Dengan hati kesal Raka berangkat sekolah. Anak itu sengaja membuat aku pagi-pagi naik darah, kalau ada Mas Edro dan mertuku pasti anak itu mengadu domba aku kepada Mas Edro dan mertuaku. Lalu memarahiku, dan rencana Anak itu lancar, puas, senang melihat aku dimarahi oleh keluarganya.
Mas Edro keluar dari kamarnya dan hendak mandi, namun ketika Mas Edro mandi aku diam-diam membuka ponsel suamiku yang ia letakan di meja dapur.
"Mas, hari ini bisa jemput aku?" Dalam pesannya. Isi pesan itu tentu saja dari Monica.
"Pantesan Mas Edro pagi-pagi buta sudah bangun, rajin lagi langsung mandi, ternyata dia mau menjemput wanita ****** itu" gumam ku dalam hati.
Aku punya ide untuk memberi pelajaran bagi mereka berdua…
Aku mengirim pesan kepada Monica, yang kebetulan pesan Monica belum sempat dibalas oleh suamiku.
"Aduh,... Maaf ya, Mon aku mau mengantar istriku pagi ini, dan satu hal lagi kamu jangan mengirim pesan atau menelepon aku lagi…!" Balas Salsa menggunakan ponsel Edro.
Di rumah, Monica sedang duduk dikursi menunggu Edro menjemput dirinya. Tiba-tiba
Kring…
Suara pesan masuk ke dalam ponsel Monic.
"Aduh,... Maaf ya, Mon aku mau mengantar istri ku pagi ini, dan satu hal lagi kamu jangan mengirim pesan atau menelepon aku lagi…!" Balas Edro.
Monic pun seketika emosi terhadap Edro..ia akhirnya berangkat sendiri mengagunakan taxi online.
Sementara di rumah, Edro sudah berdandan rapi, wangi, tidak seperti biasanya.
"Mau kemana, Mas?" Tanya ku
"Tumben pagi-pagi sekali berangkat ke kantornya, rapi dan wangi lagi, tidak biasanya" sindirku kepada suamiku.
Aku tahu mau kemana dia berangkat, tapi aku ingin mendengarkan kejujurannya.
Benar saja dia tidak jujur kepadaku, suamiku mengatakan bahwa ia diminta menjemput Bos nya di bandara.
Edro pun berangkat.
Di perjalanan Edro sampai di rumah Monica, Edro pun langsung mengetik pintunya…
Tok,...tok…
Tidak ada sahutan di dalam, Edro segera menelpon Monic.
"Halo,... Monic aku sudah di depan rumahmu, ini…!"
"Udah lah kamu jangan basa-basi aku sudah berangkat sendiri ke kantor" ujar Monic sambil menutup telponnya.
"Monic kenapa sih? Sudahlah mungkin si Monic lagi datang bulan." Ucap suamiku menerka-nerka.
Sesampainya di kantor, suamiku bertemua Monica. Monic pun menjelaskan mengapa tadi dirinya marah terhadap Edro.
"Sudah keterlaluan Salsa, aku akan memberi dia hukuman karena telah lancang mengambil ponselku" ancaman suamiku.
Krek….
Suara pintu dibuka seseorang. Rupanya itu suamiku yang pulang dari kantornya.
"Sudah pulang mas, mau aku buatkan teh manis hangat?" Tanyaku.
"Jangan basa-basi tadi pagi, kamu mencuri ponselku, kan? Lancang sekali kamu,...!" Bentaknya kepadaku.
"Memang aku periksa ponselmu tadi pagi, dan ternyata sebuah kebohongan terbongkar kembali" sahutku sambil tersenyum jahat, aku langsung duduk dikursi tengah rumah…
Mas Edro masih berdiri, dan matanya melotot ke arahku pertanda, dia tidak suka atas perbuatanku yang melihat ponselnya diam-diam…
"Kamu memang lancang sekali, tidak seharusnya kamu memeriksa ponselku, tanpa izin dariku" teriak Mas Edro kepadaku, yang tentu saja suaranya bikin sakit kupingku.
"Bagus dong, Mas dengan begitu aku bisa tahu hubungan kamu dan Monica sebenarnya. Oh, iya pantes saja kamu pagi-pagi buta sudah rapi, wangi ternyata mau menjemput wanita lajang itu, kan ?" Tanyaku sambil berdiri di depan suamiku.
Matanya terbelalak melihatku melotot, memerah, Mas Edro begitu marah terhadapku..
"Satu lagi kenapa untuk mengantar periksa kandungan kamu tidak mau, sementara untuk menjemput wanita lajang itu kamu semangat" jelasku tegas kepada suamiku.
Dia terlihat begitu emosi ketika aku bilang yang sesungguhnya…dan
Plak…
Sebuah tangan mendarat dipipiku, ya tangan itu adalah tangan suamiku, itu artinya yang menamparku barusan adalah suamiku… sungguh sakit hati ini, dia lebih membela wanita lajang itu dibandingkan istri sahnya…
Tak…tak…tak
Suara langkah kakiku berlari menuju kamarku, setalah Mas Edro melemparkan tanngannya ke pipiku, seketika aku langsung berlari ke kamarku, aku tidak bisa berkata-kata lagi batinku begitu sakit menyaksikan Mas Edro ternyata lebih membela dan mempertahankan wanita lajang itu.
Lagi-lagi aku menangis di kamarku… melihat anakku, Putra sungguh sakit sekali batin ini, dia di fitnah bukan anaknya, tapi aku tidak bisa pergi dari rumah ini, karena kalau aku pergi, aku dan anakku tidak tahu harus kemana lagi.
Setelah kejadian itu, Mas Edro tidak pernah meminta maaf kepadaku, aku seperti tidak ada artinya sebagai seorang istri…
Dia menjadi lebih sering menghubungi Monica, bahkan mereka sering bertemu.
Suatu hari di rumah kedatangan Monica.
"Mbak, Mas Edronya ada?" Tanya Monica terhadapku.
"Emang kamu mau ngapain?" Tanyaku balik sambil menyapu ruang tamu… ya, aku di rumah itu seperti pembantu, padahal sudah ada bi Surti asisten rumah tangga di rumah itu…
"Mas Edro belum bicara sama Mbak?" Tanya Monic, sengaja membuat aku agar cemburu terhadapnya.
Tidak lama kemudian Edro keluar dari kamarnya, dengan penampilan rapi dan wangi. Kali ini dia menggunakan pakaian stelan jeans warna hitam, ya seperti mau jalan.
"Mas, mau kemana?" Tanyaku, sambil menghampiri suamiku.
"Loh,... Mas, memangnya Mbak Salsa belum tahu tentang keberangkatan kita?" Tanya Moica berdiri…
"Emang mau kemana, Mas?" Tanyaku lagi.
"Kita mau nonton film kesukaanku di bioskop" jawab suamiku dengan acuh tak acuh…
"Loh,...loh,...ada yang salah, mengapa kalain terutama Mas Edro, tidak mengajak anak-anak, inget mas kamu itu belum mukhrim jangan berzina." Jelasku menghampiri suami dan Monica.
Namun mereka tidak memperdulikan omonganku.
"Sudah jangan ganggu mereka" kata mertuaku sambil melotot kepadaku…
Bukannya melarang anaknya jalan berdua bersama bukan yang mukhrim, mertua malah mensuport Monica dan Edro…
Aku pun tidak bisa berkata apapun, suamiku sendiri tidak mendengarkan perkataanku, apalagi orang lain. Bahkan sekarang Mas Edro sudah berani membawa wanita lajang itu ke rumah ini, padahal Mas Edro sudah berkeluarga.
Di dalam mobil mereka saling berbincang-bincang.
"Mas, apa kamu tidak merasakan ada yang berbeda dengan kita?" Tanya Monic menggoda Edro.
"Mmmm,...gimana ya, aku sebenarnya punya perasaan terhadap kamu, Monic, tapi aku tidak bisa menduakan istriku." Jelas Edro kepada Monic yang dari tadi mereka berpegangan tangan.
"Kenapa, Mas? Toh Mbak Salsa kan nurut kepadamu lagian kalau dia gugat kamu cerai, dia akan pergi kemana?" Jawaban Monic menghinaku.
"Iya, tapi bagaimana pun dia itu istri yang sabar, istri yang baik. Dia tidak pernah melawan ketika di rumah selalu menyalahkannya, bahkan ibuku sendiri memperlakukan dia layaknya seorang pembantu." Edro berkata kebingungan..
Dia bingung mau pilih siapa..
"Ya, sudah kalau begitu, kita jalanin hubungan ini secara diam-diam" Monic merayu Edro agar suami Salsa mau menjadi pacarnya…
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments