Tok ... tok ...
Terdengar suara mengetuk pintu ruangannya, Edro segera membukanya, kemudian Monica duduk di kursi ruangan.
Pintu terbuka, Adam masuk dengan membawa seberkas kertas yang harus Edro tandatangani.
"Pak, ini berkas yang harus di tandatangani!" ujar Adam. Pria itu berdiri, sembari menatap dalam Monica yang sedang berada di dalam ruangan Edro, ada yang berbeda yang dilihat Adam dari Monica.
"Kenapa melihatku seperti itu?" Tanya Monica yang berada di samping Edro.
"Tidak, aku hanya heran mengapa kamu dari tadi berada di sini?" Tanya Adam keheranan dengan masih memeluk map di tangannya.
Bukannya menjawab, Monica malah melihat ke arah Edro, partner kerja sekaligus partner mesranya. Tanpa sepatah kata pun Monica pergi meninggalkan ruangan Edro, disusul Adam yang juga pergi meninggalkan ruangan itu.
Namun sebelum Monica pergi, Adam menatap Monica seolah ia tahu apa yang dilakukan Monica dengan Edro.
Sementara, Salsa sedang memikirkan Edro yang ia ketahui bahwa suaminya dekat dengan Monica.
"Tapi, kenapa Mas Edro masih mengatakan bahwa itu hanya sekedar teman kerja" ucap Salsa.
Salsa sebenarnya bisa melepaskan Edro, tapi ia mempertimbangkan Putra yang menjadi Anaknya, juga keluarganya di kampung.
Kemudian Salsa menelpon Suaminya.
"Kring ...
Suara panggilan telepon masuk ke dalam ponsel Edro, tapi lagi-lagi Edro males mengangkat panggilan dari istrinya.
Berulang kali Salsa menelpon Edro tapi tidak ada jawaban dari Suaminya.
Salsa pun mengirim pesan kepada Edro yang berisi, ...
"Mas, sebenarnya ada yang mengganjalkan di hatiku, yang ingin ditanyakan kepadamu. Oh, iya kamu pulang jam berapa Mas?" tanya Salsa dalam pesannya.
Lagi-lagi pesan itu tidak pernah dibalas oleh suaminya, padahal Edro sedang online.
Salsa pun tidak menghubungi suaminya lagi, ia berpikir mungkin suaminya sedang sibuk, padahal sang suami sedang memikirkan Monica yang setiap hari semakin menggoda untuk memilikinya.
***
Hari ini, Monica mempunyai rencana untuk mengajak ibu Edro jalan-jalan bersamanya. Edro pun pulang dari kantor bersama Monica, dan mengantarkan Monica ke rumahnya, kemudian jalan bersama menuju rumah Edro.
Sesampainya di rumah.
"Loh, Mas kok kamu dengan Monica ke sininya?" Tanya Salsa kebingungan.
Karena Edro tidak pernah menceritakan bahwa akan ada Monica yang datang ke rumahnya.
"Eh, menantu ibu, gimana kamu kabarnya, sehat, kan?" Tanya sang mertua dengan memeluk Monica.
Salsa pun sontak kaget dengan ucapannya yang menyebut menantu terhadap Monica, pikirannya kalang-kabut. Apa mungkin suaminya menduakannya?
"Mbak nampak kabingungan gitu? Pasti Mas Edro tidak memberi informasi kepada Mbak, ya?. Gini loh, Mbak aku mau mengajak ibu jalan-jalan untuk membeli kebutuhannya!" jelas Monica melihat Salsa.
sang mertua kaget, gembira, mendengarkan ajakan dari Monica.
Salsa hanya bisa terdiam ketika Monica berkata demikian, karena dirinya tidak pernah mengajak sang mertua untuk membeli kebutuhannya, karena sang suami pun tidak pernah memberikan uang lebih untuk kebutuhan yang lainnya.
"Lihat tuh, kalau mau membahagiakan mertua seperti ini, kamu bisanya hanya menyusahkan Saja" sindir sang mertua.
"Salsa tidak pernah mempunyai uang untuk mengajak ibu berbelanja, lagian Mas Edro tidak pernah memberi Salsa uang lebih untuk keperluan lainnya" jelasnyabkepada mertua sambil melirik sang suami.
"Alah alesan saja kamu, kalau gitu kerja dong jadi wanita karir seperti Monica" timbal sang mertua yang sepertinya marah kepada Salsa.
"Kalau aku kerja, Putra sama siapa Bu? memangnya ibu mau menjaga Putra selama aku kerja?" tanya Salsa emosi kepada mertuanya.
"Sudah-sudah dari pada ribut mending ibu pergi jalan-jalan dengan Monica!" saran sang suami kepada sang mertua dan Monica. Sepertinya sang suami tidak suka kalau Salsa membalas omongan mertuanya. Matanya melotot ke arah Salsa.
Monica dan sang mertua pun pergi jalan-jalan dan berbelanja.
Edro langsung menghampiri Salsa dan menunjukan telunjuknya ke arah Salsa.
"Aku tidak suka kalau kamu membantah omongan ibu, dosa! Ingat ya, Salsa ibu itu di sini ratu." Jelas sang suami begitu lantang.
Muka Edro seketika berubah pucat, ia sangat marah bila Salsa selalu membantah omongan ibunya.
"Tapi Ibu sudah merendahkan harga diriku, Mas. Aku menjelaskan kebenaran apa yang ibu katakan terhadapku. Bukannya aku tidak mau memberikan kesenangan duniawi terhadap ibu, tapi kamu sendiri tidak pernah memberi uang lebih buat aku dan Putra." Salsa menangis sambil berdiri di hadapan Edro.
"Dan sekarang kamu Deket dengan wanita lain, apa kamu anggap hatiku sudah mati? Aku sudah kebal Mas, dihina, direndahkan, bahkan tidak dianggap oleh keluarga ini. Terang-terangan kamu bawa wanita lain ke rumah ini, kamu anggap aku apa, Mas?" teriak Salsa begitu marah dan mengeluarkan apa yang selama ini ia pendam kepada suaminya.
Edro tidak bisa menjawab pertanyaan Salsa, Edro pun langsung pergi ke dalam kamarnya.
Tidak ada pembicaraan lagi di antara mereka, ruangan jadi senyap tanpa suara apapun.
Bi Surti mengintip dari balik pintu dapur, ketika mereka sedang bertengkar. Ada perasaan iba terhadap Salsa tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Karena rasa khawatirnya, Bi Surti menghampiri kamar Salsa.
Tok ... Tok ...
Suara ketukan pintu terdengar dari luar kamar Salsa.
"Apa mungkin di luar adalah Mas Edro?" Salsa berharap itu adalah Edro, suaminya.
"Eh, Bi Surti" ucapnya membuka pintu kamar.
"Kenapa, Mbak kok kelihatan kaget bibi mengetuk kamar Mbak?" tanya Bi Surti menghampiri.
"Nggak, Bi saya kira Mas Edro yang datang ke kamar" ucap Salsa mengerutkan kening.
"Bibi tadi tidak sengaja mendengar percakapan Mbak Salsa dan Mas Edro, Bibi hanya menyarankan Mbak Salsa mending membuntuti Mas Edro" nasehat Bi Surti kepada Salsa.
"Aku juga ingin seperti itu Bi, tapi Putra sama siapa? ibu mana mungkin mau menjaga Putra walaupun sebentar" jelasnya sambil cemberut.
"Mbak, nanti kalau pekerjaan Bi Surti sudah beres, Mbak boleh menitipkan Putra kepada Bibi!" ucap Bi Surti menawarkan diri.
"Iya Bi, terima kasih banyak" balas Salsa.
Sebenernya Salsa ingin sekali membuktikan kepada suaminya kalau mereka memang ada hubungan lebih. Tapi Salsa tidak bisa membuktikannya, selama ia tidak bisa membuktikan perselingkuhan mereka, sang suami akan menyebutnya wanita depresi, wanita halu, bahkan akan menyebutnya wanita gila. Apa lagi sang mertua pasti mengusirnya. Salsa terbangun dari lamunannya. Terdengar suara orang mengobrol di ruang tengah begitu berisik.
"Siapa sih?" Intipnya di balik pintu kamar.
Di ruang tamu rupanya ada sang mertua, Edro dan Monica. Mereka baru pulang berbelanja.
"Nah, ini menantu yang ibu harapkan, bukannya wanita sial itu" ujar sang mertua mendekap Monica.
Lagi-lagi sang mertua membandingkan dirinya dengan Monica yang jelas-jelas tidak sebanding bagaikan langit dan bumi.
Di ruang tengah Salsa melihat mereka membuka beberapa belanjanya, dan ia lihat Monica membelikan suaminya sebuah kemeja, Edro begitu senang dan menerima pemberian dari Monica. Edro tidak memikirkan perasaan istrinya.
"Sudahlah dari pada hatiku semakin sakit melihat mereka, mending aku masuk saja ke dalam kamar, terserah mereka mau membicarakanku seperti apa!" Salsa langsung menutup pintu kamarnya dan membaringkan tubuh di atas kasur bersama anaknya, Putra.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments