Oak ... oak ...
Putra terbangun mendengar isak tangis ibunya. Salsa pun langsung menenangkan anaknya sebelum mertu dan suaminya mendengar tangisan Putra, karena mereka sejatinya tidak suka dengan keberadaan Putra yang katanya, ... Putra bukan anak biologis Edro.
Sesudah ditenangkan, Putra pun langsung tertidur. Salsa pun ikut tidur di sebelahnya Putra. Cukup lama ia tertidur, saat membuka mata dan melihat jam, dan ternyata sudah jam 3 sore. Salsa keluar kamar hendak mengisi perutnya yang dari tadi belum ada sesuap nasi yang masuk ke dalam perutnya.
Ntah kemana mertua dan suami Salsa. Rumah nampak terasa sepinya. Saat hendak membuka pintu dapur, Salsa mendengar suara dari dalam kamar sang mertua, sepertinya dia sedang menelpon seseorang. Salsa melanjutkan langkah kakinya ke dapur. Tiba-tiba terdengar sang mertua menyebut namanya.
Salsa yang penasaran menghentikan langkahnya dan mendengarkan pembicaraan sang mertua di depan pintu kamar.
"Tenang aja Nic, udah kamu jalan saja sama Edro, kalau urusan Salsa biar Ibu yang ngurus, gampang" begitu di dalam teleponnya.
Salsa masih mendengarkan pembicaraan sang mertua.
"Iya, Ibu setuju sama kamu, dibandingkan Salsa. Sepertinya cocok kamu dan Edro, kan sama-sama punya karir jadi cocok banget, deh" celetuk sang mertua ketika sedang menelpon.
"Ya sudah Ibu tunggu ya, kedatangan mu ... Assalamualaikum" begitu jawabnya mengakhiri telepon
Salsa pun langsung berjalan ke arah pintu dapur, saat mau pergi ke dapur, sang mertua memanggilnya.
"Salsa, mau kemana kamu?" Tanya sang mertua.
"Mau ke dapur" jawab Salsa sambil berlalu, tidak ia perdulikan tatapan matanya yang mematikan itu.
Salsa teringat, saat mertuanya menelpon tadi.
"Kenapa Ibu membawa-bawa nama aku dan Mas Edro?" pikirnya.
Salsa berjalan ke arah dapur, karena ia memikirkan ucapan mertuanya tadi di telepon, Salsa tidak hati-hati mengambil piring.
Prang ...
Piring terjatuh ke lantai, pecahan piring berserakan kemana-mana. Salsa membersihkan serpihan piring itu, ketika Salsa sedang membersihkannya, tiba-tiba ada seseorang di balik pintu depan mengetok-ngetok pintu.
Tok ... Tok ...
"Permisi ... ?" sahut seseorang di luar pintu.
Salsa berdiri dan untuk membuka pintunya, langkahnya tergesa-gesa sambil sedikit berlari.
"Eh, Nak Monic" suara sang mertua.
Rupanya, Ibu mertua sudah mendahuluiku.
Ketika Ibu mertua membuka pintu,
begitu Salsa lihat nampak tamu itu seorang wanita, cantik, tinggi semampai, kulit putih bersih, rambut panjang. Siapa lagi kalau bukan Monic, yang katanya teman kantor Mas Edro.
"Sini, Nak duduk!. Sebentar ya, ibu panggilkan Edronya" tawarnya sambil mempersilahkan duduk tamu itu.
Ibu mengahampiri kamar Edro, dan Edro pun datang setelah dijemput ibu di kamarnya.
Mertua dan suami Salsa terlihat begitu senang kedatangan Monic sebagi tamu, beda lagi ketika keluarga Salsa di kampung bertamu ke rumah ini, expresi mukanya tidak senang dan sangat kecut sekali.
"Hai, Edro" sapa Monica sambil mendekap Edro, suami Salsa.
Pemandangan itu disaksikan langsung oleh Salsa, Monic sudah berani mendekap suaminya, Edro. Dan Edro tidak keberatan sama sekali, mereka sepertinya saling suka.
Tidak bisa dipungkiri Salsa menyaksikan adegan yang membuat hatinya tersayat-sayat.
Saat langkah Salsa hendak pergi, ...
"Salsa ... Salsa ..." teriak sang mertua sambil berjalan ke arah dapur.
"Iya, Bu"
"Tolong buatkan minum untuk tamu kita, ya" perintah sang mertua.
Salsa hanya mengangguk. Salsa malas membuatkannya. Ia hiraukan saja perintah mertuanya.
"Lama banget sih?" Terdengar suara mertua berucap demikian.
"Kenapa lama banget?, cepat buatkan! jangan sampai tamu kita menunggu begitu lama" perintahnya mertua sambil menunjuk dengan mata melotot.
Salsa sudah cemburu bahkan untuk melihat mereka berekapan pun, Salsa tidak kuat. Hatinya begitu sakit.
"Apa? tamu kita? Itu bukan tamu kita, lebih tepatnya adalah tamu ibu. Aku tidak suka dengan tamu yang ingin merebut suamiku" ujar Salsa dengan lantang sambil berjalan ke arah kamar melewati mertuanya.
Terjadi adu mulut antara Salsa dan sang mertua.
Di ruang tamu, Edro mendengar keributan di dapur, segera menghampiri Salsa dan ibunya.
Belum sempat Salsa sampai ke dalam kamar, langkahnya dihadang oleh suaminya.
"Ada apa ini kok terdengar ada kegaduhan di dapur?" tanya sang suami sambil melihat Salsa dan ibunya.
Ha ... Ha ...
Rupanya ada yang mengintip pertengkaran mereka, dan itu bukan Monica melainkan Raka anak sambung Salsa. Dia terlihat gembira melihat Salsa dan sang mertua bertengkar seperti itu.
Raka tersenyum jahat dan langsung pergi setelah melihat kejadian itu.
Di kamar Salsa tidak bisa tidur karena memikirkan suaminya dan Monic, yang masih berduaan di ruang tamu. Hatinya resah, kini ia harus waspada terhadap perempuan itu.
Salsa keluar dari kamar, lalu mengintip di balik pintu ternyata, tidak ada Edro, suaminya. Monic lagi sendirian di ruang tamu. Ini merupakan kesempatan buat Salsa untuk menanyakan tentang hubungan bersama sang suami. Salsa pun langsung menanyakan kepada Monic kenapa mengganggu hubungannya dengan sang suami.
"Hm ... hm ...
Salsa pura-pura batuk ketika mendekati Monic.
"Eh, Mbak Salsa" ujar Monica.
"Sudah tidak usah basa-basi" ketus Salsa sambil duduk di sebelah Monic.
"Aku hanya ingin menanyakan kenapa kamu, mengganggu hubungan saya?" Tanya Salaa sambil melotot ke arah Monica.
Rupanya raut wajah Monic yang tadi senyum kini berubah menjadi tidak senang, setalah Salsa mempertanyaankan hubungan mereka.
Dari pintu depan Edro sang suami datang, entah dia habis merokok atau dari warung membeli sesuatu.
Belum sempat Salsa berbicara tiba-tiba Monic, menghentikan pembicaraannya dengan Edro.
"Mas, tadi aku dituduh sama Mbak Salsa katanya, aku selingkuhannya kamu. Terus aku disuruh jauh-jauh sama kamu, padahal kan kita cuma kerabat kerja , Mas" tudingan Monica sambil pergi ke luar.
Ia ingin melihat Salsa cemburu kalau Edro lebih memilih Monica dari pada istri Sah-nya.
"Tunggu Monic, ... !" Perintah sang suami sambil mengerjar Monic dan memegang tangan Monic untuk menghentikan langkahnya.
Edro membawa Monic masuk ke dalam rumah lagi.
"Salsa kamu harus meminta maaf terhadap Monic, kamu sudah keterlaluan sudah berapa kali aku bilang kalau hubungan aku dengan Monic hanya sebatas teman kerja" ujar sang suami dengan lantang.
"Aku tidak akan pernah meminta maaf kepada orang yang telah memfitnah ku, oh iya, bukan hanya sekedar memfitnah tapi juga merebut suamiku". Sindir Salsa sambil menunjuk ke arah wanita itu.
Plak ...
"Lancang sekali kamu Salsa, aku tidak pernah mengajarkan istriku seperti itu" bentak Edro marah kepada Salsa.
"Kamu yang mengajarkan aku jadi lancang terhadap wanita penggoda ini" ujar Salsa dengan hati emosi.
Terlihat Edro begitu marah terhadap Salsa, sorot matanya yang tajam dan mukanya yang memerah.
Wanita itu berhasil membuat Suami orang percaya terhadap dia dibandingkan istrinya sendiri, yang hidup bertahun-tahun dengannya.
"Cukup Salsa, masuk ke kamar!" perintah sang suami menyeret Salsa.
Dan dia, Monica berhasil membuat Edro berpihak kepadanya.
Salsa mencoba menahan air matanya agar tidak menangis hanya karena wanita penggoda itu memfirnahnya, dan Edro berpihak kepadanya.
"Aku harus kuat, aku harus kuat demi untuk anak ku, Putra" ucap Salsa menguatkan.
Setelah kejadian adu mulut itu, Salsa berubah menjadi menantu yang tidak mau diperintah oleh siapapun.
Salsa duduk dibangku belakang rumah, sambil menunggu adzan Maghrib, tiba-tiba ponselnya berdering, ia lihat ternyata, dari ibunya di kampung menelpon.
"Halo, ... Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatu" salam Salsa setelah mengangkat panggilannya.
"Waalaikusalam, ... apa kabar, Nak? Sehat?" Tanya ibu Salsa di dalam telponnya.
"Alhamdulillah, Bu Salsa sehat. Bapak Sehat? Keluarga sehat semua? Maaf ya, Bu Salsa belum bisa berkunjung kesana, Mas Edro lagi Sibuk terus di kantornya" katanya berbohong sambil meneteskan air mata. Memang sudah satu kali lebaran Salsa belum main ke rumah ibunya di kampung, dikarenakan Salsa tidak memiliki uang untuk ke sana.
"Tidak apa-apa, ... Suami kamu kan kerja di kantoran jadi pasti dia sangat sibuk. Kami ngerti kok" kata ibu, Salsa hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan ibunya.
Setelah berbicara ditelpon, Salsa mendengar suara adzan berkumandang, ia pun bergegas untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Langkah kaki Salsa terhenti di ruang tengah, ketika mendengar mertuanya sengaja menyindir dirinya.
"Aduh, ... Enak kali, ya, punya menantu yang baik, cantik, punya karir tidak menyusahkan suami apalagi menghabiskan uang suaminya." Celetuk sang mertua melihat ke arah Salsa.
Saking seringnya mertua menyindir Salsa, Salsa bahkan sudah hapal apa yang ingin dikatakannya.
Tidak Salsa dengarkan sindiran-sindiran mertuanya, Karena itu sudah sangat biasa bagi Salsa, ia lewat lurus di depan sang mertua.
"Dasar menantu gak punya sopan santun, Orang tua bicara tidak didengar sama sekali, durhaka kamu, Salsa." sumpah-serapahnya terhadap Salsa.
Salsa masih bisa mendengar sang mertua, walaupun berada di kamar, karena suaranya lantang sekali terdengar, bahkan membuat kuping sakit kalau mendengarnya.
Sikap Salsa makin hari makin berubah ia bukan Salsa yang dulu apabila dicaci, dimaki,bahkan dihina yang selalu diam, kini ia perlahan mulai melawan ketika ada orang yang menyakitinya.
Edro, mertua, dan anak angkatnya melihat perubaha itu. Bahkan Edro terus terang kepada Salsa bahwa ia tidak suka kalau Salsa tidak penurut terhadap keluarganya.
Kesabaran Salsa rasanya sudah habis, mertua memperlakukan Salsa seperti pembantu bukan menantu, sedangkan anak sambungnya selalu mengadu domba dirinya di rumah ini, seperti hobi dia. Dan sang suami mempunyai wanita idaman lain ... Terus apakah Salsa akan diam saja diperlakukan tidak adil seperti itu? Tidak, kali ini Salsa akan melawan kepada mereka.
****
Suatu pagi dihari yang cerah.
"Tolong buatkan aku bekal aku mau sarapan di sekolah!" suruh Raka kepada Salsa yang sedang menyiapkan alat tulisnya di meja.
"Ok Baik" jawab Salsa sambil berjalan ke arah dapur.
Salsa menyiapkan sarapan buat Raka. Di meja dapur ada sayur dan ikan yang jadi menu sarapannya, aku siapkan ke dalam wadah, aku berjalan dan hendak memberikan bekal itu kepada anak sambung ku.
Prang ...
Bekal sarapan yang aku kasih di lempar dan tumbah ke lantai lalu berserakan.
"Aku tidak mau sarapan sama sayur, aku maunya sama goreng ayam!" teriaknya kepada Salsa, Sontak ia kaget melihatnya.
Kali ini kesabaran Salsa sepertinya sudah habis terhadap anak sambungnya.
"Kenapa di tumpah kan? Kan kamu bisa bicara secara baik-baik kepada saya!" bentak Salsa kepada anak itu.
"Kalau aku sekarang masak ayam goreng buat kamu, sekolah kamu terlambat, Raka" sambungnya dengan sedikit nada tinggi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments