Bab 19 - Mulai timbul benih

Sesuai ucapannya ketika membangunkan Oma Rasti tadi, Ziana benar-benar akan mengajak Oma Rasti untuk berjalan-jalan keliling kompleks. Awalnya Oma Rasti memang menolak, tapi rupanya Ziana anaknya pandai membujuk sampai akhirnya, mau tak mau Oma Rasti pun ikut.

Keduanya berjalan dengan setelah pakaian olahraga bahkan mengenakan sepatu. Pagi yang panas nya belum terasa itu, udaranya sangat sejuk. Bahkan Oma Rasti baru mengalami hal seperti ini selama ini tinggal di daerah tersebut.

Ditambah, dengan Ziana yang tampak ramah pada semua orang yang dilewatinya. Wanita muda itu tersenyum bahkan bertanya pada orang yang baru dikenalnya tanpa rasa malu dan ragu.

"Buat apa kamu menyapa orang-orang yang tidak kamu kenal? Jangan sok kenal dan sok ramah!"

Seperti biasanya, ucapan Oma Rasti memang selalu ketus. Bahkan Ziana yang belum sehari bekerja pun seakan bisa langsung hapal. Ia pun memberikan pengertian ke Oma Rasti.

"Oma, sebagai tetangga, kita harus saling mengenal. Kita kan tidak akan tahu apa yang akan terjadi nantinya. Siapa tahu dengan berbuat baik dan ramah, salah satu dari mereka nantinya bisa memberikan bantuan ketika kita sedang kesulitan. Jangan terlalu mengekang diri Oma di dalam rumah. Itu sangat membosankan Oma. Sesekali Oma harus berkeliling dan mencari teman yang seusia dengan Oma supaya kalau mengobrol itu nyambung Oma."

Lagi dan lagi Ziana selalu berhasil kalau urusan sindir menyindir.

"Jadi maksud kamu, saya ini orangnya nggak nyambungan gitu?"

"Siapa yang bilang begitu sih Oma? Oma sendiri yang selalu menyimpulkannya. Jangan kesel pagi-pagi Oma! Nggak bagus buat tekanan darah. Nanti bisa tinggi tensinya."

"Kamu!" kesal Oma Rasti sambil menunjuk wajah Ziana.

"Tarik napas, buang, tarik napas, buang!" ucap Ziana sambil memperagakan hal tersebut di depan Oma.

"Kan tadi saya sudah bilang Oma. Jangan kesal, tetap stay cool saja. Jangan baperan kenapa Oma?"

"Zia!" teriak Oma Rasti lagi. Kali ini ia memanggil nama Ziana.

Ziana hanya cengengesan aja. Ia pun langsung membungkam mulutnya supaya tak lagi banyak bicara. Mereka pun hanya jalan pagi dengan diam.

Setelah hampir 30 menit berjalan keliling kompleks, mereka pun akhirnya sudah kembali ke rumah dan meluruskan kaki mereka di halaman rumah. Tak lama kemudian, Oma Rasti memanggil Bi Nana untuk membawakan satu botol air minum karena haus.

Keringat di wajah Ziana tampak bercucuran sebesar biji kedelai. Ia mengelapnya dengan lengan tangannya yang panjang tiga perempat.

"Oma, rumah sebesar ini kalau cuma dihuni dua orang saja memang terasa sepi ya? Untungnya, Oma orang kaya yang bisa mempekerjakan orang lain disini dan menginap disini. Jadinya, Oma tidak terlalu merasa sendirian dan kesepian-kesepian banget. Beda sekali dengan aku, rumah yang tak seberapa besarnya itu, harus menampung banyak sekali anak-anak terlantar dan semuanya memerlukan biaya yang tidak sedikit."

Ziana mengeluarkan keluh kesahnya di depan Oma Rasti, karena yakin Oma Rasti tidak akan peduli. Dan ia memang membutuhkan orang untuk menjadi tempat sampah yang mendengarkan isi kepalanya tanpa ditanggapi. Sudah didengarkan saja sudah cukup baginya.

Dan terbukti, apa yang dipikirkan Ziana memanglah benar. Oma Rasti memang tak peduli dengan apa yang ia katakan.

"Kamu ini! Bisanya cuma cerita terus. Sengaja ya mau membandingkan kehidupan kamu dan kehidupan aku?"

"Bukan seperti itu Oma, hanya cerita aja. Saya tidak berniat untuk membandingkannya."

"Bohong sekali!"

"Mau percaya atau tidak terserah Oma saja."

*

*

Di kantor, Saka disibukkan dengan pekerjaannya yang tiap harinya selalu banyak. Agak lelah memang, tapi mau bagaimana lagi, itu memang sudah jadi tugasnya.

"Nanti kita ada meeting di luar setelah jam makan siang. Untuk sekarang kamu harus fokus dan menganalisa topik yang nanti akan kita bahas."

"Baiklah Oliv," ucap Saka.

Tiba-tiba Oliv bertanya soal pengasuh Oma Rasti.

"Apa kamu sudah mendapatkan pengasuh untuk Oma Rasti?"

Saka mengangguk dengan cepat.

"Syukurlah kalau begitu. Kamu jadi tidak usah pusing-pusing kalau pulang ke rumah."

"Tetap saja aku tidak bisa tenang Liv. Pengasuh itu adalah orang yang pernah membuat aku kesal. Belum sehari dia di rumah, tapi sudah membuat kesal Oma terus."

"Ya sudah pecat saja dia. Beres kan?"

Saka menghela napasnya lalu memainkan pulpen di depannya.

"Aku memberikan dia kesempatan selama satu bulan. Lalu, Oma juga tidak mau aku memecatnya untuk sekarang."

"Apa dia masih muda?"

"Ya, 5 tahun lebih muda dari kita."

"Apa dia cantik?" tanya Oliv lagi.

"Kenapa tanya itu?"

"Cuma penasaran aja," jawab Oliv.

"Biasa aja," jawab Saka.

Mendengar hal tersebut Oliv langsung tersenyum. Kemudian dia keluar dari ruangan Saka untuk mengerjakan tugasnya kembali.

Saka bukannya membaca materi untuk meeting nantinya, ia malah menelpon Bi Nana untuk menanyakan kegiatan Oma.

"30 menit setelah sarapan tadi, Zia mengajak nyonya besar untuk jalan-jalan pagi keliling kompleks. Lalu setelah itu, mereka berdua istirahat sebentar di halaman. Terus sekarang, nyonya besar dan Zia sedang nonton acara musik di tv. Tuan dengar kan ada suara-suara berisik itu? Nah, yang berisik itu Zia Tuan. Entah gimana reaksi nyonya besar saya tidak tahu karena tidak memperhatikan mereka."

"Bibi pantau terus mereka ya. Aku takut, Zia malah membawa pengaruh buruk ke Oma."

"Siap Tuan Muda. Nanti saya akan laporkan kegiatan mereka setiap harinya. Nanti saya akan kirimkan juga beserta foto atau pun videonya."

"Bagus, bibi memang terbaik."

"Terima kasih Tuan Muda," ucap Bi Nana.

Saka meletakkan ponselnya, lalu melihat dokumen yang ada di depannya. Ia baru bisa tenang setelah tahu keadaan Oma nya.

Selang beberapa menit kemudian, Saka mendapatkan foto dan video Ziana dan Oma yang sedang bernyanyi. Tidak, lebih tepatnya Ziana yang memaksa Oma untuk bernyanyi.

Dalam video yang berdurasi 2 menit itu, Ziana bernyanyi dengan heboh dan berteriak-teriak. Sementara Oma malah menutup telinganya.

"Zia! Kalau tidak bisa nyanyi tidak perlu ikut-ikutan! Kuping Oma sakit dengarnya!"

Ziana meraih tangan Oma dan terus bernyanyi mengikuti penyanyi yang ditontonnya di acara televisi.

"Oma ayo nyanyi dong Oma. Jangan malu-malu. Salah satu cara menghilangkan rasa bosan dan stress sendirian di rumah ya seperti ini Oma. Menjalani hari dengan senyuman dan jaga pikiran kita agar tetap tenang."

Ziana memberikan botol kosong ke Oma, seolah-olah itu adalah sebuah mikrofon.

"Oma akan tahu bagaimana rasanya, setelah mengalaminya sendiri. Ayo nyanyi Oma!" paksa Ziana.

"Atau jangan-jangan suara Oma lebih jelek dari suaraku ya? Makanya Oma malu menunjukkan bakat?"

Ucapan Ziana itu membuat Oma Rasti tidak mau kalah dan malah bernyanyi dengan indahnya. Ziana tampak tersenyum melihat itu. Ia cosplay jadi penonton bayaran yang menggerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri seperti rumput yang bergoyang-goyang.

Tanpa sadar, Saka malah senyum-senyum sendiri melihat video itu.

*

*

TBC

Terpopuler

Comments

Ninik Hartariningsih

Ninik Hartariningsih

kho diulang ulang lagi sdh 4kali.tdk nyambung dgn judul

2023-06-28

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Dipecat
2 Bab 2 - Mendapat pekerjaan baru
3 Bab 3 - Saka Anggoro
4 Bab 4 - Ziana Anastasia
5 Bab 5 - Marah-marah di pagi hari
6 Bab 6 - Jalan-jalan pagi
7 Bab 7 - Tertawa Kecil
8 Bab 8 - Bicara Soal Teman
9 Bab 9 - Meminta Izin
10 Bab 10 - Kedekatan Oma Rasti dan Ziana
11 Bab 11 - Kepulangan Riki
12 Bab 12 - Oma Sedih
13 Bab 13 - Keributan di pagi hari oleh Om Hendri
14 Bab 14 - Apa itu bahagia?
15 Bab 15 - Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya
16 Bab 16 - Ucapan Terima Kasih
17 Bab 17 - Siap-siap cari kerja lagi
18 Bab 18 - Oliv kesal
19 Bab 19 - Mulai timbul benih
20 Bab 20 - Cemburu
21 Bab 21 - Pergi
22 Bab 22 - Kembali
23 Bab 23 - Kesal
24 Bab 24 - Susah makan
25 Bab 25 - Kesepian
26 Bab 26 - Bicara
27 Bab 27 - Belanja
28 Bab 28 - keputusan
29 Bab 29 - Rahasia
30 Bab 30 - Bersama
31 Bab 31 - Cerita
32 Bab 32 - Takut dimanfaatkan
33 Bab 33 - Kembali
34 Bab 34 - Berdua
35 Bab 35 - Marah
36 Bab 36 - Terkabul
37 Bab 37 - Jalan-jalan
38 Bab 38 - Bersatu
39 Bab 39 - Sedih
40 Bab 40 - Cemburu
41 Bab 41 - Bahagia
42 Bab 42 - Terungkap
43 Bab 43 - Dilema
44 Bab 44 - Janji
45 Bab 45 - Cahaya
46 Bab 46 - Dua
47 Bab 47 - Cinta
48 Bab 48 - Ceria
49 Bab 49 - Bersatu
50 Bab 50 - Kamu
51 Bab 51 - Tawanan
52 Bab 52 - Cinta yang membara
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Bab 1 - Dipecat
2
Bab 2 - Mendapat pekerjaan baru
3
Bab 3 - Saka Anggoro
4
Bab 4 - Ziana Anastasia
5
Bab 5 - Marah-marah di pagi hari
6
Bab 6 - Jalan-jalan pagi
7
Bab 7 - Tertawa Kecil
8
Bab 8 - Bicara Soal Teman
9
Bab 9 - Meminta Izin
10
Bab 10 - Kedekatan Oma Rasti dan Ziana
11
Bab 11 - Kepulangan Riki
12
Bab 12 - Oma Sedih
13
Bab 13 - Keributan di pagi hari oleh Om Hendri
14
Bab 14 - Apa itu bahagia?
15
Bab 15 - Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya
16
Bab 16 - Ucapan Terima Kasih
17
Bab 17 - Siap-siap cari kerja lagi
18
Bab 18 - Oliv kesal
19
Bab 19 - Mulai timbul benih
20
Bab 20 - Cemburu
21
Bab 21 - Pergi
22
Bab 22 - Kembali
23
Bab 23 - Kesal
24
Bab 24 - Susah makan
25
Bab 25 - Kesepian
26
Bab 26 - Bicara
27
Bab 27 - Belanja
28
Bab 28 - keputusan
29
Bab 29 - Rahasia
30
Bab 30 - Bersama
31
Bab 31 - Cerita
32
Bab 32 - Takut dimanfaatkan
33
Bab 33 - Kembali
34
Bab 34 - Berdua
35
Bab 35 - Marah
36
Bab 36 - Terkabul
37
Bab 37 - Jalan-jalan
38
Bab 38 - Bersatu
39
Bab 39 - Sedih
40
Bab 40 - Cemburu
41
Bab 41 - Bahagia
42
Bab 42 - Terungkap
43
Bab 43 - Dilema
44
Bab 44 - Janji
45
Bab 45 - Cahaya
46
Bab 46 - Dua
47
Bab 47 - Cinta
48
Bab 48 - Ceria
49
Bab 49 - Bersatu
50
Bab 50 - Kamu
51
Bab 51 - Tawanan
52
Bab 52 - Cinta yang membara
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!