Pagi harinya, Ziana bangun pagi dan membantu Bi Nana di dapur untuk menyiapkan sarapan. Bi Nana sudah menolak bantuan dari Ziana, tapi wanita muda itu tetep kekeh ingin membantu.
"Tugas kamu itu cuma jaga Oma, bukan memasak. Jadi tidak usah bantu bibi lagi di lain waktu."
"Tapi, tugas menjaga Oma itu terasa ringan sekali Bi, lagipula menyiapkan makanan yang bergizi pun jadi tugas aku sebagai pengasuh Oma. Jadi untuk hari ini aku ingin memasak makanan untuk Oma. Boleh ya Bi?"
Bi Nana tampak menghela napasnya. Ia benar-benar tak bisa menolak permintaan Ziana yang terlihat tulus ini. Tapi, ia pun jadi takut juga jika makanan yang dibuat Ziana tidak sesuai dengan selera nyonya besar.
"Kalau nanti makanan yang kamu buat tidak disukai nyonya besar. Jangan bawa-bawa bibi ya?"
"Beres Bi. Bibi tidak perlu khawatir. Aku jago masak kok. Aku bahkan pernah membuka jasa catering. Jadi apa yang bibi khawatirkan itu tidak akan kejadian."
Bi Nana hanya berharap apa yang diucapkan oleh Ziana memanglah kenyataan supaya semuanya aman terkendali.
Di pagi itu, Ziana mengambil alih dapur untuk membuat soto ayam dari resep pribadinya. Ia sengaja membuatkan itu spesial untuk Oma Rasti. Sementara untuk sarapan Saka, Bi Nana lah yang menyiapkan.
Selesai memasak, Ziana pergi ke kamar Oma Rasti untuk membangunkan wanita tua itu. Ia bermaksud ingin membuat Oma Rasti jadi lebih sehat dan produktif setiap harinya.
"Oma! Bangun Oma!" teriak Ziana.
Oma Rasti menutup telinganya dengan bantal karena tidak kuat dengan suara teriakan Ziana. Tapi Ziana ya g orangnya pantang menyerah, mempunyai cara lain untuk membangunkan Oma Rasti. Ia malah berteriak semakin kencang sampai mendapatkan lemparan bantal dari Oma Rasti.
Oma Rasti pun terbangun dari tidurnya dan duduk dengan mata yang masih mengerjap-ngerjap dengan kantuknya.
"Kita harus produktif Oma. Ayo cepat mandi dan sarapan Oma."
"Kamu ini, belum juga sehari disini, sudah banyak mengatur-atur!"
"Itu tandanya saya perhatian Oma. Cepat mandi Oma!"
Oma Rasti mendengus sebal tapi ia tetap melakukan apa yang diperintahkan oleh Ziana.
Ziana pun mengambil pakaian Oma di dalam lemari, ketika melihat pakaian olahraga, senyumnya langsung berkembang. Kemudian, ia mengetuk pintu kamar mandi dan memberikan pakaian yang ia pilihkan.
Dari dalam Oma Rasti tampak marah-marah karena Ziana memilihkan pakaian olahraga. Padahal dirinya tak berniat untuk berolahraga.
"Sudah pakai saja Oma."
Tak berselang lama Oma Rasti keluar memakai pakaian olahraga. Ziana tampak tersenyum senang.
"Perfect! Nanti setelah Oma sarapan kita jalan-jalan di sekitar kompleks."
"Whatt!!!" Oma Rasti tampak begitu terkejut.
"Supaya tulang Oma tidak keropos. Oma tahu kan kalau sinar matahari pagi itu adalah vitamin D? Itu bagus sekali untuk tulang Oma."
"Kamu pikir aku sudah tua renta?"
"Saya tidak berpikir begitu, Oma sendiri yang mengatakannya. Ayo turun Oma."
Pagi-pagi Oma Rasti sudah dibuat kesal oleh Ziana. Ia bahkan berada di meja makan dengan wajah kusutnya itu.
Saka yang sudah lebih dulu disana dibuat heran dan terkejut dengan pakaian yang dikenakan oma nya juga wajah kusut oma nya itu.
"Semua itu karena pengasuh baru itu! Pagi-pagi sekali dia sudah membangunkan Oma dengan suara berisiknya. Ia bahkan menyuruh Oma untuk memakai pakaian seperti ini!"
"Oma kan biasanya suka menolak apapun yang tidak Oma sukai, kenapa Oma tidak melakukan itu?" ucap Saka yang malah menyadarkan Oma Rasti.
Oma Rasti pun seakan bingung. Ia merasa apapun yang diucapkan Ziana tak bisa ia bantah. Meski kesal, ia tetap menurut saja. Jadilah, Oma Rasti hanya diam tak menjawab ucapan Saka.
Makanan pun dihidangkan di meja makan. Oma Rasti agak terkejut ketika melihat menu makannya dan Saka berbeda. Ia langsung marah-marah ke Bi Nana.
"Nana! Kenapa kamu membuat menu makan yang berbeda! Dan apa ini? Makanan sederhana seperti ini! Aku tidak berselera! Buatkan aku makanan lain atau yang sama dengan Saka!"
"Maaf Nyonya, itu masakan Zia, katanya dia ingin Oma makan makanan yang bergizi," ucap Bi Nana.
"Panggil Zia!" ucap Saka dengan keras. Ia merasa kesal karena wanita itu sudah berada di luar batas. Belum juga sehari bekerja, ia sudah melakukan banyak hal yang tidak disukai Oma nya.
"Baik Tuan Muda."
Tak lama kemudian, Ziana pun datang menghadap ke Saka dan Oma Rasti. Saka menatap Ziana dengan tatapan yang tajam. Hal itu berhasil membuat Ziana merinding.
"Siapa yang mengizinkan kamu seenaknya masak di dapur dan menyiapkan sarapan untuk Oma? Tugasmu hanya menjaga Oma dan menemaninya. Urusan makanan sudah ada orang lain yang menjalankan!"
"Maaf Tuan, saya hanya ingin menjadi pengasuh dan merawat Oma dengan baik dengan menyiapkan makanan yang bergizi dan banyak sayurnya. Maaf kalau memang saya lancang. Saya janji hal seperti ini adalah yang pertama dan terakhir kalinya. Tapi setidaknya, Oma bisa cicipi dulu rasanya. Meskipun terlihat sederhana. Tapi kita tidak boleh menilai sesuatu dari sampulnya saja. Saya permisi."
Ziana pergi dari sana dengan mengelus dadanya. Ia tadi benar-benar gugup dan takut dipecat karena sebenarnya. Tapi ia juga yakin kalau Oma Rasti pasti akan menyukai masakannya yang sederhana itu.
"Gimana Oma? Oma mau memakannya? Atau mau dibuang saja? Kalau Oma tidak mau memakannya, Oma bisa makan makanan milikku. Kita bertukar saja," saran Saka yang tidak mau Oma nya tidak sarapan.
Kata-kata Ziana selalu saja terpikir di kepala Oma Rasti. Oma Rasti pun memutuskan untuk mencicipi dulu makanan yang dibuat oleh Ziana. Ia memasukan suapan pertamanya ke dalam mulut. Setelah mengunyahnya, ia tampak terdiam.
"Gimana Oma? Kenapa Oma malah diam?" tanya Saka yang khawatir Oma nya diracuni oleh Ziana.
Sebuah cairan bening keluar dari mata Oma Rasti. Ia menyiapkan lagi makanan itu ke dalam mulut.
"Oma, Oma kenapa lagi sekarang ini? Oma rindu kita berkumpul lagi?"
Oma Rasti malah menggeleng.
"Rasa masakan ini, mirip sekali dengan rasa masakan almarhum Opa mu. Oma berasa bernostalgia."
"Lalu apa aku harus memecat Zia saja Oma? Dia sudah lancang sekali."
Oma Rasti menggeleng.
"Bilang ke dia, dia boleh memasak untuk Oma. Oma tidak akan protes dengan makanan yang akan dia buat lagi."
Saka pun menurut saja meskipun ia masih kesal dengan Ziana yang sudah membuat pagi harinya jadi berbeda. Biasanya rumah akan sepi, tapi kali ini berbeda. Pagi-pagi Ziana sudah berbuat ulah dan menurunkan suasana hatinya.
Sebelum berangkat kerja, Sama terlihat memberitahukan apa yang dikatakan Oma Rasti ke Ziana.
"Lain kali kamu jangan berbuat seenaknya. Ini bukan rumah kamu."
"Iya saya tahu Tuan. Sekali lagi saya minta maaf. Harusnya saya meminta izin dahulu."
"Hm, jaga Oma saya dengan baik. Jangan buat dia kesal dan kamu harus turuti semua keinginannya."
"Baik Tuan."
Saka pun pergi ke kantor setelah menceramahi Ziana.
*
*
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Alejandra
Kalau nanti Tuan Muda ini jatuh cinta ke Zia, semoga tidak gampang untuk mendapatkan Zia...
2023-12-05
0
Nar Sih
mampir kakk,seperti nya bagus
2023-08-12
0