MW12

MW12

Celline, Zein dan Raka sampai restoran. "Nomor berapa mejanya?" Ucap Zein

"13" sahut Raka

"Gue nggak telat kan?" Ucap Zein duduk di samping Tiffany

"Nggak kok.gue sama Niko juga baru datang"

Sementara Celline dan Niko mengernyitkan dahinya ketika melihat satu sama lain. Niko yang tidak mau mengetahui Celline bekerja dengan Zein dan Celline yang juga tidak mengetahui Niko terkait kerja sama dengan Tiffany.

"Niko?" Ucap Raka yang juga kebingungan melihat kehadiran Niko di sana

"Kalian pasti binggung kenapa Niko ada di sini. Gue beritahu sama kalian, Niko adalah rekan bisnis gue"

"Terus ngapain lho ajak dia kesini?" Ucap celline

"Ya nggak apa-apa.kan Zein mau ngejelasin tentang perusahaan bokap gue gimana kedepannya. gue tuh kalo di jelasin satu atau dua kali belum bisa ngerti. Beda sama Niko, saat kita kuliah dulu, dia orang yang paling cepat memahami materi. Lho sendiri ngapain di sini?"

"Celline udha satu Minggu ini jadi asisten gue"

"Nik, lho nggak ngerasa di manfaatin sama dia?" Ucap celline sinis

"Gue nggak manfaatin Niko ya. Gua bahkan nawar Niko jadi tangan kanan gue, dianya aja yang nggak mau. Jangan bilang lho cemburu lihat gue sama niko. "

"CK, nggak ada yang harus gue cemburuin dari lho. Kalian tahu sendiri kan gue sama Niko itu gimana? Jadi nggak usah omong kosong lagi deh"

"Biasanya lho nggak Nerima sekretaris ataupun asisten lain selain Raka Zein"

"Itu dulu tif. Sekarang ada Tiffany yang kinerja kerjanya sama bagusnya kayak Raka. Kalo bisa punya dua tangan kanan hebat kenapa nggak" jelas Zein

Sementara Celline hanya tersenyum sombong melihat Tiffany

1 jam kemudian, Zein selesai menjelaskan apa yang ingin Tiffany ketahui.

"Makasih ya Zein penjelasannya. Sebenernya gue nggak terlalu ngerti sih, tapi Niko pasti ngerti iya kan nik"

"Nggak keseluruhannya sih"

"Itu juga udah bagus. Dari pada gue harus banyak tanya lagi ke Zein. Dan ganggu pekerjaan dia"

"Terus kalo lho nanya ke Niko lho nggak ngerasa gangguin pekerjaan dia gitu? Lagi pula kenapa sih tuan muda kita harus repot-repot datang ke sini. Kan bisa reka suara aja dan kirim. Tiffany juga kalo nggak ngerti bisa dengarin berulang-ulang kali kan sampai paham sama konsepnya" protes Celline

"Tiffany ini baru belajar bisnis, jadi harus banyak di bimbing Cell. Ini tuh bukan bidangnya dia, dia ini seorang model karena keadaan dia jadi terpaksa harus mengurus perusahaan bokapnya" ucap Niko

"Lho tuh kayaknya nggak suka banget sama gue. Apa karena gue dulu juga suka sama kak exsel? Udahlah kita tuh sama. Sama-sama di buang kak exsel" ucap Tiffany

"Nggak ada ke samaan apapun di antara kita. Gue koreksi ucapan lho, yang ngebuang exsel itu dulu gue. Gue pernah bersama dia dalam waktu 3 tahun. Sementara lho? Jelas-jelas cinta lho bertepuk sebelah tangan kan?"

"Intinya baik gue ataupun lho, sama-sama nggak bisa milikin kak exsel kan? Tetap zhea pemenangnya"

"Setahu gue lho dan zhea saudara tiri. Kenapa nggak minta di ajarin sama dia tentang bisnis. Zhea kan NONA MUDA CEO" ucap celline penuh penekanan sambil melihat Niko

"Hubungan gue sama zhea nggak sebaik itu. Mana mau dia ngajarin gue setelah gue berniat mau rebut suaminya dulu. Oh iya Zein, kak exsel kan besok buka rumah sakitnya. Lho datang nggak"

"Pasti. Mau bareng?"

"Boleh, kalo nggak ngerepotin. Lho juga harus luangin waktu Minggu depan. Soalnya, kelas balap Niko resmi di buka hari itu. Yang mana bisnis kami start juga pada hari itu"

"Besok biar Raka yang jemput di perusahaan lho. Gue pasti luangin waktu buat kalian. Celline atur lagu jadwal saya Minggu depan. Dan cancel semua janji dan meeting" Celline hanya mengangguk

"Kan kan, ujung-ujungnya selalu gue yang repot. Kenapa nggak Celline aja yang jemput? Gue bisa jadi sopir kalian ke sana nanti"

"Gue nggak bisa bawa mobil" sahut Celline cepat. Sebenernya dia bisa menyetir, tapi karena suatu alasan dia tidak berani lagi membawa kendaraan beroda empat itu.

"Lho nggak bisa nyetir?" Tanya Raka speechless

Celline lagi-lagi hanya bisa mengangguk mengiyakan

Sementara itu, di berlawanan arah ada seorang wartawan yang memotret kebersamaan mereka.

_________

Keesokan harinya, Zein dan Raka sudah siap datang ke rumah sakit.

"Lho nggak mau ikut?" Ucap Zein

"Saya nggak di undang dan saya rasa saya juga nggak seharusnya datang ke sana tuan muda"

"Kalo masalah undangan kamu bisa datang bersama kita"

"Nggak usah tuan muda terimakasih. Lagi pula, tuan Ganesa dan nyonya Gina menolak membatalkan meeting Minggu depan dan merasa tersinggung dengan ketidak konsistenan tuan muda. jadi dia ingin membicarakan tentang kerja samanya hari ini. Tenang saja, saya akan menghandle semuanya dan akan memberikan pengertian kepada mereka alasan tuan muda tidak datang"

"Baiklah saya serahkan semuanya ke kamu. Jika ada kendala langsung hubungi saya. Atau Raka biar ikut saja denganmu?"

"Terimakasih tuan muda. Masalah ini sepertinya saya bisa selesaikan sendiri. Tuan muda lebih membutuhkan Raka kebandingkan saya"

"Kita pergi dulu" ucap Raka dan Zein beranjak pergi

Sementara itu, Celline langsung menuju tempat meeting. Hingga pukul sembilan malam, Celline baru menyelesaikan pekerjaannya dan kembali ke mansion

"Lembur?" Ucap Niko yang hanya di angguki oleh celline

"Lho udah lama pulang?"

"Udah dari tadi sore"

"Dimana Tasya?"

"Tadi dia nungguin lho pulang di sini. Gue suruh dia langsung istirahat aja, makanya gue yang gantiin dia nungguin lho" Celline lagi-lagi hanya mengangguk

"Udah makan?"

"Mandi dulu. Biar gue masakin buat lho"

Celline lagi-lagi hanya mengangguk kemudian beranjak ke kamarnya. Sementara itu Niko mulai memasak. 15 menit kemudian Celline sudah selesai mandi dan memakai piyama tidurnya.

"Apa masih lama?" Ucap celline berdiri di belakang Niko dan mengintip masakan Niko

"Bentar lagi. Lho tunggu aja di meja"

Tanpa banyak bicara lagi, Celline duduk di meja makan. Sambil menunggu dia membuka laptopn untuk mengecek pekerjanya.

"Ini dia makanannya" ucap Niko

"Makasih" ucap celline

"Apa pekerjaan lho belum selesai?"

"Udah. Gue hanya ngecek aja tadi buat maatiin" ucap celline menyuapkan SOP ayam ke mulutnya

"Tadi kenapa nggak ikut Zein ke rumah sakit?"

"Banyak kerjaan. Gue harus ketemu klien yang nggak mau batalin janji meeting buat Minggu depan. Untung aja mereka nggak membatalkan kerja samanya karena Zein main batal janji gitu aja. Lagian gue rasa gue nggak semestinya hadir di sana. Tiap liat mereka mood gue selalu rusak"

"Zhea hamil. Dan kehamilannya udah 4 minggu.gue harap lho benar-benar nggak gangguin rumah tangga mereka lagi, dan gue harap lho nggak ada rencana jahat apapun ke mereka. Gue tahu lho benci zhea, tapi jangan sampai lho ngelakuin hal-hal aneh yang bakal mencelakai dia dan kandungannya"

"Lho nggak lihat gue sibuk kerja nik? Mana ada waktu gue ngerencanain hal jahat ke mereka. Apa menurut lho gue sejahat dan seburuk itu sampai hari mencelakai orang hamil? Selama kita pindah ke sini dan tetanggaan sama mereka pernah nggak gue datang ke mansion mereka dan buat masalah ataupun kejahatan kayak yang lho bilang tadi, nggak kan? Oke, gue salah karena waktu itu sempat punya niat jahat mau jebak exsel dan malah menjebak diri gue sendiri. Tapi, selain dari itu, pernah nggak gue ngelakuin hal yang ngerugiin lho, zhea ataupun orang lain? PERNAH NGGAK NIK!?"

"maaf jika omongan Gue salah. Gue hanya nggak mau...."

"Lho nggak mau zhea kenapa-kenapa kan? Iya, gue ngerti. Tapi nggak segala hal buruk yang terjadi sama zhea itu ada sangkut pautnya sama gue. Yang ada, kehidupan gue yang buruk karena zhea. Gue harap waktu 3 bulan itu cepat berlalu. Dan lho nempatin janji lho buat talak gue. Karena jika sampai lho ingkar janji, gue benar-benar bakal jahatin zhea. GUE NGGAK MAIN-MAIN SAMA UCAPAN GUE NIK"

"Lho ngancam gue?"

""GUE NGGAK NGANCAM. LHO SENDIRI YANG NGASIH GUE IDE BUAT JAHATIN ZHEA. JIKA SAMPAI LHO INGKAR JANJI 3 BULAN KE DEPAN, KANDUNGAN ZHEA YANG 4 BULAN ITU MUNGKIN NGGAK BAKAL BERTAHAN" ucap celline beranjak pergi ke kamarnya. Rasa lapar sudah hilang. Dia sebisa mungkin untuk mengontrol emosinya. bagaimana tidak marah, Niko berbicara seolah-olah dia adalah orang yang selalu menjahati orang lain. Tidak menutup kemungkinan, jika sesuatu terjadi pada zhea dia yang bakal di salahkan. Tenaga dan pikiran sudah terkuras karena pekerjaan. Di tambah lagi mendengar berita kehamilan zhea yang menyakitkan hati. Sungguh menguji emosi dan mental

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!