Kali ini Putra pulang sekolah dengan sedikit lesu. Karena nilai ujiannya tidak sesuai yang diharapkan.
Saat ini Salsa berdiri di depan pintu rumahnya, yang terlihat mewah.
Tok…tok
Putra mengetuk pintu rumah tak lama Salsa membuatnya.
"Nak, sudah pulang. Mau ibu buatkan makanan kesukaanmu?" Tanya Salsa kepada anaknya.
Putra tidak menggubris pertanyaan Salsa. Ia langsung pergi ke kamar tanpa memperdulikan ibunya.
"Aku kecewa sama ibu. Kenapa dia tidak berterus terang tentang ayahku yang sebenarnya. Padahal, aku sudah besar. Sudah seharusnya aku tahu siapa ayah kandungku" ucapnya sembari berjalan menuju kamar.
Putra tidak mengetahui kalau di belakangnya ada Dokter Riva yang mendengarkan ucapannya. Akhirnya, Dokter Riva mengetahui selama ini Putra ingin mengetahui siapa ayah kandungnya.
Hmmm
Suara batuk dari arah belakang. Putra membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah suara tersebut.
"Eh, papih" ucap Putra gugup.
"Papih sudah tahu kenapa dari kemarin kamu aneh. Ternyata kamu ingin mengetahui keberadaan ayah kandungmu.
Tanyakanlah kepada Ibumu. Hanya ibumu yang berhak menceritakan semuanya" jelas Dokter Riva berkaca-kaca.
Baru kali ini Putra melihat Dokter sembab.
Karena Putra ingin mengetahui keberadaan ayahnya, dia tidak memperdulikan kalau Dokter Riva menangis setelah berbicara seperti itu.
Putra pun bergegas menghampiri ibunya. Dan menanyakan hal tersebut kepada ibunya.
Putra berjalan menghampiri ibunya yang berada di meja ruang tamu.
"Bu…?" Tanya Putra sambil duduk di kursi
Sebelah Salsa.
"Iya, kenapa Putra?" Jawab Salsa menoleh Putra.
Putra gugup untuk menanyakan hal tersebut.
"A…aku mau…" jelasnya gugup.
"Mau apa?" Tanya ibunya.
Di saat Putra bingung dan juga gugup untuk membicarakannya. Datang Dokter Riva membantu Putra untuk berbicara kepada ibunya.
"Putra ingin mengetahui siapa ayah kandungnya?" Ucap Dokter Riva kepada Salsa.
Salsa sontak terkejut. Salsa pikir selama ini Putra tidak ingin tahu hal itu.
Seketika air mata menetes di pipinya.
"Mungkin ini saatnya untuk kamu mengetahui ayahmu yang sebenarnya" Salsa menyeka air matanya yang menetes di sudut matanya. Dia beranjak dari tempat duduknya lalu mendekati Putra.
Bertahun-tahun Salsa menyembunyikan identitas ayah Putra, namun hari ini detik ini juga Putra harus tahu hal itu.
"Ya, Dokter Riva adalah orang yang membiarkan ibu dan kamu hidup di sini, selamanya. Ibu tidak tahu harus kemana kita pergi setelah ayahmu mengkhianati ibu" air mata Salsa tidak bisa dibendung ketika menceritakan kehidupannya di masa lampau.
"Saat usia kamu menginjak satu tahun, ibu diusir dari rumah itu, karena difitnah oleh seseorang yang sedang dekat dengan ayah kamu. Ayah kamu lebih percaya dia, daripada istrinya sendiri. Akhirnya, ayahmu marah besar sehingga menyuruh ibu untuk Keluar dari rumah nenekmu" tambahnya sambil melamun dan terisak tangisan.
"Lalu setelah itu ibu bertemu Dokter Riva di jalan dan Dokter Riva menyuruh ibu untuk tinggal di rumah ini. Juga mengangkat kamu sebagai anaknya"
Semua orang yang berada di rumah itu mendengar pembicaraan Salsa kepada Putra. Semuanya ikut sedih mendengar cerita kehidupan Salsa.
Putra memotong pembicaraan ibunya dan menanyakan,
"Terus, ada di mana ayahku?" Tanya Putra dengan mata berbinar-binar.
Karena Putra begitu ingin mengetahui keberadaan ayah kandungnya, maka Salsa pun menunjukan siapa ayahnya.
Di sepanjang jalan ketika hendak menuju rumah mertua, Salsa tidak henti bercucur air mata. Menceritakan kehidupannya yang dulu, sama saja seperti mengorek luka lama yang ia simpan rapat-rapat. Tapi ia sadar kalau suatu hari ia harus menceritakan ini terhadap anaknya. Ya, dan sekarang waktunya.
Menyusuri jalan ke arah rumah mertua, Salsa teringat akan kehidupan pahit yang ia jalani bersama Putra. Tidak terasa mobil yang di tumpangi Salsa dan Putra akhirnya berhenti.
Tuk…tuk
Salsa berdiri mematung di depan pintu. Saat pintu dibuka, Salsa kaget bukan main, pintu dibuka oleh seorang Nenek yang memakai tongkat. Tidak lama disusul Mas Edro juga menghampiri ke depan.
"Salsa…" ucap Edro terkejut.
Dengan nada sedikit lantang, aku mengenalkan Putra kepada ayahnya
"Ini ayahmu" ujar Salsa gemetar.
Dia sebenarnya tidak kuat ketika memperkenalkan Edro kepada Putra. Tapi hal ini harus dia lakukan.
Rupanya Nenek yang memakai tongkat itu adalah mertuaku, aku dengar dia sedang sakit sehingga berjalannya kurang normal.
"Ini ayah? Yah, ini Edro anak ayah" dengan bangga Putra mengatakan seperti itu. Meski Putra telah mendengar cerita kehidupan Salsa yang sangat kejam, tapi Putra tidak bisa dipungkiri bahwa dia rindu sosok ayah kandungnya.
Hiks…hiks…
Edro nangis sejadi-jadinya. Ternyata anak yang selama ini terpisah belasan tahun, kini dia bertemu setelah anaknya remaja.
Mereka saling berpelukan melepaskan rasa rindu yang tertahan belasan tahun. Salsa menyaksikan hal itu, dia senang, tapi Salsa tidak bisa melupakan perbuatan Suami dan mertuanya di masa dulu.
Edro mempersilakan Salsa dan Putra duduk. Mereka duduk berempat di ruang tamu.
Suasana rumah sudah berbeda tidak seperti dulu, kelihatannya rumah ini baru selesai direnovasi, kini rumah yang dulu aku tempatkan terlihat lebih indah, dan luas.
"Kemana Bi Surti?" tanya Salsa yang sedari tadi tidak melihat bayang hidung Bi Surti.
"Bi Surti sudah lama mengundurkan diri di rumah ini, semenjak kamu pergi" jawab Edro.
"Tidak, bukan aku pergi melainkan, kamu yang mengusirku dari rumah hanya karena wanita itu" jelas Salsa. Salsa masih mengungkit perlakuan Edro yang dulu kepadanya.
"Oh, iya aku dari tadi tidak melihat Monica, kemana dia?" Tanya Salsa.
"Monica… telah lama pergi meninggalkan Edro, karena dia mempunyai pria idaman lain" tambah mertua menjelaskan.
Aku tidak menyangka banyak informasi yang tidak aku tahu Selama aku pergi dan diusir dari rumah ini.
"Oh, begitu. Lantas kemana Raka anak itu?" Tanya Salsa ketus.
"Raka bekerja ke Negeri seberang, Karena di sini dia tidak memiliki pekerjaan" jawab Edro menambahkan.
"Aku pikir mereka baik-baik saja, ternyata tidak sama sekali, bahkan keluarga Mas Edro terlihat kesusahan setelah aku tinggal pergi" gumamku dalam hati.
"Putra, ayo kita pulang" ajak Salsa kepada Putra.
"Salsa, biarkan Puta tinggal di sini, aku sangat merindukan anakku" ucap permohonan Edro.
"Apa kamu bilang? Rindu, Mas? Sejak kapan kamu rindu? Sejak kamu tahu bahwa Putra dibesarkan dan tinggal di keluarga kaya? Sudah lima belas tahun, Mas kamu tidak pernah menanyakan kabar Putra. Dan sekarang kamu bilang rindu? Pembohong kamu." Jelas Salsa marah kepada Edro.
"Aku minta maaf atas semua yang aku lakukan kepada kamu, Salsa. Dan aku juga sudah tahu yang sebenarnya mengenai Putra. Kalau Putra adalah anak kandungku" jawab Edro.
"Baguslah kalau begitu, aku tidak perlu capek-capek mencari kebenarannya" ujarnya.
"Ibu, aku mau tinggal sama ayah. Kasian ayah mengurus Nenek yang sedang sakit sendirian" pinta Putra kepada Salsa.
"Apa? Kamu bilang tinggal? Putra buka matamu lebar-lebar, kamu sudah tahu cerita kehidupan ibu di keluarga ini, kenapa kamu masih membela dia, yang jelas-jelas dia pun ragu kalau kamu anaknya" ujar Salsa begitu lantang.
"Bu, tidak baik ibu mengungkit masa lalu, Putra tahu ibu sakit hati, ibu kecewa, tapi tidak ada baiknya ibu masih menyimpan dendam. Yang terpenting sekarang, ayah dan Nenek bisa berubah. Dan Putra ingin keluarga kita lengkap." Ucap Putra pelan takut amarah ibunya tersulut.
"Kamu bisa berbicara seperti itu, karena kamu tidak merasakannya, Putra. Terserah kamu mau tinggal di mana pun, yang pasti ibu belum bisa tinggal di sini. Butuh proses untuk ibu memulihkan rasa sakit ini." Jelas Salsa kepada anaknya, Putra.
Salsa pun pergi dari tempat itu dan kembali ke rumah Dokter Riva. Karena Salsa masih tidak terima dengan perlakuan suami dan mertuanya dulu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments