Ziana kembali ke rumah Saka dengan perasaan senangnya. Ia juga pulang dengan tepat waktu bahkan ia sampai beberapa menit sebelum pukul 7 malam.
Biasanya pukul 7 malam, Oma Rasti dan Saka pasti tengah bersiap untuk makan malam, Ziana pun melihat kresek yang dibawanya. Ia membawakan makanan yang dibuatnya bersama anak panti tadi. Ia ingin Oma Rasti merasakan makanan yang dibawanya.
Ketika sampai di meja makan, Ziana menyapa Oma Rasti dan Saka lalu mengeluarkan makanan yang dibawanya.
"Apa itu?" tanya Oma Rasti yang keheranan.
Ziana pun membuka kotak makan itu dan memperlihatkan capcay, ayam goreng kremes dan sayur kangkung.
"Dimakan ya Oma. Enak kok, pasti Oma akan suka rasanya. Ini masakan yang dibuat aku sana anak-anak di panti."
Saka yang sedari tadi cuma diam, tampak melihat Ziana dengan penuh curiga.
"Tenang aja Tuan Saka, semuanya dijamin higenis, bersih dan sayurnya juga organik kok. Soalnya kami nanam sayur sendiri di halaman rumah," ucap Ziana.
"Kalau Tuan mau, Tuan juga bisa mencicipinya," tambah Ziana lagi.
Oma Rasti tanpa ba-bi-bu langsung mengambil satu ayam gorengnya dan capcay ke dalam piringnya.
Ziana tak beranjak dari sana karena penasaran dengan respon keduanya. Tapi tatapan tajam dari Saka membuatnya mau tak mau harus segera undur diri.
Satu suapan telah masuk ke dalam mulut Oma Rasti. Setelah merasakan nikmatnya makanan itu, Oma Rasti langsung melahapnya tanpa henti. Saka pun jadi penasaran dan ikut mencobanya juga. Ternyata memang seenak itu. Padahal mungkin bumbu yang digunakan sama.
*
*
Saka kembali pada rutinitasnya di kantor. Ia sibuk berurusan dengan laporan dan laporan serta dokumen yang harus ia tandatangani. Tak lama kemudian ia mendapatkan lagi video dari Bi Nana tentang kegiatan Oma Rasti dan Ziana.
Saka menyempatkan waktunya untuk menonton video itu.
Disana terlihat Ziana yang sedang mendandani Oma Rasti supaya terlihat lebih muda dan cantik.
"Apa tidak usah dipakaikan segala! Oma juga bisa sendiri. Dulu waktu muda Oma juga pandai merias wajah. Dandanan kamu ini terlalu sederhana, tidak cocok dengan image Oma," kesal Oma Rasti ketika akan dipakaikan lipstik ke bibirnya oleh Ziana.
Riasan yang dibuat Ziana tampak natural tapi tetap cantik dan cocok untuk Oma Rasti yang sudah berumur. Tapi emang dasarnya Oma Rasti orangnya, nggak bisa menerima dengan mudah, ia harus banyak bicara dulu. Ia bahkan memakaikan eyeshadow sendiri dengan menimpa hasil buatan dari Ziana.
Tapi ternyata hasilnya lebih hancur dari dugaan Ziana. Ziana malah tertawa terbahak-bahak karena dandanannya kini terlihat menor sebelah.
"Apa ini Oma? Katanya pandai merias wajah? Tapi kenapa jadi kaya ondel-ondel begini? Oma ini selalu aja ngaku-ngaku bisa semuanya. Padahal mah nggak bisa apa-apa kan Oma? Oma cuma takut saya ledek, iya kan?"
Oma Rasti mendengus kesal. Meski tertawa, Ziana menghapus riasan mata yang rusak itu dan diperbaiki sampai kembali cantik.
"Sudah selesai, ayo kita foto Oma. Nanti Oma bisa kasih liat ke Tuan Saka."
"Nggak mau! Riasan kamu jelek!"
"Jika dibandingkan dengan riasan Oma tadi, riasan saya jauh lebih bagus. Sudahlah Oma mengalah saja."
Dengan terpaksa kedua pun berfoto bersama menggunakan ponsel Oma Rasti yang kameranya bagus. Ziana juga meminta Oma Rasti untuk bergaya banyak pose, dan dengan polosnya, Oma Rasti mengikuti semua arahan yang diberikan oleh Ziana.
Video pun selesai. Saka tidak sabar untuk melihat hasil fotonya. Ia bahkan tanpa sadar selalu tersenyum tiap kali melihat interaksi antara Ziana dan Oma Rasti.
Tanpa Saka sadari, Oliv masuk ke ruangan dan melihat Saka yang tersenyum. Waktu lalu, ia melihat saka tertawa kecil, kini tersenyum. Wanita itu jadi curiga ada sesuatu yang terjadi dengan Saka.
"Sak," panggil Oliv.
"Eh, kok udah ada di ruangan? Kapan masuknya?" tanya Saka yang terheran-heran.
"Aku tadi udah ketuk pintu tapi kakinya nggak dengar, jadi aku masuk aja ke dalam. Kamu keliatan berbeda beberapa hari terakhir. Suka senyum dan tertawa. Ada apa? Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan?"
Saka refleks langsung menggeleng.
"Nggak ada apapun."
"Oke, sepertinya kamu emang belum mau cerita. Aku biarkan untuk kali ini. Ini aku bawakan berita acara dari meeting Jumat lalu. Tolong segera diproses supaya mereka bisa segera memulai pembangunan gedungnya."
"Baiklah, apa ada lagi yang lainnya?" tanya Saka.
Oliv menggeleng, lalu permisi keluar dari ruangan Saka.
Setelah menutup pintunya, Oliv berdiam diri disana. Ia benar-benar penasaran dengan peribahasa sikap Saka akhir-akhir ini. Apa jangan-jangan Saka menyukai seseorang? Atau Saka sudah memiliki pacar? Ia benar-benar tidak rela jika hal itu benar terjadi. Lantas apa artinya pengorbanannya selama ini yang sengaja ingin didekat Saka terus sampai menolak perusahaan besar yang merekrut dirinya.
"Tidak boleh, dan tidak mungkin Saka punya pacar tapi dia tidak cerita."
*
*
Sore harinya, Oliv mengantarkan Saka pulang ke rumahnya. Ia mampir sebentar disana sambil meminta minum ke dapur. Tapi ia dibuat penasaran dengan suara gelak tawa dari teras samping rumah. Oliv pun berjalan kesana dan melihat Oma Rasti bersama seorang wanita muda yang tak dikenalinya tertawa dengan sangat lepas. Ada rasa cemburu di hatinya, apalagi ia yang sudah lama berteman dengan Saka saja tidak bisa sedekat itu dengan Oma Rasti meski Oma Rasti baik padanya.
"Siapa wanita itu? Apa jangan-jangan dia pengasuh yang dimaksud Saka itu?"
Karena tak ingin melihat kedekatan mereka, Oliv pun membawa minumnya ke ruang tamu. Ia langsung duduk dan bertanya pada intinya ke Saka.
"Wanita yang bersama Oma itu pengasuhnya?"
Saka langsung mengiyakan.
"Iya, dia pengasuh yang aku maksud waktu itu. Ternyata setelah aku lihat-lihat dia tak semenyebalkan yang aku kira. Dia tampak ahli dalam hal membujuk Oma."
"Tapi di antara majikan dan pengasuh, seharusnya mereka tidak sedekat itu Saka. Apa kamu tidak takut kalau dia memiliki niatan buruk?"
"Aku rasa dia tidak seperti itu Liv," ucap Saka yang tidak setuju dengan ucapan Oliv. Oliv jadi kesal sendiri.
"Yah, mungkin aku hanya takut, Oma dimanfaatkan dan terlalu dekat dengan pengasuhnya. Aku takut ketika nantinya Oma kamu ditinggal lagi oleh pengasuh barunya, akan seperti kemarin lagi. Yang berbuat ulah di rumah sampai kamu kelabakan sendiri."
Mendengar ucapan Oliv tersebut, ia pun sadar, kalau memang Ziana dan Oma nya memang tak boleh terlalu dekat. Harus aja jarak diantara pengasuh dan majikan.
"Ya, nanti aku akan bicarakan itu ke Zia."
Oliv mengangguk. Kemudian ia pun pamit untuk pulang dan menitipkan salam untuk Oma Rasti serta minta maaf tak bisa mampir lebih lama. Saka pun tak mempermasalahkan itu.
*
*
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Aidah Djafar
olive propokator 🤦😠
2024-02-20
0
Alejandra
Emang nggak peka atau gimana jadi cow, soal keluarga kenapa orang lain harus ikut campur...
2023-12-05
0
LENY
oliv mulai meracuni Saka
2023-11-20
0