Saka akhirnya pulang ke rumah walau dengan keadaan suasana hati yang tak karuan kalau memikirkan keluarganya. Ia melepas dasinya dan duduk di sofa ruang tamu.
Bi Nana datang menghampiri dan menawarkan makan malam.
"Siapkan saja Bi, aku mau ke duduk-duduk dulu sebentar. Oh iya, apa Oma sudah keluar dari kamar?"
"Belum Tuan. Tapi tenang aja, Oma Rasti sudah makan kok. Tadi Zia membuka pintu kamar oma dan memaksa oma untuk makan."
"Berhasil?"
Bi Nana mengangguk lalu pergi ke dapur lagi menyiapkan makan malam untuk Saka.
"Kali ini apa yang wanita itu lakukan sampai bisa membuat oma makan? Padahal selama ini, jika oma sedang sedih dan marah sampai mengurung diri, aku saja susah sekali memaksanya."
Saka benar-benar penasaran dengan apa yang diperbuat oleh Ziana. Karena selama wanita itu bekerja di rumahnya, selalu ada aja cara aneh dan nyeleneh yang dilakukannya kepada oma. Hanya saja kalau di depan Saka, Ziana selalu bersikap sopan dan tidak cerewet sama sekali. Sikap asli Ziana tidak diperlihatkan di depan Saka.
*
*
"Panggil Zia kemari Bi!" pinta Saka yang sudah duduk di meja makan.
"Sebentar Tuan."
Tak lama kemudian Zia pun datang dan menanyakan apa yang dibutuhkan oleh Saka sampai harus memanggilnya.
"Duduk!" perintah Saka.
Ziana pun langsung duduk bersila di lantai.
"Bukan disana Zia! Tapi disini!" ucap Saka sambil menunjukkan kursi yang kosong di hadapannya.
"Tapi ... "
"Cepat duduk! Atau kamu saya ... "
"Baik, Tuan Saka saya akan duduk."
Ziana bangkit dari duduk bersilanya. Ia menarik kursi dan duduk di hadapan Saka. Sejujurnya ia merasa tegang sekarang. Ia takut, sangat takut kalau dia tiba-tiba dipecat. Gimana nasib keluarga pantinya?
Tangan Ziana yang bersembunyi di bawah meja muncul keringat dingin, kakinya pun sedikit gemetaran karena gugup. Baru kali ini ia berhadapan langsung dengan Saka tanpa tahu apa yang akan dibicarakan.
Di saat Saka melahap makanan di hadapannya, Ziana hanya mampu melihatnya saja tanpa bicara apapun.
"Kenapa diam saja?"
"Kan Anda tidak memerintahkan saya apapun Tuan. Jadi saya bingung apa sebenarnya tugas saya duduk disini."
Terdengar suara helaan napas dari Saka. Laki-laki itu menurunkan garpu ditangannya kemudian menunjuk semua makanan yang ada di depannya.
"Kamu boleh makan ini semua. Anggap saja ucapan terima kasih karena sudah bisa membujuk oma untuk makan."
"Itu kan memang tugas saya Tuan. Rasanya ini terlalu berlebihan. Sudah duduk di tempat yang sama dengan Anda saja membuat saya merasa tidak pantas apalagi makan semeja dengan Anda. Bukannya saya menolak, tapi saya hanya sadar diri."
"Aku tidak suka dibantah Zia. Jadi, tolong menurut dan lakukan apa yang aku perintahkan. Atau kamu tanggung sendiri konsekuensinya. Masa percobaan mu tinggal seminggu lagi kan? Setelah itu, kamu akan tahu hasil akhirnya seperti apa."
Ziana tampak menelan ludahnya sendiri. Ia lupa kalau dirinya bekerja sebagai pengasuh Oma Rasti kan masih dalam masa percobaan belum jadi pengasuh tetap. Seharusnya ia tak berperilaku semena-mena selama ini.
Apalagi, di dalam memori di kepalanya, tergambar jelas kilasan-kilasan balik perilakunya kepada Oma Rasti yang selalu membuat Oma Rasti kesal.
'Ya Allah, kenapa aku baru sadarnya sekarang. Harusnya dari kemarin-kemarin aku sadar supaya bisa menjaga sikapku agar tidak sembrono. Nasib, nasib.'
Walau dengan rasa canggung, Ziana pun akhirnya makan bersama dengan Saka di meja makan. Di sepanjang makan bersama dengan Saka, suasana begitu hening. Bahkan bisa dibilang persis kuburan yang sepi.
'Sifatnya beda sekali dengan Mas Riki. Mas Riki mah ramah, murah senyum. Lah Tuan Saka mah udah dingin, tatapannya suka mengerikan, irit bicara pula. Apalagi kalau lagi marah, benar-benar menakutkan. Aku ingat betul kejadian waktu aku dipecat dulu cuma gara-gara pesanan yang aku bawa mengenai tubuhnya.'
Saat sudah selesai makan, Ziana hendak membereskan semua piring kotornya dan membawa sisa makanan ke dapur, tapi Saka malah melarangnya dan malah meminta Bi Nana yang melakukan apa yang ingin dilakukan oleh Ziana.
Kini meja makan telah kosong. Hanya ada dirinya dan Saka yang duduk disana. Ziana merasa, suasana jadi amat menegangkan.
"Aku akan bicara bukan sebagai majikan kamu tapi sebagai cucu dari Oma. Masa-masa sekarang ini, pasti sangat sulit bagi Oma. Aku hanya ingin kamu terus menemaninya. Lakukan saja apa yang Oma minta. Jangan banyak protes dan membantah."
"Baik Tuan. Meskipun anda meminta sebagai cucu dari Oma, tapi tetap saja apa yang Tuan bicarakan adalah pekerjaan saya. Saya akan melakukannya sebaik mungkin. Saya akan menemaninya, mendengarkan keluh kesahnya dan membuat Oma kembali seperti sedia kala."
"Bagus. Itu jawaban yang aku harapkan darimu. Kalau begitu kau boleh kembali ke kamar."
Ziana bangkit dari duduknya kemudian mengucapkan permisi dan meninggalkan Saka sendirian di meja makan.
Di saat orang lain memiliki seorang teman untuk berbagi cerita, Saka hanya bisa memendamnya sendirian. Meski ia memiliki sahabat baik seperti Oliv, nyatanya, untuk bercerita masih sangat sulit baginya walaupun Oliv selalu menawarkan diri untuk menjadi pendengar setia.
Faktor kebiasaan dari kecil memecahkan masalahnya sendiri adalah salah satunya. Saka selalu berusaha sendiri dan kuat dengan kaki yang dipijakinya sendiri. Mamanya tak pernah ada untuk membelanya. Papanya pergi entah kemana setelah mama dan papanya bercerai. Omanya, memang selalu ada, tapi Saka tak mau memberikan beban ke omanya.
Saka bangkit dari duduknya dan berjalan menaiki tangga untuk pergi ke kamarnya.
Di dalam kamar, tepatnya di balkon, Saka melihat langit yang tampak kesepian karena hanya ditemani oleh bulan. Sama seperti dirinya yang selalu kesepian.
*
*
"Oma ... Oma ... " panggil Ziana dari luar sambil mengetuk pintu kamar Oma Rasti. Ia merasa tak bisa melakukan hal yang sama lagi seperti biasanya dengan masuk ke kamar Oma Rasti dan membangunkannya seperti membangunkan anak panti. Ditambah dengan kejadian kemarin, Ziana masih berpikir bahwa Oma Rasti pasti butuh privasi.
Tak lama kemudian, pintu terbuka. Oma Rasti langsung memarahi Ziana.
"Kamu tuh gimana sih Zia? Masa iya kamu biarin Oma keluar bukain pintu buat kamu. Biasanya juga nyelonong aja. Untung Oma denger suara kamu, kalau nggak, masa iya kamu bakalan manggil-manggil terus disitu!"
"Maaf Oma! Habisnya saya takut ganggu! Kalau Oma dipanggil nggak keluar, itu artinya kan Oma masih tidur atau belum ingin diganggu."
"Kalau semisal bukan itu yang terjadi gimana?"
"Nggak usah mikir yang aneh-aneh Oma. Karena Oma sudah bangun, Oma mandi gih. Saya akan siapkan baju untuk Oma sekalian ambil baju kotornya. Setelah itu saya akan keluar dan siapkan sarapan untuk Oma."
Pintu kamar Oma Rasti terbuka sangat lebar, setelah melakukan tugasnya, Ziana benar-benar keluar dari sana.
"Syukurlah, sepertinya Oma sudah kembali seperti semula. Meskipun aku yakin, itu tak mudah. Semoga Oma bisa lewatin ini semua."
*
*
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Dortje Malelak
penulisnya ngawur apa bingung ceritanua berulang terjs dan tdk nyambung
2023-06-29
0