Ed mencebik, mendengar pernyataan gurunya. Entahlah padangan terhadap wanita benar-benar buruk.
Memiliki pengalaman menyedihkan dan menyakitkan, memukul rata memberi label bahwa wanita semua sama. Apalagi Emilia hamil di luar nikah, sudah pasti perangainya buruk, tidur bersama pria asing atau mungkin kekasihnya.
Namun menolak tanggung jawab, tentu saja, lelaki itu hanya bermain-main dengan Emilia.
Sama seperti Camilia, wanita yang sangat dicintainya. Ed tertipu oleh senyum manis rupawan dan tutur bahasa lemah lembut mantan kekasih. Sekarang, kenyataan terungkap bahwa Camilia bukanlah pendamping hidup yang baik untuknya.
“Katakan! Aku ingin tahu kenapa Bu Emilia berniat membunuh anak itu?” Ed merotasi tubuh, kedua tangannya masuk ke saku celana, menatap sengit Emilia yang duduk lesu.
Emilia tersenyum tipis, menggelengkan kepala. “Setelah mengetahui kebenarannya, apa yang kamu lakukan? Kalian hidup penuh berkat, tidak akan mengalaminya, tidak tahu bagaimana lapisan masyarakat kelas bawah berjuang keras demi mempertahankan napas.”
Mendengar jawaban lirih sekaligus tersirat makna, sontak saja Edgardo tertohok. Masyarakat kelas bawah? Berjuang mempertahankan napas?
Sungguh kata-kata menjijikkan yang pernah didengarnya dari bibir manis, tipis nan menggoda milik Camilia.
“Apa menjual diri menjadi pemuas pria hidung belang adalah pilihan? Aku tidak menyangka pikiran kamu terlalu sempit.” Ed mencibir Emilia. Menurutnya, mustahil sekali menukar tubuh dengan uang. Tapi itulah kenyataan.
“Aku … aku ini suami kamu, berhak mengetahui alasan yang sebenarnya.” Ucap Edgardo mengintimidasi.
Emilia menelan paksa air liur, suami? Ya dia harus sadar diri, mulai hari ini murid paling menyebalkan sekaligus menjadi idola di sekolah adalah suaminya. Secara hukum Ed berhak atas apapun, menyangkut Emilia.
Berat hati Emilia membongkar kisah kelam kehidupannya, termasuk Alvarez yang memiliki hutang kepada Mirano Jose. Dia sama sekali tidak berharap Edgardo bisa menolong.
Bergantung pada seorang remaja yang berstatus muridnya, tidak akan dilakukan. Emilia tak ingin Ed terseret masalah pelik seputar kehidupan pribadi.
Emilia melirik suami dadakannya, lelaki muda itu mendengarkan, menaruh atensi luar biasa. Sama sekali tidak menyela atau menghina perihal kemampuan ekonomi keluarganya. Bahkan dari kedua netra Ed terpancar rasa iba.
“Jadi dia, maksudku bayi itu anak Tuan Jose? Kehidupan memang lucu.” Edgardo tertawa.
Mengingat nama Mirano Jose tentu saja dirinya marah, karena pria yang membeli kesucian Camilia dan menikmatinya pertama kali adalah Mirano Jose. Bahkan Edgardo pernah menerima tendangan keras dari sang penguasa pasar ilegal.
Namun membenci ayah dari bayi dalam kandungan istrinya bukan berarti Ed memusuhi janin itu, iya kan? Mahkluk kecil tanpa dosa yang hadir dari sebuah kesalahan.
“Karena sekarang kamu istriku. Jadi ... aku bersedia menjadi ayahnya.” Kata-kata beresiko tinggi ini terlontar begitu saja tanpa berpikir jangka panjang.
Sejujurnya Edgardo mengingat mantan kekasihnya, Camilia. Dua wanita ini sama-sama bernasib buruk akibat ulah orang lain.
Kalau saja Camilia mengandung anak pria asing, Edgardo pun siap menjadi ayah sambungnya, karena mencintai seseorang artinya menerima seluruh kekurangan pasangan. Sekalipun memiliki masa kelam, selama tidak kembali ke jalan yang salah tentu bukan masalah.
Edgardo mengulurkan satu tangan, tanda kesepakatan baru disetujui. “Setuju kan? Kamu jangan khawatir, aku akan bertanggung jawab penuh, kalian berdua pasti aku lindungi.”
Emilia ragu menerimanya, sungguh remaja yang baik dan menggetarkan hati. Sirna sudah label arogan yang diberikannya kepada Edgardo.
“Tapi, aku mohon pernikahan ini tetap dirahasiakan. Aku pasti menjelaskan semuanya. Ya setidaknya sampai Daddy dan Mommy bisa menerima kenyataan segera memiliki cucu.” Imbuh Edgardo sangat percaya diri.
Kesal karena uluran tangannya tidak bersambut, Ed meraih tangan mulus Emilia di atas meja. “Sepakat.” Tegasnya tanpa sedikitpun tersenyum.
“Terima kasih.” Lirih Emilia. Saat ini pikirannya buntu, takdir yang sedang berjalan terpaksa diterima. Ia begitu terharu, hampir meneteskan air mata. Masih ada sosok pria baik seperti muridnya ini.
Dalam hati meneguhkan, setelah bayinya lahir, Emilia berjanji tidak akan mempersulit Edgardo. Lantaran sadar diri, tidak akan bisa menjadi istri seutuhnya dari salah satu putra Tuan Torres. Masa depan Ed masih panjang dan cerah, tidak perlu direpotkan dengan kehadiran anak yang bukan darah dagingnya.
“Aku harap di hari berikutnya, kamu mendapat berkat melimpah Ed. Kelak wanita yang menjadi istri kamu sangat beruntung.” Batin Emilia.
Hatinya meneguhkan, membangun dinding kokoh setinggi mungkin, demi membentengi diri, agar tidak terjatuh kepada pria yang salah kedua kalinya. Tak ingin merusak kehidupan sempurna milik suami kecilnya ini.
“Terima kasih atas bantuannya.” Tukas Emilia melirik sudut penthouse yang terang benderang.
“Hu’um sama-sama. Aku memiliki adik perempuan yang menyukai anak kecil pasti dia menerima dan menyayangi bayi itu.” Dagu Ed bergerak, mengarahkan pandangan pada perut rata Emilia.
“Ah iya sebentar.” Ed mengambil sesuatu dari dalam dompet. Memindai dan memilih mana yang cocok diberikan untuk Emilia. “Ini, untuk Bu Emilia.” Lanjutnya.
“I-ini? Kartu …” Emilia mengerutkan kening, menatap satu kartu di atas meja berlogo bank tertentu.
“Ya, gunakan untuk kebutuhan kamu, terserah untuk apapun. Pastinya harus bijak, karena aku masih sekolah, belum memiliki penghasilan yang besar.” Ed, menyimpan kartu tersebut di telapak tangan istri dadakannya.
“Jangan sungkan, sekarang Bu Emilia istriku, artinya sebagai suami harus bertanggung jawab terhadap istri, benar kan? Apalagi di sana ada mahkluk kecil yang sedang tumbuh, membutuhkan biaya yang tidak sedikit.” Bukan black card, melainkan kartu yang dimiliki sejuta umat dari bank kecil, bahkan belum memiliki banyak cabang.
Ed tidak ingin keberadaan Emilia diketahui keluarga, belum siap tepatnya. Jika memberikan black card, pasti Daddy Leon mudah melacak dan bisa melakukan apapun terhadap Emilia.
“Tapi Ed, ini tidak perlu. Aku masih memiliki uang, simpan saja!” Emilia menolak, kembali meletakkan kartu itu di atas meja. Merasa tidak berhak menerima apapun dari suami kecilnya.
“Kenapa? Kamu tenang saja, ini bukan uang jajanku, bukan pemberian Daddy. Tapi murni hasil trading saham dan komisi atas jasaku. Ah … begini saja, kamu tinggal di apartemenku, di sini kosong tidak ada makanan apapun, kamu bebas mengisinya dengan semua bahan, terserah.” Jelas Ed, menerangkan bahwa penthouse mewah ini tidak memiliki sepotong roti sedikitpun.
“Aku tahu, pasti kamu tidak bisa menerimanya, karena kita menikah dalam keadaan terpaksa. Aku juga tidak mau melalaikan kewajiban sebagai suami.” Edgardo yang masih remaja mendadak memiliki pemikiran dewasa dan matang.
Emilia tetap menolak, bersusah payah mengembalikan benda tipis itu. Dia tidak ingin memiliki hutang lebih banyak kepada muridnya, sudah cukup €150 ribu memberatkan, ditambah tinggal di penthouse tanpa biaya sewa.
“Hah aku ngantuk, kamar kamu ada di lantai satu, di sana! Masuklah, semua sudah rapi. Kamu juga tidak perlu repot membersihkan apartemen, setiap dua hari sekali ada petugas yang datang.” Ed menunjuk lorong kecil di depannya, letak kamar tamu.
Tanpa banyak bicara lagi, remaja berusia 18 tahun ini melenggang pergi, menaiki tangga menuju kamar utama.
TBC
***
kalau Emilia gak mau. Kartunya untuk aku aja 😉
Jangan lupa jejaknya kakak ku tunggu ya🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments