Anak yang diragukan

Pagi hari sebelum berangkat kerja Edro marah-marah kepada Salsa. Entah apa yang merasuki hati dan pikiran Edro, tanpa sebab dan alasan yang jelas Edro berteriak-teriak kepada istrinya. Sontak Salsa kebingungan akan amarah Edro yang dia sendiri tidak tahu penyebabnya 

"Apa aku berbuat salah … ?" Tanya Salsa yang sangat kebingungan kenapa suaminya marah-marah tidak jelas terhadapnya.

Edro memberi pukulan keras di hati Salsa, karena Edro menanyakan bapak biologis Putra.

Pertanyaan itu menyayat-nyayat hati Salsa, bagaimana mungkin dia mempertanyakan ayah biologis dari anaknya sendiri.

Pertengkaran itu membuat gaduh seisi rumah, bahkan membangunkan mertuanya yang masih tertidur pulas. 

"Apa maksudmu menanyakan ayah dari anakmu sendiri?" Tanya Salsa penuh heran.

"Katakan saja siapa ayahnya Putra … sebelum aku mengetahuinya sendiri" tanya Edro dengan lantangnya.

Salsa terkejut mendengar pertanyaan dari suaminya itu.

"Dari semenjak kenalan sampai detik ini pun apa pernah kamu melihat aku bergandengan dengan lelaki lain …? Apa pernah kamu melihat aku berkomunikasi dengan lelaki lain? Lantas mengapa kamu mempertanyakan ayah biologisnya Putra, yang jelas-jelas ayahnya adalah kamu" jelasnya sambil berlinang air mata.

Ketika cinta bercampur amarah, tiadalah kesetiaan yang mendatanginya. Janji suci yang di ikhrorkan hanya ucapan belaka. Pernikahan hanyalah seperti sebuah kertas yang bisa dirobek kapanpun.

Sekuat mungkin ia menebalkan perasaan, Tidak peduli semua isi rumah ini membencinya ia telah menutup telinga dari omongan-omongan yang menyakiti hatinya. Dari perbuatan-perbuatan yang menjebak dirinya. Ia kuat hanya karena seorang anaknya. Ia bisa bertahan sampai sekarang, hanya karena anaknya. Anaknya merupakan sumber kekuatannya. Namun, semua itu sirna saat suaminya mempertanyakan siapa ayah biologisnya.

Namun, pada kenyataannya, hatinya terasa sakit dan sakit. Entah, mungkin ini salahnya. Mungkin ia terjebak kasih sayang palsu.

Pertengkaran itu berhenti sejenak. Salsa menangis sejadi jadinya. "Apa kau pikir aku seorang pelacur?" ucap Salsa penuh amarah dengan nada tingginya.

Edro hanya bisa terdiam seribu kata ...

Saat Salsa menangis mertuanya menguatkan Salsa. Namun, pada akhirnya seorang ibu tetaplah membela anaknya.

Pertengkaran itu disaksikan oleh semua orang yang berada di dalam rumah, tidak terkecuali Bi Surti yang mengintip di balik pintu dapur. Bi Surti merasa kasihan terhadap Salsa air matanya ikut keluar menyaksikan pertengkaran itu. 

Salsa berlari ke kamarnya dan mengemasi pakaiannya sambil menggendong Putra, Salsa berniat pergi dari rumah itu. Namun, hal tersebut dicegah oleh mertua dan suaminya.

"Kenapa kalian terutama kamu, Edro, mencegahku untuk pergi dari rumah ini? Bukankah kamu sendiri meragukan anak kandungmu? Jadi, biarkan aku pergi dan membawa Putra" ujar Salsa yang masih tersedu-sedu.

Salsa sudah tidak tahan dengan semua kejadian di rumah ini, perlakuan buruk dan tidak adil yang ia terima bersama anaknya. Salsa ingin keluar dari rumah neraka itu. 

"Sudahlah Salsa, ayo masuk lagi! mungkin Edro lagi kecapean sehingga ia ngelantur bicara seperti itu" ajak sang mertua kepada Salsa.

Salsa tidak tahu harus kemana ia pergi ketika kaluar dari rumah itu. Bagaimana tidur anaknya, bagaimana kesehatannya. Semua itu terbesit dalam pikirannya. Demi anak, dia rela tinggal bersama orang-orang yang selalu menyakiti hatinya. 

Salsa pun mengIYA-kan ajakan mertuanya dan masuk kembali ke dalam rumah. 

****

Seperti biasanya, setiap pagi Salsa harus berbelanja ke pasar membeli kebutuhan pokok keluarganya. Meskipun ada Bi Surti asisten rumah tangga, tapi ia tahu harus bersikap bagaimana tinggal bersama mertua. Tidak mungkin ia hanya berdiam diri di rumah tanpa melakukan pekerjaan apapun. Itu akan menjadi bumerang buat dia.

Setelah kejadian itu sikap Edro semakin dingin kepada Putra. Bahkan untuk mengajak berbicara saja dengan anaknya, dia enggan. Salsa tak tahu apa yang harus ia perbuat terhadap suaminya.

Sepulang dari kantor,

"Mas mau aku buatkan teh hangat?" Tanya Salsa. 

Edro hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan Salsa.

Salsa tetap membuatkan teh hangat untuk suaminya. Sambil menyodorkan minuman kepada Edro, Salsa sengaja menggendong Putra dengan harapan Edro akan menyapa Putra, anaknya.

"Ini mas teh angetnya" Salsa menyodorkan teh anget di hadapan suaminya.

Edro tetap terdiam walaupun ia tahu Salsa sedang mencari pertahatian darinya.

Salsa pergi ke dapur sambil meneteskan air mata.

"Yang sabar mbak!" Bi Surti lagi-lagi menguatkan.

Bi Surti menyaksikan semua perlakuan tidak adil terhadap Salsa dan anaknya. Ia merasa kasihan tapi Bi Surti tidak bisa berbuat apa-apa.

Salsa menyayangkan perbuatan Edro terhadap Putra.

****

Edro dan Raka pulang dari pusat perbelanjaan. Tampak senang di raut wajah Raka.

"Putra dibelikan baju kan, Mas.?" Tanya Salsa dengan raut gembira. 

"Aku tidak membelikan baju untuk Putra, baju kan masih ada. Ngapain dibelikan?" dalihnya. 

"Baju Putra sudah kecil, Mas. semakin bertambah usia, bajunya akan tidak muat. Kalau mau membelikan anak barang belikan dua-duanya biar tidak ada kecemburuan." Ucap Salsa mengingatkan. 

"Kecemburuan… ? Memang dia anak siapa?" Jawab Edro sambil berjalan ke kamarnya 

Salsa hanya bisa menelan air liurnya dan mengusap dada, saat Edro bicara seperti itu.

Dari Putra masih bayi, Edro memang belum pernah membelikan baju kepada Putra. Putra hanya memakai baju bekas kakaknya, Raka. Salah apa anak itu sampai-sampai mendapat perlakuan tidak adil dari ayahnya. 

Mendengar itu Raka menyeringai tertawa jahat. 

"Sebentar lagi kamu dan Putra akan diusir dari sini" gaumam Raka dalam hati.

Kemudian Salsa kembali ke dalam kamarnya. Hanya menangis yang ia bisa lakukan ketika melihat anaknya mendapat perlakuan yang berbeda dari ayah kandungnya.

"Salsa ... " Teriak Rahmi 

"Iya, Bu" jawab Salsa. 

Salsa keluar dari dalam kamarnya menghampiri suara yang memanggilnya tadi.

"Tolong ke pasar belikan keperluan Ibu…!" Perintah mertua.

"Putra masih terjaga, Bu. Saya tidak bisa meninggalkan Putra sendirian" jawab Salsa

"Putra biar sama ibu, saja dijaga"

Dalam hati, Salsa tidak percaya mertuanya akan menjaga Putra, ia takut kejadian yang lalu terulang kembali. Ia takut Raka melihat kesempatan ini, dan mencelakai Putra.

"Baik, Bu" dengan terpaksa menjawabnya.

"Kenapa aku tidak memberanikan diri untuk keluar dari tempat itu. Kenapa aku tidak kepikiran untuk pulang ke kampung halaman saja, tapi nanti orang tuaku sedih mendengar anaknya gagal menjalin rumah tangga. Sungguh yang hal sulit bagiku. Kalau aku pulang dari pasar, aku menyaksikan anak sambungku mencelakai Putra, atau aku mendengar dia akan mencelakainya, hari ini juga aku akan pulang ke kampung halamanku" ucap Salsa dalam hati.

Sepulangnya berbelanja, Salsa memanggil Bi Surti dengan suara pelan-pelan.

"Bi, sini ...!" Ajak Salsa.

"Kenapa, Mbak?" Jawab Bi Surti.

"Apakah Bi Surti melihat Raka menemani Putra?" 

"Tidak mbak, Saya dari tadi yang menemani Putra." Jelas Bi Surti.

"Terima kasih ya, Bi" ucapnya.

"Sama-sama mbak" jawab Bi Surti kebingungan…

Salsa bersyukur karena selama ia pergi berbelanja, Bi Surtilah yang menjaga Putra. 

Salsa selalu was-was bila meninggalkan Putra semenjak kejadian itu terjadi. Tidak ada yang bisa ia percaya, bahkan ia pun tidak bisa mempercayai suaminya, Edro. 

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!