MW19

MW19

Celline menarik Tasya menelusuri jalan.

"Kak, mobil kita di sana" ucap Tasya

"Kakak!" Tasya menghempaskan tangan Celline kasar.

"Lho bisa nggak sih nggak usah lemah! Kalo orang ngatain lho itu di jawab, itu gunanya mulut!"

"Aku nggak mau ribut hanya karena cowo kak!"

"Kalo gitu, jauhin Adnan! Dia itu sama aja kayak exsel berengsek!"

"Celline" ucap Niko ngos-ngosan dan menarik Celline menjauh dari Tasya

"Pulanglah dulu. Biar gue yang ngomong sama celline" ucap Niko, Tasya pun menurutinya.

Niko menatap Celline dengan perasaan penuh bersalahnya "maafin gue" ucapnya mengenggam tangan Celline

"Nggak usah natal gue kayak gitu! Gue nggak perlu rasa kasihan lho" ucap Celline, yang malah mengartikan tatapan Niko adalah tatapan iba.

Niko langsung memeluk Celline "apa gue udah keterlaluan sama lho? Apa gue harus lepasin lho sekarang? Gue ngerasa jiwa lho kembali resah karena tekanan dari pernikahan kita" ucap Niko mengeratkan pelukannya.

Celline membalas pelukan Niko untuk pertama kalinya. Entah apa yang membuatnya sedih, sehingga dia menangis sesenggukan.

"Nanggis aja nggak apa-apa. Ada gue" ucap Niko membelai rambut belakang Celline tanpa melepaskan pelukan mereka.

Sekitar 15 menit, suara tangisan Celline terdengar menelan dan pelukannya pun terlepas.

"Celline?" Panggil Niko. Namun, yang di panggil malah tertidur di pelukannya, karena kelelahan menangis.

Niko mengendong Celline sambil memesan taksi online. Karena terlalu berbahaya membawa Celline yang sedang tidur mengendarai motor. Urusan motornya, bisa di ambil besok, atau meminta Rio yang membawanya ke mansion

Beberapa saat kemudian, taksi pun datang. Niko, memposisikan Celline agar tidur nyaman di dalam taksi.

"Pacarnya kenapa mas?" Tanya driver

"Dia istri saya pak. Mungkin juga karena kelelahan"

"Di peluk aja istrinya mas, biar lebih nyaman dan nggak mengganggu tidurnya".

Niko hanya mengangguk, dia memeluk Celline, dan membelai kepala istrinya itu.

"Sayang banget ya mas sama istrinya?" Tanya driver lagi saat di perjalanan menuju mansion

"Maksud bapak?"

"Keliatan banget mas, kalo mas itu sayang banget dengan istrinya"

Niko hanya tersenyum, tidak ini bukan cinta. Melainkan rasa bersalah!

"Sudah lama mas nikahnya?"

"Mau 3 bulan, pak" ucap Niko jujur

"Oh masih baru. Pantes masih lengket-lengketnya. Semoga cepat di berikan keturunan ya mas, biar kebahagiaannya bertambah berkali-kali lipat"

"Terimakasih" hanya itu yang bisa Niko ucapkan sambil memaksakan senyumnya.

Kebahagiaan berkali-kali lipat? Apakah mereka terlihat bahagia sekarang? TIDAK! sedetikpun tidak ada kebahagiaan dalam pernikahan mereka. Keturunan? Bagiamana bisa memilikinya jika ada rasa benci yang teramat besar di hati Celline untuknya. Pernikahan mereka juga 2 bulan lagi akan berakhir, itulah yang di pikirkan Niko.

Setelah sampai di mansion, Niko mengendong Celline ke kamarnya. Dengan sangat hati-hati, Niko membaringkan Celline di ranjang agar tidak menggangu tidur istrinya itu.

"2 bulan lagi Cell, setelah itu lho akan bebas. Dan sebagai gantinya, lho bisa NGEBENCI gue seumur hidup lho. GUE BENAR-BENAR MINTA MAAF, GUE RASA PERNIKAHAN KITA INI EMANG SALAH, NGGAK SEHARUSNYA GUE MAKSAIN PERNIKAHAN KITA DULU. SEHARUSNYA, GUE CUKUP CEGAH LHO AJA WAKTU ITU, DAN NGGAK MEMBUAT PERMASALAHAN YANG SEPERTI SEKARANG. GUE TAHU, LHO NGGAL BAKALAN BISA MAAFIN GUE, ATAU GUE BAHKAN NGGAK PANTAS MEMINTANYA SAMA LHO. MAAF, DEMI MENJAGA ZHEA DAN KETENTRAMAN RUMAH TANGGANYA, LHO HARUS MENDERITA. HANYA INI YANG BISA GUE LAKUIN BUAT KEBAHAGIAAN ZHEA CELL. GUE HARAP LHO MASIH MAU BERTEMAN DENGAN GUE" ucap Niko mencium tangan Celline agak lama. Setelah itu, dia menyimpan tangan Celline di dalam selimut

Niko beranjak ke balkon untuk menghubungi exsel.

"ya nik. Ada apa? Celline baik-baik aja?" Ucap exsel di seberang sana.. padahal mansion mereka berdampingan, tapi Niko lebih memilih untuk menelpon exsel, Karena exsel mungkin belum kembali ke mansion dan dia jiga tidak ingin meninggalkan Celline

"Apa dokter masih menyimpan kontak psikiater yang menangani Celline dulu?"

"Aku sudah lama kehilangan kontaknya. Kenapa? Apa kondisi mental Celline memburuk?"

"Tidak, saya hanya ingin menanyakan tentang kondisi Celline lebih detail ke psikiaternya"

"Baguslah kalau begitu. Aku masih ingat tempat psikiater itu, aku akan mengirimkannya padamu"

"Terimakasih dokter" ucap Niko memutuskan sambungan telpon.

Sesaat kemudian, pesan dari exsel masuk yang memberitahukan alamat psikiater itu.

Niko kembali masuk ke kamar "GOOD NIGHT AND SWEET DREAM CELLINE OLIVIA" ucapnya menatap lekat wajah celline, kemudian mengecup sekilas kedua mata istrinya itu dan beranjak pergi.

Niko merebahkan dirinya ke sofa "seandainya gue tahu lho punya gangguan mental dan trauma. Apa yang terjadi pada kita berdua, mungkin tidak akan pernah terjadi. Lho hebat banget, selama ini lho terlihat seolah-olah nggak terjadi apapun dalam hidup lho. Gue bahkan nggak nyangka kalo kisah hidup lho itu kayak gini. Saat di Amerika, lho selalu ceria dan hanya sedih ketika tahu dokter exsel sudah menikah. Gue janji, bakal Nebus kesalahan gue dan buat 2 bukan ini jadi hari yang bahagia di pernikahan kita" ucap Niko menatap Celline dari sofa da. Memejamkan matanya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!