Di usir dari rumah

Setelah menyaksikan acara tunangan tersebut dengan mata sendiri, aku begitu hancur sehancur- hancurnya. Kenapa tega Suami sendiri melakukan hal demikian.

Duniaku sudah tidak ada artinya lagi, suami yang seharusnya jadi tempat berlindung kini ia memilih mendua.

Aku termenung di dalam kamarku sendiri, tidak ada siapapun selain diriku. Putra aku titipkan dahulu kepada Bi Surti.

Aku mendengar suara di ruang tamu sudah sepi.

"Mungkin mereka sudah bubar" gumamku dalam hati. 

Aku melangkah ke luar kamar hendak mengintip di balik pintu kamarku. Benar saja tamu undangan sudah pada pulang. Tinggal tersisa Monica, Mas Edro, Ibu mertua juga keluarga dari Monica. 

Mas Edro melihat-lihat ruangan di sekeliling seperti sedang mencari seseorang. Saat aku hendak membalikan langkahku, tiba-tiba

"Salsa…" suara memanggilku. 

Aku menoleh ke belakang dan melihat siapa yang memanggilku. Oh rupanya suamiku.

"Apa Mas? Jawabku masih berada di balik pintu. 

Lalu tangan Mas Edro melambaikan ke arahku, itu artinya aku harus menghampirinya. 

Kakiku melangkah menuju Mas Edro.

"Ada apa Mas?" Tanyaku menghampiri Mas Edro. 

"Kamu kenapa sih di kamar terus sudah sini, gabung" pinta suamiku…

Sebenarnya aku malas gabung dengan mereka, tapi karena suamiku yang mengajak, aku iya-kan saja walaupun hati marah..

Dengan entengnya suamiku berkata seperti itu, seolah dia anggap biasa acara ini. Raut mukanya bahkan tidak ada sedikit pun penyesalan atau raut muka tak enak terhadapku.

Aku berbaur di ruang tamu bersama mereka, tidak nyaman itu yang sedang aku rasakan. Beberapa kali aku melangkahkan kaki hendak keluar dari kerumunan itu, Mas Edro selalu memaksaku untuk bersama mereka…

"Ini siapa, Edro?" Tanya suara perempuan di belakang badanku. 

Aku berbalik dan melihat, rupanya suara itu datang dari salah-satu keluarga Monica…

Perempuan paruh baya menghampiriku dan menanyakan siapa diriku. 

Aku tidak menjawab pertanyaan itu. Selama aku bergabung dengan mereka, aku tidak akan mengeluarkan kata sepatah pun karena ucapanku takut salah dimata Mas Edro…

Sepertinya, wanita paruh baya itu tidak tahu kalau aku adalah istri sahnya Mas Edro secara agama dan hukum.

"Oh ini,... Dia ini istrinya Edro, tapi dia tidak berguna di rumah ini. Makanya Edro mengejar-ngejar Monica. Iya, kan Nak?" Jawab mertua. Jawaban itu begitu menyayat hatiku, terang-terangan aku direndahkan di depan keluarga Monica, solah-olah aku memang tidak ada gunanya dikeluarga ini. Padahal aku sudah berbakti kepada mertua, bahkan aku diperlakukan layaknya babu di rumah ini.

Wanita paruh baya itu tercengang mendengar jawaban yang diberikan mertua terhadap pertanyaannya itu. Ia melirik Monica begitu lama.

"Monic, Nenek tidak pernah mengajarkanmu untuk menjadi perusak rumah tangga orang" begitu suara lantang yang diucapkan wanita paruh baya itu kepada Monica, Cucunya.

"Nenek tidak pernah tahu kalau selama ini orang yang menjadi calon Suamimu, ternyata sudah memiliki istri" tambahnya kepada Monica.

Aku hanya terdiam terisak tangis sambil tertunduk atas jawaban dari mertuaku yang jelas-jelas begitu merendahkanku di hadapan banyak orang… begitu sakit yang aku rasakan melihat suami sendiri bertunangan di hadapanku, dan sekarang mendengar mertua merendahkanku di hadapan Orang banyak.

Monica tidak bisa membalas perkataan Neneknya yang menyebut ia adalah perusak rumah tangga orang. Ya, mungkin karena perkataan itu adalah benar adanya. Ia datang bersama dua orang keluarganya yang ternyata Kakak dari Ibunya dan Neneknya. Ibunya tidak bisa datang karena mereka sedang di Negeri seberang. 

"Nenek merasa malu menghadiri acara ini" ucap Nenek dengan nada tinggi.

"Monica dan Mas Edro saling cinta dan perempuan itu hanya perempuan yang tidak berguna" jelas Monica sambil menunjuk ke arahku.

Aku sudah tidak kuat mendengar omongan yang menyakitkan itu. Aku berlari hendak menuju kamarku, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menggenggam tanganku dari belakang dan memberhentikan langkahku… 

Aku pun sontak berbalik badan dan  rupanya itu adalah Monica yang menghentikan langkahku.

"Mau kemana kamu?" Tanya Monica melotot kepadaku.

"Kenapa, Monic? Belum puas kamu melihat aku menderita seperti ini? Kamu sudah berhasil merebut Mas Edro, dan sekarang kamu mau hidup bersama Dia? Silahkan?" Ucapku kepada Monica dengan lantang.

Semua orang yang berada di ruang tamu itu terdiam. Tidak ada suara setelah aku berbicara. Aku lanjutkan langkahku dan masuk ke dalam kamar. 

Masih terdengar suara ribut-ribut dari ruang tamu. Sepertinya wanita paruh baya itu masih marah kepada Monica. 

"Monic, sekarang juga lepaskan lelaki ini…!" perintah Nenek menunjuk ke arah Mas Edro.

"Aku tidak bisa, Nek Edro adalah lelaki yang Monic cintai" jelas Monic.

"Kalau kamu tidak mau memutuskan hubungan dengan Edro, kamu jangan harap bisa diterima oleh Nenek" ujar Nenek kepada Monic. 

Karena Monic tidak bisa dinasehati olehnya, ia pun bergegas pergi dari rumah mertua. 

"Sudah Monic, wanita tua Bangka itu sebentar lagi juga mati" ujar mertua dengan jahat.

Monic menghampiri Edro.

"Mas, mending kamu pilih antara aku atau Mbak Salsa" tanya Monic meminta Edro untuk memilih.

"Perjanjian kita bukan itu Monic, aku tidak bisa kalau harus memilih" ucap Edro tegas.

Acara yang seharusnya membahagiakan untuk Monica, kini dia terancam dengan perilakunya sendiri. Dia tidak mau ada Salsa di antara dia dan mas Edro.

Belum puas dengan jawaban Edro, Monic datang menghampiri kamar Salsa.

Di dalam aku sedang menangis, tiba-tiba…

"Tuk… tuk…

Terdengar suara ketukan pintu begitu keras. Akupun turun dari kasur dan berjalan untuk membukanya…

Krek…

Pintu dibuka oleh Salsa…

Aku terkejut, rupanya yang membuka pintu adalah Monica.

"Ada apa? Belum puas menghinaku? Belum puas mempermalukanku?" Tanyaku lantang kepada Monic. 

Monica menatapku lama lama. 

"Aku ingin kamu keluar dari rumah ini dan pergi jauh dari Mas Edro" ucap Monic menghampiriku begitu dekat.

"Aku istri sah-nya Mas Edro aku berhak siapa yang menentukan untuk keluar dari rumah ini" jawabku. 

"Aku pastikan kamu akan keluar dari tempat ini" ucap Monic sambil pergi dari kamarku.

Aku kembali ke kamarku dan duduk melamun. Terlintas ingat keluargaku di kampung. Mereka pasti bangga anaknya mendapatkan lelaki kaya, dan juga mereka pasti bahagia melihat aku dan Mas Edro hidup rukun. Kalau aku berpisah dengan Suamiku bagaimana perasaan Orang tuaku nanti. Aku termenung sejenak sambil menyandarkan tubuhku di atas kasur. Hari sudah malam aku tidak mungkin terus-menerus melamunkan pernikahanku, aku tidur di atas kasur bersama Putra, anaku berharap esok pagi kebahagiaan akan datang. Ketika aku hendak menutup muka,...

Di ruang tamu

"Mas, aku tunggu jawaban kamu secepatnya" tegas Monic.

Aku mendengar suara Monica begitu lantang kepada suamiku.

Rupanya Monic menuntut Mas Edro untuk memilih siapa yang akan menjadi seorang ratu di dalam hatinya.

Kemudian aku tidak mendengar kegaduhan di ruang tamu dan tidak mendengar suara Monic lagi.

"Sepertinya Monica sudah pulang. Saatnya aku berbicara dengan Mas Edro mengenai pernikahan kita" gumamku dalam hati.

Ku buka pintu kamar dan aku keluar menuju ruang tamu, aku tidak menemukan Mas Edro di sana, aku cari di sekeliling sudut rumah dan kamar, tidak ku temui juga suamiku. Aku melangkahkan kaki ke pintu belakang rumah, rupanya suamiku berada di sana, lagi duduk, dan sedang termenung melamun.

"Mas?" Tanyaku dari arah belakang suamiku.

suamiku sontak kaget mendengar suaraku tiba-tiba.

"Kamu kenapa? Kok melamun? Bukannya kamu senang sudah bertunangan dengan Monica?" Tanyaku duduk menghampiri Mas Edo.

"Tolong, jangan kamu ceritakan semua kejadian ini kepada keluargamu! paham?" Perintah Mas Edro kepadaku.

Belum sempat aku berbicara mengenai pernikahan dan keluargaku, ia sudah mengancamku terlebih dahulu.

Aku tahu maksudnya. Tanpa sepatah kata pun aku langsung pergi dari tempat itu.

Sambil melangkah menuju kamarku lagi, aku berkata dalam hati " untuk apa aku mendiskusikan ini semua? Toh, Mas Edro saja lebih memilih hubungannya dengan Monica aman, dari pada pernikahannya denganku"

Bruk….

Suara dua insan saling bertabrakan, Rupanya aku dengan mertua.

"Eh,... Kamu ya, kalau jalan tuh hati-hati" ucapnya kepadaku melotot.

"Ma,...maaf, Ibu" ujarku meminta maaf kepada mertua.

"Oh,... Iya, nanti Monica akan menginap beberapa hari disini… persiapkan apa saja yang Monic mau, dan siapkan makanan paling enak selama Dia berada di sini, ok…?" Ujar mertua menjelaskan.

"Maaf, Bu. Kan kamar di rumah ini cuma ada tiga dan itu terisi semua, terus kalau Monic menginap di sini dia akan tidur dimana? Lagian Mas Edro dan Monic kan belum sah tidak seharusnya berduaan seperti itu" jelasku menatap Mertua.

Rasanya aku sudah kebal dengan berita-berita tentang Monica dan suamiku yang semakin hari semakin menjadi, aku mencoba untuk tegar ketika mendengar berita yang menyayat hatiku.

Tidak lama setelah itu Monica dan Mas Edro kembali ke rumah. Aku lihat Monic membawa koper besar sepertinya dia akan lama tinggal di rumah ini. Ibu menyambutnya penuh gembira, ya pantas saja mereka begitu senang kedatangan Monica, karena Monica adalah wanita karir yang hartanya melebihi Mas Edro. Jadi aku bukan siapa-siapa di rumah ini.

Ketika aku melihat mereka bertiga, tiba-tiba

"Salsa…" Mertua memanggilku.

Aku berjalan menghampiri.

"Iya, Bu" jawabku.

"Tolong bawakan koper Monica ke kamarmu. Dan siapkan minum! setelah itu kamu masak yang enak buat calon menantuku!" ujarnya tersenyum melirik Monica.

"Kenapa tidak di kamar Ibu saja, aku kan punya bayi" ujarku

"Jangan banyak tanya, lakukan saja apa yang Ibu perintah" ujar Mertuaku.

Mas Edro tidak berkata apapun ketika mertua menyuruhku membawa koper Monic ke kamarku.

Aku pun bergegas membawa koper Monica dan menyimpannya di dalam kamarku.

"Berat sekali, memangnya dia membawa apa?" Gumamku dalam hati.

Setelah itulah drama pertengkaran antara Monica dan Salsa dimulai.

Monica yang tidur di kamarku Aku dan Putra harus mengalah untuk tidur di kamar belakang dekat dapur. Yang seharusnya itu untuk kamar pembantu.

Setiap hari aku melayani Monica dari mulai bangun tidur menyiapkan sarapan, sampai waktu malam menyiapkan makan malam kesukaannya. Makanan kesukaan Monica sedikit susah sehingga aku harus membeli bahan-bahannya ke supermarket yang jaraknya lumayan jauh. Begitulah aku, jadi babu Monica selama satu Minggu.

Di pagi hari libur.

"Mbak, Salsa…" panggil Monica. Ketika aku sedang berada di dapur bersama Bi Surti.

"Apa lagi sih, Monic setiap sepuluh menit sekali memanggilku" gumamku.

"Biar Bibi saja yang nyamperin, mbak" tawar Bi Surti.

"Gak usah Bi, biar saya saja" jawabku. Sambil berjalan ke arah suara Monic.

"Ada apa" tanyaku kecut kepada Monica.

Tanpa menjawab pertanyaanku tiba-tiba saja Monica menyiramkan segelas air minum ke tubuhnya sendiri.

Aku melihatnya heran kebingungan.

"Mas…Mas Edro" teriak Monica memanggil Suamiku.

Mas Edro pun menghampiri Monica yang berteriak memanggilnya.

"Ada apa Monica?" tanya Mas Edro.

"Mas, coba lihat aku basah kuyup seperti ini karena disiram oleh Mbak Salsa" tuduh Monica terhadapku.

Mas Edro kemudian melihatku seperti benci…

"Loh, tidak Mas, aku tidak pernah melakukan itu. Aku justru dipanggil oleh Monica untuk ke sini" jelasku yang sebenarnya.

"Bohong Mas, aku tidak pernah memanggilnya, lagian dia sendiri yang datang kepadaku. Lalu dia begitu saja menyiramkan air yang berada di meja itu" ucap Monica berbohong.

"Tidak, Mas itu semua bohong" jelasku.

Aku berusaha berbicara sebenarnya agar Mas Edro percaya terhadapku. Tapi kemudian,

Plak…

Sebuah tangan mendarat di pipiku. suamiku menamparku hanya karena percaya terhadap omongan perempuan itu.

"Sebenarnya Mbak Salsa sering memperlakukan aku seperti ini, tapi aku takut karena diancam sama Mbak Salsa" tuduhnya lagi.

Monica semakin menggila menuduhku, hanya karena ia ingin menjadi nomor satu di rumah ini.

Mas Edro menatapku begitu lama.

"Pergi kamu dari sini, sudah cukup kamu mempermalukan Monica begitu jahat, aku pikir kamu istri yang baik, ternyata aku salah" ucapnya mengusirku.

Suamiku mengusirku karena ia percaya omongan Monica. Bagaikan disambar petir di siang bolong… perkataan itu terlontar dari mulut suamiku sendiri. Seperti luka yang ditaburi air garam begitu perih. Aku membalikkan badan dan berjalan perlahan menuju kamarku. Mulutku tidak bisa berkata apapun ketika Mas Edro mengusirku.

Mertua dan Anak sambung ku, Raka keluar dari dalam kamar, karena mendengar keributan antara aku, Monica dan Mas Edro. Sepertinya, Monica juga memfitnahku kepada mertua.

Aku segera mengemas baju-bajuku dan Putra, aku tidak tahu harus kemana aku pergi.

Ketika aku berjalan hendak pergi dari rumah ini, di ruang tengah masih ada mereka yang menyaksikan aku membawa koper juga menggendong anak. Sungguh suamiku telah buta akan cintanya Monic.

Aku berjalan meninggalkan rumah itu. Aku melihat Monic tersenyum jahat ke arahku…

Aku sudah pergi dari rumah tanpa membawa uang sepeser pun. Entah kemana kaki ini melangkah… sambil terisak tangisan sepanjang jalan, aku kuatkan hatiku demi anaku, Putra.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!