Hari demi hari terus berlalu, Ziana dengan keceriaannya selalu membawa vibe positif ke Oma Rasti. Tiap harinya mereka selalu melakukan kegiatan yang berbeda. Hal itu membuat Oma Rasti merasa tidak sendirian di rumah. Cuma, Oma Rasti masih tetap suka kesal dengan Ziana yang kadang suka seenaknya. Walaupun pada akhirnya Oma Rasti pun akan menurut juga.
Di sore itu, Ziana menemani Oma Rasti di teras belakang rumah untuk melihat kolam ikan. Oma Rasti memberikan makanan untuk ikan-ikan yang ada disana.
Ziana akan memulai percakapan dengan memperlihatkan senyum manisnya terlebih dulu. Oma Rasti langsung memasang antena waspada nya. Karena biasanya jika seperti ini pasti akan ada maunya.
"Apa? Nggak usah senyum-senyum gitu! Senyum kamu jelek!" ejek Oma Rasti.
Ziana memanyunkan bibirnya lalu menormalkan ya kembali.
"Oma, saya kan sudah lebih dari satu Minggu disini. Bisakah besok saya izin pergi? Lagipula besok hari weekend, pasti Tuan Saka pun ada di rumah," ucap Ziana dengan sangat lembut.
"Pergi kemana?"
"Ke panti asuhan Oma. Saya ingin melihat adik-adik di panti. Juga mau ke rumah sakit untuk menjenguk ibu. Boleh Oma?" tanya Ziana lagi meminta izin.
Oma Rasti tampak diam. Lalu tak lama kemudian dia pun menjawab, "Minta izin dulu ke Saka, kalau dia mengizinkan Oma juga akan mengizinkan," ucapnya dengan sedikit ada rasa tidak rela.
"Baik Oma, nanti saya akan bicara langsung pada Tuan Saka."
*
*
Malam harinya, Ziana menemui Saka di satu ruangan tempat Saka bersantai untuk melepas penatnya. Sebenarnya ia agak gugup-gugup cemas jika Saka tak mengizinkan. Ia hanya bisa berdoa semoga Saka mengizinkannya untuk libur sehari.
"Ada apa? Ada yang ingin kamu katakan?" tanya Saka yang melihat Ziana meremas jemari tangannya. Seperti orang yang cemas dan takut.
"Eum, begini Tuan Saka, besok kan hari libur."
"Ya, kenapa dengan hari libur?" sahut Saka padahal Ziana belum menyelesaikan ucapannya.
"Saya mau minta izin untuk pergi dari pagi sampai malam. Saya janji akan kembali sebelum pukul 7 malam. Apakah boleh?"
Saka tampak mengernyitkan alisnya, ia penasaran dengan apa yang ingin dilakukan oleh Ziana.
"Pergi saja, asalkan kamu harus memegang ucapanmu tadi. Telat satu menit kembali ke rumah, gajimu aku potong 5%."
"Baik, terima kasih Tuan Saka," ucap Ziana kemudian keluar dengan senyuman merekah.
"Dia mau kemana besok seharian minta izin untuk libur?" ucap Saka bertanya-tanya.
*
*
Keesokan harinya, Ziana pergi dari rumah Saka pagi-pagi sekali setelah menyiapkan sarapan untuk Oma Rasti. Ia juga sudah menyalakan alarm di kamar Oma Rasti supaya nantinya bisa bangun. Ia juga menaruh sebuah catatan kecil di meja di samping ranjang Oma Rasti. Setelah itu, ia bisa pergi dengan tenang meninggalkan tugasnya di hari itu.
Satu jam kemudian suara alarm membangunkan Oma Rasti dari tidur nyenyak nya. Ia merasa seperti ada yang berbeda ketika bukan suara cempreng yang membangunkannya. Ia berubah posisi jadi duduk. Ketika akan pergi ke kamar mandi, saat ia berdiri matnya tertuju pada sebuah catatan kecil yang ada di kertas.
Oma, aku pergi ya. Maaf nggak bisa bangunin Oma. Maaf juga karena saya perginya pagi-pagi sekali. Tapi tenang aja, saya udah siapkan menu sarapan untuk Oma. untuk makan siangnya juga sudah saya request ke Bi Nana. Jadi semua kebutuhan tubuh Oma tetep bernutrisi.
Semoga hari Oma menyenangkan :)
Oma Rasti tersenyum membaca catatan kecil itu. Ia kemudian benar-benar pergi ke kamar mandi.
*
*
Setelah sarapan, Oma Rasti yang biasanya keluar bersama Ziana jadi cuma di rumah aja. Karena Saka buka tipe orang yang suka keluar rumah, apalagi menyapa orang-orang sekitar dengan ramah. Oma Rasti merasakan sesuatu yang berbeda. Padahal Ziana belum lama menjadi pengasuhnya, tapi sudah banyak membuat perubahan dalam rutinitas hariannya.
Saka menemani Oma Rasti yang kini sedang duduk di halaman rumah. Terlihat sekali Oma Rasti merasakan sebuah kehilangan.
"Kenapa Oma?" tanya Saka.
"Nggak papa," jawab Oma.
"Mau pergi jalan-jalan hari ini Oma? Mumpung aku lagi tidak sibuk."
"Boleh, ayo pergi."
Oma Rasti langsung mengiyakan ajakan cucunya. Karena ia memang sudah lama tak pergi bersama. Karena pergi-pergian seorang dirinya rasanya sepi.
Setelah hampir setengah jam bersiap, Saka dan Oma Rasti pun sudah siap dengan pakaian yang dikenakannya. Mereka menaiki mobil Saka. Saka sendiri yang mengemudikan mobil itu.
Saka mengajak Oma Rasti untuk pergi ke mall. Karena omanya memang suka sekali belanja. Namun, ia merasa heran ketika mereka masuk ke dalam toko pakaian, yang biasanya Oma Rasti akan memilih banyak pakaian untuknya, kali ini cuma memilih satu untuknya dan malah melihat-lihat pakaian dengan model yang lebih anak muda. Saka sampai terheran-heran melihatnya.
"Oma mau pakai model baju seperti itu?"
Oma Rasti menggeleng.
"Oma mau belikan untuk Zia. Kasian, baju yang dipakainya udah jelek semua. Oma sampai gemes sendiri ingin membuangnya."
"Oma, Oma nggak salah bilang begitu? Oma biasanya tidak sepeduli ini loh sama orang." tanya Saka yang keheranan.
Oma Rasti pun jadi melihat ke arah Saka dan sadar kalau ia memang tidak biasanya seperti ini. Oma Rasti pun jadi berjalan ke arah baju yang lain dan tak jadi membelikan baju untuk Ziana.
Saka dibuat heran lagi oleh Oma nya yang plin-plan. Ia cuma bisa mengikuti kemana arah perginya omanya. Setelah hampir setengah jam memilih, Saka pun membayar baju yang dipilih Oma. Namun, ketika mereka akan keluar, mata Oma tetap tertuju pada pakaian yang tadinya ingin Oma Rasti belikan untuk Ziana.
"Ambil saja Oma. Anggap saja itu hadiah untuk kerja kerasnya," ucap Saka.
Oma pun dengan senyum yang mengembang langsung mengambil baju itu dan membawanya lagi ke kasir. Lalu Saka pun melakukan pembayaran lagi.
Setelah dari toko pakaian, mereka mampir ke toko tas, sepatu, lalu berakhir ke restoran jepang dan makan bersama disana. Setelah dirasa puas menikmati waktu jalan-jalannya, Oma Rasti mengajak Saka untuk pulang.
*
*
Berbeda dengan Ziana di panti asuhan, wanita itu tersenyum ketika rasa rindunya terbalaskan dengan kebersamaannya bersama adik-adik panti dan Ibu Farah.
Kekhawatirannya selama ini, terbantahkan dengan melihat adik-adik pantinya, semuanya sehat. Ia merasa bersyukur untuk itu. Ia pun membuat acara makan-makan bersama disana. Setiap anak-anaknya memiliki tugas masing-masing. Ada yang motong sayur, ada yang menyiapkan piring, ada yang bantu masak, ada juga yang menyiapkan ruangan untuk makan bersama nantinya. Kebersamaan itulah yang selalu Ziana rindukan ketika jauh dari keluarganya.
"Gimana pekerjaan kamu disana? Apa majikan kamu baik?" tanya Ibu Farah.
Ziana meraih tangan Ibu Farah.
"Tenang saja Bu. Oma Rasti baik kok meski agak cerewet dan susah diatur. Jadi, ibu tidak usah khawatir."
"Tetap saja ibu selalu khawatir Zia. Seharusnya kamu cari uang itu untuk digunakan sama diri kamu sendiri. Bukan kamu berikan pada kami semua. Untuk sekolah adik-adik kamu, mereka kan dapat beasiswa. Masalah keperluan seperti buku pelajaran, jajan mereka itu sudah jadi tanggung jawab Ibu. Mengenai biaya rumah sakit Ibu Hesti pun, ibu sudah mencicilnya sedikit demi sedikit."
"Ibu, dengarkan Zia ya. Zia melakukan ini semua tidak terpaksa kok Bu. Zia ingin berbakti sama ibu dan Ibu Hesti yang sudah membesarkan Zia dari bayi sampai sebesar ini. Zia tidak ingin melihat kalian sakit. Zia akan berusaha supaya Ibu Hesti bisa segera sembuh dan berkumpul bersama kita lagi. Hal terpenting bagi aku bukanlah uang, melainkan kalian yang selalu ada bersamaku. Aku tidak peduli harus secapek apa aku bekerja. Yang penting ibu dan semuanya senang."
*
*
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Aidah Djafar
ziana bener2 gadis baik, dewasa dlm bicara, bertindak 👍👌
2024-02-20
0
Aiko_azZahwa
semoga pngorbananmu akan menjadi jalan menuju kebahagiaanmu zi,,,
😭😭😭
2023-06-19
0