Masih tetap mencari keberadaan Emilia, keluar masuk restoran, mall dan beberapa tempat umum. Edgardo tidak menemukan titik cerah keberadaan istrinya. “Apa dia kabur?”
“Kalau seperti ini rasanya ingin cepat dewasa, memiliki segalanya, tidak ada rahasia lagi, aku bisa memerintah banyak pengawal menjaga Emilia, melindunginya dan mudah mencari ke manapun dia pergi.” Geram Edgardo, menyetir mobil sembari melirik ke sana kemari.
Kejadian ini menjadi pelajaran baginya, Ed tidak akan pernah meninggalkan Emilia sendirian di tempat umum. Sekalipun lokasinya aman karena ia tahu seperti apa kekuasaan Tuan Mirano.
Lelaki itu bisa melebur menjadi satu dengan situasi dan kondisi, saat ini Ed tidak mampu melawannya, dari segi fisik mungkin bisa melayangkan tinju saja.
Namun tak semudah bayangannya, untuk bertemu pria pemilik perjudian terbesar itu memerlukan strategi khusus. Ya Mirano tidak mau menjumpai orang yang tidak memiliki keuntungan baginya.
“Apa aku ini suami yang gagal?” tanya Ed pada dirinya sendiri.
Tak lama, beberapa notifikasi muncul pada layar ponsel. Edgardo menepikan mobil, lantas memeriksanya, betapa terkejutnya ia mendapati uang dari rekening ditarik tunai, jumlahnya pun sangat fantastis. “Emilia?” gumamnya.
“Apa yang kamu lakukan?” dalam pikirannya Ed meragukan, jika Emilia berencana kabur dengan uang tunai di tangan, lalu membawa ATM itu. Namun Ed menepis, karena istrinya sosok yang cerdas tidak mungkin melakukan tindak kejahatan.
Edgardo memiliki akses lebih terhadap rekeningnya, segera mencari tahu di mana keberadaan Emilia saat ini. Melalui aplikasi khusus perbankan, Ed melacak lokasi ATM.
Usai mengetahui titik pastinya, Ed melaju cepat,tidak memerhatikan batas kecepatan, tujuannya yang utama adalah menemukan sang istri.
Bahkan ia harus terlibat dan tersangkut masalah dengan beberapa petugas lalu lintas, aksi kejar-kejaran pun tak terhindarkan.
Ed menyalip beberapa kendaraan, lalu melewati jalan pintas di persimpangan jalan, mengecoh. Kepiawaiannya dalam mengemudi, patut diacungi jempol, Ed pun berhenti tepat di depan bangunan besar, memarkirkan mobil sewanya.
Segera melangkah masuk ke dalam gedung, napasnya memburu ketika melihat sosok yang dicari tengah menyandarkan punggung pada pilar besar di depan mesin ATM.
Ed dengan mudah mengenali Emilia, lantaran menggunakan pakaian yang dibeli khusus untuk Camilia.
Ed semakin mendekat, tepat seperti dugaan, wanita dewasa berambut panjang yang kini diikat ekor kuda, menundukkan kepala, seolah memerhatikan serat kain pada roknya.
Padahal Emilia tengah melamun, memikirkan tindakan setengah jam lalu yang dilakukannya, mencuri uang suami, begitulah kata hati Emilia.
“Aku mencari mu, ternyata kamu di sini, sedang apa?” tanya Ed mendaratkan bokong tepat di sisi Emilia.
Guru cantik pun terkesiap, mendapati suami kecilnya menyusul, mudah sekali menemukan keberadaannya. “Ed, kamu? Sejak kapan?”
“Lima menit yang lalu, ada apa? Kenapa pergi dari rumah sakit?” Ed merangkum bahu istrinya, menatap wajah Emilia yang terlihat lemas dan pucat.
“A-aku … ada hal penting yang harus diselesaikan. Maaf Ed.” Cicit Emilia, melenguh, segenap hatinya menyesal membohongi Edgardo. Dia yakin cepat atau lambat, suami kecilnya mengetahui penarikan uang itu.
“Oh, ayo pulang! Seorang wanita tidak baik sendirian di sini, cepat!” Ed mengulurkan tangan. Sementara Emilia mengamati telapak tangan lebar dan mulus itu.
“Ck, aku baru tahu, sifat asli kamu ternyata begini.” Imbuh Ed, meraih tangan istrinya, menautkan jemari mereka, melekat erat.
“T-tap Ed, jangan seperti ini. Lepas.” Emilia gugup tidak karuan. Percuma saja menghempas tangan suaminya, karena Edgardo enggan melepasnya.
“Kenapa? Aku ini suami kamu, wajar kan pegangan tangan.” Jawab Edgardo dengan tatapan mata datar, tetap tidak melenyapkan sejuta pesona.
Ed membuka pintu mobil untuk Emilia, memastikan wanita dewasa itu duduk nyaman, kemudian berlari kecil memutari kendaraan dan masuk ke dalam. Segera menyalakan mesin mobil, melaju ke penthouse miliknya.
Dalam perjalanan, Emilia mengamati wajah Edgardo yang terlihat menahan sesuatu, bibir Emilia gatal ingin bertanya, tetapi mengurungkan niatnya.
“Tidak jadi?” celetuk Ed tiba-tiba saja mengejutkan Emilia.
“Apa?” Emilia mengerutkan kening.
“Kalau begitu aku yang tanya. Untuk apa kamu menarik uang tunai sebanyak itu? Aku ingin tahu.” Ed masih fokus menggerakkan tangan pada kemudi. “Jangan mencoba berbohong, kamu tahu kan uang itu aku berikan untuk apa?”
GLEK
Emilia kebingungan merangkai kata, pada akhirnya Edgardo harus terlibat dalam pusara masalahnya. Berat hati Emilia mengatakan runtut kejadian secara jelas.
Tak hanya itu, demi keselamatan Edgardo, wanita ini memohon agar mereka menjaga jarak. Tidak bertemu di tempat umum, cukup berstatus sebagai guru dan murid, tidak lebih.
Emilia juga menolak Edgardo membantu masalahnya, ia akan membuktikan bisa menyelesaikan semua seorang diri.
“Ok, kalau itu mau kamu.” Jawab Ed lugas.
Entah mengapa mendengar suami kecilnya menyetujui semua permintaan, membuat hati Emilia tidak nyaman dan terluka.
**
Dua minggu berlalu
Edgardo tidak pernah lagi mengunjungi penthouse. Keduanya tidak saling bertukar kabar baik melalui telepon atau pesan singkat.
Selama itu juga Emilia tidak bisa tidur nyenyak, mendekati pagi barulah ia bisa mengistirahatkan tubuh lelahnya.
Karena hubungan komunikasi keduanya berakhir di lingkungan sekolah, secara tidak sadar Emilia merindukan kehadiran muridnya itu.
Sama seperti Edgardo, ketika di kelas tak sekalipun mengalihkan pandangannya dari Emilia yang sedang menerangkan materi di depan. Kalau saja bisa, ia ingin menyatakan pada semua, bahwa guru cantik yang mengajar dalam kelas ini adalah miliknya.
Namun Ed mengingat kata-kata terakhir Emilia, tidak mengizinkannya ikut campur pada kehidupan sang istri terlalu jauh.
Symphony No 40 mengalun indah pertanda istirahat bagi seluruh pelajar dan pengajar. Edgardo lebih dulu keluar, tak mengindahkan ajakan dua sahabatnya.
“Ed, hey tunggu. Mau ke mana lagi, kantin yuk cari cemilan. Aku lapar.” Panggil Steve.
“Kita tunggu di kantin Ed.” Seru Bastian, merangkul bahu Steve,menuju kantin yang menyediakan beragam makanan lezat dari mancanegara.
Edgardo cukup mengacungkan jempol ke udara, sebagai jawaban kepada dua sahabatnya.
Remaja ini mengamati interaksi Emilia dari jarak jauh bersama guru lain, membuat hatinya tidak suka dan geram tetapi sekuat tenaga menahan diri.
“Dia tidak canggung bicara dengan pria itu, kenapa denganku menjaga jarak? Padahal aku ini suaminya.”
“Hi Ed, kamu lagi apa? Aku boleh tanya sesuatu kan?” tiba-tiba seorang gadis cantik, teman satu kelas mendekat, Cecilia Marquez.
“Kamu bisa lihat sendiri aku lagi apa.” Tanggapan Ed benar-benar dingin.
Tak lama sekumpulan gadis, mengelilingi Edgardo, mencari kesempatan bicara dengannya. Hal ini tentu saja tidak luput dari pandangan Emilia, menatap tidak suka.
Cecilia Marquez menawarkan diri menjadi partner tugas kelompok kimia yang diberikan Emilia. Ed menerima dengan senang hati, karena ia, Bastian dan Steve memerlukan gadis genius ini.
Edgardo pun sengaja menyetujui Cecilia bergabung dalam kelompok, tujuannya hanya satu, melihat reaksi dari istrinya yang setia melihat ke arahnya di ujung sana.
**
Perjalanan pulang ke apartemen Emilia melamun di halte, ia telah melewatkan dua bus, sekarang harus menunggu sekitar 15 menit untuk bus berikutnya.
“Ada apa denganmu Emilia? Kenapa tidak suka melihat Ed berdekatan dengan Cecilia. Mereka itu sepadan.” Lirih Emilia, menghela napas.
Edgardo mendapat julukan pria tampan yang paling diinginkan di sekolah. Begitupun Cecilia, siswi paling cantik di sekolah, cerdas, ramah dan berasal dari keluarga terkaya nomor dua di Spanyol.
Emilia yang terkurung dengan pemikirannya sendiri, tidak menyadari jika mobil Van hitam berhenti di depannya. Satu orang pria bertubuh besar dan pakaian hitam, turun, membawa saputangan berisi cairan obat bius.
Ketika tangan lelaki itu berada di samping Emilia, sesegera mungkin ia menghindar. Berlari menjauh dari kejaran anak buah Mirano, tato katana di punggung tangan sangat jelas sebagai identitas dari orang-orang Tuan Mirano Jose.
“Seharusnya aku tidak melewatkan bus pertama.” Tangis Emilia sembari berlari, mulai kelelahan, tetapi tidak berhenti. Lantaran pria bertubuh besar masih mengikutinya.
“Aw … akh , aku mohon jangan. Tidak, jangan sekarang. Jangan menyerahkan diri.” Ucap Emilia tersendat, perutnya mendadak kram tidak tertahankan.
Terpaksa Emilia berhenti di pinggir jalan, memasuki gang kecil, kemudian melirik saluran pembuangan air yang masih dalam tahap penyelesaian.
Susah payah membuka menutup kayu, kemudian masuk ke dalamnya, berpegangan erat pada tangga besi. Sesekali menunduk, air kotor mengalir tepat beberapa senti di bawah sepantunya.
Satu tangan berusaha membuka tas, menelepon Edgardo berkali-kali, namun sayang tidak mendapat respon apapun.
TBC
***
dukungannya ditunggu ya kaka
terima kasih banyak 😉🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments