Saka pulang ke rumahnya diantarkan oleh Oliv menggunakan mobil Saka. Ia ikut masuk ke dalam rumah tersebut, tapi dikagetkan dengan ruang tamu yang sudah berantakan.
Saka yang sudah tahu siapa pelakunya hanya bisa menghela napasnya. Sementara Oliv menganga tidak percaya.
Laki-laki itu berjalan ke teras samping rumah dan mendapati Oma Rasti yang sedang membuat ulah disana dengan membuang daun ke dalam kolam renang. Maklum saja semakin tua, sikap Oma Rasti seperti anak kecil yang suka cari perhatian.
"Astaga Oma!" Saka segera berlari dan menghentikan apa yang sedang Oma Rasti lakukan dan menyeretnya untuk menjauh dari kolam renang.
"Apa sih! Kamu ganggu kesenangan Oma tahu!" tutur Oma Rasti yang jadi ikut kesal ke cucunya.
Saka berusaha untuk sabar menghadapi Oma nya.
"Kalau Oma terus melakukan itu, kasian orang yang membersihkan kolam nantinya pasti kecapean Oma. Jangan terus bertingkah seperti ini Oma."
Oma Rasti menatap tajam ke arah Saka. Lalu berucap, "Makanya bawa Susi kemari lagi! Cuma dia yang bisa Oma ajak bicara! Kamu, Riki, mamamu dan pamanmu. Kalian tidak pernah peduli ke Oma!"
Saka mengacak-acak rambutnya frustasi. Sangat tidak mungkin ia membawa Susi, pengasuh Oma sebelumnya untuk kembali, wanita itu berhenti bekerja karena akan menikah. Mungkin sekarang dia sudah menikah dan ikut bersama suaminya.
"Oma dengarkan aku! Susi tidak bisa kembali lagi kesini. Dia sudah menikah dan ikut suaminya."
"Pokoknya bawa Susi ke sini! Kalau bisa, suruh suaminya kerja juga di rumah ini!"
Hal itu membuat Saka semakin pusing. Ketika melihat ART yang lewat ia memberikan kode untuk membawa Oma Rasti masuk ke dalam rumah. Setelahnya, Saka berjalan sambil menaruh jari tangannya di pelipis saking pusingnya. Padahal Susi baru resign dari pekerjaannya sebulan lalu, Saka berharap Oma Rasti tidak bertingkah seperti ini setelah Sisi pergi, tapi ternyata. Dugaannya salah.
Laki-laki itu menjatuhkan tubuhnya di atas sofa ditemani Oliv yang sedari tadi terus memperhatikan Oma dan Saka.
"Aku pusing Liv, kalau setiap hari Oma terus begini! Dia susah banget diaturnya. Kalau sudah nyaman dan deket sama orang, pasti nggak mau jauh. Sebenarnya aku nggak ingin Oma lebih dekat ke orang lain, yaitu pengasuhnya. Tapi gimana lagi? Huh! Tapi setelah pengasuhnya pergi, aku sendiri yang pusing!"
Olive menepuk pundak Sama untuk menenangkan laki-laki itu.
"Wajar saja, pasti dia seperti itu untuk cari perhatian cucu dan anak-anaknya Sak. Kalian semua sibuk bekerja, tak ada yang memperdulikannya di rumah. Oma kamu itu butuh teman untuk mengobrol."
Saka tahu apa yang dibilang Oliv memang ada benarnya. Ia pun sadar diri karena tak bisa terus menemani Oma nya. Padahal ia sangat menyayangi Oma nya itu. Ia terus berpikir, apa yang harus ia lakukan supaya Oma nya tidak bertingkah lagi.
Sampai akhirnya, Saka memutuskan untuk mencari pengasuh baru untuk Oma nya. Ia berharap dengan begitu, Oma nya bisa lebih tenang dan kelakuannya bisa terkontrol dengan baik. Ia menelpon agen penyalur kerja untuk meminta seorang pengasuh dari sana. Untungnya, ia orang kaya ponsel satunya rusak ia bisa beli lagi yang baru.
"Tolong carikan aku pengasuh yang pengalaman, cekatan dan tahan akan tekanan. Mau muda atau tua itu terserah yang penting tugasnya bagus. Segera datangkan ke rumahku. Kamu pasti sudah paham akan ucapanku. Cari yang bisa menginap."
"Baik Tuan Saka, akan saya Carikan yang sesuai kriteria."
"Bagus, aku tunggu segera."
Saka langsung mematikan ponselnya.
"Pada akhirnya kamu membutuhkan pengasuh lagi untuk menjaga Oma kamu."
"Mau gimana lagi? Aku tidak tahan, pulang kerja rumah selalu berantakan. Kasihan juga para ART yang harus bekerja berulang kali membereskannya."
"Tapi kalau semisal nantinya, pengasuh itu pergi, kamu akan kerepotan sendiri lagi Sak."
"Itu mah dipikir nanti saja. Yang penting Oma ada penjaganya dulu."
Oliv pun mengangguk. Ia akan pulang ke apartemennya. Saka pun menyuruh Oliv untuk membawa mobilnya saja daripada Oliv pulang naik taksi. Dengan senang hati Oliv menerima itu, lumayan irit ongkos.
*
*
Hari telah berganti, Ziana yang kini pengangguran tak pergi kemana-mana. Ia membantu orang-orang panti saja di rumah dari menyiapkan makanan, membersihkan panti juga mengantarkan anak-anak ke sekolah.
Ia menunggu kabar baik dari agen penyalur kerja. Ia berharap segera mendapatkan pekerjaan lagi. Ketika Ziana sedang mengemudikan mobil pick up nya, ia mendapatkan telepon dari agen penyalur kerja. Ziana pun sengaja memberhentikan laj weu mobilnya dan mengangkat panggilan tersebut.
"Mba Zia, ini ada lowongan jadi pengasuh seorang nenek di rumah keluarga kaya raya. Alamatnya tak jauh dari sini. Dilihat dari data diri dan pengalaman yang Mba tulis kemarin, sepertinya Mba akan cocok. Apa mau diterima? Kalau tidak, akan saya berikan ke orang lain. Untuk lebih jelasnya, Mba bisa datang ke kantor kami lagi."
"Eh, saya terima. Jangan dilemparkan ke orang lain," ucap Ziana yang tidak mau kehilangan kesempatan bagus itu.
"Baiklah, saya tunggu di kantor ya Mba untuk penjelasan lebih detail nya."
"Baik ibu, saya akan kesana segera."
Sambungan telepon itu pun tertutup. Ziana langsung melajukan mobilnya ke arah tempat agen penyalur itu berada. Di perjalanan, ia tak berhenti untuk tersenyum. Setidaknya ia bukan lagi pengangguran.
Mobilnya sudah berhenti di agen penyalur. Ziana langsung menemui Ibu Erni yang menelponnya tadi. Ibu Erni menjelaskan apa-apa saja yang diminta dari pihak sana.
"Seorang nenek yang kamu jaga nantinya itu banyak tingkahnya, kalau kamu mau bekerja disana. Kamu harus siap mental dan tekanan yang akan terjadi. Belum lagi, cucu sang nenek yang galak dan tidak suka dengan keributan dan kinerja pekerja nya yang buruk. Namanya Tuan Saka Anggoro, saya harap kamu siap."
"Saya sudah siap dengan semuanya Bu."
"Satu lagi, Tuan Saka mencari yang bisa menginap disana. Apa kamu bisa?"
Ziana tampak berpikir sejenak. Rasanya agak sulit.
"Tapi, bisa pulang di akhir pekan kan Bu?" tanya Ziana ingin memastikan.
"Kalau untuk masalah itu, kamu bisa bicarakan langsung dengan Tuan Saka nantinya."
"Baiklah."
"Kalau kamu sudah siap, kamu bisa datang langsung kesana. Saya akan konfirmasikan juga ke Tuan Saka."
Ziana mengangguk. Ia keluar dari agen penyalur itu lalu pulang ke rumahnya untuk mengemasi pakaian dan sedikit barang-barang yang ia butuhkan.
Sesampainya di dalam rumah, Ibu Farah, salah satu orang yang membantu Ibu Hesti di panti, terlihat kebingungan dengan Ziana yang mengemasi pakaiannya.
"Bu, aku akan kerja jadi pengasuh seorang nenek. Alamatnya tidak jauh kok. Tapi aku memang harus menginap. Jadi, aku minta maaf karena belum bisa membantu ibu di panti."
Ibu Farah mengerti.
"Iya tidak apa-apa. Lagipula, kamu bekerja banting tulang pun untuk memenuhi kebutuhan panti. Ibu akan menjaga mereka dan bilang ini ke Ibu Hesti di rumah sakit."
"Makasih ya Bu."
Ibu Farah pun mengangguk. Tak ada lagi obrolan di antara keduanya, karena Ibu Farah sudah tak ada lagi disana.
*
*
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Ibunya Dzalu
kenapa ceritanya di ulang² ?
2023-06-18
2
Suraidah Abdullah Sani
Thor knapa cerita nye d ulang2 thor
2023-06-17
0
Mitha Anggarsarii
judulnya beda tp isinya diulang trs 🙄
2023-06-17
0