Kendaraan roda dua milik Edgardo tiba di pelataran kediaman Torres. Lantaran dilanda pagi yang sial, Edgardo tidak memarkirkan motornya dengan baik di dalam garasi, menyimpan sembarang yang penting tidak menghalangi jalan siapapun.
Derap langkah kaki dengan sepatu kets sobek itu mulai memasuki mansion. Para maid berjejer menyabut Tuan Muda mereka, tak ada satupun yang berani menatap atau menyapa Tuannya.
Mengingat belakang ini sikap Edgardo sangat kasar dan sulit diatur. Selalu melanggar peraturan dan membantah perintah Tuan Besar Torres.
Tapi dewi keberuntungan benar-benar tidak mendukung. Tepat pintu lift terbuka, Daddy Leon menyerang putranya dengan kata-kata menyayat hati. “Dari mana? Menemui pel***u* itu lagi?”
Sontak saja darah Edgardo mendidih, dadanya bergemuruh menahan amarah, napasnya pun terasa berat dan sesak.
“Dia bukan perempuan seperti itu.” Edgardo menoleh, membalas tatapan menyeramkan ayahnya, tak gentar sedikitpun.
Seketika ruangan di lantai satu dipenuhi oleh gelak tawa Daddy Leon. “Hahaha. Disebut apa wanita yang menjual dirinya kepada sembarang pria? Bersedia melayani di atas ranjang dengan imbalan uang.”
Edgardo hanya mampu menelan air liur yang terasa pekat dan menyakiti kerongkongan. Semua yang dikatakan Daddy Leon benar, tidak salah sedikitpun.
Mantan kekasihnya, Camilia menjajakan diri kepada pria hidung belang, tapi itu dua tahun yang lalu.
“Putraku yang menyedihkan, jatuh cinta pada mantan pekerja **** komersial. Tidak kah kau takut tertular penyakit? Dia tidak baik untukmu, tinggalkan wanita itu! Sampai mati pun, Daddy tidak akan pernah mengakuinya sebagai menantu, paham kau?” bentak Daddy Leon, mengundang Nyonya Torres melihat keadaan menyedihkan putra keduanya.
“Aku dan Camilia sudah putus, kami tidak pernah berkomunikasi selama satu tahun ini.” Bohong Edgardo, dia mengakhiri percakapan bersama ayahnya. Melenggang pergi tanpa permisi.
Daddy Leon yang keras kepala dan tidak mau kalah membalas putranya. “Uang sakumu berkurang 50%. Aku tidak mau kau menghidupi wanita itu lagi.”
Sedangkan Edgardo sudah kebal dengan semua hukuman ringan, sama sekali tak berimbas apapun kecuali hidup hemat selama tiga bulan ke depan. Apalagi uangnya sudah terkuras untuk menutup mulut petugas badan kependudukan serta beberapa warga.
Menghabiskan waktu seharian penuh dalam kamar adalah kebiasaan Edgardo, meluapkan emosi dengan tidur sembari mendengarkan musik.
Hingga malam aktifitasnya tetap sama, meratapi nasib diri. Dering ponselnya diabaikan begitu saja, malas bersenang-senang bersama teman dekat.
Edgardo membuka pintu kaca balkon, menikmati gelapnya malam yang sedikit gerimis. Alunan lagu tetap setia menjadi pendamping. Tiba-tiba saja kepalanya teringat akan Emilia, istrinya.
“Kenapa harus guru itu? Apa tidak ada wanita lain yang aku kenal? Hah.” Edgardo melempar headset dan ponselnya ke atas sofa. Semakin berusaha menghilangkan Emilia dari dalam kepala, bertambah juga rasa khawatirnya.
“Argh … sial, benar-benar mengganggu.” Geram Edgardo, segera menggunakan jaket, meraih ponsel dan kunci mobil.
Bergerak cepat sebelum wanita itu nekat bunuh diri, ya itulah yang ada dalam pikiran Edgardo, bayang-bayang Emilia tak bernyawa bahkan berlumuran darah.
Edgardo melaju cepat, membelah ramainya lalu lintas Kota Madrid malam ini. Dia menghubungi anak buat kepercayaan Daddy Leon, demi membantu menemukan Emilia dalam waktu singkat.
“Paman, tolong bantu aku. Sekaligus rahasiakan dari Daddy. Jangan biarkan Daddy mengetahuinya.” Kata Edgardo di telepon, kemudian mengirimkan foto Emilia yang dia ambil dari website sekolah.
Tidak membutuhkan waktu lama, semua informasi mengenai Emilia berhasil diperoleh, cukup 15 menit. Namun ada yang mengganjal di hati, Edgardo menggelengkan kepala mengetahui keberadaan istrinya.
“Benar-benar tidak bisa berpikir panjang, dasar wanita.” Hardik Edgardo memaki setir mobil yang tidak bersalah apa-apa.
Dia mengatur map ke lokasi tujuan pada kendaraannya, bagaimanapun Edgardo pria yang masih memiliki hati nurani. Bukan pria bengis yang mengabaikan begitu saja. Siang tadi memang dirinya dikuasai emosi hingga tak bisa mengendalikan diri.
Berkendara selama 30 menit, akhirnya Edgardo tiba di klinik pinggir kota, tempatnya kurang terawat tetapi puluhan pasien wanita mengantre, menunggu nama dipanggil oleh perawat.
Edgardo terpaksa menginjakkan kedua kakinya di klinik aborsi ilegal ini. Tentu saja menggunakan penyamaran, topi dan masker melekat di wajah tampan. Matanya mencari Emilia, dari ujung lorong ke sisi lainnya.
“Wanita murahan yang menyusahkan.” Gumam Edgardo, menyisir satu per satu wajah pasien.
Tidak menemukan Emilia, Edgardo bergegas keluar klinik, tapi siapa sangka dia menemukan istrinya tengah mendaftarkan diri.
Tanpa menunggu, Edgardo menggendong Emilia menjauh dari klinik aborsi. “Ikut dan diam, jangan mengoceh!” seru Edgardo tidak menerima bantahan apapun.
“S-siapa kamu? Lepas! Aku bisa teriak dan kamu pasti dipukuli.” Bentak Emilia memukuli dada bidang muridnya.
“Aku? Krediturmu. Jangan lupa membayar € 150 ribu, uang jajanku di pangkas 50% oleh Daddy.” Terang Edgardo sembari membuka pintu mobil dan mendudukkan istrinya di atas kursi penumpang.
“Duduklah, jangan mengambil tindakan yang beresiko lagi!” Edgardo membantu memasang sabuk pengaman.
Lagi-lagi hambatan mendekat, preman yang menjaga klinik tidak terima salah satu pasien melarikan diri sebelum membayar uang. Seharusnya pendapatan bertambah, tetapi kehadiran Edgardo mengurangi penghasilan mereka.
Preman itu memukuli Edgardo, meninju wajah dan menendang kuat bagian perut hingga terasa nyeri menyerang ulu hati. Tentu saja Edgardo balas melawan, karena tadi dirinya dalam keadaan tidak siap.
Adu kekuatan itu berlangsung cukup alot dan lama, hingga Edgardo memutuskan memasuki mobil dan melesat melarikan diri sebelum identitas terbongkar.
“Wajahmu memar.” Emilia memperhatikan sudut bibir berdarah, pipi merah dan pelipis yang sobek.
“Hutang mu semakin banyak, Bu Guru. Aku menunggu pembayarannya, jangan terlambat.” Tanggapan Edgardo lagi-lagi menyinggung uang.
“Kita mau ke mana? Rumah sakit kan?” Emilia merasa bersalah, melibatkan muridnya dalam keadaan serumit ini.
“Apartemenku, kalau ke rumah sakit. Daddy pasti mengetahui aku dipukuli preman, bagian administrasi selalu memberikan informasi apapun kepada Daddy.” Tukas Edgardo tetap fokus mengendarai mobil.
**
Di apartemen
Edgardo yang merasa memiliki hak atas Emilia, memarahi istrinya. Intonasi kasar pun menggema dalam penthouse.
“Kau seorang guru tapi otakmu hanya seperempatnya saja. Tidak tahu kah kalau itu sangat berbahaya? Bisa saja kau meninggal di tempat.” Bentak Edgardo, berkacak pinggang, bolak balik di hadapan Emilia.
“Aku tahu, tapi semua terpaksa. Kau tidak tahu apa yang aku alami. Sebaiknya tidak perlu ikut campur, belajar saja yang benar untuk ujian.” Sanggah Emilia, merasa sudah memilih jalan yang benar.
“Ya aku tahu. Kekasihmu tidak mau tanggung jawab, benar kan? Kau memilih aborsi karena takut kehilangan karir sebagai guru. Seandainya ketua yayasan dan kepala sekolah tahu, aku jamin guru sepertimu ditendang tanpa belas kasih.” Pedasnya bibir Edgardo menusuk jantung Emilia.
“Kau tidak layak menjadi guru, wanita murahan seperti mu benar-benar bukan figur pengajar bagi semua siswa. Aku menyesal mengambil mata pelajaran di kelasmu.” Lanjut Edgardo.
Perbuatan Emilia ini tidak bisa dimaafkan, Edgardo semakin membenci Emilia yang sanggup bertindak keji.
“Apa katamu? Aku murahan? Jaga mulutmu kalau tidak tahu akar masalahnya.” Balas Emilia, derai air mata mulai membasahi pipi.
Dia pun tidak sudi menjadi pemuas nafsu Mirano. Seandainya terlahir dari keluarga kaya, pasti nasib sial seperti ini tak akan menimpanya.
TBC
***
Jangan lupa tinggalkan jejak ya
Terima kasih
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
ɳσҽɾ
sungguh masalah yang begitu di luar nurul ya, mampukah Emilia mengatasinya? betewe pekerja bintang-bintang komersial eta nanaon ya(mode pura-pura polos on) 🙈
2023-06-17
1