Ziana mulai mendekati Oma Rasti lagi. Ia bahkan langsung duduk di sebelah Oma ketika dia duduk di ayunan rotan.
"Siapa sih kamu!? Ngapain dekat-dekat terus! Pergi sana!" usir Oma Rasti yang tidak suka dengan Ziana.
"Tadi kan saya sudah memperkenalkan diri Oma. Nama Saya Ziana Anastasia. Oma bisa panggil Zia saja. Saya pengasuh Oma yang baru pengganti Susi."
Oma Rasti langsung menoleh ke Ziana dan menatapnya dengan sangat intens. Ziana merasakan aura di dekatnya jadi mencekam dan merinding seketika.
"Tidak ada yang bisa menggantikan Susi. Suruh Saka untuk mengganti kamu dengan Susi lagi!" pinta Oma Rasti yang membuat Ziana menghela napasnya.
"Oma, Oma tahu kan di setiap pertemuan pasti ujungnya adalah perpisahan. Seperti itulah yang terjadi antara Oma dan Susi. Jadi, Oma harus berhati lapang. Penerimaan diri itu memang susah Oma. Tapi, saya yakin Oma akan bisa dekat dengan saya."
"Cih! Sok tahu kamu. Banyak bicara pula!" balas Oma Rasti.
"Kalau saya diam terus, sama aja Oma akan kesepian. Bukannya Oma membutuhkan teman untuk bercerita?" ucap Ziana yang membaut Oma langsung memalingkan wajahnya.
Ziana tersenyum. Ya, walaupun agak jutek, cuek, dan bicara kasar seperti ini, tapi Oma Rasti masih bisa diajak bicara.
"Masuk ke dalam yuk Oma. Hari sudah mulai petang. Kata orang-orang jaman dulu pamali Oma. Terus juga banyak setan yang keluar kalau di jam-jam seperti ini."
"Saya tahu, kamu jangan sok berasa lebih tua dan tahu dari saya!"
"Maaf Oma, cuma mengingatkan saja."
Di saat Ziana ingin membantu Oma dengan meraih tangannya. Oma Rasti sudah menepisnya lebih dulu.
"Emangnya aku anak kecil apa?!"
Oma Rasti pun berjalan lebih dulu untuk masuk ke dalam rumah. Sementara Ziana mengikuti dari belakang. Kalau dipikir-pikir mah Oma Rasti itu masih sehat dan masih bisa berjalan normal, tapi kenapa harus dijaga. Memang orang kaya, apapun bisa mereka lakukan.
Ziana mengikuti Oma Rasti sampai ke kamarnya. Disana banyak sekali koleksi desain pakaian yang terpajang di kamar Oma Rasti. Ziana menebak kalau Oma Rasti memang dulunya adalah seorang desainer.
"Saya bantu untuk mandi ya Oma."
"Tidak usah! Saya bisa sendiri," tolak Oma Rasti.
"Kalau begitu, saya bantu ambilkan pakaian ya Oma."
"Tidak usah!" tolak Oma Rasti lagi.
"Kalau seperti itu, saya makan gaji buta dong Oma," ucap Ziana yang sedikit melirihkan suaranya.
"Bukannya orang-orang lebih suka seperti itu. Makan gaji buta, tapi apa yang mereka kerjakan cuma sedikit."
"Ya, itu mereka bukan saya Oma. Saya punya prinsip harus jujur dan bekerja keras, lalu mendapatkan upah yang sesuai dengan kinerja saya."
Ucapan Ziana itu sedikit membuat Oma Rasti melihat Ziana dengan cara pandang yang berbeda.
"Duduk saja di sofa. Aku mau mandi dulu."
"Baiklah Oma."
*
*
Jam makan malam telah tiba. Oma Rasti sudah berada di meja makan bersama dengan Saka. Ya, cuma berdua. Karena memang yang tinggal di rumah sebesar itu hanya mereka. Sementara pekerja di rumah tersebut sangatlah banyak mungkin ada sekitar 6 ART, 1 tukang kebun, 1 tukang bersih-bersih kolam, 2 satpam untuk bergantian shift dan ada 2 supir juga.
"Gimana pengasuh Oma yang baru, apa Oma suka?"
"Suka dari mananya? Dia berisik sekali. Beda dengan Susi yang kalem dan jadi pendengar yang baik. Zia itu sudah seperti alarm berjalan, baru pertama kerja udah nyuruh-nyuruh Oma."
"Sebenarnya aku juga tidak suka sih Oma sama dia! Tapi aku sudah berjanji akan mempekerjakannya sebulan dulu baru setelah itu memutuskan apa dia akan lanjut bekerja atau tidak. Tapi kalau memang Oma tidak suka. Aku bisa kok memecatnya sekarang juga."
"Tidak usah," larang Oma Rasti.
"Baiklah, bilang saja kalau Oma tidak suka."
Oma Rasti mengangguk kemudian menaruh nasi di piringnya dan mengambil lauk disana.
Suasana makan selalu tampak sepi ketika hanya mereka berdua, berbeda sekali dengan dulu saat ia bersama dengan anggota keluarga lainnya. Tanpa sadar, Oma Rasti malah meneteskan air matanya saat makan. Hal itu membuat Saka panik dan langsung menghentikan makannya dan menanyakan apa yang terjadi.
"Hiks, kapan keluarga kita berkumpul lagi seperti dulu?"
Saka tak menjawabnya karena ia pun tak tahu. Ia sudah berusaha untuk menyatukan keluarga mereka kembali tapi sepertinya akan susah.
"Aku janji Oma, aku akan membuat semua kembali seperti dulu. Sekarang Oma makanlah dengan tenang dan berhentilah menangis."
Oma Rasti pun menuruti perkataan cucunya. Ia menghentikan tangisnya dan mencoba menikmati makanan yang disediakan di depan matanya.
Selesai makan malam, Oma Rasti pergi ke ruang keluarga. Disana ia ditemani oleh Ziana. Wanita itu duduk tepat di samping Oma Rasti.
"Oma mau nonton apa?"
"Nonton yang bisa ditonton," jawabnya dengan ketus.
Oma Rasti pun menonton acara sinetron tentang perselingkuhan. Ia bahkan jadi ikut emosi ketika menontonnya.
"Hih! Bodo banget istrinya! Sudah tahu suaminya selingkuh, masih aja dipertahankan! Harusnya minta cerai aja!"
"Tidak semudah itu Oma. Meski hatinya sakit karena dikhianati, dia pasti memikirkan kebahagiaan anaknya. Atau mungkin dia juga ingin menghabiskan rasa cintanya sampai tak bisa merasakan cinta itu lagi. Baru dia akan pergi dari suaminya itu."
"Hih! Sok tahu banget kamu! Nikah aja belum!" Oma tidak terima ucapannya tadi dibantah oleh bocah ingusan yang belum berpengalaman soal pernikahan.
"Aku memang belum menikah Oma. Tapi, aku sering menjumpai hal seperti itu. Tetanggaku, sahabatku, bahkan orang yang tak aku kenal dipinggir jalan tiba-tiba bertengkar karena dikhianati. Biasanya mereka akan sadar setelah merasakan apa yang namanya kehilangan."
Oma Rasti menatap ke Ziana. Ucapkan wanita muda ini, selalu saja membuatnya terasa lebih dewasa dan tahu banyak hal. Oma Rasti jadi penasaran bagaimana latar belakangnya.
"Kamu bergaul dengan siapa sih? Kenapa rasanya hidupmu sedih sekali?"
"Dengan ibu-ibu dan anak-anak. Saya adalah anak yang dibesarkan di panti asuhan Oma. Saya tidak tahu siapa orang tua saya karena saya ditemukan di depan pintu panti asuhan ketika malam hari di saat hujan sedang deras-derasnya. Sampai sekarang saya masih bertanya-tanya alasan kenapa saya dibuang. Tapi tak bisa menemukan alasan itu, karena tak ada petunjuk," ucap Ziana sambil tersenyum kecut.
"Oma beruntung, masih punya keluarga, punya cucu dan anak-anak. Bahkan Oma punya harta yang berlimpah. Tapi, kenapa yang aku lihat, justru Oma lebih bersedih daripada aku yang tidak punya apa-apa. Lantas kebahagian seperti apa yang Oma inginkan?"
Seketika Oma Rasti terdiam. Mendengar kejujuran dari Ziana ia merasa tertampar. Wanita muda ini memang pandai sekali bicara sampai ia dibuat mati kutu.
*
*
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Aidah Djafar
bener tuh kata ziana omah 🤔
2024-02-19
0
NOiR🥀
setuju
2023-10-22
0
Aiko_azZahwa
banyak banget bawangnya....
lanjut kak,msh banyak teka teki,,
2023-06-19
0