BAB 16 Hari Yang Menyenangkan

Malam harinya di apartemen

Harum tumis bawang putih, menggoda Emilia yang baru saja keluar dari kamar. Suara riuh dari dapur, sangat terdengar dan mengusiknya, karena kamar Emilia tepat di sisi dapur.

Melihat sosok suami bocahnya sedang sibuk beraksi bersama kompor. Ed mengeluh karena gagal memasak makanan yang diinginkan Emilia. Padahal sudah mencoba berulang kali hasilnya tetap sama.

“Apa perlu memanggil chef ke sini? Memalukan kamu Ed.” Mencibir diri sendiri.

“Kamu lagi apa?” tanya Emilia, mengejutkan suaminya, hingga masakan di atas penggorengan tumpah, tersenggol Edgardo.

“Argh … sial. Seharusnya kamu jangan keluar dulu. Harga diriku rusak.” Lanjutnya dalam hati.

Sore tadi, dalam perjalanan pulang, Ed samar-samar mendengar bahwa Emilia menginginkan Gambas al Ajillo.

Keduanya memutuskan mencari restoran atau cafe yang menyediakan hidangan berbahan dasar udang, sayangnya menu tersebut habis.

Edgardo tidak kehilangan akal, mengandalkan video tutorial, ia mengupas kulit udang, mengiris bawang dan memasaknya tetapi sangat jauh dari harapan, tidak enak.

“Kamu mau Gambas al Ajillo kan? Aku jamin sekali lagi pasti berhasil. Tunggu ya, kamu duduk di sana.” Pinta Ed, harapannya semakin tipis kala melihat persediaan udang tersisa sedikit.

“Jangan repot Ed. Aku bisa sendiri, biar aku yang masak, kamu mau makan apa?” Emilia menghampiri suaminya yang kerepotan membersihkan udang. Mata Ed menyipit terkena cipratan air.

Mengambil tissue, Emilia menghapus jejak air di mata suaminya, mengambil alih tugas Ed. “Aku saja, selama ini kamu yang selalu masak.”

“Istri harus patuh, kamu diam dan duduk manis.” Perintah Ed, ingin menunjukkan aksinya di dapur.

Tetapi Emilia tidak bisa diam saja, memilih mempersiapkan irisan bawang putih serta cabai hijau.

Kemudian mulai mengambil penggorengan. Menuangkan minyak zaitun dan bumbu, setelah harum, tangan Emilia terulur ke belakang, meminta udang yang telah dibersihkan.

Namun tangannya menyentuh ogan krusial dan paling penting bagi pria. “Ah maaf Ed. Aku … aku tidak sengaja.” Menunduk malu, meraih semangkuk penuh udang dan memasaknya, lalu menambah sedikit peterseli.

Edgardo dan Emilia sama-sama canggung, terdiam satu sama lain. Menikmati makan malam ditemani irama lagu romantis yang sengaja Ed putar. Tujuannya mengurangi rasa malu, tetapi menambah gugup mendengar setiap bait dari liriknya.

Pandangan suami istri itu bertemu, saling mengunci. Emilia pura-pura meraih gelas, sedangkan Edgardo mengambil bubuk lada, menabur ke atas piring.

“Ed? Kamu tidak salah? Nanti rasanya semakin pedas.” Merebut botol berisi lada dari tangan Edgardo.

“God. Tangannya halus dan lembut.” Edgardo mengamati dahi, mata, hidung pipi dan bibir tipis merah muda Emilia.

Karena posisinya yang berdekatan, memudahkan Edgardo mengikis jarak, botol lada pun terlepas.

Edgardo merangkum pipi istrinya, memberikan kecupan singkat pada bibir yang belakangan membuatnya tergoda.

Jantung Emilia berdetak cepat, membalas tautan yang diberikan, semakin merasakan getaran  luar biasa terhadap suami bocahnya. Tapi ia tahu bahwa Edgardo masih sangat mencintai mantan kekasihnya.

Terbukti semua foto sang mantan tetap berjejer rapi di kamar, dan setiap malam pemandangan itu membuat hati Emilia tercubit.

Foto kebersamaan Ed dan mantan kekasihnya selalu menemani Emilia menjelang tidur.

Sikap Ed di apartemen tidak mencerminkan seorang remaja sekolah, lebih dewasa dari usianya. Memperlakukan Emilia sebagaimana mestinya, terkadang sangat beruntung memiliki suami perhatian, tetapi hatinya berbisik bahwa ia harus sadar diri.

“Besok kamu mau ke mana?” tanya Ed usai mengakhiri penyatuan bibir.

Sebagai remaja penuh ledakan hormon sekaligus mencari jati diri. Bersama Emilia, lelaki ini merasa nyaman, bahkan membuat dirinya cocok dan memiliki banyak kesamaan dengan sang istri, di sakiti oleh orang tersayang.

“Aku? Di penthouse saja, kalau kamu mau pergi, silakan.” Balas Emilia, takut suaminya terbebani dan kehilangan masa remaja, berkumpul serta bermain bersama teman.

“Besok ikut aku. Sekarang kamu tidur!” Ed berdiri merapikan piring kotor, seketika Emilia dibuat mematung karena suaminya mencium puncak kepalanya.

**

Edgardo melakukan rutinitas hariannya menyiapkan makanan untuk sarapan, membantu Emilia yang muntah setiap bangun tidur, memijat tengkuk dan bahu.

“Terima kasih Ed, kamu mau apa?” tanya Emilia karena suami kecilnya menuangkan air hangat ke dalam Jacuzzi.

“Bantu kamu mandi, setelah ini sarapan. Aku membuat panekuk atau mau roti isi?” tanyanya, sembari membuka kaos yang melekat akibat terkena air.

“Eh, ka-kamu …”

“Aku kenapa? Kamu mau mandi bareng? Ayo, tidak ada aturan suami dilarang mandi bersama istri.” Pagi yang indah, Edgado sengaja menggoda Emilia, pipinya yang putih kini merona disertai salah tingkah.

“Kalau kamu mau melakukan lebih dari ini juga bisa. Aku tidak keberatan, kamu kan istri aku.” Ed mendekat.

Sementara Emilia terdesak, melangkah mundur menghindari suaminya. Ia tidak siap harus tidur atau memperlihatkan lekuk tubuh tanpa sehelai busana.

“Ed sebaiknya kamu mandi di kamar kamu. Di sini sempit.” Mengusir secara halus Edgardo.

“Umm … kalau maunya di sini bagaimana?” menyeringai dan mengedipkan sebelah mata.

“Hah?”

“Aku bercanda, ya sudah kamu mandi. Aku ke kamar dulu.” Puas menggoda gurunya, Ed keluar dari kamar Emilia sembari tertawa.

Edgardo dan Emilia memanfaatkan waktu akhir pekan, mengunjungi taman bermain, mencoba beberapa wahana yang aman bagi ibu hamil.

Tentunya mereka tidak pergi menunjukkan jati diri, Ed mendandani Emilia, menyamarkan penampilan istinya.

Berhasil mengecoh Alvarez yang menunggu Emilia di depan gedung apartemen. Menurut sumber informasi dari resepsionis, Alvarez masih diam ditempat.

Edgardo pun tidak ingin mengambil pusing, liburan singkatnya harus berkesan.

Selepas dari taman bermain, Ed membawa Emilia mengunjungi pekan karya ilmiah di Kota Madrid. Kemudian menikmati pesta kuliner yang digelar penduduk sekitar. Membaur menjadi satu tak berjarak sama sekali bersama warga.

Ed mengekor di belakang istrinya, Emilia begitu antusias mencicipi beragam hidangan. Mulai dari Croquetas de pollo, terbuat dari saus kental dan renyahnya daging ayam.

Pisto, terdiri dari beraneka sayuran.

Pulpo a la gallega disajikan khas di atas piring kayu menambah penampilan gurita sangat lezat, serta banyak makanan dan minuman lain.

Emilia dan Ed tidak ragu saling menyuapi, menunjukkan kedekatannya di depan umum. Bahkan mendapat doa dari seorang nenek yang duduk di samping Emilia.

‘Semoga cinta kalian kekal abadi, rumah tangganya terhindar dari bencana, dikaruniai putra dan putri baik hati.’

Tentu saja Ed paling semangat menyambut harapan dari wanita sepuh itu.

Setelah melewati hari yang menyenangkan, Emilia mengingatkan suaminya untuk mampir ke salah satu supermarket karena persediaan makanan telah menipis.

Kegiatan belanja bersama memenuhi kebutuhan apartemen menjadi momen tak terlupakan.

Hingga malam hari pulang ke penthouse, keduanya tertawa bersama, berpisah di tengah ruangan memasuki kamar masing-masing.

Edgardo yang gelisah tidak bisa tidur, mengetuk pintu kamar Emilia, “Kamu mau coklat panas? Aku sudah membuatnya” berdalih telah membuat coklat panas.

“Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan seputar ujian beberapa bulan mendatang.” Tidak kehilangan akal memaksa Emilia keluar dari kamar.

Ed tersenyum senang lantaran pintu kamar Emilia terbuka. “Boleh, tunggu sebentar, aku ambil beberapa catatan.”

Selama 30 menit keduanya bercakap-cakap mengenai materi ujian, tentu saja ini hanya alibi Ed yang mulai merindukan Emilia.

“Aw sakit.” Tiba-tiba saja perut Emilia kram, akibat kelelahan seharian pergi bersama suami kecilnya.

“Maaf. Sekarang kita istirahat.” Ed berinisiatif menggendong Emilia ke kamar. Merebahkan istrinya di atas kasur empuk.

“Apa masih sakit? Minum obatnya ya.” Memberi Emilia segelas air dan satu butir pil penguat kandungan. Lalu membelai perut rata Emilia, bahkan Ed tidak sungkan menyingkap piyama gurunya.

“Ed jangan! Sebaiknya kamu tidur, terima kasih untuk hari ini.” Pungkas Emilia.

Namun Edgardo, malah mendekatkan bibir ke kulit perut, mengobrol dengan janin dalam kandungan.

“Hi bayi, kamu boleh panggil aku Daddy atau paman, terserah. Sehat selalu di dalam sana. Aku dan Mommy menunggumu lahir.”

“Aku temani kamu tidur.” Menyelimuti Emilia, lalu duduk di sisi ranjang, mengusap sepanjang tulang punggung Emilia yang berbaring miring.

TBC

***

ditunggu dukungannya kaka 😉

Terpopuler

Comments

Day

Day

buang lah

2023-06-25

1

Istri Bei Ming Ye

Istri Bei Ming Ye

kencan ya tor?

2023-06-23

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!