Sesuai ucapannya ketika membangunkan Oma Rasti tadi, Ziana benar-benar akan mengajak Oma Rasti untuk berjalan-jalan keliling kompleks. Awalnya Oma Rasti memang menolak, tapi rupanya Ziana anaknya pandai membujuk sampai akhirnya, mau tak mau Oma Rasti pun ikut.
Keduanya berjalan dengan setelah pakaian olahraga bahkan mengenakan sepatu. Pagi yang panas nya belum terasa itu, udaranya sangat sejuk. Bahkan Oma Rasti baru mengalami hal seperti ini selama ini tinggal di daerah tersebut.
Ditambah, dengan Ziana yang tampak ramah pada semua orang yang dilewatinya. Wanita muda itu tersenyum bahkan bertanya pada orang yang baru dikenalnya tanpa rasa malu dan ragu.
"Buat apa kamu menyapa orang-orang yang tidak kamu kenal? Jangan sok kenal dan sok ramah!"
Seperti biasanya, ucapan Oma Rasti memang selalu ketus. Bahkan Ziana yang belum sehari bekerja pun seakan bisa langsung hapal. Ia pun memberikan pengertian ke Oma Rasti.
"Oma, sebagai tetangga, kita harus saling mengenal. Kita kan tidak akan tahu apa yang akan terjadi nantinya. Siapa tahu dengan berbuat baik dan ramah, salah satu dari mereka nantinya bisa memberikan bantuan ketika kita sedang kesulitan. Jangan terlalu mengekang diri Oma di dalam rumah. Itu sangat membosankan Oma. Sesekali Oma harus berkeliling dan mencari teman yang seusia dengan Oma supaya kalau mengobrol itu nyambung Oma."
Lagi dan lagi Ziana selalu berhasil kalau urusan sindir menyindir.
"Jadi maksud kamu, saya ini orangnya nggak nyambungan gitu?"
"Siapa yang bilang begitu sih Oma? Oma sendiri yang selalu menyimpulkannya. Jangan kesel pagi-pagi Oma! Nggak bagus buat tekanan darah. Nanti bisa tinggi tensinya."
"Kamu!" kesal Oma Rasti sambil menunjuk wajah Ziana.
"Tarik napas, buang, tarik napas, buang!" ucap Ziana sambil memperagakan hal tersebut di depan Oma.
"Kan tadi saya sudah bilang Oma. Jangan kesal, tetap stay cool saja. Jangan baperan kenapa Oma?"
"Zia!" teriak Oma Rasti lagi. Kali ini ia memanggil nama Ziana.
Ziana hanya cengengesan aja. Ia pun langsung membungkam mulutnya supaya tak lagi banyak bicara. Mereka pun hanya jalan pagi dengan diam.
Setelah hampir 30 menit berjalan keliling kompleks, mereka pun akhirnya sudah kembali ke rumah dan meluruskan kaki mereka di halaman rumah. Tak lama kemudian, Oma Rasti memanggil Bi Nana untuk membawakan satu botol air minum karena haus.
Keringat di wajah Ziana tampak bercucuran sebesar biji kedelai. Ia mengelapnya dengan lengan tangannya yang panjang tiga perempat.
"Oma, rumah sebesar ini kalau cuma dihuni dua orang saja memang terasa sepi ya? Untungnya, Oma orang kaya yang bisa mempekerjakan orang lain disini dan menginap disini. Jadinya, Oma tidak terlalu merasa sendirian dan kesepian-kesepian banget. Beda sekali dengan aku, rumah yang tak seberapa besarnya itu, harus menampung banyak sekali anak-anak terlantar dan semuanya memerlukan biaya yang tidak sedikit."
Ziana mengeluarkan keluh kesahnya di depan Oma Rasti, karena yakin Oma Rasti tidak akan peduli. Dan ia memang membutuhkan orang untuk menjadi tempat sampah yang mendengarkan isi kepalanya tanpa ditanggapi. Sudah didengarkan saja sudah cukup baginya.
Dan terbukti, apa yang dipikirkan Ziana memanglah benar. Oma Rasti memang tak peduli dengan apa yang ia katakan.
"Kamu ini! Bisanya cuma cerita terus. Sengaja ya mau membandingkan kehidupan kamu dan kehidupan aku?"
"Bukan seperti itu Oma, hanya cerita aja. Saya tidak berniat untuk membandingkannya."
"Bohong sekali!"
"Mau percaya atau tidak terserah Oma saja."
*
*
Di kantor, Saka disibukkan dengan pekerjaannya yang tiap harinya selalu banyak. Agak lelah memang, tapi mau bagaimana lagi, itu memang sudah jadi tugasnya.
"Nanti kita ada meeting di luar setelah jam makan siang. Untuk sekarang kamu harus fokus dan menganalisa topik yang nanti akan kita bahas."
"Baiklah Oliv," ucap Saka.
Tiba-tiba Oliv bertanya soal pengasuh Oma Rasti.
"Apa kamu sudah mendapatkan pengasuh untuk Oma Rasti?"
Saka mengangguk dengan cepat.
"Syukurlah kalau begitu. Kamu jadi tidak usah pusing-pusing kalau pulang ke rumah."
"Tetap saja aku tidak bisa tenang Liv. Pengasuh itu adalah orang yang pernah membuat aku kesal. Belum sehari dia di rumah, tapi sudah membuat kesal Oma terus."
"Ya sudah pecat saja dia. Beres kan?"
Saka menghela napasnya lalu memainkan pulpen di depannya.
"Aku memberikan dia kesempatan selama satu bulan. Lalu, Oma juga tidak mau aku memecatnya untuk sekarang."
"Apa dia masih muda?"
"Ya, 5 tahun lebih muda dari kita."
"Apa dia cantik?" tanya Oliv lagi.
"Kenapa tanya itu?"
"Cuma penasaran aja," jawab Oliv.
"Biasa aja," jawab Saka.
Mendengar hal tersebut Oliv langsung tersenyum. Kemudian dia keluar dari ruangan Saka untuk mengerjakan tugasnya kembali.
Saka bukannya membaca materi untuk meeting nantinya, ia malah menelpon Bi Nana untuk menanyakan kegiatan Oma.
"30 menit setelah sarapan tadi, Zia mengajak nyonya besar untuk jalan-jalan pagi keliling kompleks. Lalu setelah itu, mereka berdua istirahat sebentar di halaman. Terus sekarang, nyonya besar dan Zia sedang nonton acara musik di tv. Tuan dengar kan ada suara-suara berisik itu? Nah, yang berisik itu Zia Tuan. Entah gimana reaksi nyonya besar saya tidak tahu karena tidak memperhatikan mereka."
"Bibi pantau terus mereka ya. Aku takut, Zia malah membawa pengaruh buruk ke Oma."
"Siap Tuan Muda. Nanti saya akan laporkan kegiatan mereka setiap harinya. Nanti saya akan kirimkan juga beserta foto atau pun videonya."
"Bagus, bibi memang terbaik."
"Terima kasih Tuan Muda," ucap Bi Nana.
Saka meletakkan ponselnya, lalu melihat dokumen yang ada di depannya. Ia baru bisa tenang setelah tahu keadaan Oma nya.
Selang beberapa menit kemudian, Saka mendapatkan foto dan video Ziana dan Oma yang sedang bernyanyi. Tidak, lebih tepatnya Ziana yang memaksa Oma untuk bernyanyi.
Dalam video yang berdurasi 2 menit itu, Ziana bernyanyi dengan heboh dan berteriak-teriak. Sementara Oma malah menutup telinganya.
"Zia! Kalau tidak bisa nyanyi tidak perlu ikut-ikutan! Kuping Oma sakit dengarnya!"
Ziana meraih tangan Oma dan terus bernyanyi mengikuti penyanyi yang ditontonnya di acara televisi.
"Oma ayo nyanyi dong Oma. Jangan malu-malu. Salah satu cara menghilangkan rasa bosan dan stress sendirian di rumah ya seperti ini Oma. Menjalani hari dengan senyuman dan jaga pikiran kita agar tetap tenang."
Ziana memberikan botol kosong ke Oma, seolah-olah itu adalah sebuah mikrofon.
"Oma akan tahu bagaimana rasanya, setelah mengalaminya sendiri. Ayo nyanyi Oma!" paksa Ziana.
"Atau jangan-jangan suara Oma lebih jelek dari suaraku ya? Makanya Oma malu menunjukkan bakat?"
Ucapan Ziana itu membuat Oma Rasti tidak mau kalah dan malah bernyanyi dengan indahnya. Ziana tampak tersenyum melihat itu. Ia cosplay jadi penonton bayaran yang menggerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri seperti rumput yang bergoyang-goyang.
Tanpa sadar, Saka malah senyum-senyum sendiri melihat video itu.
*
*
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Ninik Hartariningsih
kho diulang ulang lagi sdh 4kali.tdk nyambung dgn judul
2023-06-28
1