BAB 13 Menemukannya

Malam hari di kediaman Torres, keluarga yang terkenal sebagai pengusaha nomor satu seantero Spanyol itu baru saja pulang. Usai menghadiri peresmian peluncuran kendaraan roda empat terbaru dari Torres Inc.

Tuan Torres memboyong seluruh anak-anaknya menyaksikan aksi menegangkan di salah satu sirkuit terkenal Spanyol, termasuk Edgardo.

Sejak melodi Fur Elise mengalun, sopir telah menunggunya di area parkir, langsung membawa Ed sesuai perintah Tuan Torres.

Sekarang, remaja tampan nan menawan itu baru saja memasuki kamar, melepas tuksedo yang membelit tubuh dengan sempurna.

Membuka dasi pada leher, rasanya begitu mencekik. Ed menyimpan ponselnya di atas meja belajar tanpa memeriksa lebih dulu.

“Lengket.” Tutur Ed meregangkan otot tubuh yang begitu kaku, karena mengikuti serangkaian acara membosankan bersama Dad Leon.

Edgardo membersihkan tubuhnya, semula sangat ingin berendam air hangat untuk melancarkan peredaran setelah seharian beraktifitas tanpa jeda. Namun, memilih shower yang lebih singkat dan ringkas.

Sembari memijat kulit dengan sabun, Ed teringat pada Emilia, bagaimana cara wanita itu tertawa, bercengkrama bersama lelaki lain, tidak menolak ajakan makan siang dari guru lain.

“Aku akan tetap bertanggung jawab sebagai ayah anaknya. Biar saja kalau dia tidak mau, aku juga tidak akan menceraikannya, enak saja di usiaku yang masih muda harus menjadi duda.” Ed mencibir dirinya sendiri, betapa memalukan kelak jika kenyataan terkuak.

Selesai dengan kegiatan membersihkan diri, Ed merebahkan diri di atas ranjang empuk, tangannya menggulir layar. Memeriksa banyak panggilan tidak terjawab, keningnya mengerut mendapati tiga jam yang lalu Emilia terus menghubungi.

“Emilia?” ucap Ed, lantas memeriksa CCTV penthouse.

Lagi-lagi Ed terkejut, sebab istri rahasianya menghilang tak berjejak. Tidak ada tanda bahwa Emilia menginjakkan kaki di apartemen sejak sore hari.

“Ke mana dia? Tidak mungkin kabur lagi atau melakukan tindakan membahayakan?” bertanya pada diri sendiri. Lalu mencocokkan waktu panggilan suara dengan data CCTV.

“Perjalanan dari penthouse ke sekolah tidak lama, jika menggunakan bus, seharusnya cukup 20 atau 30 menit.” Analisis Edgardo, memijat pelipis yang tidak terasa pusing sama sekali.

Sontak beberapa kalimat Emilia terngiang di kepala, terkait Alvarez yang selalu mengincar dan mengawasi sang istri. Ed baru menyadari telah terjadi sesuatu ketika guru cantik itu dalam perjalanan pulang.

Bergerak cepat menghubungi orang yang sangat dipercayanya. “Paman, maaf mengganggu. Bisa temukan lokasi seseorang? Aku kirim datanya.”

Cukup lima belas menit Edgardo menunggu, keberadaan Emilia pun ditemukan, oleh ahlinya melalui data riwayat panggilan terkahir dan nomor telepon.

Sejak tadi Ed bolak-balik di kamar, resah dan tidak sabar menunggu. Namun melihat titik lokasi yang diberikan, membuatnya bergegas meninggalkan mansion, mengemudi sangat cepat seolah dikejar sesuatu yang menyeramkan.

“Kenapa bisa di sana Emilia?” gumam Ed, menggelengkan kepala, hatinya pedih sekali mengetahui bahwa sang istri berada di dalam saluran pembuangan air.

Bisa ditebak, bahwa wanita itu bersembunyi, terjepit keadaan hingga memutuskan tindakan nekat.

Beruntungnya hari ini Kota Madrid tidak diguyur hujan. Edgardo tidak tahu lagi harus melakukan apa, jika saluran itu dipenuhi air mengalir, tubuh Emilia akan hanyut terbawa derasnya air.

“Semoga dia baik-baik saja.” Harapan Edgardo.

Tidak lupa meminta bantuan petugas sekitar, untuk mengeluarkan Emilia dari dalam. Lagi-lagi mengeluarkan sejumlah uang agar kejadian mengenaskan malam ini tidak tersebar, apalagi tercium media.

Ed meraih tubuh Emilia yang menggigil, merangkulnya, kemudian menepuk pipi pucat secara perlahan, “Bangun … ini bukan waktunya tidur! Bangun, kau itu selalu menyusahkan. Hutangmu menumpuk, harus membayarnya.”

Tidak ada respon apapun dari Emilia, kedua mata Emilia tertutup rapat, permukaan kulit bibir kering dan pecah-pecah. Napasnya pun sangat lemah, denyut nadinya nyaris menghilang.

“Bertahanlah Emilia.” Ed menggendong istrinya dari tepi jalan memasuki mobil. Membawa Emilia ke rumah sakit terdekat, demi mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Menurut hasil pemeriksaan dokter, Emilia mengalami hipotermia, hal ini sangat berbahaya sebab kondisi pasien sedang hamil, selain itu Emilia mengalami pendarahan ringan.

“Lakukan apapun yang terbaik dokter! Selamatkan bayi dan ibunya.” Tatapan putus asa terpancar dari kedua bola mata Edgardo.

“Dalam satu jam ke depan, suhu Nyonya Anette harus meningkat, menjadi 36°. Tuan bisa membantu, menghangatkan tubuhnya, coba menggosok telapak tangan dan kaki, penggunaan obat berlebihan bisa mengganggu janin.” Penjelasan dokter membuat Ed kebingungan.

Emilia sudah menerima satu dosis obat, dokter pun tidak menyarankan pemberian berlebihan. Janin kecil dalam rahimnya tidak bisa menerima sembarang obat.

Di bangsal IGD, Edgardo melakukan sesuai perintah dokter, setia menemani. Merekatkan selimut sebatas leher, menggenggam kedua tangan Emilia memberi kehangatan, lalu beralih pada telapak kaki, hasilnya sama. Sudah hampir 20 menit tidak ada perubahan berarti.

“Bangunlah Emilia! Apa yang harus aku lakukan, hah?” Edgardo terus berpikir, mengingat semua hal.

Tiba-tiba otaknya memerintahkan sesuatu. Ya, Ed ingat sekali ketika dirinya demam, Nyonya Torres memberikan metode skin to skin. Namun tidak yakin apakah idenya itu berguna, lantaran Emilia kedinginan bukan demam.

Tanpa ragu, Edgardo naik ke atas ranjang pasien. Berbaring tepat di sisi Emilia. Menatap wajah yang belakangan memenuhi pikiran.

Edgardo mendekap erat tubuh sang istri, dagunya bersentuhan dengan dinginnya kening Emilia. “Kamu harus sembuh Emilia. Tidak boleh berakhir seperti ini. Aku akan tetap di sampingmu.” Bisik Edgardo.

Tidak sampai satu jam yang ditentukan dokter, tubuh Emilia tidak lagi menggigil, perlahan wajah mulus pucat kembali merona, desah napas mulai teratur.

Usaha Edgardo membuahkan hasil, dia tersenyum senang. Naluri lelakinya pun berontak, mengecup bibir yang sedikit terbuka. Pertama kalinya menyentuh wanita selain mantan kekasihnya, Camilia.

Debar dalam dada remaja berusia 18 tahun ini tak karuan. Merasakan getaran tertentu yang cukup sulit dijabarkan, hanya perasaannya mengatakan bahwa Emilia selamanya harus menjadi milik Edgardo seorang.

Terusik dengan pergerakan Ed, Emilia akhirnya membuka mata, dari pandangannya tampak jelas bahwa kondisi belum pulih.

“Ed? Kamu di sini?” lirih Emilia mencoba berpikir, karena terkahir kali ia bersembunyi dalam saluran air.

Dilanda gugup, Edgardo memberikan jawaban sedikit terbata-bata. “Iya, i-ini mimpi. Hanya mimpi indah, tidak lebih, tidurlah!”.

Seakan terhipnotis, Emilia kembali tidur, kali ini menyusupkan kepala pada dada bidang suami kecilnya, dan membalas pelukan.

Satu hal yang menjadi masalah Ed, berharap Emilia tidak mendengar irama jantung yang menghentak layaknya konser musik rock. Serta menganggap semua ini hanya mimpi.

Setelah istrinya nyenyak, Edgardo turun dari atas ranjang, menemui dokter untuk memeriksa keadaan Emilia.

“Tuan sangat bisa diandalkan, berhasil. Nyonya Anette bisa melewatinya berkat bantuan Tuan. Saya akan memanggil dokter obgyn untuk memantau kandungannya, mohon tunggu sebentar.” Pungkas dokter setengah baya.

Ed tersenyum, memberanikan diri melabuhkan satu ciuman di kening istrinya. “Aku yakin kamu tidak selemah itu.”

TBC

***

   

Terpopuler

Comments

Day

Day

mulai nakal ya

2023-06-25

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!