Setelah mendapat penanganan medis, serta kandungannya membaik tidak lagi kram, pagi ini Emilia diizinkan pulang oleh dokter.
Ia menyerahkan kartu asuransi kesehatan, bagian administrasi pun menerima, untuk mengklaim perawatan yang diterima pasien.
Sembari menunggu petugas selesai, Emilia menajamkan kedua mata, mencari dia yang dirasakan hadir secara nyata bukan mimpi. Harum parfum Edgardo pun tertinggal pada bantal.
“Permisi, apa semalam saya ke sini diantar seorang pria? Umm … remaja laki-laki usianya sekitar 18 tahun? Karena sejak pagi tadi tidak melihatnya.” Tanya Emilia.
‘Maaf Nona, kami hanya bertugas menangani administrasi pasien.’
Emilia tersenyum ramah, menerima kartu jaminan asuransi kesehatannya sebagai guru. Ia segera keluar dari rumah sakit, sembari mengusap perut.
Emilia mulai bisa menerima kehadiran janin itu, ia sadar bahwa hanya anaknya lah yang di milik saat ini, tidak ada orang lain.
“Ya benar, pasti itu hanya mimpi. Bukan kenyataan, mungkin Ed sedang sibuk bersama keluarga atau pacarnya.” Batin Emilia menepis kejadian semalam, kenyamanan yang pertama kali dirasakannya sebatas mimpi belaka.
Wanita ini terdiam menunggu taksi melewati depan rumah sakit. Namun seorang petugas keamanan tersenyum ramah, menyambutnya, satu unit mobil berlogo perusahaan transportasi umum berhenti di depannya.
Pintu terbuka, ‘Silakan Nyonya, taksi ini memang untuk Anda.’
Mengangguk paham dan memasuki angkutan, tidak banyak bertanya mengenai siapa yang memesan taksi. Tetap berpikir positif adalah kunci utama, “Mungkin pihak rumah sakit yang menghubungi taksi karena tahu ada pasien keluar.”
Emilia menunjukkan alamat penthouse suami kecilnya, ia menyandarkan kepala melihat ke luar kaca, gedung tinggi pencakar langit belum sepenuhnya disinari matahari.
Di sisi lain, mobil sport Edgardo mengekor di belakang taksi. Remaja inilah yang menyiapkan transportasi untuk sang istri pulang ke penthouse.
Memastikan bahwa Emilia selalu aman dan terlindungi. Maka Ed berupaya melakukan yang terbaik.
Bahkan semalaman Edgardo tidak tidur, demi menjaga Emilia yang tetap terbaring lemah di atas ranjang pasien. Ed menggenggam tangan istrinya, membelai rambut panjang nan lembut milik Emilia yang biasa ditatapnya.
Sebagai remaja yang mengalami perubahan hormon menuju dewasa, Ed cukup berpikir bahwa tugas seorang suami tidak bisa diabaikan.
Ia pun sangat yakin bahwa bentuk perhatiannya terhadap Emilia hanyalah salah satu rasa empati, tidak lebih.
Anggap saja Ed melakukan semua kebaikan, demi mantan kekasihnya. Ia berharap pria yang kelak menikahi Camila, memperlakukannya dengan lembut serta penuh perhatian seperti dirinya saat ini.
Tiba di bangunan tinggi, salah satu gedung termewah yang berdiri di pusat Kota Madrid, Ed menahan diri, menjaga jarak. Tetap mengamati Emilia, hingga menghilang di balik pintu kaca, dibantu petugas memasuki lift.
Sementara Edgardo memarkirkan kendaraannya di basemen, sekitar 15 menit barulah melangkahkan kaki ke unit apartemen miliknya.
Memindai iris sebagai kunci masuk, Ed meregangkan otot akibat pegal duduk lebih dari lima jam tanpa tidur. Dirinya beruntung masih memiliki waktu satu jam sebelum berangkat sekolah.
Semakin melangkah masuk apartemen, Ed mendengar suara denting benda di dapur, karena tangga menuju lantai dua tepat berada di samping dapur. Tidak sengaja Ed melihat pemandangan menyegarkan sekaligus mendebarkan.
DEG
DEG
DEG
Detak jantung bertambah cepat. Nalurinya sebagai lelaki memaksa diri mendekat.
Ia merasa memiliki ketertarikan pada istrinya. Sangat menggebu, penuh ledakan, adrenalin pun terpompa, hingga akal sehat lenyap tak bersisa.
Dirinya lelaki normal, melihat penampilan Emilia saat ini, sungguh menggoda. Wanita dewasa itu hanya terbungkus kain handuk putih, menutupi sebagian punggung sampai sebatas paha, ditambah rambut panjangnya yang masih basah.
Sontak, Emilia yang baru saja selesai mencuci buah menjatuhkan semua dari tangannya.
Ia tidak pernah menyangka dihadapkan pada situasi mendebarkan seperti ini. Suami kecilnya menatap tanpa berkedip, Ed menyandarkan diri pada meja makan.
“Ed … aku pikir, kamu di mansion. Permisi.” Gugup Emilia, menundukkan pandangan, kemudian mengeratkan handuk agar tidak terlepas.
Namun, upaya meloloskan diri tidak berhasil. Edgardo Torres meraih pinggang sang istri, kedua tangan mendarat sempurna di pinggul Emilia.
Akibat dopamine yang terus bertambah, Ed memberanikan diri memberi kecupan pagi di bibir merah muda menggoda Emilia.
“Ed?” Emilia tercekat, tubuhnya gemetaran. Tidak tahu lagi harus berbuat apa. Dalam hati berharap, jika Ed tidak mengerti dan tak akan menginginkan haknya.
“Sebaiknya kamu pakai baju, sebelum aku melakukan lebih dari ini.” Bisik Edgardo, menghembuskan napas di telinga Emilia, hingga pemiliknya bergidik geli.
Emilia bisa bernapas lega setelah Ed melepasnya, berjalan cepat membuka pintu kamar, lalu menguncinya.
Ia mematung sembari menatap diri pada cermin, menyentuh area bibir, “Apa yang dia lakukan? Seharusnya aku menolak.” Kata Emilia.
**
Pasca kejadian yang membuat Emilia harus mendapat perawatan di rumah sakit. Ed memutuskan tinggal di penthouse.
Tidak mudah mendapat izin dari Tuan dan Nyonya Torres, berkat bantuan penjelasan Steve serta Bastian kedua orangtua setuju. Apalagi alasan Ed ingin fokus belajar, sebelum ujian kelulusan beberapa bulan mendatang.
Edgardo menaruh simpati terhadap istri dadakannya, mencegah lebih baik daripada mencari. Ia tidak ingin kejadian tempo hari terulang. Emilia hampir kehilangan bayinya karena berlari dari anak buah Mirano Jose.
Tidak hanya itu, Edgardo pun menunjukkan kecemburuan, terlebih di sekolah fans Emilia secara terang-terangan mendekati.
Para guru pria berlomba memenangkan hati istrinya, ditambah siswa junior hingga senior memuja Emilia.
Peraturan baru kini dijalani sepasang suami istri beda usia itu, karena Ed memaksa Emilia untuk berangkat dan pulang bersama ke sekolah.
Semula Emilia menolak tetapi Ed memaksa dan memberi solusi terbaik, menurunkannya di halte kemudian sepulang sekolah bertemu di depan La Baguette.
Memberi peringatan kepada Emilia bahwa Alvarez dan anak buah Mirano masih berkeliaran bebas di luar sana, karena keselamatan Emilia hal utama bagi Ed.
Akhirnya kedua belah pihak sepakat, dengan tetap menjaga jarak di sekolah.
“Aku bisa sendiri Ed, jangan lupa siang nanti field trip. Kamu jangan menghilang lagi, ini salah satu penilaian syarat kelulusan.” Emilia menolak suami kecilnya membuka sabuk pengaman. Mengacungkan satu jari, mengingatkan Edgardo, bahwa hari ini siswa tingkah akhir mengunjungi pusat riset.
“Hu’um aku tahu. Kamu jangan bawel, jangan lupa minum vitamin. Cemilan dan air hangatnya sudah aku siapkan di tas kamu.” Ucap Ed tanpa canggung, bahkan mencekal pergelangan tangan Emilia.
“Jangan keluar dulu, tidak lupa kan kalau aku itu suami kamu?” Edgardo mengerlingkan sebelah mata.
GLEK
Emilia mengerti maksud suami kecilnya, setiap pagi pasti Ed meminta imbalan atas jasa-jasanya selama ini.
“Ya sebentar.” Emilia menoleh, hendak mencium pipi Ed, karena remaja ini menunjuk pipi.
Ketika mulut Emilia mendekat, berjarak kurang dari lima sentimeter. Remaja itu memutar wajah, hingga bibir mereka saling bertemu satu sama lain.
“Morning kiss.” Ucap Edgardo semangat, usai melepaskan bibir yang menempel.
TBC
***
dukungannya untuk author receh jangan lupa ya kaka 😉🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments