"Sak, nanti sepulang kerja mampir ke restoran dulu yuk!" ajak Oliv ke Saka.
"Maaf Liv, sepertinya hari ini nggak bisa. Kamu ajak yang lain aja," tolak Saka.
"Ah, kamu mah nggak asik. Ayolah Sak!"
Oliv masih terus membujuk Saka untuk mau pergi bersamanya. Namun Saka tetap menolak. Alhasil, raut wajah kecewa dan sedih, Oliv perlihatkan di depan Saka.
"Aku benar-benar tidak bisa Liv. Lebih baik sekarang kamu kembali ke tempat kamu dan bekerja lagi."
Oliv menghela napasnya, membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar dari ruangan Saka. Ia terus menggerutu pelan karena sikap Saka yang semakin hari semakin berbeda.
"Dia kenapa sih? Nggak biasanya kaya gini? Apa di rumahnya banyak masalah? Lagian Oma Rasti kenapa selalu menyulitkan Saka, kan kasian Saka nya juga."
*
*
"Oma, besok kita mulai jalan-jalan pagi lagi ya. Lumayan biar tulang-tulang Oma kuat dan tidak osteoporosis."
"Kalau ngajak, ya ngajak aja, jangan bawa-bawa penyakit kaya gitu. Kamu tuh kaya lagi berdoa semoga Oma punya penyakit itu tahu nggak! Menyebalkan!"
Oma Rasti kesal ke Ziana.
"Bukan gitu maksudnya, Oma."
"Ya, ya, ya, lalu seperti apa Ziana?" tanya Oma.
"Maaf Oma."
Ziana langsung mengucapkan maaf saja supaya ia tak perlu menjelaskan lebih banyak lagi. Ia selalu keceplosan dan kebiasaan bersikap selayaknya cucu ke Oma Rasti. Padahal ia harus sadar, kalau Oma Rasti adalah majikannya. Menjadi pengasuh tetap disana tergantung dari sikapnya apakah disukai atau tidak oleh Oma Rasti.
"Hari ini temani aku belanja ke supermarket. Aku ingin beli banyak buah sendiri."
"Baik Oma. Mau sekarang Oma?"
"Bentar dulu lah, aku belum siap-siap. Tunggu sebentar."
Ziana mengangguk lalu melihat Oma Rasti yang berjalan menuju ke kamarnya. Sembari menunggu Oma Rasti selesai berganti pakaian, Ziana memainkan ponselnya. Ia mencari-cari lowongan kerja lagi dari situs online. Ini merupakan caranya jika nantinya dipecat.
"Huftt!"
Ziana menghela napasnya sambil menengadahkan kepalanya ke atas. Ia memandangi plafon rumah yang indah. Pasti harganya sangat mahal sekali.
"Ayolah, Ziana! Semangat! Harus banyak berdoa supaya Oma menyukaimu dan kamu akan jadi pengasuh tetap disini!"
Ziana menyemangati dirinya agar tak terlalu kecewa dengan keputusan akhir nantinya.
"Ayo!" ajak Oma Rasti yang sudah selesai berganti pakaian. Benar-benar berbeda penampilannya dari yang tadi. Kini Oma sudah terlihat seperti ibu-ibu sosialita. Barang yang dipakainya, semuanya barang bermerek. Ziana cuma bisa geleng-geleng kepalanya.
Memangnya apa yang mau dipamerkan di supermarket? Tapi, ya, sudahlah, Ziana pun tak bisa mengomentari apapun kalau Memnag Oma Rasti menyukai hal itu.
*
*
Ziana mendorong trolinya sementara Oma Rasti yang memilih barang mana saja yang ingin dibeli. Padahal niat awalnya cuma mau beli buah, tapi setibanya di supermarket, mata Oma Rasti jadi jelalatan kemana-mana. Lihat ini mau, lihat itu mau. Semuanya dia mau. Kalau sampai dia suka semuanya, mungkin saja supermarketnya bisa dia beli juga.
"Sudah Oma, jangan banyak-banyak beli makanan manisnya. Nggak bagus buat gula darah Oma."
"Berisik, kamu tuh bisanya cuma ngomel doang."
"Bukan ngomel Oma tapi mengingatkan. Nanti kalau gula darah Oma naik siapa juga yang sakit, Oma kan?"
Oma Rasti mendengus sebal lalu mengembalikan beberapa bungkus roti dan cemilan ke tempatnya lagi. Ziana yang melihat itu jadi senyum-senyum sendiri.
"Oma ini sebenarnya lucu sekali. Mudah diancam, hihi," gumam Ziana sambil mengatupkan bibirnya rapat-rapat agar tidak dimarahi Oma Rasti.
Setelah berkeliling hampir setengah jam lebih, Oma Rasti dan Ziana pun segera membayar di kasir. Jangan ditanya banyaknya pake apa, tentu saja pakai kartu blackcard yang isinya tak bisa dihitung sama sekali olehnya. Kalau saja ia kaya, pasti ia akan membangun banyak panti asuhan untuk anak-anak yang kurang beruntung sepertinya.
Oma Rasti berjalan duluan di depan Ziana sementara Ziana mendorong semua barang yang dibeli dengan troli ke mobil. Lalu ia mengembalikan lagi trolinya ke dalam supermarket.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Di perjalanan, Oma Rasti mendapatkan telepon dari Saka.
"Oma lagi di jalan pulang ke rumah Sak. Paling sebentar lagi sampai."
" .... "
"Oma abis belanja ini sama Zia. Udah dulu ya. Tunggu kepulangan Oma aja."
Sambungan telepon pun selesai. Ziana melihat ke kaca mobil dan terus mengamati jalanan yang dilewatinya. Gedung-gedung pencakar langit, restoran dan masih banyak tempat yang lainnya. Jarang sekali ia melihat tempat hijau disana. Paling hanya segelintir saja.
Mobil berhenti tepat di halaman rumah kediaman Oma Rasti. Ziana turun lebih dulu lalu membukakan pintu untuk Oma Rasti. Setelah itu, ia membawa belanjaan Oma Rasti dibantu supir Oma.
"Saya letakkan di dapur dulu ya Oma. Nanti saya bereskan."
"Ya, terserah kamu aja."
Ziana bolak-balik dari mobil ke dapur mungkin ada 3 atau dua kali. Kalau saja ia tidak dibantu supir, mungkin bisa 5 kali. Orang kaya sekalinya belanja tidak kira-kira. Bagi mereka mengeluarkan uang seperti mudah sekali. Apalah daya dirinya yang kalau mau beli sesuatu aja banyak mikirnya. Kadang sudang berpikir keras pun, eh akhirnya malah nggak jadi karena ada pilihan lain yang lebih menghemat uang. Benar-benar beda antara sultan dan rakyat biasa macam dirinya.
"Oma, kan sudah aku bilang, kalau urusan belanja sudah jadi urusan Bi Nana. Kenapa Oma malah harus capek-capek mengurus sendiri sih?"
Saka yang baru muncul langsung memarahi Oma Rasti yang kini tengah duduk di sofa ruang tamu sambil menyenderkan kepalanya di bagian ujungnya.
"Kamu kenapa jadi cerewet juga sih?! Oma kan sesekali ingin belanja. Kamu nggak tahu ya kalau belanja itu udah kaya healing buat wanita tahu. Lagian Oma juga bukan belanja buat keperluan dapur, lebih tepatnya buat keperluan Oma sendiri. Ya, tapi ada sih sedikit untuk dapur."
"Bukan begitu Oma, aku cuma takut Oma kecapean jalan kesana kemari."
"Kamu terlalu berlebihan Saka. Oma masih kuat dan sehat. Apalagi setiap pagi Oma selalu olahraga dengan Zia. Itu benar-benar sangat membantu. Badan Oma jadi lebih seger."
Ketika bicara tentang Ziana. Saka jadi ingin membicarakan tentang kerja Ziana bersama Oma Rasti.
"Menurut Oma, Zia gimana? Oma mau tetap ditemani dia atau mau diganti aja? Kan Oma tahu sendiri sebentar lagi masa percobaan Zia akan berakhir," tanya Saka memberikan penawaran ke Oma Rasti.
Oma Rasti terdiam sejenak tak langsung menjawab. Ia mengenal napasnya terlebih dahulu.
"Zia itu orangnya ngeselin, suka maksa Oma ini dan itu. Dia juga hampir buat Oma kesal setiap harinya. Oma selalu berharap dia benar-benar pergi dari rumah ini."
Rupanya Ziana yang berjalan dari dapur hendak menemui Oma Rasti mendengar ucapan Oma Rasti. Hatinya sakit, teriris, dan tersenyum kecut. Ia sadar, sadar betul kalau sikapnya selama ini ke Oma Rasti sangat kurang ajar. Mau bagiamana lagi, ia sudah pasrah, pasti sebentar lagi ia akan dipecat dan jadi pengangguran lagi.
"Siap-siap cari kerja lagi."
Ziana membalikkan tubuhnya dan pergi menuju ke taman untuk menikmati udara disana sebelum akhirnya ia tak dapat menikmati taman bunga yang indah itu.
*
*
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
umu aemanah
judul sama ceritanya ga sambung, cerita y kembali dari awal lagi
2023-07-26
0
Zahwa Ziarani Asyara
mak cerita y Q diulang2 dibab sebelum y
2023-06-26
0