Bab 18 - Oliv kesal

Ziana pergi ke alamat yang dikasih oleh Ibu Erni. Ia begitu tercengang ketika sudah sampai di lokasi, rumah megah dan mewah serta luas sekali pekarangan rumahnya. Ziana takjub, majikannya memang kara raya sekali.

"Cari siapa ya Mba?" tanya satpam yang berjaga.

"Eh, oh iya ini Pak. Saya pengasuh baru untuk nenek di rumah ini."

"Sebentar, saya akan konfirmasi dulu ke Tuan Saka."

Ziana mengangguk dan menunggu disana sambil berdiri. Tak lama kemudian, Ziana diantarkan oleh satpam itu untuk masuk ke dalam rumah. Pak satpam itu bahkan menjelaskan semua peraturan di rumah itu juga menunjuk seseorang yang kini tengah duduk di kursi yang ada di pinggiran kolam.

"Nyonya Besar yang akan kamu jaga. Orangnya banyak mau, cerewet dan susah untuk diatur, semoga kamu betah. Karena kebanyakan belum juga sebulan pasti akan langsung keluar dari pekerjaan ini kecuali pengasuh yang sebelumnya."

"Terus kenapa pengasuh sebelumnya keluar?"

"Katanya mau menikah. Makanya dia keluar."

"Oh begitu."

"Kamu tunggu saja disini. Tuan Sama sedang dalam perjalanan ke rumah. Kalau di depan dia, sebisa mungkin jangan natap matnya. Serem soalnya."

"Ah, si Bapak ini nakutin aja. Dia kan manusia juga Pak."

"Iya emang, cuma Tuan Muda itu sangat perfeksionis orangnya. Tidak suka keributan, tidak suka dengan suasana yang kotor dan masih banyak lagi yang lainnya. Lama kelamaan kamu pasti akan tahu sendiri. Kalau begitu saya tinggal ya."

"Iya Pak, terima kasih sudah mengantar."

Si satpam mengangguk lalu kembali lagi ke pos jaganya.

Di dalam rumah, Ziana mengamati pajangan yang ada disana. Biasanya di rumah keluarga kaya pasti akan ada foto keluarga besar mereka. Tapi disini tidak ada, adanya hanya lukisan-lukisan pemandangan saja.

Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki dari depan, Ziana langsung berpikiran kalau itu adalah Tuan Saka yang datang dan dugaan Ziana itu memang benar. Ia langsung menunduk sambil mengenalkan dirinya.

"Saya Ziana Anastasia Tuan, orang yang dikirim pihak penyalur untuk jadi pengasuh di rumah ini," ucap Ziana kemudian mendongakkan kepala karena penasaran dengan wajah majikannya.

Betapa kagetnya Ziana saat tahu majikanya adalah orang yang membuatnya dipecat di pekerjaannya sebelumnya. Rasanya Ziana ingin sekali marah dan melampiaskan semuanya. Tapi ia tidak bisa, karena jika ia melakukan itu, pekerjaan yang ada di depan mata ini akan melayang jauh-jauh.

Bukan hanya Ziana saja yang terkejut tapi Saka juga. Laki-laki itu langsung meminta Ziana untuk pergi dari rumahnya karena ia tak mau orang seperti Ziana yang menjaga cucunya. Saka sudah bisa memastikan kalau Ziana orang yang ceroboh dan tak bertanggungjawab.

"Saya mohon Tuan jangan usir saya. Saya janji akan bekerja dengan baik. Maafkan saya atas perlakuan saya waktu itu. Meskipun bukan saya yang menabrak melainkan anda sendiri."

Mendengar hal tersebut, Saka langsung kesal lagi. Ziana langsung panik dan meminta maaf terus sampai Saka tidak mengusir dirinya. Ia membutuhkan pekerjaan ini, apalagi gajinya yang besar, lebih banyak 3 kali lipat dari gajinya di pekerjaan sebelumnya.

"Saya beri kamu kesempatan untuk menjadi pengasuh Oma saya selama satu bulan. Kalau selama sebulan itu kamu belum bisa dekat dan kinerjamu buruk, saya akan langsung pecat kamu!"

"Baik, siap! Akan saya laksanakan Tuan Saka!" jawab Ziana sambil memposisikan sikap hormat sempurna di hadapan Saka.

Saka memberikan kode ke Ziana untuk mengikuti langkahnya, untung Ziana ngerti kode-kodean jadi Saka tidak usah repot-repot banyak bicara.

"Oma, aku bawakan Oma pengasuh baru," ucap Saka yang datang tiba-tiba sambil membawa seorang wanita muda di belakangnya.

"Tidak mau! Oma maunya Susi! Cepat bawa Susi kesini lagi!" Oma menolak dan membalikkan tubuhnya memberikan penolakannya.

Saka menatap ke arah Ziana.

"Tugas pertama kamu, kamu harus bisa membuat Oma tidak menanyakan Susi lagi."

"Baik Tuan."

Ziana tampak berjalan mendekat ke Oma Rasti. Ia begitu gugup saat mengulurkan tangannya untuk berkenalan.

"Saya Ziana Bu, pengasuh ibu yang baru. Nama ibu siapa?" tanya Ziana yang mencoba pendekatan.

Namun Oma Rasti tampaknya tidak begitu peduli dan tak menanggapi ucapan perkenalan Ziana.

"Saya titip Oma saya. Saya akan ke kantor lagi. Nanti akan ada orang yang membantu kamu untuk menunjukkan kamar kamu."

"Baik Tuan, terima kasih."

Saka pun pergi dari sana membiarkan Ziana untuk mengahadapi Oma nya.

"Ibu, sudah makan?" tanya Ziana lagi.

"Jangan sok-sokan perhatian kamu! Sana pergi jauh-jauh! Saya tidak butuh pengasuh baru! Saya cuma ingin Susi."

Ziana pun tak bertanya lagi, karena ia dipanggil oleh seseorang. Rupanya orang itu adalah kepala dapur di rumah keluarga Anggoro. Namanya Bi Nana. Usianya mungkin seumuran dengan Ibu Hesti.

"Tuan sudah cerita kalau akan ada pengasuh baru untuk nyonya besar. Tapi bibi tidak menyangka, kalau pengasuhnya lagi-lagi masih muda. Semoga kamu bisa bertahan lama disini. Oh iya, mari bibi antarkan kamu ke kamar yang akan kamu tempati."

Bi Nana membawa Ziana ke kamar kosong yang sudah ia bersihkan. Disana sudah ada kasur, bantal dan juga lemari.

"Sekarang kamu bereskan pakaianmu dulu. Pindahkan ke dalam lemari. Nanti akan jelaskan informasi tentang nyonya besar."

"Terima kasih Bi."

Bi Nana mengangguk.

Setengah jam kemudian, Ziana telah selesai memindahkan pakaiannya ke dalam lemari dan menata sedikit alat make-up nya. Ia keluar dari kamar dan mencari keberadaan Bi Nana. Rupanya Bi nana sedang menyiapkan makan siang untuk nyonya besar. Ziana pun langsung membantu pekerjaan Bi Nana supaya cepat selesai.

"Aduh, Zia, tidak usah membantu bibi. Ini bukan tugas kamu."

"Tidak apa-apa Bi, lagipula, aku juga belum tahu bagaimana pekerjaanku."

Bi Nana pun tak bisa lagi menolak. Ia memasak sambil menjelaskan kebiasaan Nyonya besar dan apa yang disukai serta tidak disukai nyonya besar.

"Nyonya Besar itu sebenarnya sangat baik. Ia hanya bertingkah seperti itu untuk mencari perhatian dari cucu dan anak-anaknya. Dia selalu kesepian di rumah. Meskipun orangnya cerewet dan banyak maunya. Tapi kalau sekalinya dia nyaman sama orang, dia nggak mau orang itu pergi. Sama seperti Susi, Susi begitu dekat dengan nyonya besar."

Ziana mengangguk-angguk mengerti. Lalu ia mendengarkan lagi penjelasan dari Bi Nana.

"Kalau urusan makanan, nyonya besar itu orangnya pemilih sekali. Sekalinya di mulutnya tidak enak, dia tidak akan mau makan itu lagi. Begitu pula sebaliknya. Nyonya besar sangat suka menghabiskan waktunya di teras samping rumah, tepatnya di dekat kolam renang sepanjang harinya. Kadang dia pun pergi ke halaman belakang cuma untuk duduk-duduk aja sambil lihat kolam ikan. Andaikan anak dan cucunya mengerti betapa kesepiannya nyonya besar di masa tuanya."

"Memangnya kemana anak dan cucunya Bi?" tanya Ziana.

"Anak pertama nyonya besar bernama nyonya Venia yaitu mamanya dari Tuan Saka. Lalu anak keduanya bernama Tuan Hendri dan anaknya bernama Riki. Entah apa yang terjadi, bibi pun tidak mengerti, sampai mereka semua pergi dari rumah ini kecuali Tuan Saka. Padahal dulunya, keluarga ini begitu hangat dan harmonis."

Ziana pun jadi penasaran, tentang masalah yang terjadi sampai bisa memecah belah keluarga ini. Tapi ia pun sadar akan posisinya yang memang orang asing.

"Kamu bisa panggil nyonya besar dengan sebutan Oma. Dia tidak suka dipanggil ibu, atau nenek."

"Baik Bi. Saya akan ingat itu."

*

*

TBC

Terpopuler

Comments

RistaRia

RistaRia

kok ceritanya muter2 ajj si ini..kayak gak dajln ahirnya

2023-09-21

0

Yarni Manao

Yarni Manao

cerita nya kok diulang terus thorrr,

2023-07-07

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Dipecat
2 Bab 2 - Mendapat pekerjaan baru
3 Bab 3 - Saka Anggoro
4 Bab 4 - Ziana Anastasia
5 Bab 5 - Marah-marah di pagi hari
6 Bab 6 - Jalan-jalan pagi
7 Bab 7 - Tertawa Kecil
8 Bab 8 - Bicara Soal Teman
9 Bab 9 - Meminta Izin
10 Bab 10 - Kedekatan Oma Rasti dan Ziana
11 Bab 11 - Kepulangan Riki
12 Bab 12 - Oma Sedih
13 Bab 13 - Keributan di pagi hari oleh Om Hendri
14 Bab 14 - Apa itu bahagia?
15 Bab 15 - Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya
16 Bab 16 - Ucapan Terima Kasih
17 Bab 17 - Siap-siap cari kerja lagi
18 Bab 18 - Oliv kesal
19 Bab 19 - Mulai timbul benih
20 Bab 20 - Cemburu
21 Bab 21 - Pergi
22 Bab 22 - Kembali
23 Bab 23 - Kesal
24 Bab 24 - Susah makan
25 Bab 25 - Kesepian
26 Bab 26 - Bicara
27 Bab 27 - Belanja
28 Bab 28 - keputusan
29 Bab 29 - Rahasia
30 Bab 30 - Bersama
31 Bab 31 - Cerita
32 Bab 32 - Takut dimanfaatkan
33 Bab 33 - Kembali
34 Bab 34 - Berdua
35 Bab 35 - Marah
36 Bab 36 - Terkabul
37 Bab 37 - Jalan-jalan
38 Bab 38 - Bersatu
39 Bab 39 - Sedih
40 Bab 40 - Cemburu
41 Bab 41 - Bahagia
42 Bab 42 - Terungkap
43 Bab 43 - Dilema
44 Bab 44 - Janji
45 Bab 45 - Cahaya
46 Bab 46 - Dua
47 Bab 47 - Cinta
48 Bab 48 - Ceria
49 Bab 49 - Bersatu
50 Bab 50 - Kamu
51 Bab 51 - Tawanan
52 Bab 52 - Cinta yang membara
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Bab 1 - Dipecat
2
Bab 2 - Mendapat pekerjaan baru
3
Bab 3 - Saka Anggoro
4
Bab 4 - Ziana Anastasia
5
Bab 5 - Marah-marah di pagi hari
6
Bab 6 - Jalan-jalan pagi
7
Bab 7 - Tertawa Kecil
8
Bab 8 - Bicara Soal Teman
9
Bab 9 - Meminta Izin
10
Bab 10 - Kedekatan Oma Rasti dan Ziana
11
Bab 11 - Kepulangan Riki
12
Bab 12 - Oma Sedih
13
Bab 13 - Keributan di pagi hari oleh Om Hendri
14
Bab 14 - Apa itu bahagia?
15
Bab 15 - Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya
16
Bab 16 - Ucapan Terima Kasih
17
Bab 17 - Siap-siap cari kerja lagi
18
Bab 18 - Oliv kesal
19
Bab 19 - Mulai timbul benih
20
Bab 20 - Cemburu
21
Bab 21 - Pergi
22
Bab 22 - Kembali
23
Bab 23 - Kesal
24
Bab 24 - Susah makan
25
Bab 25 - Kesepian
26
Bab 26 - Bicara
27
Bab 27 - Belanja
28
Bab 28 - keputusan
29
Bab 29 - Rahasia
30
Bab 30 - Bersama
31
Bab 31 - Cerita
32
Bab 32 - Takut dimanfaatkan
33
Bab 33 - Kembali
34
Bab 34 - Berdua
35
Bab 35 - Marah
36
Bab 36 - Terkabul
37
Bab 37 - Jalan-jalan
38
Bab 38 - Bersatu
39
Bab 39 - Sedih
40
Bab 40 - Cemburu
41
Bab 41 - Bahagia
42
Bab 42 - Terungkap
43
Bab 43 - Dilema
44
Bab 44 - Janji
45
Bab 45 - Cahaya
46
Bab 46 - Dua
47
Bab 47 - Cinta
48
Bab 48 - Ceria
49
Bab 49 - Bersatu
50
Bab 50 - Kamu
51
Bab 51 - Tawanan
52
Bab 52 - Cinta yang membara
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!