Bab 14 - Apa itu bahagia?

Setelah kepergian Riki dari rumah, Oma Rasti terus menangis. Ia merasa sedih dan kecewa pada dirinya sendiri karena telah membesarkan anaknya dengan salah didik. Bahkan Oma Rasti mengurung dirinya di dalam kamar.

Hal itu membuat Saka jadi khawatir karena takut Omanya kenapa-kenapa. Karena orang yang ia punya memang cuma Omanya. Mamanya tak begitu menyayanginya.

Sama berusaha membujuk Oma Rasti dari luar agar membuka pintunya. Namun tak ada respon apapun dari dalam. Saka hanya mendengar suara tangisan Oma Rasti.

"Ya Tuhan, gimana ini? Oma! Buka pintunya Oma!" Saka terus mengetuk-ngetuk pintu kamar Oma.

"Hiks ... hiks ... "

Saka mengacak-acak rambutnya. Ia benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi sampai keluarga mereka hancur berantakan begini. Ia juga tidak tahu kenapa Om Hendri sampai begitu ketakutan ketika Riki tinggal bersama dengan Oma nya sendiri. Memang apa yang harus ditakutkan?

"Oma ... " panggil Saka lagi yang kali ini mendapatkan jawaban dari Oma Rasti.

"Jangan ngurusin Oma. Kamu lanjut tidur lagi aja. Masih ada beberapa jam untuk istirahat lagi."

"Nggak bisa Oma. Aku tidak akan tenang kalau meninggalkan Oma dalam keadaan seperti ini."

"Pergi Saka! Oma baik-baik saja! Oma cuma sedih karena Riki pergi!"

Begitulah alibi Oma Rasti. Tapi entah kenapa di dalam hati kecil Saka, bukan itu alasan yang sesungguhnya. Setidaknya, omanya sudah mau bicara dengannya meski ia benar-benar tidak bisa meninggalkan Omanya.

Saka pergi dan menghampiri Ziana untuk meminta wanita itu terus menemani dan mengawasi Oma. Bahkan kalau perlu masuk ke kamar Oma menggunakan kunci cadangan untuk memastikan keadaan omanya jika nanti tidak kunjung keluar dari kamar.

Ziana hanya mengangguk patuh.

Saka langsung pergi ke kamarnya lagi. Ia bertanya-tanya dalam pikirannya. Banyak hal yang kini mulai masuk hingga menggerogoti isi kepalanya. Mau bertanya pada siapa, ia pun tidak tahu. Bertanya ke mamanya hanya akan berakhir dengan sebuah perdebatan. Bertanya ke Om Hendri takut membuat Om nya terkena serangan panik. Ia benar-benar bingung.

"Hufttt"

Saka menghela napasnya sejenak. Mencoba membuang semua pikiran-pikiran itu untuk sementara. Ia butuh kewarasannya untuk menjalani hidupnya yang sudah berat. Kalau terus dipikirkan bisa-bisa ia gila.

*

*

Saka tiba di kantornya dengan raut wajah yang masam. Sorotan matanya memancarkan aura kesedihan yang terpendam. Disapa dengan senyuman oleh karyawannya pun, Saka hanya membalasnya dengan anggukan saja tanpa senyuman. Hal tersebut tak luput dari penglihatan Oliv.

"Kali ini kamu kenapa lagi Sak? Kenapa kamu jadi sering banget berangkat kerja dengan wajah yang kelihatan tidak semangat? Coba cerita."

Namun, tak digubris sama sekali oleh Saka. Laki-laki itu terus melengos berjalan menuju ke ruangannya. Oliv jadi khawatir tapi ia tak bisa berbuat apa-apa karena memang tidak tahu alasan dibalik sikap Saka itu.

Bahkan saking tak karuan nya pikiran Saka. Dia tidak bisa fokus pada pekerjaannya. Sampai pada akhirnya, Saka memilih untuk meninggalkan kantor dengan alasan ingin menenangkan diri ke Oliv.

Oliv yang memang mengerti kalau Saka sedang tidak baik-baik saja pun mengizinkan saka untuk pergi bahkan memintanya untuk tidak kembali ke kantor sampai pria itu merasa sudah lebih baik. Ia juga berkata kalau urusan pekerjaan akan aman di tangannya.

*

*

Saka pergi ke sebuah taman yang sepi pengunjung. Ia duduk disana sambil melihat ke arah penjual cilok yang sedang melayani pembeli. Wajah penjual itu terlihat begitu bahagia mendapatkan uang yang padahal nilainya pasti jauh lebih besar uangnya. Tapi kenapa dirinya yang terlihat jauh lebih menderita? Kenapa? Kenapa harus seperti itu? Bukankah uang adalah sumber kebahagiaan? Atau jangan-jangan selama ini ia salah menyimpulkan?

Saka masih terus melihat ke penjual cilok itu. Ia masih sangat ramah melayani pembeli. Sampai pada akhirnya Saka pun ikut mendekat dan memesan cilok dari bapak itu.

"Mau beli berapa Mas?" tanya si penjual cilok.

"Seporsi harga berapa Pak?"

"Seporsi 7000 Mas. Kalau harga satuan 1000."

Hampir saja bola mata Saka keluar dari matanya karena terlalu terkejut dengan harga cilok dari si bapak. Sungguh sangat murah.

"Beli 10000 Pak," ucap Saka.

"Ina Mas."

Si penjual cilok memberikan cilok yang sudah diikat dan dimasukan ke dalam kantong plastik. Saka memberikan selembar uang seratus ribu rupiah.

"Waduh Mas. Uangnya kegedean, pake uang yang kecil aja Mas. Saya belum ada kembalinya."

Saka dibuat tertegun lagi. Padahal hanya uang seratus ribu tapi Bapak itu tidak ada kembalinya. Apalah dirinya yang mengeluarkan uang seratus ribu sudah seperti uang seribu rupiah.

"Buat bapak aja kembaliannya."

"Masya Allah, terima kasih Mas. Terima kasih, semoga Mas nya selalu diberikan rezeki yang berlimpah."

Saka mengangguk lalu berjalan menjauh. Tapi ia berbalik dan mendekat ke si bapak penjual cilok lagi.

"Apa Bapak bahagia dengan pekerjaan ini?" tanya Saka.

"Kalau saya mah, bekerja apapun juga pasti bahagia Mas. Asalkan caranya halal dan bisa menghidupi kebutuhan keluarga. Mau itu seberat apapun atau sesulit apapun. Hidup itu memang sulit Mas."

Setelah mendapatkan jawaban, Saka kembali lagi ke tempat tadi dan duduk sambil memakan cilok yang ia beli. Ia terus terngiang dengan ucapan si bapak tentang rasa bahagia itu sendiri.

"Bahagia? Apa itu bahagia? Selama ini aku hanya tahu belajar dan bekerja keras untuk melanjutkan perusahaan keluarga. Apa itu bisa diartikan sebagai suatu bentuk dari kebahagiaan?"

Saka benar-benar tidak mengerti. Setelah ciliknya habis. Ia pun melihat penjual minuman keliling dan membeli minuman tersebut. Lagi-lagi tak ada kembalian yang membuat Saka memberikan uang tersebut saja. Ia juga mendapatkan doa seperti dari si penjual cilok tadi.

Glek glek glek

Suara tegukan air yang diminum oleh Saka. Ia terdiam lagi sambil melihat ke arah yang lain. Dimana ada seorang ayah, ibu dan anak perempuan sedang belajar sepeda disana. Si ayah sedang menjaga anaknya dari belakang, sementara si ibu terus menyemangati anaknya dengan teriakan cemprengnya. Mereka terlihat sangat bahagia. Meskipun anak perempuannya terus jatuh dalam belajar bersepeda.

"Semua orang yang ada disini terlihat bahagia dengan kegiatannya masing-masing. Sepertinya hanya aku yang bersedih dan tak memiliki arah."

Drttt drttt

Suara nada dering telepon dari Saka pun terdengar. Ia melihat nama yang tertera di layar tersebut.

"Kamu ada dimana? Aku pergi ke kantor tapi kamu tidak ada."

"Aku ada di taman, Rik. Kesini aja kalau ingin bertemu dengan ku."

"Oke, tunggu aku disana. Kamu jangan pergi dulu. Ada hal yang ingin aku bicarakan."

"Oke."

Setelah perbincangan di telepon selesai, Saka hendak menaruh ponselnya lagi. Tapi ia mendapatkan pesan dari Bi Nana.

*

*

TBC

Terpopuler

Comments

dewi

dewi

kok ngulang keawal Thor,

2023-06-22

0

Maria Kibtiyah

Maria Kibtiyah

masa ngulang2 terus ceritanya gk nyambung juga ma judulnya

2023-06-17

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Dipecat
2 Bab 2 - Mendapat pekerjaan baru
3 Bab 3 - Saka Anggoro
4 Bab 4 - Ziana Anastasia
5 Bab 5 - Marah-marah di pagi hari
6 Bab 6 - Jalan-jalan pagi
7 Bab 7 - Tertawa Kecil
8 Bab 8 - Bicara Soal Teman
9 Bab 9 - Meminta Izin
10 Bab 10 - Kedekatan Oma Rasti dan Ziana
11 Bab 11 - Kepulangan Riki
12 Bab 12 - Oma Sedih
13 Bab 13 - Keributan di pagi hari oleh Om Hendri
14 Bab 14 - Apa itu bahagia?
15 Bab 15 - Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya
16 Bab 16 - Ucapan Terima Kasih
17 Bab 17 - Siap-siap cari kerja lagi
18 Bab 18 - Oliv kesal
19 Bab 19 - Mulai timbul benih
20 Bab 20 - Cemburu
21 Bab 21 - Pergi
22 Bab 22 - Kembali
23 Bab 23 - Kesal
24 Bab 24 - Susah makan
25 Bab 25 - Kesepian
26 Bab 26 - Bicara
27 Bab 27 - Belanja
28 Bab 28 - keputusan
29 Bab 29 - Rahasia
30 Bab 30 - Bersama
31 Bab 31 - Cerita
32 Bab 32 - Takut dimanfaatkan
33 Bab 33 - Kembali
34 Bab 34 - Berdua
35 Bab 35 - Marah
36 Bab 36 - Terkabul
37 Bab 37 - Jalan-jalan
38 Bab 38 - Bersatu
39 Bab 39 - Sedih
40 Bab 40 - Cemburu
41 Bab 41 - Bahagia
42 Bab 42 - Terungkap
43 Bab 43 - Dilema
44 Bab 44 - Janji
45 Bab 45 - Cahaya
46 Bab 46 - Dua
47 Bab 47 - Cinta
48 Bab 48 - Ceria
49 Bab 49 - Bersatu
50 Bab 50 - Kamu
51 Bab 51 - Tawanan
52 Bab 52 - Cinta yang membara
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Bab 1 - Dipecat
2
Bab 2 - Mendapat pekerjaan baru
3
Bab 3 - Saka Anggoro
4
Bab 4 - Ziana Anastasia
5
Bab 5 - Marah-marah di pagi hari
6
Bab 6 - Jalan-jalan pagi
7
Bab 7 - Tertawa Kecil
8
Bab 8 - Bicara Soal Teman
9
Bab 9 - Meminta Izin
10
Bab 10 - Kedekatan Oma Rasti dan Ziana
11
Bab 11 - Kepulangan Riki
12
Bab 12 - Oma Sedih
13
Bab 13 - Keributan di pagi hari oleh Om Hendri
14
Bab 14 - Apa itu bahagia?
15
Bab 15 - Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya
16
Bab 16 - Ucapan Terima Kasih
17
Bab 17 - Siap-siap cari kerja lagi
18
Bab 18 - Oliv kesal
19
Bab 19 - Mulai timbul benih
20
Bab 20 - Cemburu
21
Bab 21 - Pergi
22
Bab 22 - Kembali
23
Bab 23 - Kesal
24
Bab 24 - Susah makan
25
Bab 25 - Kesepian
26
Bab 26 - Bicara
27
Bab 27 - Belanja
28
Bab 28 - keputusan
29
Bab 29 - Rahasia
30
Bab 30 - Bersama
31
Bab 31 - Cerita
32
Bab 32 - Takut dimanfaatkan
33
Bab 33 - Kembali
34
Bab 34 - Berdua
35
Bab 35 - Marah
36
Bab 36 - Terkabul
37
Bab 37 - Jalan-jalan
38
Bab 38 - Bersatu
39
Bab 39 - Sedih
40
Bab 40 - Cemburu
41
Bab 41 - Bahagia
42
Bab 42 - Terungkap
43
Bab 43 - Dilema
44
Bab 44 - Janji
45
Bab 45 - Cahaya
46
Bab 46 - Dua
47
Bab 47 - Cinta
48
Bab 48 - Ceria
49
Bab 49 - Bersatu
50
Bab 50 - Kamu
51
Bab 51 - Tawanan
52
Bab 52 - Cinta yang membara
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!