Ziana pergi ke alamat yang dikasih oleh Ibu Erni. Ia begitu tercengang ketika sudah sampai di lokasi, rumah megah dan mewah serta luas sekali pekarangan rumahnya. Ziana takjub, majikannya memang kara raya sekali.
"Cari siapa ya Mba?" tanya satpam yang berjaga.
"Eh, oh iya ini Pak. Saya pengasuh baru untuk nenek di rumah ini."
"Sebentar, saya akan konfirmasi dulu ke Tuan Saka."
Ziana mengangguk dan menunggu disana sambil berdiri. Tak lama kemudian, Ziana diantarkan oleh satpam itu untuk masuk ke dalam rumah. Pak satpam itu bahkan menjelaskan semua peraturan di rumah itu juga menunjuk seseorang yang kini tengah duduk di kursi yang ada di pinggiran kolam.
"Nyonya Besar yang akan kamu jaga. Orangnya banyak mau, cerewet dan susah untuk diatur, semoga kamu betah. Karena kebanyakan belum juga sebulan pasti akan langsung keluar dari pekerjaan ini kecuali pengasuh yang sebelumnya."
"Terus kenapa pengasuh sebelumnya keluar?"
"Katanya mau menikah. Makanya dia keluar."
"Oh begitu."
"Kamu tunggu saja disini. Tuan Sama sedang dalam perjalanan ke rumah. Kalau di depan dia, sebisa mungkin jangan natap matnya. Serem soalnya."
"Ah, si Bapak ini nakutin aja. Dia kan manusia juga Pak."
"Iya emang, cuma Tuan Muda itu sangat perfeksionis orangnya. Tidak suka keributan, tidak suka dengan suasana yang kotor dan masih banyak lagi yang lainnya. Lama kelamaan kamu pasti akan tahu sendiri. Kalau begitu saya tinggal ya."
"Iya Pak, terima kasih sudah mengantar."
Si satpam mengangguk lalu kembali lagi ke pos jaganya.
Di dalam rumah, Ziana mengamati pajangan yang ada disana. Biasanya di rumah keluarga kaya pasti akan ada foto keluarga besar mereka. Tapi disini tidak ada, adanya hanya lukisan-lukisan pemandangan saja.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki dari depan, Ziana langsung berpikiran kalau itu adalah Tuan Saka yang datang dan dugaan Ziana itu memang benar. Ia langsung menunduk sambil mengenalkan dirinya.
"Saya Ziana Anastasia Tuan, orang yang dikirim pihak penyalur untuk jadi pengasuh di rumah ini," ucap Ziana kemudian mendongakkan kepala karena penasaran dengan wajah majikannya.
Betapa kagetnya Ziana saat tahu majikanya adalah orang yang membuatnya dipecat di pekerjaannya sebelumnya. Rasanya Ziana ingin sekali marah dan melampiaskan semuanya. Tapi ia tidak bisa, karena jika ia melakukan itu, pekerjaan yang ada di depan mata ini akan melayang jauh-jauh.
Bukan hanya Ziana saja yang terkejut tapi Saka juga. Laki-laki itu langsung meminta Ziana untuk pergi dari rumahnya karena ia tak mau orang seperti Ziana yang menjaga cucunya. Saka sudah bisa memastikan kalau Ziana orang yang ceroboh dan tak bertanggungjawab.
"Saya mohon Tuan jangan usir saya. Saya janji akan bekerja dengan baik. Maafkan saya atas perlakuan saya waktu itu. Meskipun bukan saya yang menabrak melainkan anda sendiri."
Mendengar hal tersebut, Saka langsung kesal lagi. Ziana langsung panik dan meminta maaf terus sampai Saka tidak mengusir dirinya. Ia membutuhkan pekerjaan ini, apalagi gajinya yang besar, lebih banyak 3 kali lipat dari gajinya di pekerjaan sebelumnya.
"Saya beri kamu kesempatan untuk menjadi pengasuh Oma saya selama satu bulan. Kalau selama sebulan itu kamu belum bisa dekat dan kinerjamu buruk, saya akan langsung pecat kamu!"
"Baik, siap! Akan saya laksanakan Tuan Saka!" jawab Ziana sambil memposisikan sikap hormat sempurna di hadapan Saka.
Saka memberikan kode ke Ziana untuk mengikuti langkahnya, untung Ziana ngerti kode-kodean jadi Saka tidak usah repot-repot banyak bicara.
"Oma, aku bawakan Oma pengasuh baru," ucap Saka yang datang tiba-tiba sambil membawa seorang wanita muda di belakangnya.
"Tidak mau! Oma maunya Susi! Cepat bawa Susi kesini lagi!" Oma menolak dan membalikkan tubuhnya memberikan penolakannya.
Saka menatap ke arah Ziana.
"Tugas pertama kamu, kamu harus bisa membuat Oma tidak menanyakan Susi lagi."
"Baik Tuan."
Ziana tampak berjalan mendekat ke Oma Rasti. Ia begitu gugup saat mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
"Saya Ziana Bu, pengasuh ibu yang baru. Nama ibu siapa?" tanya Ziana yang mencoba pendekatan.
Namun Oma Rasti tampaknya tidak begitu peduli dan tak menanggapi ucapan perkenalan Ziana.
"Saya titip Oma saya. Saya akan ke kantor lagi. Nanti akan ada orang yang membantu kamu untuk menunjukkan kamar kamu."
"Baik Tuan, terima kasih."
Saka pun pergi dari sana membiarkan Ziana untuk mengahadapi Oma nya.
"Ibu, sudah makan?" tanya Ziana lagi.
"Jangan sok-sokan perhatian kamu! Sana pergi jauh-jauh! Saya tidak butuh pengasuh baru! Saya cuma ingin Susi."
Ziana pun tak bertanya lagi, karena ia dipanggil oleh seseorang. Rupanya orang itu adalah kepala dapur di rumah keluarga Anggoro. Namanya Bi Nana. Usianya mungkin seumuran dengan Ibu Hesti.
"Tuan sudah cerita kalau akan ada pengasuh baru untuk nyonya besar. Tapi bibi tidak menyangka, kalau pengasuhnya lagi-lagi masih muda. Semoga kamu bisa bertahan lama disini. Oh iya, mari bibi antarkan kamu ke kamar yang akan kamu tempati."
Bi Nana membawa Ziana ke kamar kosong yang sudah ia bersihkan. Disana sudah ada kasur, bantal dan juga lemari.
"Sekarang kamu bereskan pakaianmu dulu. Pindahkan ke dalam lemari. Nanti akan jelaskan informasi tentang nyonya besar."
"Terima kasih Bi."
Bi Nana mengangguk.
Setengah jam kemudian, Ziana telah selesai memindahkan pakaiannya ke dalam lemari dan menata sedikit alat make-up nya. Ia keluar dari kamar dan mencari keberadaan Bi Nana. Rupanya Bi nana sedang menyiapkan makan siang untuk nyonya besar. Ziana pun langsung membantu pekerjaan Bi Nana supaya cepat selesai.
"Aduh, Zia, tidak usah membantu bibi. Ini bukan tugas kamu."
"Tidak apa-apa Bi, lagipula, aku juga belum tahu bagaimana pekerjaanku."
Bi Nana pun tak bisa lagi menolak. Ia memasak sambil menjelaskan kebiasaan Nyonya besar dan apa yang disukai serta tidak disukai nyonya besar.
"Nyonya Besar itu sebenarnya sangat baik. Ia hanya bertingkah seperti itu untuk mencari perhatian dari cucu dan anak-anaknya. Dia selalu kesepian di rumah. Meskipun orangnya cerewet dan banyak maunya. Tapi kalau sekalinya dia nyaman sama orang, dia nggak mau orang itu pergi. Sama seperti Susi, Susi begitu dekat dengan nyonya besar."
Ziana mengangguk-angguk mengerti. Lalu ia mendengarkan lagi penjelasan dari Bi Nana.
"Kalau urusan makanan, nyonya besar itu orangnya pemilih sekali. Sekalinya di mulutnya tidak enak, dia tidak akan mau makan itu lagi. Begitu pula sebaliknya. Nyonya besar sangat suka menghabiskan waktunya di teras samping rumah, tepatnya di dekat kolam renang sepanjang harinya. Kadang dia pun pergi ke halaman belakang cuma untuk duduk-duduk aja sambil lihat kolam ikan. Andaikan anak dan cucunya mengerti betapa kesepiannya nyonya besar di masa tuanya."
"Memangnya kemana anak dan cucunya Bi?" tanya Ziana.
"Anak pertama nyonya besar bernama nyonya Venia yaitu mamanya dari Tuan Saka. Lalu anak keduanya bernama Tuan Hendri dan anaknya bernama Riki. Entah apa yang terjadi, bibi pun tidak mengerti, sampai mereka semua pergi dari rumah ini kecuali Tuan Saka. Padahal dulunya, keluarga ini begitu hangat dan harmonis."
Ziana pun jadi penasaran, tentang masalah yang terjadi sampai bisa memecah belah keluarga ini. Tapi ia pun sadar akan posisinya yang memang orang asing.
"Kamu bisa panggil nyonya besar dengan sebutan Oma. Dia tidak suka dipanggil ibu, atau nenek."
"Baik Bi. Saya akan ingat itu."
*
*
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
RistaRia
kok ceritanya muter2 ajj si ini..kayak gak dajln ahirnya
2023-09-21
0
Yarni Manao
cerita nya kok diulang terus thorrr,
2023-07-07
1