Setelah kepergian Riki dari rumah, Oma Rasti terus menangis. Ia merasa sedih dan kecewa pada dirinya sendiri karena telah membesarkan anaknya dengan salah didik. Bahkan Oma Rasti mengurung dirinya di dalam kamar.
Hal itu membuat Saka jadi khawatir karena takut Omanya kenapa-kenapa. Karena orang yang ia punya memang cuma Omanya. Mamanya tak begitu menyayanginya.
Sama berusaha membujuk Oma Rasti dari luar agar membuka pintunya. Namun tak ada respon apapun dari dalam. Saka hanya mendengar suara tangisan Oma Rasti.
"Ya Tuhan, gimana ini? Oma! Buka pintunya Oma!" Saka terus mengetuk-ngetuk pintu kamar Oma.
"Hiks ... hiks ... "
Saka mengacak-acak rambutnya. Ia benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi sampai keluarga mereka hancur berantakan begini. Ia juga tidak tahu kenapa Om Hendri sampai begitu ketakutan ketika Riki tinggal bersama dengan Oma nya sendiri. Memang apa yang harus ditakutkan?
"Oma ... " panggil Saka lagi yang kali ini mendapatkan jawaban dari Oma Rasti.
"Jangan ngurusin Oma. Kamu lanjut tidur lagi aja. Masih ada beberapa jam untuk istirahat lagi."
"Nggak bisa Oma. Aku tidak akan tenang kalau meninggalkan Oma dalam keadaan seperti ini."
"Pergi Saka! Oma baik-baik saja! Oma cuma sedih karena Riki pergi!"
Begitulah alibi Oma Rasti. Tapi entah kenapa di dalam hati kecil Saka, bukan itu alasan yang sesungguhnya. Setidaknya, omanya sudah mau bicara dengannya meski ia benar-benar tidak bisa meninggalkan Omanya.
Saka pergi dan menghampiri Ziana untuk meminta wanita itu terus menemani dan mengawasi Oma. Bahkan kalau perlu masuk ke kamar Oma menggunakan kunci cadangan untuk memastikan keadaan omanya jika nanti tidak kunjung keluar dari kamar.
Ziana hanya mengangguk patuh.
Saka langsung pergi ke kamarnya lagi. Ia bertanya-tanya dalam pikirannya. Banyak hal yang kini mulai masuk hingga menggerogoti isi kepalanya. Mau bertanya pada siapa, ia pun tidak tahu. Bertanya ke mamanya hanya akan berakhir dengan sebuah perdebatan. Bertanya ke Om Hendri takut membuat Om nya terkena serangan panik. Ia benar-benar bingung.
"Hufttt"
Saka menghela napasnya sejenak. Mencoba membuang semua pikiran-pikiran itu untuk sementara. Ia butuh kewarasannya untuk menjalani hidupnya yang sudah berat. Kalau terus dipikirkan bisa-bisa ia gila.
*
*
Saka tiba di kantornya dengan raut wajah yang masam. Sorotan matanya memancarkan aura kesedihan yang terpendam. Disapa dengan senyuman oleh karyawannya pun, Saka hanya membalasnya dengan anggukan saja tanpa senyuman. Hal tersebut tak luput dari penglihatan Oliv.
"Kali ini kamu kenapa lagi Sak? Kenapa kamu jadi sering banget berangkat kerja dengan wajah yang kelihatan tidak semangat? Coba cerita."
Namun, tak digubris sama sekali oleh Saka. Laki-laki itu terus melengos berjalan menuju ke ruangannya. Oliv jadi khawatir tapi ia tak bisa berbuat apa-apa karena memang tidak tahu alasan dibalik sikap Saka itu.
Bahkan saking tak karuan nya pikiran Saka. Dia tidak bisa fokus pada pekerjaannya. Sampai pada akhirnya, Saka memilih untuk meninggalkan kantor dengan alasan ingin menenangkan diri ke Oliv.
Oliv yang memang mengerti kalau Saka sedang tidak baik-baik saja pun mengizinkan saka untuk pergi bahkan memintanya untuk tidak kembali ke kantor sampai pria itu merasa sudah lebih baik. Ia juga berkata kalau urusan pekerjaan akan aman di tangannya.
*
*
Saka pergi ke sebuah taman yang sepi pengunjung. Ia duduk disana sambil melihat ke arah penjual cilok yang sedang melayani pembeli. Wajah penjual itu terlihat begitu bahagia mendapatkan uang yang padahal nilainya pasti jauh lebih besar uangnya. Tapi kenapa dirinya yang terlihat jauh lebih menderita? Kenapa? Kenapa harus seperti itu? Bukankah uang adalah sumber kebahagiaan? Atau jangan-jangan selama ini ia salah menyimpulkan?
Saka masih terus melihat ke penjual cilok itu. Ia masih sangat ramah melayani pembeli. Sampai pada akhirnya Saka pun ikut mendekat dan memesan cilok dari bapak itu.
"Mau beli berapa Mas?" tanya si penjual cilok.
"Seporsi harga berapa Pak?"
"Seporsi 7000 Mas. Kalau harga satuan 1000."
Hampir saja bola mata Saka keluar dari matanya karena terlalu terkejut dengan harga cilok dari si bapak. Sungguh sangat murah.
"Beli 10000 Pak," ucap Saka.
"Ina Mas."
Si penjual cilok memberikan cilok yang sudah diikat dan dimasukan ke dalam kantong plastik. Saka memberikan selembar uang seratus ribu rupiah.
"Waduh Mas. Uangnya kegedean, pake uang yang kecil aja Mas. Saya belum ada kembalinya."
Saka dibuat tertegun lagi. Padahal hanya uang seratus ribu tapi Bapak itu tidak ada kembalinya. Apalah dirinya yang mengeluarkan uang seratus ribu sudah seperti uang seribu rupiah.
"Buat bapak aja kembaliannya."
"Masya Allah, terima kasih Mas. Terima kasih, semoga Mas nya selalu diberikan rezeki yang berlimpah."
Saka mengangguk lalu berjalan menjauh. Tapi ia berbalik dan mendekat ke si bapak penjual cilok lagi.
"Apa Bapak bahagia dengan pekerjaan ini?" tanya Saka.
"Kalau saya mah, bekerja apapun juga pasti bahagia Mas. Asalkan caranya halal dan bisa menghidupi kebutuhan keluarga. Mau itu seberat apapun atau sesulit apapun. Hidup itu memang sulit Mas."
Setelah mendapatkan jawaban, Saka kembali lagi ke tempat tadi dan duduk sambil memakan cilok yang ia beli. Ia terus terngiang dengan ucapan si bapak tentang rasa bahagia itu sendiri.
"Bahagia? Apa itu bahagia? Selama ini aku hanya tahu belajar dan bekerja keras untuk melanjutkan perusahaan keluarga. Apa itu bisa diartikan sebagai suatu bentuk dari kebahagiaan?"
Saka benar-benar tidak mengerti. Setelah ciliknya habis. Ia pun melihat penjual minuman keliling dan membeli minuman tersebut. Lagi-lagi tak ada kembalian yang membuat Saka memberikan uang tersebut saja. Ia juga mendapatkan doa seperti dari si penjual cilok tadi.
Glek glek glek
Suara tegukan air yang diminum oleh Saka. Ia terdiam lagi sambil melihat ke arah yang lain. Dimana ada seorang ayah, ibu dan anak perempuan sedang belajar sepeda disana. Si ayah sedang menjaga anaknya dari belakang, sementara si ibu terus menyemangati anaknya dengan teriakan cemprengnya. Mereka terlihat sangat bahagia. Meskipun anak perempuannya terus jatuh dalam belajar bersepeda.
"Semua orang yang ada disini terlihat bahagia dengan kegiatannya masing-masing. Sepertinya hanya aku yang bersedih dan tak memiliki arah."
Drttt drttt
Suara nada dering telepon dari Saka pun terdengar. Ia melihat nama yang tertera di layar tersebut.
"Kamu ada dimana? Aku pergi ke kantor tapi kamu tidak ada."
"Aku ada di taman, Rik. Kesini aja kalau ingin bertemu dengan ku."
"Oke, tunggu aku disana. Kamu jangan pergi dulu. Ada hal yang ingin aku bicarakan."
"Oke."
Setelah perbincangan di telepon selesai, Saka hendak menaruh ponselnya lagi. Tapi ia mendapatkan pesan dari Bi Nana.
*
*
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
dewi
kok ngulang keawal Thor,
2023-06-22
0
Maria Kibtiyah
masa ngulang2 terus ceritanya gk nyambung juga ma judulnya
2023-06-17
0