BAB 18 Dia

Tamu yang datang, seseorang dari masa lalu, dia yang masih memiliki tahta tertinggi di hati suaminya. Wanita itu, kekasih Edgardo kembali, artinya Emilia harus bersiap angkat kaki dan melupakan Ed selamanya.

Gadis cantik, warna bola mata biru safir, rambut pirang, tubuhnya tinggi semampai persis model terkenal. Jika dibandingkan dengan dirinya, sangat jauh berbeda, sosok itu teramat sempurna.

Selama dua bulan menikah sukses membuat Emilia kesulitan tidur. Camilia Johnson tiba-tiba memasuki apartemen. Otak Emilia tidak percaya, bagaimana mungkin orang asing bisa memasuki penthouse dengan keamanan super canggih.

“Kamu kenapa diam? Maaf aku datang mendadak.” Sungguh suara merdu mendayu yang menenangkan jiwa, serta menggoda. Sebagai wanita pun Emilia langsung terpikat akan paras elok kekasih suaminya.

Camilia tersenyum hangat melihat Emilia yang mematung di dapur, “Aku baru melihat kamu di sini. Kalau begitu perkenalkan, aku Camilia Johnson, baru kali ini Ed memperkerjakan seseorang di apartemen.” Menyangka bahwa Emilia salah satu asisten rumah tangga.

“Apa? Dia pikir aku asisten rumah tangga?” lirih Emilia dalam hati sedikit kesal, karena seharusnya bibir yang kini menutup rapat mengatakan statusnya sebagai istri sah dari Edgardo Rafael Torres.

“Aku haus. Cuaca di luar cukup panas, aku juga ke sini naik bus, mengenang masa lalu.” Camilia melangkah dengan percaya diri, membuka dan mengambil minuman dari dalam kulkas.

“Wah? Luar biasa.” Mata biru Camilia berbinar.

“Apa belakangan ini Ed sering pulang ke sini? Atau dia tidur di apartemen? Dia tidak pernah mengisi kulkas dengan beragam bahan.”

“Biasanya kami hanya membeli sedikit stok makanan, lebih sering makan di luar.” Berkomentar isi kulkas, beragam sayuran, buah-buahan, sumber protein hewani serta nabati membuatnya penasaran.

Tangan Camilia pun berani membuka lemari persediaan bahan kering yang penuh bahan makanan. Lagi-lagi dibuat kagum, sekaligus merasa aneh karena stok sebanyak ini tidak mungkin dihabiskan seorang diri.

“Apa dia berubah, lebih senang makan? Seperti apa tubuhnya sekarang?”

“Aku rindu makan berdua dengannya di sini, di meja ini. Ed sangat menyukai steak, apa selama ini dia selalu memintanya? Tingkat kematangannya medium rare.”

Bibir Camilia lancar berbagi kenangan indah bersama Ed. Mengundang rasa panas dalam diri Emilia, tidak sanggup mendengarnya.

“Dia juga menyukai churros, katanya apapun yang aku masak pasti enak. Ed sering memeluk dari belakang, tapi sayang kejadian itu sudah cukup lama.” Camilia tersenyum sembari memejamkan kedua mata.

“Kamu diam saja, aku seperti bicara sendirian. Baiklah bukan masalah, pasti Ed melarang bicara dengan siapapun, iya kan?” Camilia kembali membuka kulkas, dirinya tergoda untuk menyantap anggur hijau segar.

Gadis ini pun duduk manis, menatap penampilan Emilia yang sangat rapi, tidak biasa. “Sebenarnya siapa dia? Perempuan ini bukan tipe Ed.”

“Dia juga tidak terlihat seperti asisten rumah tangga, atau mungkin kekasihnya yang baru? Aku yakn usianya lebih dewasa.” Batin Camilia mencoba mencerna keadaan yang ada.

“Apa kamu lapar? Aku mau masak, kalkun panggang.” Akhirnya Emilia mengeluarkan suara yang sejak tadi tertahan.

“Ah boleh, tentu saja, dengan saus krim keju kesukaan ku.” Camilia menatap satu botol susu. Lagi-lagi hatinya berbunga karena sang mantan kekasih masih ingat menu kesukaannya.

“Oh ..” Bibir Emilia mencoba mengulas senyum walau berat. Namun dalam hati teriris, kalkun panggang saus creamy yang pernah Ed masak adalah makanan favorit Camilia.

Sudah terbukti siapa pemilik hati lelaki itu, tidak perlu dipertanyakan lagi atau meminta membuang masa lalu. Suami kecilnya sangat mencintai Camilia.

“Sikap baiknya selama ini hanya menghormati ku saja sebagai guru, tidak lebih, jangan berharap Emilia.” Diawali pagi hari yang indah tetapi diakhiri hantaman batu besar pada dirinya.

Emilia tersenyum getir, menahan bulir bening yang sewaktu-waktu siap membanjiri wajah. “Di dunia ini tidak ada kisah Cinderella yang mendapat bantuan dari Pangeran. Hanya dongeng Emilia, dongeng anak-anak pengantar tidur.”

Ia juga kebingungan, dirinya sangat rentan terbawa suasana, pengaruh hormon kehamilan memang luar biasa.

“Kamu tahu maksud kedatanganku ke sini untuk apa?” tanya Camila masih menikmati buah anggur.

Camilia mulai mengutarakan niatnya mendekati Edgardo dengan tujuan ingin meminta maaf atas kesalahan di masa lalu. “Aku ingin kembali bersamanya, ya setidaknya seperti dulu bisa menghabiskan waktu berdua.”

“Semua ini karena kesalahanku. Aku menduakannya, aku lebih memilih pria lain dibanding Ed. Aku sadar tidak ada lelaki sebaik Edgardo. Kalau dia menikahi wanita lain, rasanya tidak rela, aku pasti sakit hati.” Ungkap Camilia.

Sementara Emilia suka atau tidak, mendengar semua kata-kata tajam bagai pisau yang menghujam pada jantung. Tepat sasaran mengenai lawan, menyerah tiada kesempatan bernapas.

“Seharusnya aku … aku tidak pernah melakukan itu.” Kini suara Camilia terdengar berat.

“Tuan Torres mendatangiku, saat itu juga memaksa untuk meninggalkan Ed. Tidak hanya Tuan Torres, tetapi Nyonya Torres juga, aku pikir bisa memenangkan hati wanita lembut itu.” Camilia terisak mengenang masa lalunya.

Semua dilakukan terpaksa karena desakan orangtua Edgardo. “Aku yang kehilangan akal, tidak yakin bisa menjalani kehidupan bahagia bersama Ed, terhalang restu.” Camilia berharap Ed bisa memaafkan apa yang terjadi di masa lalu.

“Aku ingin mengulang sedikit kenangan indah bersama Ed.” Camilia menyusut air mata. Tentu saja rencana itu sangat tidak disukai Emilia.

“Aku … aku ini istrinya, aku … aku tidak mau berbagi suami, meskipun hatinya masih mencintai Camilia tetapi aku …” Kata Emilia, terbata walaupun hanya dalam hati.

**

Edgardo tiba di rumah lebih cepat dari jadwal pulang sekolah, ia izin pada kesiswaan mengatakan bahwa dirinya diminta pulang oleh Nyonya Torres.

Menyaksikan interaksi dua wanita cantik di dapur, seketika dadanya perih, kerongkongannya kering, tidak bisa mengucapkan apapun.

Istri yang membutuhkan perlindungan dan mantan kekasih yang masih dicintainya.

Ed hanya bisa melangkah dalam diam, “Kenapa dia datang lagi? Apa belum puas menyakiti hati pria? Atau putus dengan kekasihnya? Dunia memang lucu.”

Di saat hati telah terbuka luas untuk istrinya, masa lalu datang kembali mengusik. Edgardo tengah berusaha menerima kehadiran dan kisah kelam Emilia. Remaja ini hanya ingin menikah satu kali seumur hidup.

“Ada perlu apa ke sini?” tanya Ed ditujukam kepada Camilia.

Camilia dan Emilia menyadari kehadiran Ed, kedua pasang mata wanita cantik itu beralih kepada lelaki tampan yang berdiri tidak jauh.

“Ed? Kamu datang?” pekik Camilia.

Tanpa basa basi Camilia berlari menghambur, memeluk Ed, mengucap banyak kata maaf. “Aku merindukanmu Ed. Maafkan aku … aku yang salah, mohon maafkan aku Ed, aku masih mencintai kamu.”

Ed dan Emilia beradu pandang penuh arti. Mata Edgardo menyiratkan kekhawatiran terhadap istrinya.

Sungguh keadaan di luar prediksi serta nalar, seharusnya Ed merubah akses memasuki apartemen, mungkin Camilia tidak akan mudah membuka pintu.

TBC

 

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!