Pagi hari, Emilia terkejut karena Ed tidur di sampingnya, satu tangan berada tepat di atas perut. Memeluk tubuh kurus guru cantik itu. “Ed?” gumam Emilia, getaran dari hati menjalar ke seluruh tubuh.
Emilia menoleh, lalu mengatur irama jantung. Susah payah menelan saliva yang tersangkut pada pangkal kerongkongan. Cukup lama memandangi wajah remaja tampan nan baik hati yang tertidur pulas.
Tangannya merapikan rambut Ed yang berantakan, memainkan jari telunjuk di kening suaminya, turun ke hidung, dan bibir.
Bukan perasaan senang yang menggelora layaknya insan jatuh cinta. Tetapi rasa pedih, karena Emilia melihat, di balik punggung kekar jajaran foto wanita cantik tersenyum manis.
“Terima kasih Ed. Kamu tidak seburuk yang aku pikir, kamu berbeda.” Lirih Emilia dalam hati.
Seandainya saja memiliki mesin waktu, ia ingin mengulang masa lalu, bila perlu terlahir kembali. Bukan menjadi Emilia yang sekarang, penuh masalah berliku. Boleh kah Emilia egois, berharap sosok itu tak pernah datang pada kehidupan Edgardo?
Seketika tangan Emilia berhenti membelai pipi suami kecilnya. Sebab otot-otot perut mendorong makanan di lambung ke esofagus. Kerongkongan Emilia seperti terbakar.
Guru cantik ini pun segera menyibak selimut, karena gejolak di perut memaksanya berlari ke kamar mandi memuntahkan cairan kuning.
“Hoeek … Hoeek.”
Bagian paling menyebalkan pada fase awal kehamilan, melewati masa trisemester satu memang tidak mudah.
Beruntungnya Ed sigap membantu, mendengar suara yang tidak asing memaksanya bangkit dari kasur.
“Emilia? Ok, keluarkan saja semua.” Ed membasuh wajah lebih dulu, kemudian memijat tengkuk, menepuk punggung, memegangi rambut panjang Emilia yang jatuh ke samping.
“Seharusnya kamu membangunkan aku. Jangan sungkan, kita kan suami istri.” Tukas Ed, memberikan segelas air untuk membasuh mulut. “Ini, kumur-kumur. Aku bantu.”
Lagi-lagi Emilia pasrah berada dalam gendongan suaminya, memeluk erat leher Edgardo. Menatap wajahnya dari samping.
“Jangan dilihat terus, nanti kamu jatuh cinta sama aku.” Gurau Edgardo terkekeh pelan, mencairkan suasana pagi. Entahlah, bersama Emilia membuat Ed mudah becanda, tidak kaku dalam menjalani hidup.
“Hah? Jangan mimpi kamu.” Sanggah Emilia mencebikan bibir.
“Kenapa? Aku kan suami kamu, seharusnya bukan masalah kalau suami istri jatuh cinta. Iya kan?” Ed selalu saja menggunakan statusnya, menegaskan hubungan mereka.
“Kamu di sini saja, aku yang masak. Jangan memaksakan diri kalau badan kamu lemas, nanti aku bantu formulir surat izin.” Tukas Ed menyarankan agar Emilia tidak mengajar dan istirahat selama satu hari di apartemen.
“Nanti sepulang sekolah kita ke rumah sakit. Bukan masalah ya sendirian di sini?” Ed mengacungkan kelingking sebagai simbol janjinya mengantar istri ke dokter.
“Ayo! Kenapa kamu diam?” meraih kelingking Emilia, menautkan dengan miliknya. Kedua sudut bibir Ed tertarik karena melihat senyum manis malu-malu sang istri.
“Iya, terima kasih atas bantuannya.” Ucap Emilia patuh, sebab dirinya tidak sanggup harus menyampaikan materi pembelajaran di beberapa kelas. Perutnya tidak bisa bekerja sama.
“Kamu harus ikut kelas bahasa, kosakata kamu sedikit sekali.” Ed berdiri, mengacak rambut istinya yang sudah berantakan, lalu keluar kamar.
Sedangkan di kamar Emilia, berat hati memohon ijin kepada kepala sekolah, beruntungnya mengerti kondisi Emilia yang tengah berbadan dua.
“Mungkin masalah kemarin memiliki sisi positif. Keberadaan kamu diketahui semua orang. Tapi identitas Ed harus disembunyikan.” Gumam Emilia memerhatikan pintu tetapi telapak tangannya mengelus perut.
**
Di sekolah
Edgardo tidak serius bahkan mengantuk mendengarkan guru pengganti Emilia. Cenderung bermalas-malasan. “Padahal kamu ada di penthouse, tapi aku rindu.” Gumam Edgardo.
“Hah? Apa? Rindu siapa? Mantan? Jangan melamun, nanti kena tegur.” Bastian memperingatkan Edgardo yang tampak lesu mengikuti kelas.
“Aku juga lemas, mungkin bukan Bu Emilia yang mengajar. Menurut info, Bu Emilia sakit, mual dan muntah.” Balas Steve meregangkan otot jari yang begitu kaku.
“Iya sakit. Sebaiknya kalian berdoa. Kalau Bu Emilia masih sakit, tidak bisa masuk ke kelas kita.” Ed sengaja menjahili kedua rekannya.
“Heh jangan. Sebentar lagi kita lulus, belum tentu ada dosen secantik dan seksi seperti Bu Emilia. Kalau setelah lulus aku menyampaikan perasaan, apa Bu Emilia menerima?” Steve meminta pendapat.
Namun Steve meralat kata-katanya, melihat ekspresi wajah Edgardo berubah menyeramkan. “Maaf Ed. Bercanda.”
Edgardo cemburu, membenci teman dekatnya karena berani memiliki perasaan lebih terhadap istrinya.
Ia pun izin keluar kelas, hingga waktu istirahat. Di susul oleh Bastian dan Steve, materi Kimia hari ini semuanya mental, tidak ada yang bisa dipahami satupun.
Ketiganya menghabiskan waktunya di bangunan belakang sekolah, memasuki studio musik. Masing-masing sibuk dengan kegiatannya. Ed bermain piano, melodi Fur Elise salah satu musik klasik favoritnya.
Mendadak Ed teringat sesuatu kemudian mulai merekam alunan dari tuts piano. Ia tersenyum beberapa kali sembari membayangkan wajah sang istri.
Satu temannya menaruh curiga, Bastian memicingkan mata, tidak biasanya Edgardo merekam suara.
Bastian mendekat, menyandar pada badan piano yang besar, sungguh penasaran ada hubungan apa diantara Ed dan Emilia, karena dia membantu Ed merekayasa akta pernikahan.
“Ed, kalian pacaran? Kamu dan Bu Emilia? Terus Bu Emilia hamil?” tembak Bastian tanpa basa basi.
Namun Ed diam seribu bahasa, menikmati lagu, menggunakan headset. Enggan menjawab lebih detil menyangkut hubungan istimewa yang dijalaninya. Hingga smartphone miliknya bergetar, sebuah pesan singkat mengganggu aktifitasnya.
Sontak Ed melepas headset, meninggalkan Bastian dan Steve dalam kebingungan di studio.
**
Di apartemen
“Kenapa selalu lapar lebih awal, apa semua ibu hamil selalu begini?” Emilia mendesah lesu, memandangi isi kulkas yang penuh bahan makanan.
Mengambil aneka sayur dan susu cair, serta kalkun fillet. Memilih menu sederhana dan mudah, tidak memakan waktu dalam proses pengolahan. Mulai marinasi daging kalkun dengan lada dan garam.
Di dapur ini banyak kejadian menyenangkan besama suami kecilnya. Emilia tidak akan melupakan itu, Edgardo yang pandai memasak, lahap menghabiskan makanan serta perbincangan serius keduanya.
Emilia tersenyum, bayang-bayang sikap manis suaminya mampu menerbangkan hingga langit ke tujuh.
“Apa aku tidak waras?” tanya Emilia tetapi ingatannya bertambah banyak. Takdir yang mempertemukan mereka, berawal dari sebuah masalah hingga keduanya disatukan secara paksa.
Tiba-tiba saja kegiatannya terhenti, Emilia yang sedang memasak makan siang terkejut mendapati tamu, seseorang yang tak pernah diduga memasuki penthouse.
“Itu?” napasnya tercekat. Mengamati penampilan seseorang yang tidak asing, cukup mudah dikenali.
Emilia meyakini bahwa penglihatannya masih sangat bagus. “Dia? Tapi … kenapa bisa?” kata-kata ini tidak sanggup keluar dari bibir Emilia.
Seseorang itu tertangkap basah tengah mengedarkan pandangan, mengagumi interior. “Sangat bagus, rapi dan harum, masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah. Dasar Edgardo.”
“Hi … kamu siapa?” tanya orang itu, membuat Emilia kebingungan memberikan jawaban.
TBC
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments