Kehidupan Putra

Aku dan Putra sangat senang tinggal bersama mereka, rencananya hari ini sudah satu hari aku menginap di rumah Dokter Riva. 

Hari ini aku akan memberanikan diri untuk bicara, kalau aku mau mencari tempat yang lain untukku dan Putra. 

Aku berjalan menuju ruang tamu kebetulan Dokter Riva dan Mbak Mawar sedang berada di sana lagi bersantai.

"Mbak, Dok" sapaku menghampiri mereka.

"Eh, Mbak Salsa, sini duduk bersama kami" ucap Mawar menunjuk ke arah kursi. 

Aku pun duduk di sebelah Mawar. Dan mulai membicarakan tujuanku kepada mereka berdua.

"Gini Mbak, Dok. Saya tidak mau merepotkan Dokter Riva dan Mbak Mawar di sini. Maksud tujuan saya di sini ingin mencari tempat tinggal yang lain, aku tidak mau mengganggu rumah tangga Dokter" jelasku

"Mbak Salsa jangan pergi, ya! Kami sudah senang sekali ada Mbak dan Putra tinggal di rumah ini. Itu artinya rumah kita tidak sepi lagi" sahutnya tersenyum kepadaku. 

"Iya, Mbak Salsa, turuti apa kata istriku, ya! Dia kesepian di rumah ini, sudah lama dia menginginkan ada seorang anak tinggal di sini"

"Tapi saya gak enak Dokter Riva, kalau harus selamanya tinggal bersama di sini" ujarku malu tertunduk dihadapan mereka.

Bukan aku tidak mau tinggal di sini, tapi aku tidak mau kalau harus menjadi beban mereka. Aku sungkan diperlakukan bak ratu olehnya, karena aku bukanlah siapa-siapa dikeluarga ini.

"Sudah, ya Mbak, sekarang Mbak balik lagi ke kamar temenin Putra, pokoknya Mbak jangan berpikir apapun itu. Kami senang ada keluarga baru di sini. Mbak sudah kami anggap sebagai kakak saya sendiri" jelas Mawar kepadaku.

Walaupun aku sungkan tapi ada baiknya juga aku tinggal di sini. Lagian aku belum tahu harus kemana jika aku pergi dari rumah ini.

Aku berbalik badan dan berjalan menuju lantai atas hendak kembali ke kamarku.

Dokter Riva dan istrinya memang sudah menikah hampir lima tahun lamanya. Tapi mereka belum juga dikasih kepercayaan untuk mempunyai seorang Anak. Jadi, ketika ada Salsa dan Putra datang ke rumah ini, Mawar sangat senang. Mawar menerimanya dengan baik dan menganggap Putra sebagai anaknya sendiri begitu pun dengan Salsa, Mawar anggap Salsa sebagai kakaknya.

Kring…

Suara ponsel berdering.

Aku mengambil ponsel yang berada di meja kamarku, dan aku lihat rupanya panggilan telepon itu dari Monica tunangannya Mas Edro, suamiku.

"Buat apa dia menghubungiku? Bukannya dia sudah bahagia, aku tidak lagi tinggal bersama Mas Edro? Dan dia bisa leluasa mengambil suami orang. Begitu, kan tujuannya? Lantas mengapa dia menghubungiku?" Kataku dalam hati.

Aku tidak menjawab panggilan dari Monica. Aku melanjutkan menemani Putra yang sedang tertidur pulas. Aku pun ikut tidur bersama anakku.

Hari demi hari aku lewati hingga akhirnya anakku Putra sudah beranjak remaja. Dia sudah berusia lima belas tahun dan tinggal bersama keluarga Dokter Riva. Kami sekeluarga begitu harmonis juga rukun, walaupun keluarga Dokter Riva bukan siapa-siapa, tapi mereka menerima kami dengan lapang dada. Putra anakku di sekolahkan oleh mereka di sekolah ternama dan terkenal yang biayanya cukup menguras dompet, tapi Mawar tidak sedikit pun mengungkit permasalahan itu, malah ia rela menghabiskan hartanya agar Putra bisa melanjutkan sekolah sampai negeri cina.  Putra sekarang duduk di bangku sekolah menengah pertama atau disingkat SMP. Dia tumbuh menjadi anak yang baik, anak yang sopan dan Anak yang nurut kepada aku, Ibunya, dan Mawar, juga Dokter Riva. Mawar sudah menganggap Putra sebagai anaknya sendiri. Oleh karena itu, dia rela berkorban apapun demi Putra, seperti aku yang rela berkorban apapun demi Putra.

Yang Putra tahu adalah dia hidup dan dibesarkan oleh Mawar juga Dokter Riva. Dia tahu kalau Mawar adalah Ibu angkatnya dan Dokter Riva adalah ayah angkatnya, sementara aku adalah Ibu kandungnya. Aku tidak pernah membohongi tentang aku dan keluarga Dokter Riva, asal mula kehadiranku dikeluarga ini. Putra pun tidak masalah ketika aku menceritakan kehidupan aku ketika pertama masuk dalam keluarga Dokter Riva. Hanya saja aku tidak berbicara yang sebenarnya, jikalau ayah Putra adalah Mas Edro. Dia tidak pernah menanyakan atau ingin tahu siapa ayah dia sebenarnya. Aku pun tidak menjelaskan karena Mas Edro tidak pernah menghubungiku untuk menanyakan kesehatan Putra atau hanya sekedar ingin tahu kabar Putra. Tapi suatu saat nanti Putra akan menanyakan hal itu. Aku harus siap dengan segala resiko dan konsekuensinya. Aku berharap semoga kelak nanti Putra akan mengerti kenapa Ibunya merahasiakan keberadaan ayah kandungnya.

Aku dengar dari Dokter Riva, mertuaku sakit-sakitan dan pernah sekali diperiksa oleh Dokter Riva. Dia bilang Mertuaku sakit struk ringan. Sebenarnya aku ingin menjenguk Mertuaku tapi, rasa sakit hatiku masih membekas dan belum bisa memaafkan. 

Suatu hari aku lagi termenung teringat kehidupanku dulu bersama Mas Edro begitu sakit ketika ku ingat, aku tidak mau hal serupa dialami anakku.

"Dor… Ibu sedang apa? Kok dari tadi Putra perhatikan melamun saja. Ibu lagi membayangkan masa depan Putra?" Tanya Putra mengagetkanku. 

Aku pun sontak kaget dikejutkan oleh anakku.

"Mmmm… bukan, Ibu lagi melamunkan sekolahmu " dalihku sambil tersenyum. 

Walupun alasanku tidak masuk akal, tapi hanya itulah yang terbesit di dalam pikiranku saat itu. Untungnya saja Putra percaya dengan alasanku. 

"Hah, sekolahku? Memang kenapa dengan sekolahku, Bu? Oh, iya aku tahu pasti ibu khawatir kalau aku terjerumus pergaulan bebas sehingga akhirnya aku putus sekolah, iya, kan Bu, seperti itu? Tenang saja Ibu harus percaya terhadapku, aku tidak akan mengecewakan Mamih dan Papih " begitu sebutannya kepada Dokter Riva dan Mawar. 

Aku hanya tersenyum dan menganggukan kepala dihadapan anakku. 

"Bagaimana, jika dia tahu yang sebenarnya kalau aku belum bisa menceritakan tentang ayahnya?" Gumamku dalam hati.

Hal ini yang menyelimuti pikiranku saat ini. Rasa takut bila Putra mengetahui hal yang sebenarnya dari orang lain, atau mungkin mencari informasi sendiri. Putra pasti akan membenciku mungkin saja dia akan meninggalkanku, dan mengusirku,  seperti dulu Mas Edro mengusirku. Rasa trauma dari masa lalu belum terlupakan olehku, walaupun itu sudah belasan tahun berlalu.

Mengingat dan mengenang masa lalu, kemudian bersedih atas nestapa dan kegagalan di dalamnya merupakan tindakan bodoh dan gila. Itu, sama artinya dengan membunuh semangat, memupuskan tekad dan mengubur masa depan yang belum terjadi.

Aku harus bangkit dari bayang-bayang Mas Edro walaupun ia adalah seseorang yang menyelamatkanku dari tempat itu. Rumah hunian. Sebelum aku berangkat ke Negeri seberang.

Mengingat kenangan dan masa lalu bersama Mas Edro hanya membuat hatiku sakit seperti menyiram luka dengan air. Aku mengubur dalam-dalam masa lalu itu dan bangkit menjadi diriku yang baru. Agar Monica, mertua dan suamiku tidak bisa menghinaku lagi. Walaupun aku masih bersetatus istri Sah_nya Mas Edro. Karena, secara agama dan hukum mas Edro belum pernah mengucapkan talak terhadapku sebelum aku pergi dari rumah itu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!