MW09
"Sayang dengar aku nggak mau lagi minta maaf sama celline. Ini adalah yang terakhir" ucap exsel setelah mereka sampai di mansionya
"Niko kayak marah banget. Selama ini dia nggak pernah ngomong dengan nada tinggi kayak tadi"
"Itu karena dia udah kenal sama kamu dari kecil dan dia yang selalu lindungi kamu. Jadi wajar dia tahu memperlakukan kamu dengan baik. Sementara Celline, mereka bertolak belakang dan Celline yang sekarang beda banget dari yang dulu"
"Apa bedanya?"
"Sikapnya benar-benar berubah. Dulu dia ngomongnya sopan, baik dan nggak kasar pokoknya beda banget dari yang sekarang"
"Jika Celline masih kayak dulu, kamu mau nikahin dia gitu?" Ucap zhea sinis
Nggak juga. Siapa yang bilang gitu?"
"Dari nada bicaramu. Kayaknya kamu sangat menyayangkan dia yang berubah ya?"
"Sayang kamu cemburu?"
"Nggak" ketus Celline
Kamu cemburu sayang. Akhirnya aku bisa juga lihat kamu cemburu"
"Oh, jadi selama ini kamu cari-cari cara buat bikin aku cemburu?"
"Nggak gitu sayang. Maksud aku kalo kamu cemburu bearti kamu benar-benar cinta sama aku. Dan aku sangat senang dan bahagia"
"Jadi kamu pikir aku selama ini hanya pura-pura gitu ke kamu?"
Ya nggak gitu juga sayang. Astaga, yaudah iya aku minta maaf" ucap exsel langsung memeluk zhea
"Aku memang menyayangkan sifat Celline yang berubah. Bukan juga bearti aku ingin kembali padanya. Jika dia tidak berubah, dia dan Niko akan menjadi pasangan yang sangat cocok. Tapi sekarang, kita tahu sendiri pernikahan mereka seperti apa"
Zhea membalas pelukan exsel tanpa mengatakan apapun.
"Niko berjasa banget buat hidup aimu sayang. Dan ucapan terimakasih nggak akan setimpal dengan jasanya itu. Makanya aku meyanyangkan pernikahan mereka. Niko, Rio dan Rere sudah seperti saudara bagimu. Bearti mereka juga saudaraku.dan aku sangat berharap Celline kembali seperti yang dulu. Rumah tangga mereka bahagia seperti kita"
"Aku juga berharap seperti itu" ucap Shea mengeratkan pelukannya
Exsel mengecup bibir zhea "sekarang kita istirahat. Jangan ke mansion mereka tanpa aku. Atau Niko nggak ada di sana"
"Nggak ada yang perlu di takutin sayang. Kamu lupa aku ini bisa silat"
"Mana mungkin lupa orang setiap hari aku kamu pukul. Aku hanya takut kamu ke pancing emosi dan Makai kekerasan. Celline itu wanita lemah dan nggak bisa bela diri sama sekali. Jauh beda tenaganya sama kamu"
"Udah tahu dia lemah kenapa kemarin kamu malah nampar dia"
"Refleks sayang. Nggak tahan dengar ucapannya"
Sementara itu, Niko dan Celline tengah bertengkar di mansion mereka
"Lho ngapain nahan-nahan gue hah!" Teriak Celline
"Karena lho nggak perlu balas mereka Cell"
"Seenak jidat lho aja yah kalo ngomong..jangan mentang-mentang zhea itu orang yang lho cintai lho terus dukung dia karena kesalahannya nik"
"Di sini tuh zhea nggak salah. Yang nampar lho dokter exsel"
"Kalo gitu kenapa lho juga nahan gue buat balas dia hah!"
"Karena omongan lho kemaren juga nggak bisa di benarin Cell"
Celline tertawa sinis kemudian berucap "gue emang nggak pernah benar di mata kalian jika itu menyangkut zhea. Itu membuat gue makin benci sama dia" ucap celline beranjak pergi
"Makan dan minum obatnya dulu" ucap Niko menahan tangan Celline
"BASI! GUE NGGAK PERLU RASA KASIHAN DARI LHO" ucap celline melempar membuang makanan itu ke lantai dan melempar kotak p3k ke dinding.
Niko hanya menghela nafas kasar Melihat makanan yang tergeletak di lantai. Rasa laparnya Sebenarnya hilang karena pertengkaran mereka. Tapi haruskah Celline membuang makanan seperti itu tanpa menghargainya.
Walau begitu Niko tetap mengekori langkah Celline yang manaiki tangga menuju kamarnya. Niko takut Celline terjatuh karena wanita itu tadi mengatakan kepalanya pusing.
Tahu Niko mengikutinya, Celline menutup pintu kamarnya secara kasar. Lagi-lagi Niko hanya menghela nafas kasar.
Niko membersihkan tumpahan makanan itu, Kemudian membuka laptopnya dan mulai mencari-cari tempat yang strategis di google untuk membuka kelas balapnya.
Hari berganti, Celline keluar dari kamarnya "jam berapa sekarang?. Ah, seharusnya gue minum obat tadi malam. Lagian, kenapa harus sakit sih gue?" Gumamnya keluar dari kamar.
Celline melihat Niko tertidur di sofa, dia duduk di sofa yang samaan Dengan Niko dan membaca apa yang ada di laptop Niko.
"Belum dapat juga tempatnya? Udah di bilangin kalo nggak ada uang beli rumah yang kecil aja. Ngeyel banget" gerutunya
" Nik, Niko. Niko BANGUN" ucap celline menepuk-nepuk wajah Niko
Niko pun akhirnya terbangun. Dia menggenggam tangan Celline "panas. Lho masih demam?" Ucapnya menempelkan punggung tangannya ke dahi Celline
"Udah deh nggak usah lebay. Cuma demma dikit doang" ucap celline menepis kasar tangan niko
"Tapi badan lho panas banget dari kemaren Cell. Mau ke rumah sakit"
"Gue tuh udah biasa sakit kayak gini. Minum obat juga langsung sembuh"
"Yaudah gue pesanin makanan duiu, baru loh minum obat. Dari kemarin juga lho belum makan kan?"
"Lho bisa masak kan nik?"
"Nggak terlalu Kenapa?"
"Masakin gue mie instan bisa?"
Niko mengangguk "tunggu di sini. Gue beli mienya dulu" ucap Niko beranjak pergi.
Celline harus melupakan kemarahannya pada Niko. Agar perjanjian 3 bulan itu Niko tepati.
Niko ke mini market membeli keperluan dapur. Karena dia biasanya ngekos, jadi dia sudah biasa berbelanja. Setelah selesai dia langsung pulang ke mansion dan masak mie buat Celline.
"Lho belum dapat tempat buat usaha lho?" Ucap celline sambil menyeruput mienya. Niko hanya menggeleng
"Nih ATM lho. Uangnya nggak berkurang sedikitpun. Lho bisa tambah uang yang kurang itu buat sewa tempatnya" ucap Celine lagi-lagi mengembalikan ATM pemberian Niko itu
"Gue udah kasih ke lho. Nggak mungkin gue ambil lagi"
"Lho bisa pakai uang ini dulu. entar kalo usaha lho berjalan lancar lho harus balikin dua kali lipat. Gue juga punya uang simpanan, mau pinjam dulu?"
"Nggak Cell. Gue bisa cari uangnya sendiri"
"Kalo nggak mau pinjam ke gue kenapa nggak minjam ke sahabat-sahabat lho itu"
"Udahlah Cell. Ini bukan urusan lho. Pokoknya gue akan terus kirim uang ke ATM itu sampai perceraian kita. Terserah mau lho gunain atau nggak"
"Gue juga akan cari kerja nanti"
"Kenapa?"
"Ya malas aja di sini sendirian, apalagi kita tetanggaan tuh sama sahabat lho"
"Kalo itu mau lho, ya terserah. Asal nggak ketangkap wartawan aja"
"Gue tuh nggak suka kehidupan gue ajdi sorotan media. Tapi jika gue ngehindar terus, mereka akan ngejar-ngejar gue terus. Lebih baik gue ladeni aja sekalian"
"Lho mau ladenin mereka? Boleh aja sih, asal jangan bicara yang bakal ngerugiin diri lho sendiri. Lho tahu maksud gue kan?" Celline hanya mengangguk.
"Nih minum obatnya"
Celline mengambil pil dari tangan Niko dan menelannya.
"Gue udah hubungi Tasya agar dia tinggal di sini aja sama kita. Dan lho ada temannya. Gue kan pulang larut malam terus"
"Ide bagus. Tapi apa dia mau"
"Nanti sore dia akan ke sini setelah pulang kuliah"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
riyah
setia menunggu kelanjutanya
2023-07-14
1
riyah
makasih udah up di tunggu kelanjutanya
2023-07-13
1