Jam kerja sudah berakhir, Oliv pun mengajak Saka untuk pergi menikmati sunset di sebuah cafe yang berada di rooftop gedung hotel. Saka tak menolaknya, karena ia pun butuh suasana baru.
Sesampainya disana, mereka saling mengobrol tentang persahabatan mereka yang sudah terjalin sejak masa kuliah. Bahkan Oliv memilih untuk bekerja bersamanya juga daripada menerima tawaran kerja di luar negeri. Pada saat itu, Saja merasa kalau Oliv adalah wanita bodoh yang menyia-nyiakan kesempatan. Tapi, Oliv tak berpikir demikian.
Topik yang dibahas kini berganti ke keluarga Saka. Oliv bertanya tentang mamanya Saka yang tak pernah terlihat. Saka hanya bisa tersenyum kecut tanpa mau menjelaskannya. Ia masih belum bisa bercerita soal itu.
"Maaf, kalau aku kesannya memaksa kamu untuk bercerita. Aku hanya penasaran, karena sekarang kamu cuma tinggal berdua saja dengan Oma."
"Rasa penasaran itu memang wajar kok. Cuma aku emang belum bisa cerita ke siapapun."
Oliv menaruh tangannya di atas telapak tangan Saka sambil berucap, "Nanti kamu harus cerita kalau udah siap. Aku akan selalu ada buat kamu."
Saka hanya mengangguk menjawabnya lalu menarik tangannya dari atas meja. Kepalanya bergerak untuk melihat sekitar, rupanya cafe yang didatanginya memang terkenal karena banyak pengunjung yang datang. Dia saja yang memang jarang keluar makanya tidak tahu spot ramai dan fotoable seperti disana.
Sambil menunggu pesanan datang, Saka menerima pesan foto dan video lagi dari Bi Nana. Saka menonton video tersebut.
Dimana, Oma nya terlihat sedang berkebun di sore hari. Memakai pakaian berkebun dan mengenakan sarung tangan serta memegang sekop kecil untuk memasukan tanah ke dalam pot.
Ziana yang emang dasarnya rada usil, tak ingin Oma Rasti cuma diam melihat saja.
"Oma cepat masukan tanah yang sudah dicampur dengan pupuk kompos itu ke dalam pot. Lama sekali! Lihat nih! Udah banyak pot yang sudah saya isi, tinggal nanti ditanami sayuran aja."
"Berisik kamu, Zia! Sudahlah, aku tidak mau melakukan ini! Kotor dan bau!"
"Oma ini biasanya ngomong doang. Kotor lah, bau lah, berisik lah, ini lah, itu lah. Terlalu banyak hal yang Oma hindari. Belajarlah untuk melakukan apapun yang tidak Oma sukai. Siapa tahu nantinya Oma malah menyukai hal tersebut. Ayo Oma! Lumayan nanti kalau sayurannya besar, bisa kita masak! Jadi tidak perlu belanja ke supermarket lagi. Jadi, Oma bisa irit uang."
"Aku tidak akan miskin meskipun memborong seluruh isi supermarket!" ucap Oma Rasti dengan kesalnya.
"Kita kan tidak tahu bagaimana di masa depan nanti Oma."
Oma Rasti mendengus kesal. Ziana selalu saja membuat dirinya seperti terlihat bodoh. Tapi karena sudah kesal, Oma Rasti melempar sarung tangan dan sekop nya ke arah Ziana. Kemudian pergi dari sana.
Ziana hanya bisa menghela napasnya. Ia pun melangsungkan sendiri menanam sayurnya.
Video pun selesai, Saka tertawa kecil melihatnya. Menghadapi Oma Rasti memang susah-susah gampang tergantung suasana hati wanita tua itu. Tapi Saka cukup kagum dengan Ziana yang tak pernah berhenti untuk membujuk Omanya.
Oliv yang melihat Saka tertawa kecil seperti itu jadi penasaran. Pasalnya, selama ia kenal dengan Saka. Laki-laki itu jarang sekali tertawa. Yang sering dilihatnya hanya sikap Saka yang serius dan tegas.
"Kamu lihat apa? Apa lucu sekali sampai bisa membuatmu tertawa?"
"Eh,"
Saka malah terkejut sendiri dengan pertanyaan dari Oliv. Ia malah bertanya kepada dirinya sendiri.
Apa iya tadi aku tertawa? Kok bisa?
"Kamu salah liat kali. Mana ada aku tertawa."
Saka berkilah dan memasukan ponselnya ke dalam aku bajunya.
"Aku mengenal kamu bukan satu atau dua tahun Sak. Tapi kita udah saling mengenal selama 8 tahun. Aku tahu sikap kamu yang lagi ketawa sama nggak nya. Itu beda sekali."
Namun Saka enggan membahas hal tersebut, ia malah mengalihkan pembicaraan dengan mengucapkan terima kasih pada pelayan yang datang membawa pesanan mereka.
Saka mengucapkan selamat makan ke Oliv lalu memulai memasukkan suapan demi suapan makanan ke dalam mulutnya.
*
*
Oma Rasti masih kesal pada Ziana. Setelah ia mandi, ia terus menekuk wajahnya. Tubuhnya kini sudah mendarat di sofa sambil menunggu kepulangan cucunya.
Setengah jam kemudian, Ziana ikut duduk di samping Oma Rasti. Ia dilihat dengan ketus oleh Oma Rasti.
"Maaf ya Oma, saya terlalu memaksakan sesuatu untuk Oma lakukan. Tapi, jujur saya hanya ingin Oma melakukan hal-hal baru yang sebelumnya tak pernah Oma lakukan. Karena pada kenyataannya, di masa tua, anak dan cucu akan sibuk dengan kehidupan dan keluarga baru mereka. Agar kita tidak merasa kesepian dan bosan, kita harus membuat kesibukan sendiri. Itulah cara saya hidup selama ini Oma. Menyibukkan diri, agar tidak terlalu memikirkan masalah hidup."
Lagi dan lagi, wanita muda ini terlihat sangat bijak dan dewasa di atas usianya. Oma Rasti sampai heran sendiri. Sebenarnya kehidupan seperti apa yang Ziana alami. Sampai-sampai seperti pernah melakukan semua hal.
"Saya akan menyiapkan makan malam untuk Oma. Oma mau dibuatkan apa?" tanya Ziana.
"Terserah, yang penting enak," jawab Oma Rasti.
"Jangan jawab terserah Oma. Kata-kata itu bikin orang bingung. Saya bukan seorang cenayang yang bisa menebak sesuatu. Katakan saja apa yang ingin Oma makan dengan jelas."
Oma Rasti menatap sinis ke Ziana. Lalu menyebutkan apa yang ingin ia makan.
"Ayam bakar kecap manis."
"Oke Oma. Saya akan mulai bereksperimen. Oma mau bantu?" tawar Ziana yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Oma Rasti.
Ziana hanya terkekeh pelan kemudian pergi dari hadapan Oma Rasti.
Setelah tak diganggu oleh Ziana, Oma Rasti memainkan ponselnya dan menanyakan keberadaan cucunya yang tak kunjung pulang, padahal waktu pulang kerja sudah berlalu satu setengah jam.
Oma Rasti pun mendapatkan balasan dari Saja.
Aku masih di luar Oma. Mungkin aku tidak makan malam di rumah bersama Oma. Maaf ya Oma.
Hal itu langsung membuat wajah Oma Rasti merengut. Daripada meratapi kesedihannya, ia malah berdiri dari duduknya dan menghampiri Ziana yang sedang mengupas bawang.
"Berubah pikiran Oma? Oma mau bantu?"
Tanpa menjawab, Oma Rasti langsung mengambil alih tugas Ziana. Ziana pun beralih memotong ayam dengan ukuran sedang. Ziana pikir, Oma Rasti jago memasak karena tadi terlihat sangat percaya diri. Tapi ternyata, semuanya zonk. Bahkan untuk memotong bawang saja, Oma Rasti memotongnya sangat besar.
"Lebih baik Oma duduk dan menonton saja lah. Nanti kalau tidak enak, saya lagi yang dimarahin. Kan ngenes Oma."
Oma mendengus kesal. Ia pun mencuci tangannya dan hanya menonton Ziana memasak saja. Setidaknya ia tidak sendirian-sendirian sekali ketika Saka tak ada di rumah.
*
*
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Aidah Djafar
omah omah ngenes 🤭😀
2024-02-19
0
Aiko_azZahwa
kayakny ni si oliv,ad udang di balik rempeyek...🤔🤔🤔🤔🤔
2023-06-19
1