MW18

MW18

Setelah acara pembukaan usaha Niko itu, semua orang berkumpul di restoran. Celline juga ikut karena tidak ada pilihan lain dan untuk menghindari wartawan.

"Bulan depan ulang tahun perusahaan gue yang ke 35. Gue mau ngundang kalian jika kalian ada waktu" ucap Zein

"Emang acaranya apa aja?" Ucap Tiffany

"Kali ini acaranya beda dari yang sebelumnya. Gue buat kayak perlombaan gitu di alam"

"Siapa aja yang lho undang?" Ucap zhea

"Heum, cuma kalian sih. Soalnya gue kapok ngundang klien yang lainnya. Soalnya pada sibuk ngajakin anak ceweknya dan di jododin ke gue" ucap Zein mengeluarkan unek-uneknya

"Padahal tinggal pilih aja. Gitu doang di persulit sama dia" ucap Raka

"Bukannya mempersulit. Gue hanya benci sama anak-anak pengusaha itu, karena semuanya matre. Mereka tuh suka gue karena gue banyak uang doang. Dan untuk Niko dan Tiffany, kalian nggak bisa nolak. Gue benar-benar kesinggung kalo kalian nggak bisa. Ini juga demi mempererat kerja sama kita"

Tiffany merasa tersinggung dengan ucapan Zein, namun dia mencoba untuk terlihat biasa saja. Bagaimanapun dulu dia wanita yang sangat pencinta uang

"Gue usahain deh" ucap Niko

"Bagus. Acaranya juga Celline yang hundle. Nanti, lho omongin deh sama dia gimana baiknya"

"Kak Adnan. Ternyata kakak disini! Aku dari pagi tadi nyariin kakak" rengek silya yang tiba-tiba datang.

"Apaan sih Sil. Udah gue bilang jangan gangguin gue lagi, kalo nggak ada kepentingan"

"Ini tuh penting kak!"

"Apanya?"

"Aku mau kakak nikahin aku!"

"Apaan sih! Udah ya, kita tuh udah lama selesai, jadi nggak usah nyari-nyari gue lagi"

"Nggak mau. Aku maunya sama kakak terus. Lho juga tif, bukannya bantuan gue balikan sama kak Adnan malah ikutan nge-geng sama mereka. Jangan mentang-mentang usaha lho buat dapetin dokter exsel gagal, lho jadi ingkar janji dan nggak mau ngebantuin gue"

"Bisa nggak ngungkit-ngungkit masa lalu deh sil. Di masa sulit gue dulu, saat gue kehilangan harta dan karier lho dimana? Di saat gue kecelakaan dan orang tua gue meninggal lho juga nggak ada kan? Jadi ngapain gue harus bantuin lho! Sahabatan sama lho bertahun-tahun itu nggak ada gunanya tahu nggak. Yang ada hanya ngabisin duit. Sementara temanan sama mereka, gue bisa menghasilkan duit dengan usaha sendiri" ucap Tiffany emosi

"Lho ngomong kayak gitu karena lho ingin balikan sama Zein kan? Karena cuma dia yang bisa BANTUIN lho. Jangan mau di manfaatin cewek ini kedua kalinya zein, lho itu hanya di jadiin pelampiasannya dia karena dia nggak ada celah buat ngerebut dokter exsel dari zhea"

Tasya hanya diam menunduk di samping Adnan. Dia yang menyukai Adnan diam-diam apakah harus merelakannya menikah dengan orang lain seperti Rio dulu. Wajah sedih dan kecewa terlihat jelas.

"Kalo Kaka Adnan nggak mau nikahin aku, aku bakal bilang ke papa Kaka udah hamilin aku biar kita bisa menikah!"

"Jangan gila kamu ya. Gue udah punya orang lain yang mau gue nikahin!"

"HEH! Lho itu tamu ngagk di undang di sini. Lebih baik lho pergi, merusak suasana tahu nggak" ucap celline yang ikut kesal Melihat tingkah SILYA, padahal tingkah mereka itu sama saja ketika memperjuangkan cinta mereka.

"Apa lho, nggak usah sok berkuasa deh. Nikah cuma modal godain orang doang, bangga"

"Yang penting orangnya ke goda dan gue bisa sama dia. Sementara lho? Lho bahkan ngemis-ngemis minta di nikahin dan bahkan ngancam lagi. Nggak tahu diri banget" ejek Celline

"Kalo gue nggak tahu diri terus lho apa hah!"

"Gue? Udah pasti istrinya Niko dan tangan kanannya Zein. Mau bilang apa lagi lho?" Ucap celline dengan bangganya

"Lho..." Tunjuk SILYA

"Apa?" Tantang Celline

"Lho itu nggak tahu malu dan nggak punya harga diri tahu nggak. Dari tadi, dokter Adnan ini datang sama adek gue. Dokter Adnan juga bilang mau menikahi gadis lain walaupun bukan Tasya wanitanya nanti. Jadi lho sadar diri dikit kek, udah di tolak mentah-mentah juga"

"Nggak usah banyak omong dulu lho! Lho itu sama aja kayak gue"

"Lho emang sama kayak gue di masa lalu. Sayangnya, sekarang gue punya pasangan hidup yang lebih perfect, sementara lho? Gue nggak yakin lho bisa dapetin cowo yang lebih dari dokter Adnan"

"Lho! Lho minta bantuan kakak lho buat ngelawan gue? Kenapa nggak bisa ngelawan gue sendirian iya?" Ucap SILYA menunjuk Tasya

"Nggak usah nunjuk-nunjuk! Mau gue PATAHIN tuh jari" ucap celline mengeprak meja

"Kenapa? Emang benar kan yang gue bilang?"

"Sialan lho!" Ucap celline menjambak rambut SILYA. Niko dengan cepat menjauhkan Celline dari silya. Takut istrinya itu bakal melukai SILYA dan jadi pemberitaan lagi di media.

"Heh! Lho dengar ya! Lho itu nggak ada bandingannya sama Tasya. Adek gue bisa dapetin cowo yang lebih dari Adnan ini"

"Iya dia bisa dapetin cowo manapun, jika menggikuti ajaran sesat lho itu!"

At

"Berani lho ya! Mau gue robek tuh mulut hah!" Teriak Celline yang tiba-tiba kehilangan kendali emosinya.

"Celline udah. Tenangkan diri lho" ucap Niko memeluk Celline.

Sementara yang lainnya, hanya diam menyaksikan keributan itu.

"Nan, lebih baik lho bawa silya pergi dulu dari sini" ucap exsel

"Nggak mau gue. Ngapain pergi sama dia!"

"Nan, ini bukan waktu yang tepat untuk egois"

"CK, ikut gue" ucap Adnan menarik SILYA pergi. Sementara, Tasya hanya menatap sendu kepergian mereka.

"Lepasin! Gue bilang lepasin!" Ucap celline mendorong tubuh Niko

"Kakak" ucap Tasya mendekati Celline.

"Berhenti di situ! Jangan tatap gue dengan tatapan seperti itu!" Bentak Celline

"Kakak. Kakak, kenapa kayak gini lagi sih? Aku minta maaf kak, udah dong kak. Nanti kakak sakit lagi kayak dulu, tahan emosi Kaka" tangis Tasya

Semua orang yang mendengar ucapan Tasya jadi kebingungan, kecuali exsel.

"Jangan nangis gue! Gue belum mati. ARGHHHHH!" Jerit Celline mengacak-acak rambutnya.

"Cell. Lho kenapa sih? SILYA juga udah pergi. udah dong marah-marahnya, kita di liatin orang ini" ucap Niko

"Kak Niko! Kenapa kakak ngomong kayak gitu!" Ucap Tasya

"Lah salahnya dimana?" Ucap Niko makin binggung

Celline mencoba mengatur emosinya, tanpa bicara apapun lagi dia menarik Tasya pergi.

Semua orang yang ada di sana hanya menatap keheranan.

"Kayaknya celline kumat deh" ucap exsel yang mencoba menjelaskan kebingungan mereka

"Kumat? Maksud dokter?" Ucap Rio

"Saya pernah bilangkan sama kalian kalo Celline itu punya gangguan mental. Selain trauma mobil, dia dulu juga susah mengendalikan emosi. Dia bisa menangis sepanjang hari, tertawa ataupun senyum-senyum sendiri. Semua itu tergantung dengan apa yang dia rasakan" jelas exsel

"Kenapa dokter baru cerita sekarang?" Ucap Niko

"Karena saya pikir dia sudah benar-benar sembuh. Para psikolog pun mengatakan hal itu dulu. Saya tidak menyangka bisa melihat dia seperti ini lagi. Ini masih tergolong aman, karena dulu ketika emosionalnya naik, dia ngerusak semua barang yanga da di sekitarnya. Bahkan dulu, sempat melukai diri sendiri"

"Bearti Celline gila dong dulu dan sekarang mau gila lagi gitu?" Ucap Raka

"Dulu sih hampir gila. Untungnya masih bisa di tangani"

Niko terdiam mendengar penjelasan exsel, dia ingat betul saat dia dan CELINE bertengkar Celline selalu menghancurkan barang-barang di sekitarnya dan sempat juga bilang ingin bunuh diri.

Tanpa mengatakan apapun, Niko lergi menyusul Celline.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!