Dua minggu sudah Edgardo dan Emilia menjadi sepasang suami istri. Ketika bertemu, mereka tidak pernah terlibat percakapan panjang lebar, hanya seperlunya saja. Sekolah merupakan tempat paling beresiko tinggi terciumnya hubungan rahasia itu.
Baik Ed atau Emilia sama-sama cukup melihat satu sama lain dalam kelas. Selebihnya, Ed selalu menghilang bersama kedua temannya. Bahkan fans Edgardo kebingungan mencari keberadaan idolanya.
‘Kasihan para gadis cantik itu, dua minggu ini kehilangan senior tampannya.’
“Senior tampan? Siapa?” tanya Emilia kepada salah satu guru junior rekannya.
‘Siapa lagi Emilia, the most wanted di sekolah ini. Tuan Muda Torres, seandainya saya masih muda, ya minimal teman sekelasnya, pasti saya tidak sungkan memburu anak itu’
GLEK
Emilia menelan saliva, ya diakui suami kecilnya memiliki penggemar sangat banyak, tidak menyangka teman sesama guru pun menginginkan Edgardo.
Selain itu, Edgardo tetap tinggal di kediaman Torres, terpisah dari Emilia, hanya sesekali mengunjungi istrinya di penthouse.
Bagi Ed, melihat Emilia dalam keadaan sehat, kebutuhan terpenuhi sudah cukup. Diakui memang, ia belum bisa menjadi suami yang baik karena hatinya belum bisa melupakan pahitnya masa lalu.
Drt … drt
Smartphone Emilia bergetar, telepon dari nomor tak dikenal. Tangannya ragu menerima panggilan itu, takut anak buah Tuan Mirano atau mungkin Alvarez.
Setelah 10 kali panggilan tak terjawab, baru Emilia berani menekan ikon hijau pada layar. Memilih bungkam demi mengenali suara orang di balik telepon.
“Dari mana saja? Kenapa lama? Kamu sakit? Pulang sekolah aku tunggu di depan La Baguette. Jangan membantah, aku suami kamu.”
Klik
Sambungan telepon itu pun terputus, Emilia tenganga, terkejut lantaran suami kecilnya tiba-tiba menghubungi, membuat janji temu sore nanti.
“Dari mana dia punya nomor ku?” Emilia kebingungan.
Melodi Fur Elise mulai terdengar di seluruh sekolah, Edgardo lebih dulu meninggalkan kelas, tidak memedulikan Bastian dan Steve yang memanggil namanya.
“Ed mau ke mana? Kita mau ke studio, jangan absen terus, persiapan pentas kurang dari satu bulan.” Teriak Bastian. Diantara keduanya, hanya Bastian yang menyadari sikap Edgardo berubah, lebih sulit diajak berkumpul dan menghabiskan waktu di mansion.
“Mungkin Tuan Torres melarangnya mengikuti kegiatan band.” Imbuh Bastian melirik Steve yang sedang menggoda para gadis junior.
Hari ini Ed sengaja menyewa satu kendaraan yang umum digunakan oleh warga Spanyol. Ed setia menanti istrinya datang, tetap sabar dan tidak mengeluh meski memakan waktu lebih dari 30 menit.
Ed tersenyum melihat Emilia berdiri di depan La Baguette, dengan cepat memaksa wanitanya masuk ke mobil, melindungi kepala Emilia agar tidak membentur rangka mobil.
“Pelan-pelan.” Perhatian Edgardo.
Edgaro Rafaael Torres tidak sungkan mengantar Emilia memeriksakan kandungan, mencatat dan mensetting pengingat di ponsel. Walaupun harus menyamar, Ed tidak keberatan.
Sebagai salah satu keturunan Torres sudah resiko, hidupnya selalu menjadi incaran pemburu berita atau kawanan yang berniat menjatuhkan namanya.
Di dalam ruang obgyn, kedua mata Edgardo berbinar, hatinya menghangat, memerhatikan secara seksama layar besar di depannya.
Takjub akan keajaiban yang diberikan oleh Sang Pencipta. Apalagi irama detak jantung janin kecil di dalam sana yang memiliki bentuk menyerupai kacang polong.
“Hallo Mama, ukuranku satu sentimeter, beratku satu gram Mama. Cairan ketuban bagus, aku sehat. Terima kasih Mama sudah menyayangi aku. Aku sayang Mama. Tolong jaga aku dengan baik ya Mama, Te Amo.” Ucap dokter kandungan meniru suara anak kecil.
Dokter tersenyum, karena perkembangan bakal janin cukup baik, jika dua minggu sebelumnya berdasarkan riwayat medis, kandungan Emilia tidak bisa dibilang normal. Menjadi perhatian besar bagi dokter obgyn.
“Kehadiran suami sangat penting, tepatnya saling mendukung agar janin tumbuh sempurna. Jadwal control berikutnya satu bulan mendatang. Vitaminnya jangan lupa ditebus!” Dokter ini berkata ramah mencatat resep dan menyerahkannya kepada perawat.
Sementara Ed tersenyum kecut di balik masker, ingatannya terulang pada satu tahun yang lalu.
Dulu Edgardo bermimpi bisa menikahi Camilia, mantan kekasih yang sangat dicintainya. Kelak memiliki rumah tangga bahagia, hidup bersama dalam suka dan duka, lalu mengantar Camilia memeriksa kandungannya.
Rancangan masa depan indah yang diinginkan putra kedua Tuan Torres, nyatanya semua harapan dan cita-cita terpaksa pupus, terkubur di bagian hati yang terdalam.
Usai memeriksakan kandungan, Ed dan Emilia duduk di ruang tunggu instalasi farmasi. Edgardo tampak bahagia menatap selembar foto hasil USG, mahkluk kecil anugerah terindah.
“Dia lucu kan?” tanya Ed, kedua sudut bibir tertarik sempurna, kepalanya mengangguk pelan, sesekali ekor mata melirik Emilia yang lebih banyak diam.
“Kenapa diam? Kamu lapar?” tanya Ed , kali ini menoleh, merangkum bahu Emilia.
“Apa? Aku tidak lapar, terima kasih Ed.” Mengulas senyum setipis helai rambut. Kentara sekali tidak menginginkan kehadiran bayinya.
“ Aku senang. Ya aku senang bisa menjadi ayah di usia muda. Tidak tahu juga, mungkin karena menyukai anak-anak.” Edgardo menyatakan perasaannya.
“Umm … bisa jadi karena dia bukan darah dagingku, jadi aku sedikit tenang, kalau saja aku yang menghamili kamu pasti kehidupan tidak sedamai ini.”
DEG
Emilia enggan menanggaapi pernyataan suaminya, diam adalah pilihan terbaik untuk saat ini.
“Aku mau ke toilet, kamu bisa menunggu di sini sendiri? Jangan ke mana-mana. Ok.” Edgardo pamit ke toilet, berlari kecil, demi memangkas waktu.
Sementara Emilia duduk sendirian, seseorang mengamatinya dari jarak jauh, mengepalkan tangan, napasnya memburu, dadanya kembang kempis, menyaksikan Emilia bersama pria lain.
“Dasar murahan, tidak bisa menjaga diri dengan baik. Ck pantas saja dia menolak tawaranku, ternyata memiliki ikan besar ditangannya.” Ucapnya, sorot mata mengkilat, menandakan kebencian.
“Lihat saja, kalian tidak akan hidup tenang. Seenaknya kau ingin bebas tanpa membayar jasaku. Anak kurang ajar.” Tangannya mengepal dan meninju dinding.
Ia mengamati sekitar, menoleh ke kanan dan kiri, lokasi duduk Emilia terhalang dari pantauan CCTV. Merasa kondisi cukup aman untuk melancarkan aksi. Seseorang ini segera melangkah mendekati Emilia, perlahan tapi pasti, mulai mengikis jarak.
Mengeluarkan sesuatu dari saku, satu tangannya membekap mulut Emilia cukup kuat. “Diam dan ikuti aku!”
Emilia tersentak, membelalakkan kedua mata, memberontak, berusaha melepaskan diri. Inilah yang ditakutkan, kehadiran seseorang yang tak inginkan. Seharusnya dia mengikuti Edgardo ke toilet bukan menunggu sendirian.
“Sekarang keluar, lewat pintu belakang, bersikap sewajarnya Emilia. Kalau kau berani melawan, pria itu ku habisi sekarang juga di depanmu, paham kau?”
“Cepat jalan!”
Benda tajam masih menempel pada pinggul Emilia, ditambah cengkeraman kuat tangan pria, membuatnya ngilu.
“Lihat ke depan, jangan sampai kau terjatuh! Fokus ke jalan, jangan bergerak mencurigakan Emilia sayangku.” Menghembuskan napas di telinga Emilia.
Terancam dan tidak bisa melawan, Emilia pasrah mengikuti keinginan pria ini. Untuk sementara waktu lebih baik, lantaran takut ancaman berubah menjadi nyata.
TBC
***
ditunggu dukungannya kaka sayang 😉🙏terima kasih banyak
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
Day
lupakan saja
2023-06-21
1
Day
kocak
2023-06-21
1