Kehadiran Riki di rumah megah tersebut membuat Oma Rasti jadi senang. Karena Riki sifatnya sangat berbeda dengan Saka yang terlihat garang, tegas dan dingin. Riki bersikap ramah dan murah tersenyum. Bahkan bisa langsung bercanda dan menggoda Ziana di sela-sela kerja wanita itu.
"Zia, sepertinya usiamu masih sangat muda. Kenapa memilih bekerja sebagai pengasuh? Kan banyak pekerjaan lain."
"Memang banyak Mas, tapi mungkin jadi pengasuh udah jadi rezeki aku. Aku kan hanya orang biasa yang membutuhkan uang, jadi tidak bisa milih-milih kerjaan. Apapun akan aku lakukan," ucapnya dengan tangan yang mengepal seolah memberikan semangat untuk dirinya sendiri.
Riki yang melihat itu jadi tersenyum senang. Ia memang baru kenal beberapa hari dengan Ziana, tapi sikap wanita itu sangat ceria dan bisa membuat Oma nya menurut meski awalnya menolak mentah-mentah. Riki sedikit kagum dengannya.
"Kata Oma, kamu tinggal di panti asuhan ya?"
Ziana mengangguk.
"Disana adalah tempat dimana aku dibesarkan dengan kasih sayang. Aku beruntung karena tidak ditemukan oleh orang jahat," ucap Ziana dengan senyum tipisnya.
Riki jadi terdiam dan mengganti pembicaraan dengan topik lain.
*
*
Di kantor Saka tengah melakukan meeting dengan para petinggi perusahaan untuk membahas program kerja baru untuk perusahaan mereka. Selesai itu, Saka berjalan kembali ke ruangannya.
"Mau aku bawakan kopi?" tawar Oliv ke Saka.
"Boleh, minta gulanya ... "
"Minta gulanya dua sendok aja. Nggak boleh lebih. Aku nggak suka kemanisan. Itu kan yang mau kamu bilang?"
Ucapan Saka terpotong karena Oliv sudah sangat hapal dengan kopi kesukaan Saka.
"Aku udah sangat paham kesukaanmu Sak."
Saka memegang telinga ke belakang sambil tersenyum kecut.
"Terima kasih Liv."
Hanya ucapan itu yang bisa Saka berikan untuk Oliv. Oliv keluar dari ruangannya. Sementara Saka menyandarkan kepalanya di kursi kerjanya. Sampai sebuah pesan dari Bi Nana masuk ke dalam ponselnya.
Saka melihat video dimana Oma Rasti, Riki dan Ziana tertawa bersama di taman rumah. Mereka bertiga seolah sedang melakukan piknik kecil-kecilan disana. Senyum Saka mulai terlihat melihat Omanya yang tersenyum. Tapi ketika melihat senyum Ziana, entah kenapa ada sesuatu yang menggelitik di hatinya. Apalagi ketika melihat Riki yang bisa begitu akrab dengan Ziana padahal baru beberapa hari berkenalan. Seperti ada sesuatu yang aneh yang dirasakan oleh hatinya.
"Aih! Aku kenapa sih?"
Saka langsung meletakkan ponselnya di meja. Ia tak mau melihat lagi video yang dikirimkan oleh Bi Nana. Saka merasa aneh dengan dirinya.
"Kopi sudah datang," ucap Oliv yang membawa dua cangkir kopi dengan nampan lalu menaruhnya di meja.
"Minu dulu kopinya Sak. Abis itu baru kerjain pekerjaan yang lainnya."
Saka mengangguk lalu beranjak dari duduknya berpindah ke sofa. Ia menyeruput kopi tersebut hingga habis.
"Pas, takarannya pas sekali dengan lidahku. Kamu memang terbaik Liv," puji Saka ke Oliv.
Oliv tersenyum senang mendengarnya. Wanita itu sangat berharap Saka merasakan ketulusannya. Merasakan cintanya dari sikap yang selalu ia tunjukkan dengan perhatian kecilnya.
"Kalau begitu, aku kembali bekerja dulu. Ada banyak laporan yang harus aku teliti dulu sebelum aku berikan ke kamu."
Saka mengangguk. Dua cangkir kopi itu ia biarkan saja di meja, toh nanti juga ada pegawai kebersihan yang membersihkannya.
*
*
Pagi yang biasanya tenang dan damai jadi terasa berbeda ketika pintu rumah mereka digedor-gedor dari luar. Saka yang mendengarnya langsung bangun dan kelaut dari kamar untuk melihat siapa yang melakukan keributan di pagi hari.
Begitu juga dengan Riki, Oma Rasti dan juga Ziana, mereka pun keluar dengan mata yang masih mengantuk. Bagaimana tidak mengantuk? Gedoran Pitu itu terjadi pada pukul setengah 5 pagi.
"Siapa sih? Ganggu orang tidur aja?" gerutu Saka yang sudah dekat dengan pintu keluar.
Saka membuka pintu yang terkunci kemudian mendorong pintu agar terbuka lebar. Terlihatlah siapa yang ada di balik pintu tersebut.
"Om Hendri?"
Saka sedikit terkejut dengan kedatangan Om nya. Itu artinya Om nya itu sudah curiga dengan Riki yang tak pulang-pulang ke rumah.
Om Hendri langsung mencengkeram kerah piyama hitam yang dikenakan Saka sambil menatapnya dengan sangat tajam.
"Pasti kamu kan yang meminta Riki untuk kembali ke rumah neraka ini! Iya kan? Mana dia! Aku akan membawanya pulang!" teriak Om Hendri.
Riki yang mendengar teriakan papanya langsung berlari ke depan dan melepaskan cengkeraman tangan papanya dari kerah piyama Saka.
"Pa, jangan salahkan Saka. Aku datang bukan karena dia, tapi aku sendiri yang mau," ucap Riki yang tak ingin papanya salah paham.
"Papa nggak percaya. Dia dan mamanya sama saja. Sama-sama suka mencampuri hidup orang lain! Ayo kita pulang!" ajak Om Hendri ke Riki sambil menarik tangan anaknya itu.
Riki melepaskan tangan papanya dan menggenggamnya dengan erat.
"Tenang dulu Pa, tenang. Jangan emosi, papa bisa kena serangan panik lagi kalau papa nggak ngontrol emosi papa. Oke, aku akan pulang. Tapi aku tidak mau ke luar negeri lagi. Kita menetap disini saja."
Om Hendri pun mengiyakan saja, yang terpenting ia bisa melindungi anaknya dari orang berbahaya di rumah itu.
Riki masuk ke dalam rumah sambil melihat ke Oma Rasti ia mengucapkan kata maaf karena tidak bisa memenuhi keinginan Oma nya untuk tinggal bersama. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan papanya. Ia takut papa terkena serangan panik lagi dan nantinya akan berakibat fatal.
"Om, kenapa sih Om seperti sangat tidak menyukai aku? Emang aku punya salah apa?"
Om Hendri tak menjawab.
"Om!" panggil Saka lagi.
"Setiap melihat kamu, Om jadi teringat dengan mama mu. Om membencinya, sangat membencinya. Walaupun tak bisa dipungkiri, dia adalah kakak Om sendiri."
"Tapi kenapa? Itu artinya aku tidak ada hubungannya dengan mama. Sampai saat ini aku masih belum mengerti kenapa kelurga kita jadi terpecah belah seperti ini. Sebenarnya apa yang terjadi Om!"
Saka ingin tahu semuanya. Ia ingin memperbaiki keharmonisan keluarga besar mereka seperti dulu lagi. Tapi lagi-lagi Om Hendri hanya diam tak menjawab. Membuat Saka hanya bisa menghela napas panjangnya.
Riki sudah selesai berbenah, ia menarik kopernya dan mengajak papanya untuk pergi.
"Maaf sudah menimbulkan keributan pagi-pagi. Aku akan bicara denganmu jika suasana sudah memungkinkan," ucap Riki ke Saka.
Riki dan Om Hendri tampak berjalan menjauh dari halaman megah kediaman keluarga Saka. Ia benar-benar tak mengerti kenapa Om nya bisa sampai semarah itu.
Saka masuk ke dalam rumahnya dan mendapati Omanya tengah menangis dan ditenangkan oleh Ziana di sampingnya.
"Oma, Oma tenang ya. Mas Riki pasti balik lagi kesini kok."
"Mas Riki?" gumam Saka saat mendengar Ziana memanggil Riki dengan sebutan 'Mas' yang sama sekali tidak cocok di antara majikan dan pesuruh.
Tapi bukan itu yang perlu diurusnya sekarang melainkan cara membuat omanya tenang.
*
*
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Asih S Yekti
kok diulang ulang dan isinya tidak sesuai dgn topik yg ditulis diawal bab
2023-06-28
0
Dwy Widya
kok ngulang2 terus keawal ya?
2023-06-17
0