Bab 13 - Keributan di pagi hari oleh Om Hendri

Kehadiran Riki di rumah megah tersebut membuat Oma Rasti jadi senang. Karena Riki sifatnya sangat berbeda dengan Saka yang terlihat garang, tegas dan dingin. Riki bersikap ramah dan murah tersenyum. Bahkan bisa langsung bercanda dan menggoda Ziana di sela-sela kerja wanita itu.

"Zia, sepertinya usiamu masih sangat muda. Kenapa memilih bekerja sebagai pengasuh? Kan banyak pekerjaan lain."

"Memang banyak Mas, tapi mungkin jadi pengasuh udah jadi rezeki aku. Aku kan hanya orang biasa yang membutuhkan uang, jadi tidak bisa milih-milih kerjaan. Apapun akan aku lakukan," ucapnya dengan tangan yang mengepal seolah memberikan semangat untuk dirinya sendiri.

Riki yang melihat itu jadi tersenyum senang. Ia memang baru kenal beberapa hari dengan Ziana, tapi sikap wanita itu sangat ceria dan bisa membuat Oma nya menurut meski awalnya menolak mentah-mentah. Riki sedikit kagum dengannya.

"Kata Oma, kamu tinggal di panti asuhan ya?"

Ziana mengangguk.

"Disana adalah tempat dimana aku dibesarkan dengan kasih sayang. Aku beruntung karena tidak ditemukan oleh orang jahat," ucap Ziana dengan senyum tipisnya.

Riki jadi terdiam dan mengganti pembicaraan dengan topik lain.

*

*

Di kantor Saka tengah melakukan meeting dengan para petinggi perusahaan untuk membahas program kerja baru untuk perusahaan mereka. Selesai itu, Saka berjalan kembali ke ruangannya.

"Mau aku bawakan kopi?" tawar Oliv ke Saka.

"Boleh, minta gulanya ... "

"Minta gulanya dua sendok aja. Nggak boleh lebih. Aku nggak suka kemanisan. Itu kan yang mau kamu bilang?"

Ucapan Saka terpotong karena Oliv sudah sangat hapal dengan kopi kesukaan Saka.

"Aku udah sangat paham kesukaanmu Sak."

Saka memegang telinga ke belakang sambil tersenyum kecut.

"Terima kasih Liv."

Hanya ucapan itu yang bisa Saka berikan untuk Oliv. Oliv keluar dari ruangannya. Sementara Saka menyandarkan kepalanya di kursi kerjanya. Sampai sebuah pesan dari Bi Nana masuk ke dalam ponselnya.

Saka melihat video dimana Oma Rasti, Riki dan Ziana tertawa bersama di taman rumah. Mereka bertiga seolah sedang melakukan piknik kecil-kecilan disana. Senyum Saka mulai terlihat melihat Omanya yang tersenyum. Tapi ketika melihat senyum Ziana, entah kenapa ada sesuatu yang menggelitik di hatinya. Apalagi ketika melihat Riki yang bisa begitu akrab dengan Ziana padahal baru beberapa hari berkenalan. Seperti ada sesuatu yang aneh yang dirasakan oleh hatinya.

"Aih! Aku kenapa sih?"

Saka langsung meletakkan ponselnya di meja. Ia tak mau melihat lagi video yang dikirimkan oleh Bi Nana. Saka merasa aneh dengan dirinya.

"Kopi sudah datang," ucap Oliv yang membawa dua cangkir kopi dengan nampan lalu menaruhnya di meja.

"Minu dulu kopinya Sak. Abis itu baru kerjain pekerjaan yang lainnya."

Saka mengangguk lalu beranjak dari duduknya berpindah ke sofa. Ia menyeruput kopi tersebut hingga habis.

"Pas, takarannya pas sekali dengan lidahku. Kamu memang terbaik Liv," puji Saka ke Oliv.

Oliv tersenyum senang mendengarnya. Wanita itu sangat berharap Saka merasakan ketulusannya. Merasakan cintanya dari sikap yang selalu ia tunjukkan dengan perhatian kecilnya.

"Kalau begitu, aku kembali bekerja dulu. Ada banyak laporan yang harus aku teliti dulu sebelum aku berikan ke kamu."

Saka mengangguk. Dua cangkir kopi itu ia biarkan saja di meja, toh nanti juga ada pegawai kebersihan yang membersihkannya.

*

*

Pagi yang biasanya tenang dan damai jadi terasa berbeda ketika pintu rumah mereka digedor-gedor dari luar. Saka yang mendengarnya langsung bangun dan kelaut dari kamar untuk melihat siapa yang melakukan keributan di pagi hari.

Begitu juga dengan Riki, Oma Rasti dan juga Ziana, mereka pun keluar dengan mata yang masih mengantuk. Bagaimana tidak mengantuk? Gedoran Pitu itu terjadi pada pukul setengah 5 pagi.

"Siapa sih? Ganggu orang tidur aja?" gerutu Saka yang sudah dekat dengan pintu keluar.

Saka membuka pintu yang terkunci kemudian mendorong pintu agar terbuka lebar. Terlihatlah siapa yang ada di balik pintu tersebut.

"Om Hendri?"

Saka sedikit terkejut dengan kedatangan Om nya. Itu artinya Om nya itu sudah curiga dengan Riki yang tak pulang-pulang ke rumah.

Om Hendri langsung mencengkeram kerah piyama hitam yang dikenakan Saka sambil menatapnya dengan sangat tajam.

"Pasti kamu kan yang meminta Riki untuk kembali ke rumah neraka ini! Iya kan? Mana dia! Aku akan membawanya pulang!" teriak Om Hendri.

Riki yang mendengar teriakan papanya langsung berlari ke depan dan melepaskan cengkeraman tangan papanya dari kerah piyama Saka.

"Pa, jangan salahkan Saka. Aku datang bukan karena dia, tapi aku sendiri yang mau," ucap Riki yang tak ingin papanya salah paham.

"Papa nggak percaya. Dia dan mamanya sama saja. Sama-sama suka mencampuri hidup orang lain! Ayo kita pulang!" ajak Om Hendri ke Riki sambil menarik tangan anaknya itu.

Riki melepaskan tangan papanya dan menggenggamnya dengan erat.

"Tenang dulu Pa, tenang. Jangan emosi, papa bisa kena serangan panik lagi kalau papa nggak ngontrol emosi papa. Oke, aku akan pulang. Tapi aku tidak mau ke luar negeri lagi. Kita menetap disini saja."

Om Hendri pun mengiyakan saja, yang terpenting ia bisa melindungi anaknya dari orang berbahaya di rumah itu.

Riki masuk ke dalam rumah sambil melihat ke Oma Rasti ia mengucapkan kata maaf karena tidak bisa memenuhi keinginan Oma nya untuk tinggal bersama. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan papanya. Ia takut papa terkena serangan panik lagi dan nantinya akan berakibat fatal.

"Om, kenapa sih Om seperti sangat tidak menyukai aku? Emang aku punya salah apa?"

Om Hendri tak menjawab.

"Om!" panggil Saka lagi.

"Setiap melihat kamu, Om jadi teringat dengan mama mu. Om membencinya, sangat membencinya. Walaupun tak bisa dipungkiri, dia adalah kakak Om sendiri."

"Tapi kenapa? Itu artinya aku tidak ada hubungannya dengan mama. Sampai saat ini aku masih belum mengerti kenapa kelurga kita jadi terpecah belah seperti ini. Sebenarnya apa yang terjadi Om!"

Saka ingin tahu semuanya. Ia ingin memperbaiki keharmonisan keluarga besar mereka seperti dulu lagi. Tapi lagi-lagi Om Hendri hanya diam tak menjawab. Membuat Saka hanya bisa menghela napas panjangnya.

Riki sudah selesai berbenah, ia menarik kopernya dan mengajak papanya untuk pergi.

"Maaf sudah menimbulkan keributan pagi-pagi. Aku akan bicara denganmu jika suasana sudah memungkinkan," ucap Riki ke Saka.

Riki dan Om Hendri tampak berjalan menjauh dari halaman megah kediaman keluarga Saka. Ia benar-benar tak mengerti kenapa Om nya bisa sampai semarah itu.

Saka masuk ke dalam rumahnya dan mendapati Omanya tengah menangis dan ditenangkan oleh Ziana di sampingnya.

"Oma, Oma tenang ya. Mas Riki pasti balik lagi kesini kok."

"Mas Riki?" gumam Saka saat mendengar Ziana memanggil Riki dengan sebutan 'Mas' yang sama sekali tidak cocok di antara majikan dan pesuruh.

Tapi bukan itu yang perlu diurusnya sekarang melainkan cara membuat omanya tenang.

*

*

TBC

Terpopuler

Comments

Asih S Yekti

Asih S Yekti

kok diulang ulang dan isinya tidak sesuai dgn topik yg ditulis diawal bab

2023-06-28

0

Dwy Widya

Dwy Widya

kok ngulang2 terus keawal ya?

2023-06-17

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Dipecat
2 Bab 2 - Mendapat pekerjaan baru
3 Bab 3 - Saka Anggoro
4 Bab 4 - Ziana Anastasia
5 Bab 5 - Marah-marah di pagi hari
6 Bab 6 - Jalan-jalan pagi
7 Bab 7 - Tertawa Kecil
8 Bab 8 - Bicara Soal Teman
9 Bab 9 - Meminta Izin
10 Bab 10 - Kedekatan Oma Rasti dan Ziana
11 Bab 11 - Kepulangan Riki
12 Bab 12 - Oma Sedih
13 Bab 13 - Keributan di pagi hari oleh Om Hendri
14 Bab 14 - Apa itu bahagia?
15 Bab 15 - Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya
16 Bab 16 - Ucapan Terima Kasih
17 Bab 17 - Siap-siap cari kerja lagi
18 Bab 18 - Oliv kesal
19 Bab 19 - Mulai timbul benih
20 Bab 20 - Cemburu
21 Bab 21 - Pergi
22 Bab 22 - Kembali
23 Bab 23 - Kesal
24 Bab 24 - Susah makan
25 Bab 25 - Kesepian
26 Bab 26 - Bicara
27 Bab 27 - Belanja
28 Bab 28 - keputusan
29 Bab 29 - Rahasia
30 Bab 30 - Bersama
31 Bab 31 - Cerita
32 Bab 32 - Takut dimanfaatkan
33 Bab 33 - Kembali
34 Bab 34 - Berdua
35 Bab 35 - Marah
36 Bab 36 - Terkabul
37 Bab 37 - Jalan-jalan
38 Bab 38 - Bersatu
39 Bab 39 - Sedih
40 Bab 40 - Cemburu
41 Bab 41 - Bahagia
42 Bab 42 - Terungkap
43 Bab 43 - Dilema
44 Bab 44 - Janji
45 Bab 45 - Cahaya
46 Bab 46 - Dua
47 Bab 47 - Cinta
48 Bab 48 - Ceria
49 Bab 49 - Bersatu
50 Bab 50 - Kamu
51 Bab 51 - Tawanan
52 Bab 52 - Cinta yang membara
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Bab 1 - Dipecat
2
Bab 2 - Mendapat pekerjaan baru
3
Bab 3 - Saka Anggoro
4
Bab 4 - Ziana Anastasia
5
Bab 5 - Marah-marah di pagi hari
6
Bab 6 - Jalan-jalan pagi
7
Bab 7 - Tertawa Kecil
8
Bab 8 - Bicara Soal Teman
9
Bab 9 - Meminta Izin
10
Bab 10 - Kedekatan Oma Rasti dan Ziana
11
Bab 11 - Kepulangan Riki
12
Bab 12 - Oma Sedih
13
Bab 13 - Keributan di pagi hari oleh Om Hendri
14
Bab 14 - Apa itu bahagia?
15
Bab 15 - Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya
16
Bab 16 - Ucapan Terima Kasih
17
Bab 17 - Siap-siap cari kerja lagi
18
Bab 18 - Oliv kesal
19
Bab 19 - Mulai timbul benih
20
Bab 20 - Cemburu
21
Bab 21 - Pergi
22
Bab 22 - Kembali
23
Bab 23 - Kesal
24
Bab 24 - Susah makan
25
Bab 25 - Kesepian
26
Bab 26 - Bicara
27
Bab 27 - Belanja
28
Bab 28 - keputusan
29
Bab 29 - Rahasia
30
Bab 30 - Bersama
31
Bab 31 - Cerita
32
Bab 32 - Takut dimanfaatkan
33
Bab 33 - Kembali
34
Bab 34 - Berdua
35
Bab 35 - Marah
36
Bab 36 - Terkabul
37
Bab 37 - Jalan-jalan
38
Bab 38 - Bersatu
39
Bab 39 - Sedih
40
Bab 40 - Cemburu
41
Bab 41 - Bahagia
42
Bab 42 - Terungkap
43
Bab 43 - Dilema
44
Bab 44 - Janji
45
Bab 45 - Cahaya
46
Bab 46 - Dua
47
Bab 47 - Cinta
48
Bab 48 - Ceria
49
Bab 49 - Bersatu
50
Bab 50 - Kamu
51
Bab 51 - Tawanan
52
Bab 52 - Cinta yang membara
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!