BAB 6 Perhatian

Selesai mandi, Emilia teringat dirinya sama sekali tidak memiliki pakaian ganti. Menyesal kenapa tidak membeli sebelum piyamanya basah, sekarang Emilia hanya menggunakan jubah mandi berwarna putih tanpa sehelai apapun di baliknya.

“Kenapa harus lupa Emilia.” Mendengus sebal, menggigit ibu jari. Bolak balik memikirkan sesuatu, “Tidak mungkin keluar menggunakan bathrobe.”

Malu, dan sungkan serta takut. Di penthouse ini ada dua orang, walaupun Edgardo masih remaja bukan berarti tidak mengerti apapun mengenai hak dan kewajiban sebagai suami istri.

Ya, Ed memang suaminya, tapi Emilia belum siap dan tidak akan mengusik anak didiknya itu.

Tok … tok

“Aku boleh masuk?” suara remaja berusia 18 tahun terdengar menyeramkan bagi Emilia.

“Hah? Dia tidak boleh melihat ku seperti ini.” Emilia gegas mengambil selimut menggulung diri hingga kepalanya saja yang terlihat.

“Ya. Ya tentu, silakan!” sahut guru cantik itu gemetaran, berharap Edgardo masih polos layaknya bayi yang tidak mengerti apapun. “Ada perlu apa?”

Tatapan Edgardo saat ini sungguh mengusik ketenangan, Emilia sudah bersiap mengepal kedua tangan guna menyerang suami kecilnya, jika berniat melakukan tindakan khusus dewasa.

“Kamu tidak punya baju ganti ya? Umm … di lemari ada pakaian baru, gunakan saja! Karena pemiliknya tidak mau menerima pemberian dariku.” Ed menyandarkan punggung, satu kakinya pun menekuk, menempel pada dinding.

Demi Dewa Apollo, Edgardo semakin tampan serta kesan maskulin selalu melekat erat padanya yang memiliki julukan the most wanted di sekolah.

“Ok, terima kasih. Semoga ukurannya pas.” Gugup Emilia menelan saliva. Telapak tangan berubah dingin karena tegang.

“Ok, aku tunggu di luar, jangan lama.” Balas Ed tersenyum simpul. Keluar dari kamar tamu tanpa memiliki pikiran apapun seperti yang ditakutkan Emilia.

Emilia bergerak sangat cepat membuka lemari berisi banyak pasang pakaian wanita. Tangannya menyambar satu set yang tergantung rapi, beruntunglah bajunya cocok, dan ukurannya sesuai.

Selesai bersiap, Emilia pergi lebih dulu. Sesuai perintah suami kecilnya. Bahwa mereka berangkat sekolah masing-masing, agar tidak menimbulkan kecurigaan, demi menjaga status yang belum siap dipublikasi.

Tetapi Edgardo mengamati istrinya dari jarak jauh, memastikan Emilia benar-benar bersikap normal. Artinya tidak mencoba bunuh diri. Setelah itu dia bisa tenang melajukan kendaraan roda dua miliknya.

**

Di sekolah

Emilia mendesah menatap ruang guru, apalagi mejanya. Tumpukan buku tebal serta laptop menyadarkan diri bahwa pagi ini jadwal mengajar di kelas Edgardo. “Kenapa ini semua harus terjadi?” keluhnya dalam hati.

“Semangat Emilia, ini tidak lama, setidaknya sampai anak ini lahir. Ya setelah itu aku akan pergi ke tempat yang jauh.” Menepuk dada berulang kali, menghirup oksigen sangat banyak, guna menghilangkan debaran asing yang menyusup tidak tahu malu.

Seperti biasa, Emilia memasuki kelas Kimia 1, membawa dua buku tebal serta kacamata. Di dalam kelas, rasa gugup kembali menyerang. Jarinya gemetaran membuka laptop di atas meja.

“Selamat pagi, materi hari ini tentang biomolekul. Jangan lupa gunakan sarung tangan, agar terhindar dari larutan zat kimia.” Instruksi Emilia kepada seluruh murid sebelum mulai pembelajaran dalam lab kimia.

“Biomolekul terbagi menjadi empat jenis utama, karbohidrat, lemak, protein dan asam nukleat.” Emilia menuliskan rumus senyawa kimia pada whiteboard. Masih menjelaskan dengan sedikit tenang.

Ketika bola mata coklatnya tanpa sengaja beradu pandang dengan Edgardo, begitu tajam, tidak berkedip dan bukan tatapan seorang murid kepada gurunya. Padahal siswa lain pun sama, mengamati Emilia, tentunya memuja guru cantik nan cerdas ini.

Susah payah Emilia menahan diri, menjaga konsentrasi agar tidak mengakibatkan penyampaian materi kurang sempurna. Ia pun melirik jam di layar laptop, masih 1 jam 30 menit lagi di ruangan ini.

Beruntunglah beberapa orang siswi memanggilnya untuk mendekat, banyak bertanya kepada Emilia, cukup mengalihkan rasa tidak nyaman akibat Edgardo yang masih memperhatikan.

Usai melewati tantangan hari pertama di sekolah dengan status berbeda, Emilia keluar dari kelas kimia 1. Bergegas berpindah gedung, sebab jadwal mengajarnya terbilang padat sebagai guru junior. Banyak juga murid mengulang kelas karena selalu bolos masuk di kelasnya.

Lantunan indah piano bernada Symphony No. 40 pertanda waktu istirahat pertama bagi seluruh siwa dan guru.  Edgardo yang selalu terbayang wajah Emilia pun mencari ke ruang guru, hanya untuk memastikan keadaan, tidak lebih.

Edgardo menelan kecewa lantaran Emilia tidak ada dalam ruangan, ia terpaksa memutar arah, berjalan melewati lorong.

Tepat kakinya melewati pintu, Ed melihat Emilia berbincang-bincang bersama pria, yang tidak lain guru kesenian.

Edgardo mengamati Emilia yang berulang kali mengusap tengkuk, kemudian menutup mulut, merapatkan bibir. Semula Ed tidak mau ikut campur, namun semakin di perhatikan, wajah cantik itu pucat pasi. “Pasti dia mau muntah. Sialan pria itu mengganggu.”

“Bu Emilia, ikut aku sekarang juga!” terpaksa Ed mendekati Emilia, menarik paksa tangannya menuju toilet, tidak mengindahkan teriakan guru keseniannya yang melarang bersikap kasar kepada guru.

Membuka pintu toilet, benar saja. Emilia langsung memuntahkan isi perut. Berulang kali hingga suaranya melemah.

Edgardo pergi menuju kitchen, memerintah petugas dapur mengantar minuman hangat untuk Emilia dan memastikan guru tersebut meminumnya.

Sedangkan Ed tidak kembali ke toilet, memilih pergi sebelum perhatiannya ini mengundang keingintahuan orang lain.

“Bu Emilia, baik-baik saja? Mau saya antar ke klinik sekolah? Wajah Bu Guru pucat.” Seorang petugas wanita memapah Emilia, duduk di kursi kayu panjang yang terdapat di depan toilet.

“Tidak perlu, terima kasih atas bantuannya.” Emilia meraih tissue dan menghapus jejak muntah di bibir. “I-ini apa? Untukku?” menunjuk secangkir minuman yang mengeluarkan asap tipis.

“Ya, Bu Guru. Tuan Ed bilang, Bu Emilia meminta tolong padanya untuk membuat The Chamomile, diantar ke toilet.” Jawab wanita setengah baya ini.

“Terima kasih, iya benar. Maaf mengganggu.” Emilia meneguk minuman beraroma menenangkan itu.

Emilia menolehkan kepala mencari keberadaan suami kecilnya, tapi lorong ini sepi tidak ada orang lain lagi. Hati Emilia menghangat sekaligus dihantam batu besar. Semua perhatian Edgardo menambah rasa bersalah kian menggunung.

“Maaf Ed, aku merepotkan. Hutangku semakin banyak.” Lirihnya dalam hati, selain tumpangan tempat tinggal gratis, makanan sehat serta kartu ATM berisi uang yang jumlahnya pasti tidak sedikit. Kini Edgardo memberi perhatian, layaknya suami kepada istri.

Emilia berharap Ed bersikap dingin dan ketus bukan seperti ini, takut sewaktu-waktu hatinya goyah dan memiliki segenap rasa tak wajar.

Ia tidak mau sakit lagi karena lelaki, sudah cukup Alvarez dan Mirano yang menyiksa fisik serta batinnya.

“Baik, anggap saja semua ini karena dia menghormatimu sebagai guru dan wanita yang lebih tua darinya.” Gumam Emilia, membangun benteng diri sendiri, berusaha tidak menyimpan harapan lebih.

TBC

***

Jempolnya ditunggu kaka + komen ya biar makin semangat 😉

 

 

 

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!