perbuatan jahat anak tiri

****

Salsa beserta keluarganya sedang berkumpul bersama saudara-saudara dari pihak Suaminya. Tujuan mereka sekalian menengok bayi Edro dan Salsa. 

"Tampan ya, putih bersih kulitnya" puji Rara adik iparnya Edro ketika melihat Putra.

Putra memang berparas tampan, tinggi dan putih. Sedangkan Raka berparas biasa saja dan kulitnya pun tidak seputih Putra, Adiknya.

"Mmmm awas ya kamu,-Putra semua keluarga memuji-muji kamu dan aku sekarang dilupakan…" gumam Raka dalam hatinya.

Raka terlihat kesal dan iri ketika ada yang memuji Putra. Raka tidak mau ketampanannya tersaingi oleh Putra sehingga dia menganggap musuh terhadap adiknya. 

Setiap ada yang menengok Putra, mimik muka Raka terlihat marah seperti tidak senang dan marah.

Ketika Raka sedang duduk disamping Putra, terpikir untuk mencelakai Putra. Padahal Putra masih bayi, tapi Raka seperti kerasukan tidak peduli dia masih bayi atau sudah dewasa. 

Raka mencoba menutupi Putra dengan bantal disampingnya dan terdengar suara, ...

"Oak ... oak ..." suara tangisan Putra terdengar begitu keras..

Dengan langkah terburu-buru Salsa menghampiri Putra di kamar. 

"Astaghfirullah" teriak Salsa.

prak ...

sebuah tangan mendarat di pipi Raka.

kali ini Salsa benar-benar marah sehingga Salsa tidak bisa mengontrol emosinya.

Mendengar kegaduhan, Edro dan Rahmi menghampiri keduanya.

Terlihat Raka sedang menangis ketakutan 

"Kenapa kalian … ?" Tanya Rahmi penuh keheranan.

"Raka menutupi wajah Putra dengan bantal" jelas Salsa dengan penuh emosi menceritakan kejadian tadi yang dialami Putra.

Dan kali ini Rahmi mertuanya, membela Putra. Akibat dari kebodohannya, Raka dihukum oleh Rahmi. Raka pun semakin benci terhadap Putra, Raka belum puas mencelakai Putra ia masih memikirkan cara agar bisa mencelakai Putra. 

Seorang Kakak yang seharusnya menjaga adiknya, malah mencelakainya. Raka mempunyai sifat iri, dengki dan dendam. Terhadap Ibu sambungnya saja dia berani mengadu domba, apalagi terhadap Adiknya yang masih bayi.

Kehadiran Putra belum bisa membuat Mertuanya menerima Salsa.

Setiap hari Salsa dan Putra mendapat perlakuan yang jahat dan tidak adil yang dilakukan mertu dan anak sambungnya.

Lagi dan lagi Raka gemar sekali membuat kegaduhan didalam rumahnya, dan itu dipertunjukkan hanya untuk melihat ibu sambungnya menderita karena dimarahi oleh keluarganya. 

****

Prayyyyy ...

suara gelas pecah 

Hiks hiks ...

tangis Raka.

Lagi-lagi Raka mulai melancarkan aksinya terhadap Salsa. 

Kali ini Salsa melawan karena Raka sudah keterlaluan. 

"Diammm!" Katanya memerintah dan marah.

Gelegar suara gelas pecah, menghantam tembok sisi kanan. Siapa lagi pelakunya kalau bukan dia. Anak sambungnya. Suara yang memekikan telinga itu seketika hening. Raka berdiri di depan ku dengan bibir gemetar dan rasa takut yang begitu dialaminya, membuat dia ketakutan.

Kali ini Anak sembilan tahun itu hanya bisa terdiam, dan berlari begitu kencang ke dalam kamarnya. 

Suaminya, Edro dan Rahmi-mertuanya, kali ini tidak memarahi Salsa. Mereka hanya melihat adegan ibu dan Anak sambungnya itu di dekat pintu dapur. Rahmi tidak ingin mendekati Salsa karena Salsa begitu terlihat emosi.

Melihat perlakuan Salsa terhadap Raka, Edro menghampiri Salsa dan mereka berbicara di dalam kamar.

"Kamu berubah yang aku inginkan Sosok Suami yang tidak pilih kasih" demikian kilah Salsa, ketika dia tidak tahu harus berbuat apa untuk menunjukkan kesalahan suaminya.

"Apa yang berubah? jangan meminta perubahan jika kamu sendiri tidak mau berubah" tanya Edro penuh amarah.

kata-kata itu menyayat hati Salsa, ia teringat bahwa dirinya belum bisa diterima dalam keluarga ini. Rumah yang seharusnya menjadi tempat ternyaman, bak neraka baginya dan Putra.

"Perubahan seperti apa yang kau mau? bukankah aku sudah cukup sabar menjadi menantu yang selalu terzholimi di keluarga ini?" Seperti luka yang ditaburi air jeruk. Sangat perih rasanya apa yang diucapkan Salsa seperti menyengat batin.

Dan keributan itu berlanjut semakin keras. Entah apa yang sudah Salsa katakan, apa yang suaminya katakan. Seperti kegilaan yang sudah bertumpuk dihatinya. Yang terucap dibibirnya. Yang Dia ingat adalah, ada sesuatu sikap keras dari suaminya yang ingin sekali dia ubah. Tapi kemudian bergulir seperti tidak terselesaikan. 

Anak 9 tahun itu berhasil menjadikan ibu sambungnya, bak seperti orang asing yang tidak diterima oleh siapapun.

Edro pergi setelah kejadian itu terjadi. Edro tidak mau menghampiri atau sebatas menanyakan kepada Salsa, karena dia tidak mau emosi Salsa semakin tidak terkontrol.

Sudut pandang sang istri.

"Apa yang aku katakan, bahkan aku tidak memikirkan perasaan Raka saat aku bentak. Tapi, anak itu sudah keterlaluan, wajar aku memarahi dia. Mungkinkah Anak itu trauma?" Lintas dalam pikiran Salsa.

Salsa seperti burung dalam sangkar yang tidak bisa keluar dari rumah neraka itu.

Salsa melirik Putra, anaknya yang sedang tertidur.

Tes … tes, bulir-bulir bening mirip kristal keluar dari kelopak mata Salsa, hingga bergulir membasahi pipinya.

Sudah lama air mata itu bergulir dipipinya, tidak terlontar sepatah katapun dari Salsa. Dia hanya menatap Putra begitu lama.

Anak itu mampu membuat seisi rumah membenci dirinya.

Kesalahan apa yang Salsa lakukan di masa lalu, sehingga membuat dirinya menjadi seperti ini.

"Aku merindukan suasana terdahulu, aku merindukan temanku, aku merindukan keluargaku, aku merindukan senyum lepas dariku. Aku merindukan semuanya." Dalam bersit pikiran, Salsa teringat akan masa lalunya Bersama Edro, Suaminya.

Salsa teringat ketika pertama bertemu suaminya, begitu baik juga membantu Salsa keluarga dari tempat yayasan itu.

Bak seperti tertipu dengan sikap Edro, Salsa tidak menyangka suami yang dulu dia kenal berbeda seratus persen dari yang dia tahu.

Orang asing yang setiap hari bersamanya. Dia dulu adalah seorang yang baik yang Salsa kenal. Seperti tersambar petir di siang bolong, entah mimpi apa aku dahulu berumah tangga dan hidup di dalam keluarga yang tidak bisa menerima kehadirannya. Tidak ada satu hari pun tanpa pertengkaran dengan sang mertua. Hatinya mulai goyah terhadap Edro, tapi setiap kali ibu satu anak itu melihat Putra, yang kemudian tidak bisa meninggalkannya.

****

"Apakah kamu tidak melihat apa yang setiap hari ibu mertua lakukan terhadapku, apa yang anak sambungku lakukan terhadapku?" Tanya Salsa dengan penuh ketegasan.

"Ketika kamu sah menjadi istriku, kamu Harus berbakti terhadap orang tuaku karna, orang tuaku, adalah orang tuamu. Jadi, tidak ada alasan untuk melawannya" dalih suami Salsa.

Salsa dan Edro berdebat omongan ...

Buat apa Salsa mengadu kepada suaminya, dia tidak pernah mengerti dan tidak pernah membela istrinya. Yang Salsa lakukan sekarang hanya bisa terdiam. Dan percuma saja Salsa bercerita kepada Edro-suaminya.

Dan anak sambungnya tidak pernah jera untuk terus membuat Salsa dimarahi keluarganya. Tujuan anak itu agar ibu sambung dan adiknya terusir dari rumah itu. Karena pada dasarnya, anak sambungnya tidak pernah menerima Salsa sebagai Ibu sambungnya.

***

Raka terus mencari celah ketika Salsa keluar dari rumah dan pergi belanja. Raka mencari cara untuk mencelakai adiknya-Putra.

Untung saja Salsa selalu datang tepat waktu sehingga rencana jahat anak sambungnya tergagalkan.

 

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!