Saka duduk termenung sendiri di taman, ia masih menunggu kedatangan Riki karena mereka sudah janjian.
Tak lama kemudian, Riki pun akhirnya tiba. Keduanya kini sudah duduk saling bersebelahan.
Sebuah helaan napas menjadi awal dari obrolan mereka.
"Maaf, saat ini aku nggak bisa tinggal di rumah Oma. Papaku jadi panik terus, tapi giliran aku tanya, dia malah nggak mau jawab. Sejujurnya aku bingung. Sebenarnya apa yang terjadi dengan keluarga kita?"
Saka memegang bahu Riki untuk memberi dukungan ke sepupunya supaya menjaga Om Hendri saja.
"Nggak papa, kesehatan Om Hendri lebih penting."
"Sekali lagi aku minta maaf ya. Aku kira papa sudah jauh lebih baik dari yang dulu. Ternyata masih sama aja. Serangan paniknya suka muncul tiba-tiba kalau udah kena trigger nya. Dan trigger nya tu adalah keluarganya sendiri, terutama Tante Venia dan Oma," ucap Riki sambil menundukkan kepala.
Keduanya menarik napas bersamaan. Nyatanya mempersatukan keluarga mereka yang tercerai-berai sangat-sangat sulit.
"Pokoknya mulai sekarang, kalau kamu mau ketemu Oma kamu bisa datang aja. Tapi tentunya, Om Hendri jangan sampai tahu."
Riki mengangguk. Kemudian keduanya menikmati waktu di taman bersama. Mereka seolah-olah bernostalgia tentang masa kecil mereka yang bahagia sedang berlarian bersama.
*
*
"Oma ... Oma ... Buka pintunya Oma! Saya bawain makanan kesukaan Oma."
Ziana mengetuk pintu kamar Oma Rasti dengan sangat keras, tapi tak kunjung dibuka juga.
"Kalau oma nggak mau keluar terus sampai malam. Bisa bahaya. Apalagi usianya yang sudah tua renta. Setidaknya dia harus makan walaupun cuma beberapa sendok doang."
Ziana pun akhirnya melakukan cara terakhir yaitu membuka pintu kamar Oma Rasti dengan kunci cadangan.
Ketika pintu berhasil terbuka, Ziana tersenyum senang. Ia membuka pintu perlahan supaya tidak menimbulkan bunyi yang keras. Sudah beberapa langkah berjalan, tapi ia masih belum menemukan keberadaan Oma Rasti. Sampai ketika, ia melihat Oma Rasti yang duduk sambil memeluk lutut dengan tatapan sendu dan air mata yang mengalir. Oma Rasti menangis, tapi menangis tanpa suara.
"Ya ampun, Oma."
Ziana meletakkan makanan yang ia bawa di lantai. Ia langsung berlari kecil dan berjongkok di depan Oma Rasti. Sejujurnya dia bingung harus melakukan apa sekarang. Karena biasanya ia hanya bisa membuat Oma Rasti Kesal. Tapi, hal tersebut tak bisa ia lakukan sekarang. Waktunya sangat tidak tepat.
Alhasil, Ziana pun hanya bisa mengusap lutut Oma Rasti sambil mengucapkan, "Nangis aja Oma. Keluarkan semuanya. Mungkin dengan menangis kita terlihat lemah, tapi tidak semuanya seperti itu. Aku yakin Oma menangis bukan karena lemah tapi karena kuat. Oma sudah kuat menjalani hidup selama ini."
Oma Rasti yang awalnya bengong, mulai menatap ke arah Ziana. Meski tanpa suara, setidaknya ucapan Ziana sudah direspon oleh Oma Rasti.
"Kalau Oma mau cerita, Oma bisa cerita ke saya. Saya akan mendengarkannya tanpa menghakimi."
Bukannya bercerita, Oma Rasti malah memeluk Ziana. Tangis wanita tua itu pecah di pelukan Ziana. Ziana mengusap punggung Oma Rasti untuk menenangkan.
"Semua akan baik-baik saja Oma."
Setelah lama berpelukan, Oma Rasti langsung kembali ke mode awal. Ia menyueki Ziana lagi.
"Oma makan ya? Saya bawain makanan enak. Dijamin Oma nggak bakal menyesal menghabiskannya. Kalau nanti mau nangis lagi nggak papa Oma. Tapi orang nangis pun butuh tenaga Oma."
Sontak saja ucapan Ziana tersebut membuatnya digeplak lengannya oleh Oma Rasti. Bukannya marah atau kesal, Ziana malah tersenyum senang.
"Oma sudah kembali. Ini Oma Rasti yang saya kenal. Tunggu sebentar Oma."
Ziana bangkit dan berdiri lalu mengambil makanan yang tadi ia taruh di lantai dan membawanya ke Oma Rasti. Ziana duduk di samping Oma Rasti sambil menyodorkan nampan yang berisi makanan.
"Ayok dimakan Oma. Kasian loh saya udah capek-capek masak buat Oma. Kalau nggak ingat Oma lagi sedih, saya nggak akan mau masakin makanan kesukaan Oma. Soalnya lama banget masaknya."
"Dasar perhitungan! Sudah digaji mahal, protes pula!"
Hanya sebuah cengiran yang diperlihatkan oleh Ziana. Namun, hal tersebut lah yang malah membuat Oma Rasti mau makan. Kehadiran Ziana yang bukan siapa-siapa tapi tak menghakiminya malah sangat dibutuhkan untuk saat ini.
"Harus habis ya Oma. Kalau nggak habis, saya akan disini terus untuk memantau. Anggap saja, saya ini jin penunggu kamar Oma."
Lagi-lagi Oma Rasti mengeplak lengan Ziana.
"Sudah bagus jadi manusia, kamu malah ingin jadi jin. Dasar aneh!"
"Becanda Oma, becanda. Jangan serius-serius banget, kenapa."
Oma Rasti tak menanggapi lagi ucapan Ziana. Ia makan dengan lahap bahkan sampai habis tak tersisa.
"Wah, luar biasa. Ludes dengan sempurna. Silahkan kalau mau dilanjut nangisnya Oma. Saya siap menemani disini."
Tangan Oma Rasti seperti Tidka ada rem nya. Ia terus memukuli Ziana, sekarang bukan lagi lengannya melainkan ke punggung-punggungnya juga. Tapi pukulan itu tak berada sama sekali. Hanya melampiaskan sebuah kekesalan saja.
Lagi-lagi Ziana tersenyum.
"Baru kali ini ada orang yang dipukul malah senyum-senyum. Kalau bukan kamu, kayanya nggak ada yang seaneh ini."
"Tapi orang aneh ini, berhasil membuat Oma makan dengan lahap juga berhenti menangis. Hebat, kan?"
Ziana memuji dirinya sendiri sambil bergaya songong.
Kali ini Oma Rasti tak bisa membantahnya lagi. Berkat kehadiran Ziana, dia jadi lebih mudah melampiaskan rasa sedihnya meski tak menceritakannya secara gamblang.
Tangan Ziana terulur untuk meraih tangan Oma Rasti kemudian menggenggamnya erat.
"Oma, satu hal yang harus Oma ingat. Setiap orang itu pasti punya masalah, dan setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Salah satu jalan keluarnya adalah mencari solusi. Caranya mencari solusi yaitu dengan menjelaskannya ke orang yang Oma percayai."
Ziana melepaskan tangannya dari tangan Oma Rasti. Ia membawa nampan yang berisi piring kotor dan hendak dibawa ke dapur. Tapi sebelum ia benar-benar pergi. Ziana sempat membalikkan tubuhnya dan menyemangati Oma Rasti.
"Semangat Oma!"
Pintu kamar Oma Rasti sudah tertutup. Ziana kini sedang berjalan menuju ke dapur. Ia menaruh piring kotor itu di wastafel.
Bi Nana datang dan menanyakan keadaan Oma Rasti.
"Gimana keadaan Oma?"
"Sudah jauh lebih baik. Liat saja Bi, makanannya juga dihabiskan. Mungkin untuk saat ini, biarin aja Oma Rasti istirahat. Dia pasti memang butuh waktu. Sepertinya pertemuan Oma Rasti dan papanya Riki membuat Oma terguncang. Aku sih nggak tahu apa masalahnya, tapi aku rasa, ini sesuatu yang besar."
Bi Nana mengangguk setuju dengan ucapan Ziana.
"Oh, iya. Tadi aku masak banyak Bi. Jangan lupa Bibi makan sama pekerja yang lainnya juga."
"Siap, makasih ya Zia. Kamu tuh baik banget sih. Tau aja kalau bibi udah laper. Padahal mah jam makan malam masih belum tiba."
"Tau lah Bi. Orang di jidat bibi keliatan ada tulisannya gede banget," ucap Ziana yang membuat Bi Nana mengernyitkan dahinya.
"Tulisan apa?" tanya Bi Nana.
"Saya lapar, saya ingin makan, hihi."
Bi Nana cuma bisa geleng-geleng kepala oleh kelakuan Ziana.
*
*
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments