BAB 19 Dianggap Apa?

“Kamu  pasti haus ya kan?” Camilia dengan percaya diri mengambil minum, memberikannya untuk Edgardo. “Ini diminum. Ed? Edgardo?” menyadari bahwa mantan kekasihnya mungkin saja terkejut dengan kehadirannya secara mendadak.

Saat ini Camilia membutuhkan sesuatu, ingin ketenangan, mengharapkan manisnya rasa cinta seperti dulu, indahnya kebersamaan mereka yang sempat menghilang.

“Ed?” wanita itu masih berusaha menarik perhatian Edgardo. Ia tidak menyadari bahwa tatapan Ed tertuju kepada Emilia –istrinya.

Camila yang memang merindukan remaja lelaki itu, merangkul lengan Ed, menyandarkan kepala, melepas lelah dan letih.

Menghela napas dan mengigit bibirnya. Ia teringat alasan kuat kembali menemui mantan kekasih terindah.

“Aku mohon sekali ini saja, izinkan aku merasakan cinta kamu lagi, perhatian kamu seperti dulu Ed.” Lirihnya dalam hati. Camilia meneteskan air mata di bahu mantan kekasihnya.

“Lepas! Bukankah hubungan kita sudah berakhir? Untuk apa lagi bertemu?” berat hati Ed melepas tangan sang mantan. Bergerak menjauh dari Camilia. Tubuhnya memang tak menolak tetapi hati dan pikirannya jelas memberi peringatan keras.

“Aku merindukanmu. Oke kita memang sudah putus. Memangnya salah kalau berteman?” Camilia kembali mendekati Edgardo, cukup agresif.

“Salah. Tentu saja salah. Di mana kekasihmu? Sebaiknya kamu pulang, aku bukan lelaki yang merebut pacar orang.” Tegas Edgardo menatap sengit Camilia.

Pemandangan itu sungguh menyayat hati Emilia, perutnya kembali bergejolak. Secepatnya melangkah pergi dari sepasang mantan kekasih yang masih saling menyayangi.

Namun satu tangan Ed meraih pergelangan tangan Emilia, menahannya. “Mau ke mana? Kalian belum berkenalan, kan? Kamu jangan pergi!” pinta Edgardo. Berusaha memperkenalkan diri dan status mereka.

“Ya dia selalu diam, memangnya siapa?” Camilia berharap Emilia bukanlah kekasih Edgardo. Detak jantungnya berdebar tak karuan, menanti jawaban.

“Emilia Anette adalah i …” kalimat Ed terputus.

Emilia lebih dulu memperkenalkan diri, “Aku Emilia, keponakan jauh dari Nyonya Torres. Aku baru saja tiba di Madrid.”

Emilia memiliki alasan tersendiri, ia ingin membuktikan seberapa penting dirinya bagi Edgardo.

Dari sorot mata Edgardo tidak bisa dipungkiri bahwa cinta untuk Camilia masih tersimpan, meskipun tertutup luka.

Sementara wanita itu, terlihat menyesali perbuatannya. Perasaan diantara mereka sangat kuat. Entah siapa yang akan dipilih oleh suami kecilnya.

Edgardo menggelengkan kepala, tidak percaya bahwa istrinya mengucapkan kebohongan. “Kamu itu istriku Emilia, bukan keponakan Mom.” Batin pria itu bergemuruh.

Mendapat tatapan kekecewaan dari Edgardo, Emilia melepaskan tangannya dari cengkeraman Ed.

“Benar kah? Tapi kamu berbeda? Apa mungkin ayahmu berasal dari Asia?” Camilia pun tidak percaya apa yang diucapkan Emilia.

“Permisi, aku mau ke kamar, istirahat.” Emilia berjalan menunduk memasuki kamar, lalu memuntahkan isi perut, ditambah sakitnya dada.

“Bangun Emilia jangan bermimpi terus!” Kristal bening mulai berjatuhan membasahi pipi.

Kini Emilia tidak bisa menghindar, dirinya telah hadir dalam kehidupan suaminya yang mencintai wanita lain. Rasanya sakit sekali, karena calon istri, sang pemilik sebenarnya posisi Emilia telah kembali.

Cukup lama Emilia terdiam dalam kamar, hingga satu ketukan pintu mengusiknya.

Tok ... tok

“Emilia? Apa kamu tidur? Kalau tidak, bisa keluar sekarang? Aku bingung mau masak apa.”

Rupanya Camilia menawarkan menu makan malam pilihannya, memasak bersama Emilia. “Aku senang bisa memiliki kakak perempuan seperti kamu, masakanmu pasti enak.” Puji Camilia.

“Biasa saja, sebelum Mama meninggal, kami selalu menghabiskan waktu bersama di dapur. Mencoba beragam resep, gagal kemudian gagal lagi, setelah percobaan kesekian kali, berhasil.” Seru Emilia.

“Maaf.” Cicit Camilia.

“Tidak apa, aku sudah bisa mengatasi kesedihan karena ditinggalkan Mama.” Emilia masih mengulas senyum sembari menyiangi sayuran.

“Kalau begitu kamu harus menghabiskan waktu denganku, mau ya?” Camilia menyenggol pinggul Emilia cukup keras, hingga sedikit terhuyung ke samping.

“Hati-hati! Kalian itu masak menggunakan tangan, bukan badan.” Edgardo memberi peringatan.

Tubuhnya sigap berada di dekat Emilia, ia tidak ingin istrinya terjatuh akibat tidak bisa menjaga keseimbangan.

“Kamu berubah Ed, sedikit bawel.” Camilia mencebikan bibir.

 “Emilia, boleh minta tolong ambil tomat cincang? Aku mau membuat sausnya.” Layaknya di rumah sendiri, Camilia begitu mudah memberikan perintah. Tangan dan kedua matanya fokus di atas peralatan masak.

“Oh oke. Tunggu.” Sahut Emilia menyanggupi. Ia hapal betul letak penyimpanan semua bahan makanan kaleng.

Mendesah lesu, karena tomat cincang berada di bagian lemari paling atas. Emilia kesulitan menggapainya. Padahal kedua kaki sudah jinjit.

Edgardo mendekat dan meraihnya untuk Emilia. “Ini, kenapa kamu tidak menolaknya?” bisik Ed cukup jengah.

“Ed, jangan!” Tolak Emilia membekap mulut suami kecilnya.

Menyerahkan dua kaleng tomat cincang di depan Camilia. “Ini tomatnya.”

“Terima kasih Emilia.” Sahut wanita berambut pirang itu.

Tatapan tajam pun selalu Ed berikan kepada istrinya. “Memangnya dia tidak merasakan selama ini aku sudah membuka hati untuknya? Lalu apa arti pernikahan ini? Bisa-bisanya bilang keponakan Mommy.”

Edgardo menertawakan diri sendiri, mempertanyakan kebaikannya selama ini tak dianggap oleh Emilia. Baginya tidak mudah menerima wanita lain hadir dalam hidupnya.

Sekalipun Edgardo tidak mengalihkan pandangan dari Emilia, setiap pergerakan kecil menjadi pusat perhatian. Ia mengabaikan keberadaan Camilia, tepat di balik punggung sang istri.

Sedangkan Camilia sibuk seorang diri memasak, merasa paling mengetahui Edgardo, mengoceh banyak hal.

“Aku masih ingat kamu tidak suka terlalu banyak lada. Sayurnya haus tetap segar, kamu tidak mau makan kalau aku memasaknya hingga layu.”

“Kamu itu lucu Ed. Saus pun tidak boleh terlalu kental atau cair, benar-benar merepotkan, tapi aku dengan mudah mempelajarinya.”

“Ah ya Emilia. Tolong tuangkan sausnya ya!” lagi-lagi Camilia berlagak sebagai Nyonya di apartemen ini.

“Oh … apa ini sudah sesuai dengan selera sepupuku?” tanya Emilia, melirik suaminya yang melebarkan mata. Jelas tidak menyukai kata ‘sepupu’.

Sementara Emilia gugup, terus menerus merima pandangan tak biasa dari suami kecilnya. Hingga tanpa sengaja punggung tangan terkena cipratan saus yang meletup dari panci kecil.

“Ah panas.” Emilia mengibaskan tangan, spontan meniupnya.

Edgardo sigap melangkah, meraih tangan Emilia, dan menolongnya. Membasuh tangan di bawah guyuran air, “Masih panas?”

Emilia mengangguk kecil, tangannya berubah merah, cukup besar. Rasa terbakar pun belum hilang.

Hal ini menjadi pemandangan buruk bagi Camilia. Edgardo dan Emilia tidak menyadari bahwa seseorang memerhatikan tingkahnya.

Camila tersenyum getir, menggelengkan kepala, menepis semua pemikiran buruk. Dia tidak sanggup harus menyerahkan Edgardo sekarang. Camilia begitu egois menginginkan kasih sayang Ed hanya untuknya.

“Apa dia pacar kamu yang baru?” bibir Camilia terkunci sempurna, tidak bisa mengeluarkan kalimat pertanyaan yang akan membuatnya sakit hati.

“Seharusnya kamu hati-hati.” Suara Ed mengalun lembut.

 “Iya maaf, aku tidak sengaja Ed.” Jawab Emilia.

“Biar aku saja, kamu bisa minta tolong aku!” tegas Ed, mendengus sebal.

 Satu hal disadari Camilia, bahwa mantan kekasihnya –Edgardo, tidak pernah memperlakukannya selembut itu.

TBC

Terpopuler

Comments

Istri Bei Ming Ye

Istri Bei Ming Ye

lanjut tor

2023-06-25

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!