Bab 16 - Ucapan Terima Kasih

Saka akhirnya pulang ke rumah walau dengan keadaan suasana hati yang tak karuan kalau memikirkan keluarganya. Ia melepas dasinya dan duduk di sofa ruang tamu.

Bi Nana datang menghampiri dan menawarkan makan malam.

"Siapkan saja Bi, aku mau ke duduk-duduk dulu sebentar. Oh iya, apa Oma sudah keluar dari kamar?"

"Belum Tuan. Tapi tenang aja, Oma Rasti sudah makan kok. Tadi Zia membuka pintu kamar oma dan memaksa oma untuk makan."

"Berhasil?"

Bi Nana mengangguk lalu pergi ke dapur lagi menyiapkan makan malam untuk Saka.

"Kali ini apa yang wanita itu lakukan sampai bisa membuat oma makan? Padahal selama ini, jika oma sedang sedih dan marah sampai mengurung diri, aku saja susah sekali memaksanya."

Saka benar-benar penasaran dengan apa yang diperbuat oleh Ziana. Karena selama wanita itu bekerja di rumahnya, selalu ada aja cara aneh dan nyeleneh yang dilakukannya kepada oma. Hanya saja kalau di depan Saka, Ziana selalu bersikap sopan dan tidak cerewet sama sekali. Sikap asli Ziana tidak diperlihatkan di depan Saka.

*

*

"Panggil Zia kemari Bi!" pinta Saka yang sudah duduk di meja makan.

"Sebentar Tuan."

Tak lama kemudian Zia pun datang dan menanyakan apa yang dibutuhkan oleh Saka sampai harus memanggilnya.

"Duduk!" perintah Saka.

Ziana pun langsung duduk bersila di lantai.

"Bukan disana Zia! Tapi disini!" ucap Saka sambil menunjukkan kursi yang kosong di hadapannya.

"Tapi ... "

"Cepat duduk! Atau kamu saya ... "

"Baik, Tuan Saka saya akan duduk."

Ziana bangkit dari duduk bersilanya. Ia menarik kursi dan duduk di hadapan Saka. Sejujurnya ia merasa tegang sekarang. Ia takut, sangat takut kalau dia tiba-tiba dipecat. Gimana nasib keluarga pantinya?

Tangan Ziana yang bersembunyi di bawah meja muncul keringat dingin, kakinya pun sedikit gemetaran karena gugup. Baru kali ini ia berhadapan langsung dengan Saka tanpa tahu apa yang akan dibicarakan.

Di saat Saka melahap makanan di hadapannya, Ziana hanya mampu melihatnya saja tanpa bicara apapun.

"Kenapa diam saja?"

"Kan Anda tidak memerintahkan saya apapun Tuan. Jadi saya bingung apa sebenarnya tugas saya duduk disini."

Terdengar suara helaan napas dari Saka. Laki-laki itu menurunkan garpu ditangannya kemudian menunjuk semua makanan yang ada di depannya.

"Kamu boleh makan ini semua. Anggap saja ucapan terima kasih karena sudah bisa membujuk oma untuk makan."

"Itu kan memang tugas saya Tuan. Rasanya ini terlalu berlebihan. Sudah duduk di tempat yang sama dengan Anda saja membuat saya merasa tidak pantas apalagi makan semeja dengan Anda. Bukannya saya menolak, tapi saya hanya sadar diri."

"Aku tidak suka dibantah Zia. Jadi, tolong menurut dan lakukan apa yang aku perintahkan. Atau kamu tanggung sendiri konsekuensinya. Masa percobaan mu tinggal seminggu lagi kan? Setelah itu, kamu akan tahu hasil akhirnya seperti apa."

Ziana tampak menelan ludahnya sendiri. Ia lupa kalau dirinya bekerja sebagai pengasuh Oma Rasti kan masih dalam masa percobaan belum jadi pengasuh tetap. Seharusnya ia tak berperilaku semena-mena selama ini.

Apalagi, di dalam memori di kepalanya, tergambar jelas kilasan-kilasan balik perilakunya kepada Oma Rasti yang selalu membuat Oma Rasti kesal.

'Ya Allah, kenapa aku baru sadarnya sekarang. Harusnya dari kemarin-kemarin aku sadar supaya bisa menjaga sikapku agar tidak sembrono. Nasib, nasib.'

Walau dengan rasa canggung, Ziana pun akhirnya makan bersama dengan Saka di meja makan. Di sepanjang makan bersama dengan Saka, suasana begitu hening. Bahkan bisa dibilang persis kuburan yang sepi.

'Sifatnya beda sekali dengan Mas Riki. Mas Riki mah ramah, murah senyum. Lah Tuan Saka mah udah dingin, tatapannya suka mengerikan, irit bicara pula. Apalagi kalau lagi marah, benar-benar menakutkan. Aku ingat betul kejadian waktu aku dipecat dulu cuma gara-gara pesanan yang aku bawa mengenai tubuhnya.'

Saat sudah selesai makan, Ziana hendak membereskan semua piring kotornya dan membawa sisa makanan ke dapur, tapi Saka malah melarangnya dan malah meminta Bi Nana yang melakukan apa yang ingin dilakukan oleh Ziana.

Kini meja makan telah kosong. Hanya ada dirinya dan Saka yang duduk disana. Ziana merasa, suasana jadi amat menegangkan.

"Aku akan bicara bukan sebagai majikan kamu tapi sebagai cucu dari Oma. Masa-masa sekarang ini, pasti sangat sulit bagi Oma. Aku hanya ingin kamu terus menemaninya. Lakukan saja apa yang Oma minta. Jangan banyak protes dan membantah."

"Baik Tuan. Meskipun anda meminta sebagai cucu dari Oma, tapi tetap saja apa yang Tuan bicarakan adalah pekerjaan saya. Saya akan melakukannya sebaik mungkin. Saya akan menemaninya, mendengarkan keluh kesahnya dan membuat Oma kembali seperti sedia kala."

"Bagus. Itu jawaban yang aku harapkan darimu. Kalau begitu kau boleh kembali ke kamar."

Ziana bangkit dari duduknya kemudian mengucapkan permisi dan meninggalkan Saka sendirian di meja makan.

Di saat orang lain memiliki seorang teman untuk berbagi cerita, Saka hanya bisa memendamnya sendirian. Meski ia memiliki sahabat baik seperti Oliv, nyatanya, untuk bercerita masih sangat sulit baginya walaupun Oliv selalu menawarkan diri untuk menjadi pendengar setia.

Faktor kebiasaan dari kecil memecahkan masalahnya sendiri adalah salah satunya. Saka selalu berusaha sendiri dan kuat dengan kaki yang dipijakinya sendiri. Mamanya tak pernah ada untuk membelanya. Papanya pergi entah kemana setelah mama dan papanya bercerai. Omanya, memang selalu ada, tapi Saka tak mau memberikan beban ke omanya.

Saka bangkit dari duduknya dan berjalan menaiki tangga untuk pergi ke kamarnya.

Di dalam kamar, tepatnya di balkon, Saka melihat langit yang tampak kesepian karena hanya ditemani oleh bulan. Sama seperti dirinya yang selalu kesepian.

*

*

"Oma ... Oma ... " panggil Ziana dari luar sambil mengetuk pintu kamar Oma Rasti. Ia merasa tak bisa melakukan hal yang sama lagi seperti biasanya dengan masuk ke kamar Oma Rasti dan membangunkannya seperti membangunkan anak panti. Ditambah dengan kejadian kemarin, Ziana masih berpikir bahwa Oma Rasti pasti butuh privasi.

Tak lama kemudian, pintu terbuka. Oma Rasti langsung memarahi Ziana.

"Kamu tuh gimana sih Zia? Masa iya kamu biarin Oma keluar bukain pintu buat kamu. Biasanya juga nyelonong aja. Untung Oma denger suara kamu, kalau nggak, masa iya kamu bakalan manggil-manggil terus disitu!"

"Maaf Oma! Habisnya saya takut ganggu! Kalau Oma dipanggil nggak keluar, itu artinya kan Oma masih tidur atau belum ingin diganggu."

"Kalau semisal bukan itu yang terjadi gimana?"

"Nggak usah mikir yang aneh-aneh Oma. Karena Oma sudah bangun, Oma mandi gih. Saya akan siapkan baju untuk Oma sekalian ambil baju kotornya. Setelah itu saya akan keluar dan siapkan sarapan untuk Oma."

Pintu kamar Oma Rasti terbuka sangat lebar, setelah melakukan tugasnya, Ziana benar-benar keluar dari sana.

"Syukurlah, sepertinya Oma sudah kembali seperti semula. Meskipun aku yakin, itu tak mudah. Semoga Oma bisa lewatin ini semua."

*

*

TBC

Terpopuler

Comments

Dortje Malelak

Dortje Malelak

penulisnya ngawur apa bingung ceritanua berulang terjs dan tdk nyambung

2023-06-29

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Dipecat
2 Bab 2 - Mendapat pekerjaan baru
3 Bab 3 - Saka Anggoro
4 Bab 4 - Ziana Anastasia
5 Bab 5 - Marah-marah di pagi hari
6 Bab 6 - Jalan-jalan pagi
7 Bab 7 - Tertawa Kecil
8 Bab 8 - Bicara Soal Teman
9 Bab 9 - Meminta Izin
10 Bab 10 - Kedekatan Oma Rasti dan Ziana
11 Bab 11 - Kepulangan Riki
12 Bab 12 - Oma Sedih
13 Bab 13 - Keributan di pagi hari oleh Om Hendri
14 Bab 14 - Apa itu bahagia?
15 Bab 15 - Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya
16 Bab 16 - Ucapan Terima Kasih
17 Bab 17 - Siap-siap cari kerja lagi
18 Bab 18 - Oliv kesal
19 Bab 19 - Mulai timbul benih
20 Bab 20 - Cemburu
21 Bab 21 - Pergi
22 Bab 22 - Kembali
23 Bab 23 - Kesal
24 Bab 24 - Susah makan
25 Bab 25 - Kesepian
26 Bab 26 - Bicara
27 Bab 27 - Belanja
28 Bab 28 - keputusan
29 Bab 29 - Rahasia
30 Bab 30 - Bersama
31 Bab 31 - Cerita
32 Bab 32 - Takut dimanfaatkan
33 Bab 33 - Kembali
34 Bab 34 - Berdua
35 Bab 35 - Marah
36 Bab 36 - Terkabul
37 Bab 37 - Jalan-jalan
38 Bab 38 - Bersatu
39 Bab 39 - Sedih
40 Bab 40 - Cemburu
41 Bab 41 - Bahagia
42 Bab 42 - Terungkap
43 Bab 43 - Dilema
44 Bab 44 - Janji
45 Bab 45 - Cahaya
46 Bab 46 - Dua
47 Bab 47 - Cinta
48 Bab 48 - Ceria
49 Bab 49 - Bersatu
50 Bab 50 - Kamu
51 Bab 51 - Tawanan
52 Bab 52 - Cinta yang membara
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Bab 1 - Dipecat
2
Bab 2 - Mendapat pekerjaan baru
3
Bab 3 - Saka Anggoro
4
Bab 4 - Ziana Anastasia
5
Bab 5 - Marah-marah di pagi hari
6
Bab 6 - Jalan-jalan pagi
7
Bab 7 - Tertawa Kecil
8
Bab 8 - Bicara Soal Teman
9
Bab 9 - Meminta Izin
10
Bab 10 - Kedekatan Oma Rasti dan Ziana
11
Bab 11 - Kepulangan Riki
12
Bab 12 - Oma Sedih
13
Bab 13 - Keributan di pagi hari oleh Om Hendri
14
Bab 14 - Apa itu bahagia?
15
Bab 15 - Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya
16
Bab 16 - Ucapan Terima Kasih
17
Bab 17 - Siap-siap cari kerja lagi
18
Bab 18 - Oliv kesal
19
Bab 19 - Mulai timbul benih
20
Bab 20 - Cemburu
21
Bab 21 - Pergi
22
Bab 22 - Kembali
23
Bab 23 - Kesal
24
Bab 24 - Susah makan
25
Bab 25 - Kesepian
26
Bab 26 - Bicara
27
Bab 27 - Belanja
28
Bab 28 - keputusan
29
Bab 29 - Rahasia
30
Bab 30 - Bersama
31
Bab 31 - Cerita
32
Bab 32 - Takut dimanfaatkan
33
Bab 33 - Kembali
34
Bab 34 - Berdua
35
Bab 35 - Marah
36
Bab 36 - Terkabul
37
Bab 37 - Jalan-jalan
38
Bab 38 - Bersatu
39
Bab 39 - Sedih
40
Bab 40 - Cemburu
41
Bab 41 - Bahagia
42
Bab 42 - Terungkap
43
Bab 43 - Dilema
44
Bab 44 - Janji
45
Bab 45 - Cahaya
46
Bab 46 - Dua
47
Bab 47 - Cinta
48
Bab 48 - Ceria
49
Bab 49 - Bersatu
50
Bab 50 - Kamu
51
Bab 51 - Tawanan
52
Bab 52 - Cinta yang membara
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!