Helaan napas keluar dari bibir Emilia, akhirnya bisa menghirup udara bebas. Tidak ada Alvarez di sekitar sini. Ia pun segera memasuki gedung bertingkat itu, menggunakan card khusus yang diberikan Edgardo sebagai tanda pengenal bahwa Emilia salah satu pemilik penthouse.
Pintu apartemen terbuka lebar, Emilia segera menepuk tangan hingga keadaan yang gelap berubah terang. Pemandangan gedung bertingkat serta langit malam yang indah Kota Madrid memanjakan indera penglihatan.
“Terima kasih Ed.” Tukas Emilia, hatinya tiada henti mengucap rasa syukur sebab keberuntungan masih menaunginya, di apartemen ini meskipun sepi dan sunyi, setidaknya Emilia aman dari jangkauan Alvarez atau Tuan Mirano.
Tidak mungkin sembarang orang masuk ke penthouse yang memiliki tingkat keamanan tinggi, kecuali orang terdekat Edgardo mungkin.
Emilia memasuki kamarnya, melirik foto seseorang yang terpajang rapi dilengkapi bingkai unik. “Semoga kalian bahagia. Maaf, aku pinjam kamarmu sebentar.”
Membuka pakaiannya dan berendam sabun beraroma terapi. Satu hal yang membuat Emilia penasaran, kamar tidurnya memiliki furniture serta dekorasi yang berbeda, sangat feminim dibanding ruang lain.
Sabun, sampo, jajaran parfum mahal, pakaian, tas dan sepatu dalam lemari menggelitik hatinya. Sudah jelas itu bukan milik Emilia tetapi orang lain, iya orang lain yang mungkin sangat berarti bagi Edgardo.
“Sudahlah Emilia jangan memikirkan hal lain, jangan mencari tahu. Tidak boleh ikut campur kehidupan pribadi Ed.” Membilas tubuhnya menggunakan air hangat, lalu membuka walk in closet, menyambar satu piyama tergantung yang masih terbungkus bahkan tag harga belum terlepas.
“Hah, mahalnya. Aku cari yang lebih murah saja. Ini? Tidak. Ini? Huh, kenapa satu set piyama harganya tidak wajar? Lebih dari gajiku.” Keluh Emilia, kehidupan kelas atas memang gemar membuang uang. Piyama yang digunakan untuk bersantai dan tidur pun selevel gajinya.
Terpaksa Emilia menggunakan salah satu pakaian tidur mahal itu daripada semalaman tanpa busana.
Emilia duduk di kursi kecil, tepat di sisi kaca besar dengan pemandangan gemerlap lampu Kota. Membuka laptop fasilitas sekolah yang dibawanya pulang, membuat silabus dan road map materi pembelajaran untuk tahun yang akan datang.
Diselingi membuka ebook dan buku tebal tersimpan di atas meja, menyesuaikan kegiatan belajar. Kepala Program Pendidikan sudah menagihnya jauh hari, tetapi belum sempat Emilia kirim lantaran semua tertinggal di rumah, suka atau tidak Emilia mengulangnya dari awal.
“Pegal.” Meregangkan tangan ke atas, samping kiri dan kanan, memijat pinggang. Lalu merebahkan diri di atas ranjang empuk, ketika rasa kantuk mulai datang, mendadak perut Emilia berisik.
“Lapar. Aku baru ingat terakhir makan siang di sekolah. Baiklah kita lihat ada makanan apa di dapur.” Ucapnya sembari mengelus perut melirik jam menunjukkan pukul 10 malam.
“Aku lupa, Ed bilang di sini tidak ada bahan makanan apapun, seharusnya tadi sebelum pulang belanja dulu.” Emilia menyesali waktu terbuang percuma, sebab pikirannya kacau setelah bertemu dengan Alvarez.
“Jangan rewel ya sayang. Aku janji besok bangun lebih awal. Lebih baik sekarang kita tidur.” Harapannya satu, semoga janin dalam kandungannya bisa mengerti, tidak mual atau muntah malam hari. Emilia pun kembali meringkuk di atas ranjang, bersembunyi di bawah hangatnya selimut.
Pukul sebelas malam, pintu utama apartemen terbuka lebar. Seorang pria menyelinap masuk, mengendap, meredam langkah kaki supaya tidak mengganggu sebelum semua siap.
Pria itu menjentikkan jari, hingga penthouse terang benderang, lalu menyimpan sesuatu di atas meja makan. Ia melirik lorong kecil dengan pintu bercat putih, lantas menuju kamar tamu, mengetuk pintu berulang kali. Mengusik ketenangan wanita yang terlelap di dalamnya.
Di kamar
Akhirnya Emilia mengerejapkan mata, karena suara asing yang begitu mencurigakan di malam hari. Dia, terbangun kemudian keluar dari kamar, tercengang mendapati ruangan yang sebelumnya temaram kini semua terlihat jelas.
“Seingatku, tadi … kenapa sekarang terang?” gumam Emilia merasa heran.
Guru cantik ini khawatir Alvarez atau anak buah Tuan Mirano menyusup masuk menggunakan cara licik. Ia memutar badan, meraih hiasan miniatur menara apartemen di atas rak. Menggenggam erat, mengarahkannya ke depan, cukup untuk memberi perlawanan dan siap memukul penyusup karena ujungnya yang runcing.
Tiba-tiba mata coklat Emilia menangkap bayangan pria berjalan menuju dapur, artinya semakin dekat dengannya. “Si-siapa orang itu?” tanyanya dalam hati.
Adrenalin meningkat, jantung berdetak lebih cepat dan bekerja sangat keras. Pembuluh darah pun melebar, hingga aliran darah menuju otot dan otak meningkat, tubuhnya pun berkeringat, karena Emilia sedang waspada.
Emilia menahan napas, benda di tangan mulai bergerak, hendak melayangkan pukulan kepada pria misterius itu. “Aaaaaa …”
Namun pukulan tertahan di udara, “Ed? Kamu?” Emilia terkejut, ternyata bayangan lelaki yang sempat dilihatnya adalah Edgardo Torres, suami kecilnya.
“Hu’um ini aku. Untuk apa miniatur itu? Kamu tahu kalau harganya € 99.000? Dibuat khusus oleh seniman Italia, hanya ada dua di dunia. Kalau lecet atau rusak bisa menggantinya? Bukan perkara uang tetapi nilai estetik dan historinya tidak akan ditemui dengan mudah.” Tajamnya lidah murid yang memiliki segalanya ini.
“Bocah ini menyebalkan sekali.” Umpat Emilia, kalau saja tidak memiliki hutang budi, mungkin sudah mencabik tubuh Edgardo saking kesalnya.
“Ingat ya jangan mengatakan apapun di dalam hati, dilarang. Membenci suami adalah perbuatan tercela, pasti kamu paham.” Telak Edgardo membungkam Emilia.
Sungguh remaja yang berbeda, ketika di sekolah Ed tampak sama seperti anak konglomerat lainnya, tetapi sekarang jauh lebih dewasa bahkan tidak masuk akal untuk anak seusianya.
“Ini untuk kamu, cepat dimakan sebelum dingin!” Ed melayani istrinya sepenuh hati, membuka satu kotak makanan khas Asia yang sangat terkenal, lalu menyimpannya tepat di depan Emilia.
“Duduk! Makan tidak boleh berdiri!” perintah Ed menarik kursi untuk Emilia, menyentuh kedua bahu agar Emilia mendaratkan tubuhnya.
Mata Emilia berbinar, harum aroma rempah dan santan menguar, perutnya pun semakin berteriak. “Terima kasih Ed.” Ucap Emilia, mulai menyantap makanan itu.
“Kamu, tidak makan?”
“Ck. Ini sudah malam. Aku tidak terbiasa makan makanan berlemak seperti itu. Habiskan saja, ibu hamil sangat membutuhkannya!” Ed tersenyum samar, memerhatikan tingkah lucu gurunya. Emilia tampak kelaparan, seolah perutnya telah berhari-hari tidak terisi makanan.
Ed menunjuk beberapa kantung di atas lantai. “Itu untukmu, di kamar hanya ada kemeja, rok, baju tidur tapi pakaian dalam tidak ada kan? Jangan sampai kamu menggunakan bra dan celananya beberapa kali.”
“Tidak perlu khawatir, sudah pasti cukup. Aku lihat sendiri ukurannya dari pakaian dalam kamu yang tergeletak di atas tempat tidur tadi pagi.” Celetuk Edgardo.
Sontak Emilia yang sedang menikmati satu kotak nasi padang tersedak, lantaran malu dan terganggu dengan kalimat yang keluar dari bibir suaminya.
“Uhuk … uhuk”
“Pelan-pelan kalau makan, ini minumnya.” Ed menyerahkan satu gelas air mineral.
Emilia mendelik, "Kamu? Berani sekali …”
“Memangnya kenapa? Hanya pakaian dalam, aku itu suami kamu, wajar kan suami membeli pakaian untuk istrinya. Salahku di mana?” Edgardo mengangkat bahu, menyatakan secara rinci, menjelaskan statusnya sebagai suami.
TBC
**
ditunggu dukungannya kakak, like dan komen, menonton iklan juga sebagai bentuk dukungan. Terima kasih 😉🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments