa makan bubur sampai mengotori dahi dan pipi.” Emilia meledek suami dadakannya. Lagi-lagi sosok Edgardo yang menyebalkan berubah menjadi anak kucing lucu.
“Eh apa ini? Aku bisa sendiri, tidak perlu repot.” Ed merebut serbet. Sungguh sentuhan Emilia, tanpa sadar memberikan sengatan listrik bervoltase tinggi. Pandangan mata Edgardo pun memindai penampilan Emilia.
“Manis dan menggemaskan.” Ucapnya sangat pelan, karena Emilia cocok menggunakan kemeja putih yang kebesaran.
Wajah tegas dan menyeramkan ketika mengajar dalam kelas menguap, berganti dengan sosok wanita dewasa yang cantik dan menggoda.
“Aku siap-siap dulu, kamu … habiskan sarapannya.” Edgardo segera menghindar karena merasakan sesuatu, debaran yang tidak menentu. Jantungnya memompa darah lebih cepat, tubuhnya membutuhkan pasokan oksigen sebanyak mungkin.
Di kamar
Edgardo menyandar di balik pintu, dia tidak mengerti kenapa badannya mematung ketika Emilia mendekat. Seharusnya tetap bergerak, paling tidak menghindar dari sentuhan fisik.
“Mungkin ini pengaruh hormon menjelang dewasa. Iya pasti … bukan apa-apa, jangan khawatir Ed.” Edgardo menenangkan diri, mengatur pernapasan, memejamkan mata sejenak. Tapi wajah Emilia yang tersenyum menghantui pikirannya.
“Tidak … tidak. Jangan begini Ed, Bu Emilia adalah gurumu, tapi … dia istriku, tidak ada larangan. Suami bebas melakukan apapun terhadap istrinya, iya kan?” sisi positif dan negatif tarik menarik, memberi pemahaman statusnya kini bukan murid biasa.
Edgardo memasuki kamar mandi, mengguyur tubuh atletisnya dengan air dingin. “Tapi tidak apa kalau mencintai istri sendiri, normal dan harusnya seperti itu.”
“Tapi perasaanku sudah hancur dan terkubur dalam, bersamaan dengan melupakan Camilia.” Monolog Edgardo, menuangkan sabun dan mengepalkan tangan, mendadak bingung akan pikirannya sendiri.
“Damnn.” Memaki jajaran botol yang tidak bersalah.
TBC
***
Boleh ya kakak tekan like dan subscribe, komentar apalagi boleh banget
😉
terima kasih
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments