Di bandara, seorang pria sedang menarik kopernya hendak pergi ke tempat penjemputan. Pria itu berkacamata hitam dan memakai topi warna hitam juga.
Sebuah mobil pun berhenti di hadapannya dan membuka pintu mobilnya.
"Silahkan masuk Tuan."
Laki-laki itu pun masuk ke dalam mobil dan melepaskan kacamata hitamnya ketika sudah duduk di kursi. Mobil pun melaju menjauh dari area bandara.
Di sepanjang jalan, laki-laki itu terus memandangi kota yang terasa sangat berbeda dengan terakhir kali ia berada disana. Gedung-gedungnya sudah banyak yang menjulang tinggi, jalannya sudah rapih dan suasananya pun sudah banyak berubah. Terlalu lama berada di luar negeri dan tak pernah kembali, membuatnya sedikit merasa kalau ini bukan kampung halamannya sendiri.
Mobil melaju menuju ke rumah megah bak istana itu sampai ke area halaman. Pria itu lantas turun dan menurunkan kopernya dari bagasi laku menariknya.
Ia membuka pintu rumah, kesan pertamanya adalah terasa masih sama seperti dulu. Bahkan pajangan di rumah pun masih sama.
Laki-laki itu terus berjalan masuk dan ketika ada pelayan yang berpapasan dengannya, pelayan itu langsung menyapa dengan sangat sopan.
"Selamat datang kembali Tuan Muda Riki. Oma Rasti pasti senang melihat cucu keduanya datang. Biar saya bawakan kopernya Tuan Muda."
Riki menolak dengan isyarat menggunakan tangannya. Ia berjalan menaiki tangga dan memasuki kamarnya yang sudah lama ia tinggalkan.
Lalu, salah satu pelayan yang tadi melihat kedatangan Riki pun mengadu ke Oma Rasti kalau cucu satunya pulang ke rumah. Hal tersebut langsung membuat Oma Rasti jadi senang dan berdiri dari duduknya. Ia berjalan menuju ke kamar Riki.
Mengetuk beberapa kali pintu kamar Riki, sampai akhirnya pintu itu pun terbuka.
"Masyaallah, cucu Oma sudah besar dan tinggi sekali sekarang. Apa kamu disana hidup dengan baik?" ucap Oma Rasti sambil meraih tangan Riki. Ia benar-benar merindukan cucunya yang satu ini. Sudah lama sekali tak bertemu, terakhir kali ketika Riki lulus SMA dan setelah itu Riki ikut bersama papanya.
"Aku baik disana Oma. Jangan khawatir," ucap Riki balik menggenggam tangan Oma Rasti.
"Kenapa pulang nggak bilang-bilang?"
"Sengaja Oma."
Oma Rasti hanya mendengus kemudian memeluk tubuh cucunya itu.
Rupanya, Ziana melihat itu semua, ia hanya diam dan bingung dengan orang yang baru saja dilihatnya. Iya tidak tahu siapa orang tersebut. Sampai ketika, Oma Rasti memanggil namanya, dan Ziana pun mau tak mau harus mendekat. Oma Rasti memperkenalkan cucu keduanya ke Ziana sebagai tuan rumah di rumah megah itu juga.
"Zia, dia ini adalah cucu kedua Oma namanya Riki. Kamu harus hormat sama dia juga."
Ziana mengangguk sambil menjawab, "Baik Oma."
"Bagus, sekarang kamu siapkan makan siangku dan cucuku."
Ziana mengangguk lagi kemudian pergi dari sana ke arah dapur.
Riki langsung bertanya ke Oma Rasti tentang wanita muda tersebut.
"Dia siapa Oma?"
"Pengasuh Oma yang baru. Namanya Zia. Saka memilihnya untuk Oma. Tapi orangnya ngeselin, cerewet, suka bikin Oma emosi."
Riki geleng-geleng kepalanya.
"Itu mah karena Oma nya juga ngeselin kali."
Oma Rasti merajuk dan mengerucutkan bibirnya. Lalu memulai topik pembicaraan lain.
"Apa papa kamu tau kalau kamu ke rumah Oma?"
Riki terdiam untuk beberapa saat dan setelahnya bau menjawab.
"Kalau aku bilang, mungkin aku tidak ada disini Oma. Oma tahu sendiri, papa selalu melarang ku untuk menemui Oma. Bahkan untuk memberikan pesan atau menelpon Oma saja dia tidak suka. Makanya aku selalu memakai nomor orang lain supaya papa tidak curiga."
Oma Rasti menghela napasnya pelan. Entah sampai kapan keluarganya harus tercerai-berai seperti ini.
"Papa kamu pasti masih marah dan benci ke Oma."
"Mungkin, sudahlah Oma jangan pikirkan itu."
Oma Rasti mengangguk.
Satu jam setelahnya, masakan sudah siap, Riki pun sudah istirahat untuk beberapa menit. Kini cucu dan nenek itu sedang makan siang bersama di meja makan. Oma Rasti tampak menyukai makanan yang dibuat oleh Ziana. Begitu juga dengan Riki. Bertahun-tahun berada di luar negeri membuatnya merindukan masakan Indonesia.
Selesai makan, Oma Rasti ke teras dekat kolam renang lalu duduk sendirian disana. Sementara Riki, berkeliling rumah sambil bernostalgia.
Tanpa sengaja Riki dan Ziana saling berpapasan di ruang tamu ketika Ziana akan membawakan cemilan untuk Oma Rasti. Riki menyapanya dengan ramah dan senyuman.
"Cemilan untuk Oma ya?" tanya Riki.
"Iya Tuan," jawab Ziana.
Riki yang tidak suka dipanggil Tuan pun meminta Ziana untuk memanggilnya dengan panggilan lain.
"Jangan panggil aku Tuan. Rasanya aneh sekali. Panggil nama atau Mas aja."
"Baik Mas Riki."
"Nah, begitu kan enak didengarnya. Sana gih ke Oma dia pasti nungguin. Kalau kelamaan kamu bisa disemprot sama ocehan Oma."
Ziana mengangguk lalu pergi dari hadapan Riki sambil membungkukkan sedikit badannya.
"Sepertinya, orangnya tidak seperti yang Oma ceritakan."
*
*
Saka pulang membuka pintu rumahnya dan memperlihatkan wajah yang lesu dan kusut. Ia masih belum sadar kalau ada Riki yang duduk di ruang tamu dengan menyilangkan salah satu kakinya sambil membaca majalah.
Saka lewat begitu saja. Sementara Riki sadar akan kepulangan Saka dari kantor. Ia pun langsung menyapa Saka.
"Sepertinya, kamu kelihatan capek sekali sampai tidak sadar kalau ada aku disini.," ucap Riki.
Saka langsung mengarahkan pandangannya ke sumber suara. Ia melihat sepupunya ada disana.
"Kapan datang?" tanya Saka dengan wajah yang datar.
"Tadi siang. Sepertinya kamu tidak senang aku datang ya?" Riki langsung menyimpulkan demikian karena tak ada raut bahagia disana.
"Jangan asal menyimpulkan, aku cuma lelah. Tidak ada tenaga untuk tersenyum. Kita ngobrolnya nanti saja kalau aku sudah mengisi baterai tubuhku."
Setelah mengatakan itu, Saka meninggalkan Riki disana dan pergi menuju ke kamarnya.
"Sejujurnya, aku pulang ke Indonesia karena ingin bertemu Oma dan kamu. Rindu masa-masa remaja kita dulu. Kemana-mana selalu bersama layaknya saudara kembar. Meski pun kita bukan kembar tapi sepupuan."
Riki melanjutkan lagi untuk membaca majalah yang masih bertengger di tangannya.
*
*
Angin malam menusuk sampai ke rongga dada. Dua pria bertubuh tinggi dengan ketampanan yang hampir serupa tengah berdiri di tepian kolam renang. Belum ada obrolan yang terjadi disana. Keduanya masih diam sambil melihat air kolam yang memantulkan bayangannya.
"Aku harap kepulanganmu kesini tidak membawa masalah baru. Kamu tahu sendiri konflik keluarga kita. Orang tua kita berdua tidak akur dan selalu saja ribut."
"Aku tahu," jawab Riki.
"Selama ini, aku selalu berharap kamu bisa pulang lebih cepat. Supaya aku tidak sendirian mengurus perusahaan Oma. Tapi, nyatanya setelah bertahun-tahun kamu baru muncul dan kembali."
Saka terlihat sangat tenang saat berkata seperti itu.
"Tidak mudah untuk meninggalkan papa sendirian dalam keadaan seperti dulu. Dia butuh aku untuk menguatkan dirinya."
Saka memang tahu kalau kondisi Om Hendri memang tidak baik setelah kematian istrinya.
"Aku harap, kali ini kamu akan benar-benar membantuku. Dengan begitu, jika ada masalah yang timbul nantinya. Aku bisa dengan mudah membantumu juga."
"Liat saja nanti," jawab Riki.
*
*
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Aidah Djafar
masalah apa ya di keluarga mereka 🤔
2024-02-20
0
Aiko_azZahwa
judul bab sma isiny kok beda,
2023-06-19
0