Usia kandungan Emilia menginjak dua bulan. Gejala hamil semakin meresahkan dan mengganggu. Mual, kesulitan menelan makanan, tidak bisa mencium aroma tertentu, malas merawat diri.
Belakangan pun Emilia selalu bangun lebih siang, tubuhnya sangat manja, ingin berbaring di atas ranjang serta terbalut selimut. Sebagai seorang istri, Emilia bahagia memiliki suami perhatian seperti Edgardo.
Remaja itu setiap hari bangun lebih, awal, bahkan membuat buku menu, makanan apa saja yang Emilia sukai dan tidak. Sehingga Ed tidak percuma memasak sarapan atau makan malam. Tidak jarang membantu Emilia yang kepayahan mual dan muntah pagi hari.
Sama seperti di sekolah, setiap menginjakkan kaki di lobi utama, Emilia berlari menuju toilet. Aroma pengharum ruangan menusuk penciumannya.
“Hoek … hoek … sayang, Mama mohon. Kita harus kerja, tolong bantu Mama.” Emilia bicara satu arah dengan janinnya.
Menelan obat pereda mual pun percuma, hanya mampu bertahan selama beberapa jam saja.
Emilia tidak sadar, jika beberapa hari ini salah seorang rekannya, menaruh rasa curiga. Orang ini pun mendengar dengan seksama suara muntah Emilia dalam bilik.
“Pasti dia hamil. Bisa-bisanya hamil, padahal masih guru junior.” Desisnya, memiliki rencana terselubung untuk menyingkirkan Emilia. Lantaran cukup banyak prestasi dan pujian yang diterima Emilia sebagai guru baru.
Berhasil mengeluarkan isi perut hingga kosong, tidak ada lagi dorongan kuat dari lambung. Emilia bergegas menuju gedung A, jadwalnya mengajar di kelas Kimia 2.
Berjalan percaya diri melewati lorong utama, ruang guru, dan belasan anak tangga.
Emilia tersenyum kepada salah satu siswa kebanggaan sekolah, tetapi tidak mendapat balasan serupa. Melainkan tatapan mencemooh dan raut wajah menjijikan.
Tidak mengambil pusing, Emilia terus melangkah mantap, semua mata memandangnya, melayangkan tanda permusuhan. “Kenapa mereka semua?” tanyanya dalam hati.
Memasuki ruang kelas, dirinya mematung, hanya dua siswa yang duduk manis menanti pembelajaran dimulai.
“Selamat pagi?”
‘Ya pagi’
‘Semalam berapa ronde Bu? Kelihatan pucat, kelelahan ya Bu.’
Dua orang siswa ini membalas tawa satu sama lain, mendekati Emilia, lalu bersedekap dada, mengamati hina wanita itu.
“Dimohon menjaga sikap.” Tegas Emilia, membuka laptop, masih berpikir bahwa muridnya yang lain dalam perjalanan.
‘Jangan belajar Bu. Kita main bertiga.’
‘Hahaha’
Merasa ada yang janggal, Emilia segera memeriksa website sekolah melalui laptop.
Napasnya tercekat mendapati pemberitaan bahwa dirinya hamil tanpa suami atau pasangan yang jelas. Gosip itu beredar luas, sangat cepat, jajaran guru beserta murid mengetahui semuanya.
Keterkejutan Emilia belum berakhir, karena segerombolan murid, terutama para siswa berjalan memasuki ruang kelas. Membawa poster berisikan gambar dilengkapi tulisan penghinaan ditujukan kepada Emilia.
‘Pecat guru yang tidak bisa memberikan contoh baik.’
‘Guru murahan.’
‘Ijazah palsu, hasil suap.’
‘Simpanan’
'Wanita bayaran'
Begitu sakit dan ngilu hatinya mendapati semua siswi bahkan beberapa orang siswa berusaha menarik Emilia keluar kelas.
‘Semua yang keluar dari bibirnya dusta.’
‘Wanita itu tidak layak menjadi pengajar di sekolah ini.’
Emilia kebingungan, tidak bisa keluar dari kerumunan siswa, siswi serta rekan sesama guru, dan wali murid.
Matanya berkaca-kaca, melirik ke sana kemari meminta pertolongan, satu nama yang Emilia ingat, Edgardo Rafael Torres.
Di studio musik
Ed beserta kedua rekannya sedang mempersiapkan lagu pentas seni. Di ruangan ini kedap suara, ditambah hentakkan musik menggema.
Edgardo lebih serius dan semangat, dia akan mempersembahkan lagu ini untuk istrinya, Emilia. Di pentas seni nanti, Ed berencana memberikan Emilia tiket ekslusif, supaya bisa melihat aksinya lebih dekat.
“Ed, Ed, Edgardo. Idola kita semua dalam masalah, Bu Emilia dikepung di kelas, hamil tanpa suami, karena menjual diri.” Kebetulan Bastian sedang mengunggah video ke akun sosial media.
“APA?” Edgardo terperanjat, melepas stik drum, berlari dengan kecepatan penuh menuju pusat keramaiannya.
Dia mengeram marah, kenapa berita seputar kehamilan istrinya bisa beredar luas, Ed yakin bahwa ini semua ulah Mirano atau Alvarez.
Jarak studio musik ke gedung A memakan waktu, tidak ada jalan pintas selain melewati beberapa gedung serta area fasilitas lainnya.
Sedangkan di dalam kelas Kimia 2, Emilia menerima caci maki dari wali murid. Bahkan sebuah ancaman terlontar, semua orangtua siswa akan memindahkan sekolah anak-anaknya, serta menuntut ganti rugi biaya pendidikan.
Yayasan Torres Inc, dinilai gagal menjalankan visi dan misi. Keributan ini pun sampai ke telinga ketua yayasan.
**
Nyonya Torres selaku Ketua Yayasan tiba di sekolah setelah menerima kabar menegangkan dari kepala sekolah serta staf guru.
Saat ini, dalam ruang khusus konseling, Nyonya Torres, Kepala Sekolah, beberapa orang guru serta wali murid berkumpul.
Bukannya diskusi dengan kepala tenang, oknum yang tidak menyukai Emilia malah memprovokasi Ketua Yayasan.
Akhirnya Nyonya Torres mengeluarkan semua staf pengajar serta wali murid, kecuali kepala sekolah, dan guru konseling. Tujuannya memudahkan bicara dari hati ke hati.
“Bu Emilia, apa benar Anda sedang hamil? Katakana saja, jangan takut.” Nyonya Pamela Torres meraih kedua tangan Emilia, menggenggam erat.
“I-iya.” Jawab Emilia menitikkan air mata, hancur sudah karirnya yang dirintis dari nol.
“Boleh saya tahu, di mana ayah bayi? Kalau dia tidak mau tanggung jawab, kami bisa membantu.” Tutur Pamela.
“Kalau semua tuduhan terhadap Bu Emilia terbukti, maka berat hati, kami harus mengembalikan Anda.” Pamela menghapus bulir bening yang berjatuhan dari sudut mata Emilia.
“Saya, saya sudah menikah Nyonya.” Terpaksa Emilia memanfaatkan statusnya saat ini.
“Kalau begitu mana akta pernikahannya? Harus ada bukti tertulis. Kami perlu menunjukkannya ke seluruh wali murid.” Imbuh Kepala Sekolah berapi-api karena Ketua Yayasan cenderung lemah dan lamban.
Mendengar kata bukti, sungguh tidak pernah terpikir sebelumnya. Emilia yakin, Edgardo menyimpan akta pernikahannya.
“Su-suami saya bekerja diluar kota. Saya memerlukan waktu, karena semuanya suami yang pegang.” Jawab Emilia menelan ludah berulang kali, berusaha tetap tenang.
Jika semua orang tahu, Emilia adalah istri dari Edgardo Torres. Bisa dipastikan dirinya menerima penghinaan lebih dari saat ini.
Ketua Yayasan, Kepala Sekolah dan Guru Konseling memberi Emilia waktu hingga siang hari. Desakan wali murid sangat luar biasa, tidak mungkin ditunda esok hari atau minggu depan.
Di sela kebingungannya Emilia mendapat pesan dari Edgardo.
“Temui aku di lorong gymnastic, sekarang.”
Emilia pamit sebentar, beralasan ke toilet karena perutnya mual. Padahal ia menemui suaminya.
Setibanya di gedung salah satu fasilitas sekolah, Emilia memeluk Edgardo, menangis sesenggukan. “Ed maaf, aku …”
“Ini, pasti Mommy dan Kepala Sekolah menunggu ini, berikan ke mereka. Selain itu, ini cincin pernikahan kita. Maaf terlambat.” Melingkarkan cincin sederhana ke jari manis Emilia.
Edgardo tidak bisa memberi cincin berlian mahal karena uang sakunya terpangkas 50%. Ia juga menyerahkan akta pernikahan, hasil rekayasa Bastian.
“Maafkan aku gagal melindungi mu. Tadi aku lihat kamu dibawa ke ruang konseling. Sekarang mereka pasti percaya. Tunjukkan bukti ini.” Ed mengecup kening Emilia, mendalam dan penuh perasaan.
“Terima kasih Ed. Aku terlalu banyak berhutang budi.” Cicit Emilia kehabisan kata-kata.
Setelah memiliki bukti kuat, Emilia pun kembali memasuki ruang konseling. Memberanikan diri menunjukkan akta pernikahan.
“Maafkan aku karena berbohong.” Lirihnya dalam hati.
Pihak sekolah terutama Nyonya Torres mempercayai Emilia, bukti ini pun membungkam kejamnya mulut sesama staf pengajar, wali murid, siswa dan siswi.
Emilia bernapas lega karena usaha suaminya berhasil. Ia keluar dari ruang konseling.
“Terima kasih Ed.” Ucapnya tanpa suara seraya tersenyum samar, melihat suaminya di bawah sana.
TBC
***
Jangan lupa tinggalkan jejak kaka 😉
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
Istri Bei Ming Ye
kaum pembuli
2023-06-23
1